Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Perilaku Agresi Penonton Sepak Bola Ditinjau dari Harga Diri dengan Kiu Agresi Sebagai Variabel Antara Nur Halimah; Suryanto Suryanto; Dyan Evita Santi
BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4, November 2020
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.614 KB) | DOI: 10.28926/briliant.v5i4.498

Abstract

Perilaku agresi yang muncul dalam pertandingan sepak bola disebabkan harga diri mereka yang terancam dan terluka karena adanya rangsangan situasional seperti kekalahan sehingga menyebabkan adanya emosi negative dan membuat para penonton berperilaku agresi. Adanya rangsangan/stimulus negatif yang terjadi di lapangan sepak bola secara tidak langsung akan merangsang pemikiran mereka untuk bertindak agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan variabel harga diri dengan perilaku agresi penonton sepak bola dengan kiu agresi sebagai variabel intervening. Subyek penelitian ini adalah penonton sepak bola Bonek Persebaya yang menonton secara langsung yang berjumlah 110 orang. Skala Ukur menggunakan skala perilaku agresi dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,868, skala harga diri dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,815, dan skala kiu agresi dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,811. Data yang terkumpul telah lolos dari semua uji asumsi klasik dan barulah kemudian dianalisis dengan teknik regresi linier ganda. Hasil analisa data menunjukkan bahwa nilai hubungan langsung sebesar 0,252 dan hubungan tidak langsung sebesar 0,019 yang mengartikan bahwa nilai hubungan langsung lebih besar dari hubungan tidak langsung. Hasil ini menunjukkan bahwa kiu agresi dapat dikatakan sebagai variabel yang tidak dapat memediasi antara variabel harga diri dengan perilaku agresi.
Pengaruh Pelatihan Komunikasi untuk Meningkatkan Efikasi Diri Karyawan Dyan Evita Santi; Puspaningrum Puspaningrum
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.947 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v6i2.4698

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan komunikasi terhadap efikasi diri karyawan .Desain penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dipilih berdasarkan purposive sampling.Analisis data yang diperoleh menggunakan model Miles dan Huberman,dan keabsahan data diuji menggunakan triangulasi data atau sumber.Efikasi diri Karyawan merupakan tingkat keberhasilan Karyawan dalam melaksanakan tugasnya.Faktor yang mempengaruhi efikasi diri karyawan adalah pelatihan komunikasi.Pelatihan merupakan proses peningkatan keterampilan kerja karyawan untuk membantu mencapai tujuan perusahaan.Komunikasi adalah penyampaian atau pertukaran informasi dari pengirim kepada penerima, baik secara lisan, tertulis maupun dengan menggunakan alat komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelatihan komunikasi telah efektif,dapatdilihat dalam indikator fungsi pelatihan komunikasi sehingga berdampak pada efikasi diri karyawan yang baik/optimal .Hal tersebut juga dilihat dari terpenuhinya hampir keseluruhan indikator efikasi diri karyawan yang telah ditentukan oleh peneliti sebelumnya.Diharapkan adanya pelatihan yang terkhusus untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, sehingga karyawan dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin di dalam meningkatkan efikasi diri Karyawan.
Pendekatan Pembelajaran Heutagogy untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa: Systematic Literature Review Ollyvia Febry; Dyan Evita Santi; Abdul Muhid
Lectura : Jurnal Pendidikan Vol. 13 No. 2 (2022): Lectura: Jurnal Pendidikan
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/lectura.v13i2.10532

Abstract

Abstrak: Perubahan merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan, belajar dari belajar menghadapi kehidupan merupakan proses penting dalam memenuhi kebutuhan untuk hidup (Hase, 2016). Heutagogy merupakan filosofis pendekatan baru yang didalam prakteknya memberikan konsep keakraban seperti konstruktivisme, kemampuan, andragogi, dan teori kompleksitas. Heutagogy merupakan pembelajaran yang sesuai dengan revolusi digital saat ini karena menggabungkan berbagai macam pendekatan yang membuat siswa merasa memiliki kebebasan dalam belajar. Heutagogy memiliki tahapan pembelajaran yaitu 1. Membuat/ merancang kontrak pembelajaran antara siswa dan guru; 2. Mengidentifikasi sumber belajar bersama; 3. Evaluasi/ penilaian hasil kerja (Lasmawan & Budiarta, 2020). Apabila siswa sudah melakukan tahapan diatas maka, hal ini bermakna siswa sudah mengembangkan dirinya sehingga proses pengembangan kreativitas optimal dan kemampuan pada diri pelajar sesuai potensi yang mereka miliki sendiri sedang guru hanya menuntun atau sebagai fasilitator. Oleh karena itu setiap guru harus memahami hal ini, sehingga mereka dapat memberikan pelayanan yang efektif dan optimal sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan. kajian kepustakaan tentang heutagogy dan pengembangannya terhadap kreativitas siswa. Maka merupakan hal yang penting untuk memperdalam ilmu dan memperluas wawasan mengenai. heutagogy supaya siswa mendapatkan intervensi yang berpusat pada dirinya dari lingkungan belajarnya. Terdapat 3 pertanyaan yang diajukan pada penelitian ini, yaitu Bagaimana peran. heutagogy dalam mengembangkan kreativitas siswa?; Bagaimana model penerapan heutagogy untuk mengembangkan kreativitas siswa?; Bagaimana dampak dari penerapan heutagogy untuk mengembangkan kreativitas siswa? Analisa pada penelitian ini menggunakan metode systematic literature review pada 15 literatur.
PENGARUH PELATIHAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASI DIRI KARYAWAN Dyan Evita Santi; Puspaningrum Puspaningrum
Jurnal Darma Agung Vol 30 No 1 (2022): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v30i1.1685

