Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Role playing Meningkatkan Nilai Ujian Akhir Mahasiswa Blok Profesionalisme Kedokteran Yenny, Luh Gede Sri; Wandia, I Made
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1, No 1 (2016):
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan profesionalisme kedokteran merupakan  salah satu komponen kurikulum yang sangat penting dalam kurikulum pendidikan dokter. Pengembangan dan perbaikan modul Blok Profesionalisme Kedokteran merupakan jembatan untuk menghasilkan lulusan kedokteran yang mampu bersikap dan berperilaku professional. Pengembangan modul dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya yaitu dengan menerapkan metode role playing. Penerapan metode role playing dilakukan pada Blok Profesionalisme Kedokteran 2012 dan dibandingkan dengan Blok Profesionalisme kedokteran 2011 dimana pada saat itu metode role playing belum diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan nilai ujian akhir mahasiswa, jumlah lulusan dan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri. Didapatkan kelulusan yang lebih tinggi pada Blok Profesionalisme Kedokteran 2012 dibandingkan dengan Blok Profesionalisme Kedokteran 2011 yaitu 83.7%: 32.2%. Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan metode role playing dengan nilai ujian akhir mahasiswa (p<0.05) dan dengan kelulusan (p<0.05). Sebagian besar mahasiswa merasa lebih termotivasi untuk belajar profesionalisme kedokteran (94.55%). Penggunaan metode role playing dapat meningkatkan nilai ujian akhir, jumlah lulusan dan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri Blok Profesionalisme Kedokteran 2012. Kata Kunci: role playing, profesionalisme kedokteran, pendidikan kedokteran   [Role Playing Increases Students’ Scores of Final Examination in the Block Medical Professionalism] Medical professionalism education is one of very important curriculum components in medical education. Development and improvement of the module of the Block Medical Professionalism are the bridge to yielding a good, capable and professional medical doctor. The development of the module can be conducted in various ways, one of which is by applying the method of role playing. Role playing method applied at Block Medical Professionalism of 2012 was compared to Block Medical Professionalism of 201in which role playing was not applied This research aimed to assess if there was  increase of the result score of the students’ final test, total  number of passing students, and students’ self motivation to study  individually. The study results showed a higher number of passing students   in medical professionalism block of 2012  as compared to medical professionalism block of 2011 (83.7% vs 32.2%). There was a significant correlation between role playing and the mean score of the students’ final test (p<0.05) and with the number of passing students (p<0.05). Most student felt more motivated to learn medical professionalism (94.55%). Application of role playing method can improve the final test score, total number of passing students, and students’ self motivation to study medical professionalism of 2012. Keywords: role playing, medical professionalism, medical education
KORELASI ANTARA KADAR MAGNESIUM DENGAN RESISTENSI INSULIN PADA PENDUDUK SUKU BALI DI DESA PEDAWA KABUPATEN BULELENG Sri Yenny, Luh Gede; Suastika, Ketut
journal of internal medicine Vol. 12, No. 3 September 2011
Publisher : journal of internal medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.62 KB)

Abstract

Magnesium is one of microminerals playing pivotal role in glucose homeostasis and insulin activities. Magnesium playsa very important role in phosphorylation of insulin receptor. This is an analytical cross-sectional study to determinethe prevalence of hypomagnesium and correlation between magnesium level with insulin resistance, performed inPedawa Village Bali at February 2010. Subjects for this study were comprised of 111 people, 45 males (40.5%) and 66females (59.5%). Prevalence of hypomagnesium is 17.12%. The prevalence of hypomagnesium is higher in geriatricsubjects compare with non geriatric subjects (38.48% vs 10.98%, p = 0.004), is higher in diabetes subjects compare withnon diabetes (60% vs 15.1%, p = 0.035), and higher in subject with metabolic syndrome compare with non metabolicsyndrome (34.78% vs 12.5%, p = 0.025). Because lack on sensitivity of insulin measurement, 87 subjects (78.38%) thathave insulin level < 2  IU/ml can not measured by machine so the level of HOMA-IR of this subjects can not calculated,and just 24 subjects (21.62%) have insulin level > 2  IU/ml which can measured. From this 24 subjects, there is nosigniÞ cant correlation between magnesium level and insulin resistance (HOMA-IR) (r = -0.1, p = 0.642). In this study,we found a high prevalence of hypomagnesium in residents of Pedawa Village. The prevalence of hypomagnesium ishigher in geriatrics, diabetes mellitus, and metabolic syndrome subjects. There is no signiÞ cant correlation betweenmagnesium and insulin resistance (HOMA-IR), may be because lack of subject in this study. Thus further studies withhigher sensitivity of insulin measurement and enough sample of diabetic or metabolic syndrome patients in hospitalsettingare needed to determine correlation between magnesium level and insulin resistance.
