Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERBEDAAN TINGKAT PROKASTINASI PADA MAHASISWA DITINJAU DARI METODOLOGI PEMBELAJARAN Ananta, Aliffia
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6 No 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v6i2.1297

Abstract

Abstract                  Procrastination is a deliberate deliberate postponement and does other unnecessary work. Prokrastinya many experienced by students and influential on learning outcomes so it is important to be studied. This study aims to determine the level of student academic procrastination in terms of learning methods used by lecturers. Learning method in this research is Teacher Centered Learning (TCL) and Student CenteredLlearning (SCL). Subjects in this study as many as 150 students taken by purposive sampling, 75 subjects were students who got TCL method and 75 subjects were students who got SCL method. Data collection is done by using procrastination scale. Procrastination Scale consists of 16 items that have the validity of ≥ 0.03 with reliability of 0.805. The result of the research shows that there is no difference of academic procrastination between students who get TCL learning method with students who get SCL learning method.Key Words: Procrastination, Teacher Centered Learning, Student Centered Learning
Rancang Bangun Sistem Informasi dan Monitoring Level Stress Penderita Diabetes Millitus (DM) Berbasis Android Indasyah, Enny; Ananta, Aliffia
Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.069 KB)

Abstract

Diabetes Militus (DM) adalah gangguan metabolic berupa serapan insulin yang rendah dan berdampak pada peningkatan konsentrasi glukosa tubuh (hiperglikemia), kerusakan berbagai sistem tubuh dan akan mengalami situasi ketegangan psikologis, karena secara psikologis penderita dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang mungkin menjadi stressor psikologis. Stress yang dialami penderita diabetes mellitus akan memberikan dampak yang lebih parah bagi penderita karena pada dasarnya stress yang dialami akan menyebabkan terganggunya sistem endokrin (hormonal) salah satunya adalah semakin meningginya kadar gula darah, dampak lainnya yang berkaitan dengan stress yang dialami adalah munculnya reaksi perilaku negatif yang tidak disadari oleh individu. Oleh karena itu, dibutuhkan cara untuk membantu penderita diabetes mellitus memiliki kemampuan dalam memonitoring tingkat stress  sehingga akan menjaga pola kehidupannya agar tidak semakin parah. Penelitian ini menggunakan alat ukur kuisioner dari DASS ( Depression Anxiety Stress Scales) 42 untuk memonitoring level stress (normal, ringan, sedang, berat, sangat berat) menggunakan aplikasi mobile. Pengambilan data sebanyak 30 pasien di Puskesmas Desa Cerme kidul, Gresik, jawa timur Indonesia. Hasil penelitian  dapat disimpulan bahwa rata-rata tingkat stress pasien diabetes di desa cerme kidul adalah 97 % normal, dan 3 % stress ringan. Kata kunci—Diabetes Millitus, DASS 42 Scale , Level Stres, Aplikasi Mobile
BERSYUKUR PADA REMAJA PEREMPUAN DARI KELAS EKONOMI MENENGAH YANG MENGALAMI BODY DISSATISFACTION Aliffia Ananta; Rina Dwi Purwanti
PSIKOLOGI KONSELING Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v19i2.30436