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan komunikasi terhadap efikasi diri karyawan. Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan perekaman untuk mengumpulkan data. Responden dipilih berdasarkan purposive sampling. Menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan model Miles dan Huberman dan menggunakan triangulasi data atau sumber untuk menguji keabsahan data. Efikasi diri karyawan adalah sejauh mana karyawan berhasil dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri karyawan adalah pelatihan komunikasi. Pelatihan adalah proses meningkatkan keterampilan kerja karyawan untuk membantu mencapai tujuan perusahaan. Komunikasi adalah transfer atau pertukaran informasi dari pengirim ke penerima, baik secara lisan, tertulis, atau melalui penggunaan alat komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelatihan komunikasi efektif dan pengaruhnya terhadap efikasi diri karyawan yang baik/optimal dapat dilihat pada indikator fungsi pelatihan komunikasi. Terlihat pula bahwa mulai dari terwujudnya hampir semua indikator efikasi diri karyawan yang diidentifikasi oleh peneliti sebelumnya, khususnya peningkatan keterampilan komunikasi, memungkinkan karyawan untuk memberikan pelayanan yang terbaik dalam meningkatkan efikasi diri karyawan.
Religiusitas dan resiliensi santri selama pandemi COVID-19 Isrida Yul Arifiana; Dyan Evita Santi; Fauzul Adim Ubaidillah
PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Vol. 1 No. 2 (2022): PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.273 KB) | DOI: 10.35316/psycomedia.2022.v1i2.14-20