HIPONATREMIA PADA SEORANG PENDERITA DENGAN KECURIGAAN INSUFISIENSI ADRENAL Sri Yenny, Luh Gede; Gotera, Wira
journal of internal medicine Vol. 8, No. 3 September 2007
Publisher : journal of internal medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.575 KB)

Abstract

Hyponatremia is defined as a decrease in the serum sodium concentration to a level below 135 mmol perliter. Hyponatremia can be associated with low, normal, or high tonicity. One cause of hyponatremia is adrenalinsufficiency. Serum sodium concentration is regulated by stimulation of thirst, secretion of ADH, feedbackmechanisms of the renin-angiotensin-aldosterone system, and variations in renal handling of filtered sodium.Increases in serum osmolarity above the normal range (280-300 mOsm/kg) stimulate hypothalamicosmoreceptors, which, in turn, cause an increase in thirst and in circulating levels of ADH. ADH increases freewater reabsorption from the urine, yielding urine of low volume and relatively high osmolarity and, as a result,returning serum osmolarity to normal. Aldosterone, synthesized by the adrenal cortex, is regulated primarily byserum potassium but also is released in response to hypovolemia through the renin-angiotensin-aldosterone axis.Aldosterone causes absorption of sodium at the distal renal tubule.In this report, patient is male, 64 years old, with probable adrenal insufficiency. Patient have very lowrespond to sodium teraphy. The sodium level increased and have good respond after corticosteroid teraphy.Patient have low level of cortisol serum (18,60 ?/dl) in critically ill condition.The possibility of adrenal insufficiency is of crucial importance in critically ill patients. If the diagnosisis missed, the patient will probably die. In such patients, a blood sample for the measurement of plasma cortisoland corticotropin should be obtained, a short corticotropin test (see below) should be performed, and immediatehigh-dose cortisol therapy should be considered or instituted. A plasma cortisol value in the normal range doesnot rule out adrenal insufficiency in an acutely ill patient. On the basis of a recent study of plasma cortisolconcentrations in patients with sepsis or trauma, a plasma cortisol value of more than 25 ?g per deciliter in apatient requiring intensive care probably rules out adrenal insufficiency, but a safe cutoff value is unknown.
Penggunaan Metode Role playing Meningkatkan Nilai Ujian Akhir Mahasiswa Blok Profesionalisme Kedokteran Luh Gede Sri Yenny; I Made Wandia
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.1.6.17-23

Abstract

Pendidikan profesionalisme kedokteran merupakan  salah satu komponen kurikulum yang sangat penting dalam kurikulum pendidikan dokter. Pengembangan dan perbaikan modul Blok Profesionalisme Kedokteran merupakan jembatan untuk menghasilkan lulusan kedokteran yang mampu bersikap dan berperilaku professional. Pengembangan modul dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya yaitu dengan menerapkan metode role playing. Penerapan metode role playing dilakukan pada Blok Profesionalisme Kedokteran 2012 dan dibandingkan dengan Blok Profesionalisme kedokteran 2011 dimana pada saat itu metode role playing belum diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan nilai ujian akhir mahasiswa, jumlah lulusan dan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri. Didapatkan kelulusan yang lebih tinggi pada Blok Profesionalisme Kedokteran 2012 dibandingkan dengan Blok Profesionalisme Kedokteran 2011 yaitu 83.7%: 32.2%. Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan metode role playing dengan nilai ujian akhir mahasiswa (p<0.05) dan dengan kelulusan (p<0.05). Sebagian besar mahasiswa merasa lebih termotivasi untuk belajar profesionalisme kedokteran (94.55%). Penggunaan metode role playing dapat meningkatkan nilai ujian akhir, jumlah lulusan dan motivasi mahasiswa untuk belajar mandiri Blok Profesionalisme Kedokteran 2012.Kata Kunci: role playing, profesionalisme kedokteran, pendidikan kedokteran.