Abstract

Bersyukur atau gratitude adalah bentuk apresiasi yang dilakukan oleh individu ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik atau membantu. Secara spesifik bersyukur dapat diartikan perasaan bahagia ketika menerima kebaikan atau melihat suatu kebaikan yang terjadi secara alamiah. Bersyukur dapat memberikan manfaat beberapa diantaranya adalah mencegah perasaan negatif, memotivasi adanya peningkatan diri, meningkatkan self-esteem, serta terbuktinya bersyukur memiliki kaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik. Hal ini bisa jadi bertolak belakang Body Dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh. Body Dissatisfaction adalah penialaian negatif terhadap bentuk tubuh yang dimiliki. Remaja yang menghalami Body Dissatisfaction akan berfokus pada hal-hal negatif yang terjadi, mengalami kesulitan untuk melihat hal-hal positif, kelebihan, dan hal-hal apa yang mereka miliki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran beryukur pada remaja perempuan dari kelas ekonomi menengah yang mengalami Body Dissatisfaction. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Gratitude Questionaire-Six Item Form (GQ-6) yang disusun oleh McCullough et al., (2002)
PELATIHAN MENGHADAPI PERILAKU TANTRUM PADA ANAK DI PAUD KARTINI SIDOARJO suhadianto; Aliffia Ananta
ABDIMAS Vol 1 No 02 (2021): PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu problem pengasuhan yang dihadapi oleh orang tua terhadap anak di usia golden Ages (usia 0-6 tahun), adalah ketidak mampuan orang tua menangani perilaku tanrum pada anak. Problem tersebut juga banyak pengabdi temukan pada orang tua murid PAUD Kartini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan cara menangani perilaku tantrum pada anak bagi orang tua dan guru. Situasi pandemi Covid-19 dan rendahnya kemampuan orang tua dalam menggunakan aplikasi zoom meeting mengharuskan pengabdi menyampaikan matreri melalui media youtube dan gorup Whatsapp. Pengabdi membuat video materi dengan bentuk dialog dan diunggah di chanel youtube. Setelah peserta menyimak materi video selama satu hari, kegiatan pengabdian dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi melalu group Whatsapp selama 12 jam. Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pengetahuan peserta tentang penanganan tantrum pada anak antara sebelum dan setelah pelatihan. Strategi pelaksanaan pengabdian ini bisa menjadi contoh bagi para pengabdi yang mengalami kendala penyampaian materi secara tatap muka langsung selama masa pandemi covid-19.
DISKUSI KELOMPOK TERARAH UNTUK PENANGANAN PERUNDUNGAN DI UPT SD NEGERI X GRESIK suhadianto; Aliffia Ananta
ABDIMAS Vol 1 No 03 (2021): PENDIDIKAN MASYARAKAT
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perundungan merupakan salah satu fenomena yang banyak terjadi di sekolah. Berdasar pada studi yang ada sebelumnya perundungan banyak terjadi di kelas ketika guru sedang tidak ada (45%), di lapangan sekola (24,2%) dan di kantin sekolah (16,1%). Fenomena perundungan juga ditemukan di UPT SD Negeri X Gresik. Perundungan di sekolah jika dibiarkan dapat berdampak negatif terhadap prestasi dan kondisi psikologis siswa. Tujuan dari kegiatan diskusi kelompok terarah ini adalah untuk mendapatkan kesepakatan program penanganan perundungan di sekolah. Kegiatan diskusi kelompok terarah dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi terkait perundungan oleh tim pengabdi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah. Hasil dari kegiatan diskusi kelompok terarah telah disepakati beberapa program penanganan perundungan di UPT SD Negeri X Gresik, mencakup program yang berbasis sistem dan individu. Program-program yang disepakati juga dapat dikelompokkan ke dalam program preventif dan kuratif. Kegiatan ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi terlaksananya kegiatan anti perundungan di UPT SD Negeri X Gresik. Kata kunci: perundungan; sekolah; diskusi kelompok terarah
Pendampingan Penanganan Perundungan di UPT SDN Negeri Y Gresik Melalui Media Video dan Buku Cerita Aliffia Ananta; Suhadianto Suhadianto
Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v5i2.3731

Abstract

Studi terbaru melaporkan lebih dari 25% siswa di sekolah pernah dipukul, dipanggil dengan sebutan tidak menyenangkan dan dikucilkan oleh anak lain di sekolahnya. Kasus perundungan semacam itu juga terjadi pada para siswa di SD Negeri Y Gresik. Perundungan dapat berdampak pada rendahnya prestasi akademik dan ganguan psikologis sehingga perlu mendapatkan perhatian. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pendampingan pada SD Negeri Y dalam menangani perundungan di sekolah. Kegiatan pendampingan diberikan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) melibatkan tenaga Kependidikan dan Guru, Pelatihan manajemen kelas untuk guru, dan Sosialisasi kepada orang tua dan siswa. Kegiatan FGD dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting berfokus pada memperoleh pemahaman yang sama tentang faktor penyebab, dampak dan strategi penanganan perundungan. Pelatihan manajemen kelas berfokus pada memberikan keterampilan pada guru untuk membuat peraturan dan prosedur kelas yang anti perundungan. Sosialisasi kepada siswa dan orang tua siswa dilaksanakan melalui media video animasi yang diunggah di Chanel Youtube. Kegiatan tidak dilaksanakan secara langsung karena masih dalam situasi pandemi.  Wawancara dan pemberian post test dilakukan untuk mengetahui dampak dari kegiatan pengabdian ini, hasilnya menunjukkan kegiatan pendampingan ini dapat memberikan pemahaman kepada guru, siswa dan orang tua tentang pengertian, faktor penyebab, dampak dan strategi penanganan perundungan.   
PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF MERCHANDISE K-POP PADA REMAJA WANITA KOMUNITAS STAY DITINJAU DARI GAYA HIDUP Nada Annisau Ulya; Igaa Noviekayati; Aliffia Ananta
Biopsikososial: Jurnal Ilmiah Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta Vol 6, No 2 (2022): VOL. 6 NO. 2 October 2022
Publisher : Universitas Mercu Buana Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/biopsikososial.v6i2.16119