Abstract

The Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic impacts several aspects of the social life of students at Islamic Boarding Schools. Resilience is one of the psychological resources developed by individuals and communities to prevent the negative impact of the Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic. This study aims to examine the relationship between religiosity and resilience. This research uses the quantitative correlational method. The participants of this study amounted to 216 students who were selected based on a simple random sampling technique. This study uses a resilience scale from Wagnild & Young to measure resilience, and the religiosity scale is based on the dimensions of Islamic worldview and religious personality from Krauss, Hamzah, Juhari, & Hamid. Analysis of this research data using regression analysis with the help of Jeffrey's Amazing Statistics Program (JASP). The results of this study indicate that religiosity has a positive and significant relationship with resilience. Suggestions from this study are that the results of this study can be used as a basis for developing student resilience. Further researchers are expected to examine other psychological resources to develop resilience during the COVID-19 pandemic.
Kontribusi Modal Psikologis dan Kebersyukuran dalam Mengurangi Stres Kerja Guru Sekolah Dasar Fernanda Marnitio Pratanu; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The teaching profession has become increasingly demanding and complex in recent times. This study aims to examine the relationship between psychological capital and gratitude with job stress among elementary school teachers. This research is a quantitative study using multiple linear regression correlation techniques. The participants in this study consisted of 193 elementary school teachers in the Surabaya area. Data collection was conducted by distributing questionnaires both online and offline using a Likert scale. The instruments used included the STJSS scale with 39 items, the PCQ scale with 30 items, and the GRAT scale with 42 items. Data analysis was carried out using correlation tests, and the findings of this study indicate a significant negative relationship between psychological capital and gratitude with job stress among teachers. Psychological capital showed a significant negative correlation with job stress. Meanwhile, gratitude showed a positive but non-significant relationship with job stress. It can be concluded that elementary school teachers can manage job stress effectively if they possess strong psychological capital, whereas gratitude is not a suitable predictor for reducing job stress among teachers. Keywords: Psychological Capital, Gratitude, Job Stress Among Teachers Abstrak Profesi guru semakin dewasa ini semakin berat dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasi regresi linier berganda. Partisipan penelitian ini sebanyak 193 guru sekolah dasar di wilayah Kota Surabaya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara online maupun offline dengan menggunakan skala likert. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala STJSS sejumlah 39 aitem, skala PCQ sejumlah 30 aitem, dan skala GRAT sejumlah 42 aitem. Teknik analisis data dilakukan dengan uji korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru. Modal psikologis dengan stres kerja guru menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dengan stres kerja guru. Kebersyukuran dengan stres kerja guru menunjukkan adanya hubungan positif yang tidak signifikan antara kebersyukuran dengan stres kerja guru. Dapat disimpulkan bahwa guru sekolah dasar dapat mengelola tekanan stres kerja apabila memiliki modal psikologis yang baik, sedangkan kebersyukuran tidak dapat sebagai prediktor yang tepat untuk menurunkan tekanan stres kerja guru. Kata kunci: Modal Psikologis, Kebersyukuran, Stres Kerja Guru
Shyness dan Peer Attachment: Faktor Risiko atau Pelindung terhadap Problematic Internet Use pada Remaja? Cynthia Alinda Putri; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents are in a developmental stage where relationships with peers become the primary source of emotional support, social identity, and self-regulation. When attachment to peers is not fulfilled, characterized by poor communication, lack of trust, and feeling alienated from peers, it causes adolescents with poor peer attachment to tend to be isolated from their peers. Thus, shyness, or the condition of feeling uncomfortable in interactions and being prone to restlessness, makes adolescents withdraw from their environment. These two conditions encourage adolescents to seek comfort through the online world, which can trigger excessive and maladaptive internet use, commonly known as Problematic Internet Use. This reserach adopts a quantitative approach employing multiple linear regression analysis. The data were collected through a random cluster sampling method, involving a sample of 365 students from 2 (two) State Junior High Schools in Ponorogo, with sample age criteria of 13-15 years using a questionnaire that measures peer attachment, shyness, and problematic internet use. The findings of multiple linear regression analysis indicate that the significance values of peer attachment (X1) and shyness (X2) on problematic internet use (Y) are 0.000 (p < 0.01), which indicates a highly significant relationship between the two independent variables and problematic internet use. This means that together, peer attachment and shyness can be very significant predictors of problematic internet use Keywords: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness Abstrak Remaja berada pada tahap perkembangan di mana hubungan dengan teman sebaya menjadi sumber utama dukungan emosional, identitas sosial, dan regulasi diri. Ketika kelekatan dengan teman sebayanya tidak terpenuhi yang ditandai dengan buruknya komunikasi, kurangnya kepercayaan, dan merasa terasing dengan teman sebayanya menyebabkan remaja dengan tingkat kelekatan teman sebaya yang buruk cenderung terasingkan dari teman sebayanya sehingga malu atau disebut shyness merupakan kondisi individu merasa tidak nyaman dalam berinteraksi, cenderung gelisah yang membuat remaja menarik diri dari lingkungannya. Kedua kondisi ini mendorong remaja untuk mencari kenyamanan melalui dunia maya yang dapat memicu penggunaan internet secara berlebihan dan maladaptif, biasa diketahui sebagai Problematic Internet Use. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik random cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 365 siswa pada 2 (dua) Sekolah Mengengah Pertama Negeri di Ponorogo, dengan kriteria usia sampel 13-15 tahun menggunakan kuisioner yang mengukur peer attachment, shyness, dan problematic internet use. Dari hasil analisis regresi linear berganda diketahui bahwa nilai signifikansi peer attachment (X1) dan shyness (X2) terhadap problematic internet use (Y) sebesar 0,000 (p < 0,01), yang mengindikasikan adanya hubungan sangat signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan problematic internet use, artinya secara bersama-sama peer attachment dan shyness dapat menjadi prediktor yang sangat signifikan untuk problematic internet use. Kata kunci: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness
Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja: Bagaimana Peranan Konsep Diri dan Regulasi Emosi? Novi Anggraeni; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies in adolescents. The research used a quantitative method with a correlational approach. The subjects were junior high school students aged 12–15 years. The sampling technique used was quota sampling. The instruments used were the self-concept scale, emotion regulation scale, and bullying tendency scale, which were developed based on relevant theories. Data analysis was conducted using multiple regression to determine both simultaneous and partial relationships among variables. The results showed a significant relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies. The study concluded that adolescents with negative self-concept and maladaptive emotion regulation tend to show higher tendencies toward bullying behavior. This research is expected to contribute to the development of bullying prevention programs by taking into account adolescents' psychological aspects. Keywords: adolescents; bullying behavior; emotion regulation; self-concept; Abstrak Perilaku bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh seseorang atau kelompok terhadap individu yang dianggap lebih lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 301 siswa, yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Skala penelitian meliputi skala konsep diri yang diadaptasi dari Goni dkk. (2011) dengan nilai cronbach alpha 0,976, skala regulasi emosi yang merujuk pada Thompson (1994) dengan nilai cronbach alpha 0,975, serta skala perilaku bullying yang merujuk pada Solberg dan Olweus (2003) dengan nilai cronbach alpha 0,978, yang keseluruhannya menunjukkan kualitas psikometri yang baik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja dengan konsep diri negatif dan regulasi emosi yang tidak adaptif lebih berpotensi untuk terlibat dalam perilaku bullying. Oleh karena itu, kedua variabel tersebut dapat menjadi prediktor terhadap kecenderungan bullying pada remaja. Kata kunci: konsep diri; perilaku bullying;regulasi emosi; remaja
Body Dissatisfaction pada Perempuan Dewasa Awal Ditinjau dari Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Peran Objektifikasi Diri Assyifa Padma Ardi Nugroho; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Body dissatisfaction is a psychological condition in which individuals feel that their bodies do not conform to ideal appearance standards and tend to hold negative evaluations of their own bodies. This research aims to examine the relationship between social media use intensity and body dissatisfaction, as well as to evaluate the role of self-objectification as a moderating variable. A correlational quantitative approach was employed, involving 357 emerging adult female participants in Surabaya who actively use social media. This research instrument comprised three scales: the social media use intensity scale, the body dissatisfaction, and the self-objectification. The data were analyzed using moderated regression analysis. The results indicated that while both social media use intensity and self-objectification were positively associated with body dissatisfaction. However, self-objectification did not moderate the relationship between the two variables. In other words, both variables independently contribute to the level of body dissatisfaction among emerging adult women. Keywords: body dissatisfaction, social media use, self-objectification, emerging adulthood Abstrak Body dissatisfaction merupakan kondisi psikologis di mana individu merasa tubuhnya tidak sesuai dengan standar penampilan ideal dan cenderung memberikan penilaian negatif terhadap tubuhnya sendiri. Tujuan dari studi ini untuk mengkaji korelasi antara intensitas penggunaan media sosial dan body dissatisfaction, serta mengevaluasi peran objektifikasi diri sebagai variabel moderator. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan melibatkan 357 partisipan wanita dewasa awal di Surabaya yang aktif menggunakan media sosial. Instrumen dalam studi ini mencakup tiga skala, yaitu skala intensitas penggunaan media sosial, body dissatisfaction, dan objektifikasi diri. Data dianalisis menggunakan teknik moderated regression analysis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik intensitas penggunaan media sosial maupun objektifikasi diri memiliki korelasi positif dengan body dissatisfaction. Namun demikian, objektifikasi diri tidak berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Dengan kata lain, kedua variabel ini secara independen berkontribusi terhadap tingkat body dissatisfaction pada perempuan dewasa awal. Kata kunci: body dissatisfaction, penggunaan media sosial, objektifikasi diri, dewasa awal
Kesejahteraan Psikologis Wanita yang Memilih Childfree: Peran Kepuasan Hidup dan Dukungan Sosial Aflah Ikhtiyasa Nagrimukti; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research explores the psychological well being of young adult women who chosen to remain childfree. The childfree choice often leads to social stigma that can affect an individual’s psychological condition. The aim of this study is to explore the role of life satisfaction and social support in the psychological well being of childfree women. This research used a quantitative approach with a correlational design. The participants were 116 early adult women aged 20-40 years who were married anf consciously chose to be childfree. The instruments used were the life satisfaction scale, social support scale, and psychological well being scale. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that life satisfaction and social support jointly contribute to psychological well being, but only life satisfaction plays a significant role. It is concluded that the psychological well being of childfree women is more strongly influenced by their level of life satisfaction, while social support contributes when aligned with personal values. Keywords: childfree, early adult women, life satisfaction, psychological well being, social support Abstrak Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis pada wanita dewasa awal yang memilih untuk childfree. Pilihan childfree kerap menimbulkan stigma sosial yang memengaruhi kondisi psikologis individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kepuasan hidup dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis wanita childfree. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 116 wanita dewasa awal berusia 20-40 tahun yang telah menikah dan memilih childfree secara sadar. Instrumen penelitian meliputi skala kepuasan hidup, skala dukungan sosial, dan skala kesejahteraan psikologis. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa kepuasan hidup dan dukungan sosial bersama-sama berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis, namun hanya kepuasan hidup yang berperan secara signifikan. Disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis wanita childfree lebih dipengaruhi oleh tingkat kepuasan hidup, sementara dukungan sosial berperan apabila selaras dengan nilai hidup pribadi. Kata kunci: childfree, dukungan sosial, kepuasan hidup, kesejahteraan psikologis, wanita dewasa awal