[Role Playing Increases Students’ Scores of Final Examination in the Block Medical Professionalism].Medical professionalism education is one of very important curriculum components in medical education. Development and improvement of the module of the Block Medical Professionalism are the bridge to yielding a good, capable and professional medical doctor. The development of the module can be conducted in various ways, one of which is by applying the method of role playing. Role playing method applied at Block Medical Professionalism of 2012 was compared to Block Medical Professionalism of 201in which role playing was not applied This research aimed to assess if there was  increase of the result score of the students’ final test, total  number of passing students, and students’ self motivation to study  individually. The study results showed a higher number of passing students   in medical professionalism block of 2012  as compared to medical professionalism block of 2011 (83.7% vs 32.2%). There was a significant correlation between role playing and the mean score of the students’ final test (p<0.05) and with the number of passing students (p<0.05). Most student felt more motivated to learn medical professionalism (94.55%). Application of role playing method can improve the final test score, total number of passing students, and students’ self motivation to study medical professionalism of 2012.Key words: role playing, medical professionalism, medical education.
Hubungan Stres dengan Kejadian Irritable Bowel Syndrome pada Mahasiswa Tahun Pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa Komang Rossa Triana Kusumadewi; Luh Gede Sri Yenny; A.A. Sri Agung Aryastuti
AMJ (Aesculapius Medical Journal) Vol. 2 No. 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fakultas Kedokteran memiliki berbagai macam metode pembelajaran yang dapat menimbulkan stres yang merupakan pencetus timbulnya gangguan fungsional saluran pencernaan yaitu irritable bowel syndrome (IBS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stres dengan kejadian IBS pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Maret tahun 2022 menggunakan studi cross-sectional dan teknik sampling simple random sampling. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa angkatan 2021 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berjumlah 73 orang. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner Rome IV untuk kejadian IBS dan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk tingkat stres. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney dengan nilai p yang dianggap signifikan yaitu <0,05. Berdasarkan penelitian ini didapatkan prevalensi stres ringan sebanyak 9 orang (12,3%), stres sedang sebanyak 61 orang (83,6%), dan stres berat sebanyak 3 orang (4,1%). Prevalensi kejadian irritable bowel syndrome didapatkan sebanyak 7 orang (9,6%). Melalui analisis Mann-Whitney diperoleh nilai p signifikan yaitu 0,015 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan stres dengan kejadian IBS pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa. Dengan adanya hubungan stres dengan kejadian IBS maka mahasiswa kedokteran disarankan harus peduli dan sadar terkait gejala dan kondisi tubuh yang bisa saja terjadi akibat adanya stres.
Hubungan Aktivitas Fisik Sehari-hari dengan Derajat Hipertensi pada Pra Lansia dan Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Timur Ni Putu Ayu Indah Eliani; Luh Gede Sri Yenny; Ni Made Hegard Sukmawati
AMJ (Aesculapius Medical Journal) Vol. 2 No. 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kardiovaskular yang mayoritas dialami masyarakat terutama lansia adalah hipertensi. Penatalaksanaan nonfarmakologis yang efektif salah satunya adalah melakukan aktivitas fisik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik sehari- hari dengan derajat hipertensi pada pra lansia dan lansia di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Timur. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan cross sectional dan teknik consecutive sampling. Instrumen yang dilakukan pada penelitian ini adalah kuesioner GPAQ, sfigmomanometer dan stetoskop. Analisis data dilakukan dengan uji rank spearman. Sampel pada penelitian ini berjumlah 64 sampel. Berdasarkan penelitian ini didapatkan 10 sampel hipertensi (15,6%) memiliki aktivitas fisik rendah, 1 sampel (1,6%) menderita hipertensi derajat 1, 3 sampel (4,7%) menderita hipertensi derajat 2 dan 6 sampel (9,4%) menderita hipertensi derajat 3. Sejumlah 35 sampel (54,7%) hipertensi memiliki aktivitas fisik sedang. Berdasarkan total tersebut terdapat hipertensi derajat 1 sejumlah 21 sampel (32,8%), hipertensi derajat 2 sejumlah 11 sampel (17,2%), dan hipertensi derajat 3 sejumlah 3 sampel (4,7%). Dari total 19 sampel (29,7%) memiliki aktivitas fisik tinggi terdapat hipertensi derajat 1 sejumlah 16 sampel (25%), hipertensi derajat 2 sejumlah 2 sampel (3,1%) dan hipertensi derajat 3 sejumlah 1 sampel (1,6%). Melalui analisis uji rank spearman didapatkan nilai p signifikan yaitu p-value ˂0.0001. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara aktivitas fisik sehari-hari dengan derajat hipertensi pada pra lansia dan lansia di puskesmas I Denpasar Timur dengan arah hubungan berlawanan (r=-0.489). Semakin rendahnya derajat hipertensi disebabkan oleh meningkatnya aktivitas fisik pada responden.