Abstract

K-pop fans have a habit of buying popular idol merchandise. Merchandise purchases become impulsive if done continuously, spontaneously, and suddenly. One of the factors influencing this impulsive purchase is lifestyle. The purpose of this study is to find out the relationship between lifestyle and K-pop merchandise impulsive purchase behavior in adolescents’ women of STAY community in Surabaya. The subjects in the study involved 102 adolescents’ women joining the STAY community in Surabaya and a population of 138. Sampling retrieval techniques use purposive sampling techniques with quantitative research designs. Hypothesis testing using the product moment correlation test obtained a score of 0.654 with significance p = 0,000 (P<0,01) indicating that there is a significant positive relationship between lifestyle and impulsive buying behavior of K-pop merchandise in female adolescents of the STAY community in Surabaya. So, it can be interpreted that the higher one's lifestyle, the higher the impulsive buying behavior of K-pop merchandise in adolescents’ women of STAY community in Surabaya.
Saat Diri Diterima: Konsep Diri dan Dukungan Sosial sebagai Kunci Kesehatan Mental Remaja Panti Putri Nurul Qomariyah; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents living in orphanages often face challenges in developing self-acceptancedue to a lack of social support and an unstable self-concept. This study aims to examine the relationship between self-concept and social support with self-acceptance among orphanage adolescents in the East Surabaya area. The method used is a correlational quantitative approach with a non-parametric technique using Spearman’s Rho test, as the data did not meet normality and linearity assumptions. The participants consisted of 256 adolescents aged 13–18 years, selected through quota sampling. The results demonstrate a very strong positive correlation between self-concept and self-acceptance (r = 0.905; p < 0.05), as well as between social support and self-acceptance (r = 0.829; p < 0.05). These findings highlight the crucialrole of strengthening self-concept and social support in promoting the psychologicalwell-being of orphanage adolescents. Keywords: self-concept, social support, self-acceptance, adolescents, orphanage. Abstrak Remaja yang tinggal di panti asuhan sering mengalami hambatan didalam membentuk penerimaan diri akibat kurangnya dukungan sosial serta juga konsep diri yang tidak stabil. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri serta juga dukungan sosial dengan penerimaan diri pada remaja panti asuhan di wilayah Surabaya Timur. Metode yang digunakan ialah kuantitatif korelasional dengan teknik non-parametric menggunakan uji Spearman’s Rho karena data tidak memenuhi asumsi normalitas serta juga linearitas. Partisipan berjumlah 256 remaja usia 13–18 tahun yang dipilih dengan teknik quota sampling. Hasil temuan membuktikkan adanya hubungan positif yang sangat kuat antara konsep diri serta juga penerimaan diri (r = 0,905; p < 0,05) serta antara dukungan sosial serta juga penerimaan diri (r = 0,829; p < 0,05). Temuan ini membuktikkan pentingnya penguatan konsep diri serta juga dukungan sosial bagi kesejahteraan psikologis remaja panti. Kata kunci: konsep diri, dukungan sosial, penerimaan diri, remaja, panti asuhan.
Cyber Aggression di Kalangan Generasi Z Pengguna Instagram Ditinjau dari Self-Control dan Online Disinhibition Bella Eka Siste Saputri; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Generation Z is a demographic highly active on social media platforms, particularly Instagram, where they express themselves and engage with others. However, improper use of these platforms can trigger cyber aggression behaviors. This study aims to explore the relationship between self-control and the online disinhibition effect on cyber aggression among Generation Z Instagram users in Surabaya. Using a quantitative correlational approach, the research involved 150 respondents aged 13 to 28, selected through purposive sampling. Data collection was conducted using psychological scales, and the results were analyzed with multiple linear regression. The findings reveal that self-control and the online disinhibition effect simultaneously have a significant influence on cyber aggression behavior. Individually, self-control negatively correlates with online aggression, meaning higher self-control reduces such behavior, while the online disinhibition effect shows a positive correlation, indicating that reduced online inhibitions increase cyber aggression. These results highlight the crucial need to strengthen self-control and digital awareness as effective strategies to prevent aggressive behaviors in the virtual space. Keywords: Cyber aggression, Generation Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect Abstrak Generasi Z ialah kelompok usia yang aktif menggunakan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana berekspresi serta juga berinteraksi. Namun, penggunaan yang tidak bijak dapatlah memicu perilaku cyber aggression. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control serta juga online disinhibition effect terhadap perilaku cyber aggression pada pengguna Instagram dari kalangan Generasi Z di Surabaya. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 150 responden berusia 13–28 tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologis serta juga dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil temuan membuktikkan bahwasanya self-control serta juga online disinhibition effect secara simultan memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku cyber aggression. Secara parsial, self-control berhubungan negatif, sedangkan online disinhibition effect berhubungan positif terhadap agresi daring. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kontrol diri serta juga kesadaran digital didalam mencegah agresi di ruang maya. Kata kunci: Cyber aggression, Generasi Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect
Shyness dan Peer Attachment: Faktor Risiko atau Pelindung terhadap Problematic Internet Use pada Remaja? Cynthia Alinda Putri; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents are in a developmental stage where relationships with peers become the primary source of emotional support, social identity, and self-regulation. When attachment to peers is not fulfilled, characterized by poor communication, lack of trust, and feeling alienated from peers, it causes adolescents with poor peer attachment to tend to be isolated from their peers. Thus, shyness, or the condition of feeling uncomfortable in interactions and being prone to restlessness, makes adolescents withdraw from their environment. These two conditions encourage adolescents to seek comfort through the online world, which can trigger excessive and maladaptive internet use, commonly known as Problematic Internet Use. This reserach adopts a quantitative approach employing multiple linear regression analysis. The data were collected through a random cluster sampling method, involving a sample of 365 students from 2 (two) State Junior High Schools in Ponorogo, with sample age criteria of 13-15 years using a questionnaire that measures peer attachment, shyness, and problematic internet use. The findings of multiple linear regression analysis indicate that the significance values of peer attachment (X1) and shyness (X2) on problematic internet use (Y) are 0.000 (p < 0.01), which indicates a highly significant relationship between the two independent variables and problematic internet use. This means that together, peer attachment and shyness can be very significant predictors of problematic internet use Keywords: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness Abstrak Remaja berada pada tahap perkembangan di mana hubungan dengan teman sebaya menjadi sumber utama dukungan emosional, identitas sosial, dan regulasi diri. Ketika kelekatan dengan teman sebayanya tidak terpenuhi yang ditandai dengan buruknya komunikasi, kurangnya kepercayaan, dan merasa terasing dengan teman sebayanya menyebabkan remaja dengan tingkat kelekatan teman sebaya yang buruk cenderung terasingkan dari teman sebayanya sehingga malu atau disebut shyness merupakan kondisi individu merasa tidak nyaman dalam berinteraksi, cenderung gelisah yang membuat remaja menarik diri dari lingkungannya. Kedua kondisi ini mendorong remaja untuk mencari kenyamanan melalui dunia maya yang dapat memicu penggunaan internet secara berlebihan dan maladaptif, biasa diketahui sebagai Problematic Internet Use. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik random cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 365 siswa pada 2 (dua) Sekolah Mengengah Pertama Negeri di Ponorogo, dengan kriteria usia sampel 13-15 tahun menggunakan kuisioner yang mengukur peer attachment, shyness, dan problematic internet use. Dari hasil analisis regresi linear berganda diketahui bahwa nilai signifikansi peer attachment (X1) dan shyness (X2) terhadap problematic internet use (Y) sebesar 0,000 (p < 0,01), yang mengindikasikan adanya hubungan sangat signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan problematic internet use, artinya secara bersama-sama peer attachment dan shyness dapat menjadi prediktor yang sangat signifikan untuk problematic internet use. Kata kunci: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness