Introduction: Fingerprint test is a method for specific personal identification. Decomposed and severelydamaged bodies sometimes only leaving the finger to be examined by fingerprint test. This simpleprocedure can be used to determine gender which will help in corpse identification process.Methods: The design of the study is descriptive with cross sectional approach that was performed in 276medical students at RSUP H. Adam Malik and RSUD dr. Pirngadi Medan from May 2nd - July 10th, 2016.Results: The male research subjects have density of ridges with an average 11.23 ridges/25 mm2 withstandard deviation 1.18 ridges/25 mm2. While the female research subjects have density of ridges withan average 12.29 ridges/25 mm2 with standard deviation 1.10 ridges/25 mm2. We obtained P-value0.00001 based on data of the relationship between the density of ridges with gender and P-values0.2334 for the data of the relationship between the density of ridges with tribe.Conclusion: Density of ridges <12 ridges/25 mm2 is more likely belongs to males whereas density ofridges >12 ridges/25 mm2 more likely belongs to females. However, we cannot determine the tribe byridge density. There is a significant relationship between the density of ridges with gender but not withthe tribe.Keywords: Gender, the fingerprint ridges AbstrakPendahuluan Pemeriksaan sidik jari merupakan salah satu metode untuk mengidentifikasi individu olehkarena kekhasan polanya untuk masing-masing individu. Pada kondisi mayat yang telah membusuk danhancur terkadang hanya menyisakan jari tangan - dalam hal ini sidik jari - untuk diperiksa. Pemeriksaansidik jari yang sederhana ini dapat dipergunakan untuk menentukan jenis kelamin korban dan membantu proses identifikasi.Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional terhadap 276mahasiswa di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan dari tanggal 2 Mei - 10 Juli 2016.Analisis data menggunakan perangkat lunak Stata.Hasil: Subjek penelitian laki-laki memiliki kerapatan alur sidik jari rata-rata 11,23 alur sidik jari/25 mm2dengan simpang baku 1,18 alur sidik jari/25 mm2. Subjek penelitian perempuan memiliki kerapatan alursidik jari rata-rata 12,29 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpang baku 1,10 alur sidik jari/25 mm2.Didapatkan nilai P-value 0,00001 pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jeniskelamin dan P-value 0,2334 pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan suku.Simpulan: Kepadatan alur sidik jari <12 alur sidik jari/25 mm2 cenderung berjenis kelamin laki-laki.Kepadatan alur sidik jari ≥ 12 alur sidik jari/25 mm2 cenderung berjenis kelamin perempuan. Adahubungan yang signifikan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin namun tidak dengansuku.Kata Kunci: Jenis kelamin, alur sidik jari