Hubungan Kadar Kreatinin dan Ureum dengan Derajat Anemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Sanjiwani Gianyar Ni Wayan Ayu Maha Dewi; Luh Gede Sri Yenny; Putu Nita Cahyawati
AMJ (Aesculapius Medical Journal) Vol. 3 No. 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) masih menjadi masalah kesehatan dunia yang ditandai dengan peningkatan prevalensi setiap tahunnya. PGK menyebabkan terjadinya kerusakan ginjal yang dinilai dengan peningkatan kadar kreatinin dan ureum. Masalah kesehatan yang dapat terjadi pada pasien PGK salah satunya adalah anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar kreatinin dan ureum dengan derajat anemia, dengan menggunakan metode penelitian analitik dengan rancangan studi cross-sectional. Metode pengumpulan data menggunakan data sekunder dari rekam medis. Sampel penelitian adalah pasien PGK di RSUD Sanjiwani Gianyar yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik consecutive sampling sebanyak 80 sampel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita PGK didominasi oleh laki-laki (60%), dengan rentang usia 50-59 tahun (55%), serta didominasi oleh PGK stadium V (78,8%). Rerata kadar kreatinin dan ureum tertinggi ditemukan pada PGK stadium V, yaitu sebesar 11,41 mg/dL dan 143,72 mg/dL, sedangkan rata-rata kadar hemoglobin terendah didapatkan pada PGK derajat V (9,07 g/dL). Hasil uji One way anova menunjukkan nilai p=0,003 untuk kreatinin dan p=0,001 untuk ureum (p < 0,05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kadar kreatinin dengan pasien anemia sedang (p=0,003) dan pasien anemia berat (p=0,003) yang menggunakan uji post hoc Bonferroni, serta terdapat hubungan yang bermakna antara kadar ureum dengan pasien anemia sedang (p=0,022) dan pasien anemia berat (p=0,022) yang menggunakan uji post hoc Games-Howell.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Tim Bantuan Medis Baswara Prada Universitas Warmadewa Kadek Dean Ariska Aryawangsa; Luh Gede Sri Yenny; I Ketut Tangking Widarsa
AMJ (Aesculapius Medical Journal) Vol. 3 No. 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Knowledge of Basic Life Support (BLS) is considered basic knowledge for the medical team because it is needed to provide first aid to victims who experience cardiac arrest. The Baswara Prada Medical Assistance Team (TBM) is an organization engaged in medical emergencies under the auspices of the BEM-LM FKIK Warmadewa University. This study aims to analyze and describe the level of basic life support knowledge of the Baswara Prada Medical Assistance Team (TBM) at the Faculty of Medicine, Warmadewa University. This research is a descriptive study using a cross sectional approach. This research was conducted on 101 respondents of members of the Baswara Prada Medical Assistance Team, Warmadewa University. Data was collected by giving a questionnaire in the form of a google form containing questions about Basic Life Support (BLS) to members of the Baswara Prada Medical Assistance Team. The results of the research data were analyzed descriptively and presented in the form of tables or graphs. The results showed that the knowledge level of Basic Life Support (BLS) of the Baswara Prada Medical Assistance Team (TBM) of the Faculty of Medicine and Health Sciences, Warmadewa University was at a good level with a percentage of 95.1% and at an adequate level with a percentage of 4.9%.
Pelatihan Interpretasi Elektrokardiogram bagi Tenaga Kesehatan di Puskesmas III Denpasar Selatan Komang Trisna Sumadewi; Ni Wayan Rusni; Tanjung Subrata; Luh Gede Sri Yenny
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Henti jantung merupakan salah satu penyebab kematian utama didunia. Sekitar 85% penderita penyakit kardiovaskuler meninggal akibat henti jantung. Aritmia juga berkontribusi dalam menyebabkan kematian hingga mencapai 50% kasus. Prevalensi aritmia di Indonesia meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu 70% pada usia 65-85 tahun dan 8% pada usia diatas 85 tahun. Penderita gangguan kardiovaskuler umumnya mendapatkan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk menegakkan diagnosis. Tenaga medis harus mampu menginterpretasikan hasil rekaman EKG, meliputi gangguan konduksi, aritmia, dan gangguan miokard sehingga dapat mengetahui mengidentifikasi kegawatdaruratan di bidang kardiovaskuler. Wawancara bersama tenaga kesehatan di Puskesmas III Denpasar Selatan menemukan fasilitas untuk mendeteksi penyakit jantung masih terbatas. Mesin EKG di Puskesmas tergolong cukup jarang digunakan sehingga keterampilan dalam menggunakan EKG dan menginterpretasikannya mengalami penurunan. Tujuan dari program kemitraan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai kegawatdaruratan kardiovaskuler serta meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan di lingkungan Puskesmas III Denpasar Selatan mengenai penggunaan EKG serta interpretasinya. Mengacu pada permasalahan tersebut, maka dilaksanakan kegiatan pengabdian dengan memberikan edukasi mengenai kegawatdaruratan di bidang kardiovaskuler, melatih tenaga kesehatan dalam menggunakan mesin EKG serta menginterpretasikan hasil rekaman EKG. Program ini diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan di lingkungan Puskesmas III Denpasar Selatan menambah wawasan mengenai penyakit kardiovaskuler serta menurunkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler. Program kemitraan ini dilaksanakan di ruang pertemuan Puskesmas III Denpasar Selatan dengan kehadiran peserta sebanyak 100%. Berdasarkan nilai pretest dan postest didapatkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai penyakit kardiovaskuler (36,9%). Keterampilan mitra dalam menggunakan mesin EKG dan menginterpretasikannya juga meningkat dari observasi yang dilakukan oleh tim pengabdian.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK PROLANIS GEMPITA DALAM MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS Sri Agung Aryastuti, Anak Agung; Ratna Juwita, Dewa Ayu Putu; Sri Yenny, Luh Gede; Naya Kasih Permatananda, Pande Ayu; Nita Cahyawati, Putu
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 11 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i11.4136-4142

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, sehingga memerlukan upaya pengelolaan yang efektif untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Puskesmas Ubud 1 melalui program Pemberdayaan Kelompok Prolanis Gempita berupaya mengembangkan kemandirian pengelolaan DM dengan melibatkan pasien dalam pendidikan kesehatan, pelatihan keterampilan, dan pembentukan dukungan sosial. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta perubahan perilaku peserta dalam mengelola diabetes secara mandiri, termasuk dalam pemantauan gula darah, pengaturan pola makan, olahraga, dan manajemen obat. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 di Puskesmas Ubud 1 dan diikuti oleh 23 peserta Prolanis. Dari kegiatan ini, seluruh peserta (100%) mengalami peningkatan pengetahuan setelah penyuluhan tentang manajemen DM yang diketahui dari hasil pre-test dan post-test. Kelompok prolanis yang saat ini berjalan menjadi sarana bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman dan motivasi. Melalui pendekatan yang terintegrasi, diharapkan peserta dapat meningkatkan kemandirian dalam mengelola DM dan meminimalisir risiko komplikasi. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala memastikan efektivitas program ini dalam meningkatkan kemandirian peserta dalam pengelolaan DM. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes dan menjadi model pemberdayaan kelompok kesehatan lainnya di masyarakat