Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Genius Loci Pasar Jongkok Tembilahan di Jalan Sultan Syarif Qasim Melly Erviani; Agus S Ekomadyo
Jurnal Tiarsie Vol 18 No 3 (2021): Jurnal TIARSIE 18.3 (edisi ekstra)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Langlangbuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32816/tiarsie.v18i3.107

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara lain merupakan salah satu faktor penyebab maraknya pakaian dan barang bekas masuk ke Indonesia. Barang impor bekas masuk melalui Pesisir Timur Indonesia. Penyebab masuknya barang impor tersebut ke Indonesia adalah karena keberadaan Pelabuhan tikus. Wilayah penyimpanan barang bekas paling banyak adalah Tembilahan. Tembilahan adalah ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir di bagian timur Provinsi Riau atau di bagian timur pantai Sumatera yang dikelilingi oleh sungai-sungai yang mengalir ke Selat Malaka. Tempat perdagangan atau disebut Pasar Jongkok Tembilahan kini telah berkembang di beberapa tempat, salah satunya di Jalan Sultan Syarif Qasim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Genius Loci dari Pasar Jongkok dapat dilihat dari image, space, dan character yang terbentuk di kawasan tersebut. Kegiatan jual beli di pasar jongkok yang mengacu pada kecerdasan lokal yang dibangun antar masyarakat dalam lingkungan fisik yang mewadahi aktivitas mereka disebut dengan genius loci.
Genius Loci Kampung Areng di Lembang Tyas Santri; Agus S Ekomadyo; Rakhmat Fitranto Aditra
Jurnal Tiarsie Vol 16 No 4 (2019): Jurnal TIARSIE 16.4
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Langlangbuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.891 KB) | DOI: 10.32816/tiarsie.v16i4.68

Abstract

Genius loci merupakan konsep keunikan suatu tempat, yang terbentuk karena dialog antara lingkungan alam dengan lingkungan binaan. Genius loci kampung Areng di Lembang terbentuk karena munculnya fasilitas eduwisata astronomi di kampung ini. Objek studi kajian ini menelusuri genius loci Imah Noong sebagai tempat wisata bertema astronomi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan place making. Genius Loci dari wisata astronomi Imah Noong dilihat dari image, character, space yang terbentuk di kawasan tersebut. Dari kajian tersebut, ditemukan bahwa genius loci Imahnoong terbangun karena adanya banyak aktivitas wisata yang terkait dengan aktivitas pendidikan, sosial, dan ekonomi. Perpaduan antara lingkungan alam pegunungan yang pas untuk aktivitas wisata astronomi yang dipadukan dengan aktivitas pendidikan, sosial, dan ekonomi menjadikan keunikan bagi kawasan Kampung Areng.
Genius Loci Permukiman Bansir Laut di Kota Pontianak Rika Savitri; Agus S Ekomadyo
Jurnal Tiarsie Vol 18 No 1 (2021): Jurnal TIARSIE 18.1 (edisi ekstra)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Langlangbuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32816/tiarsie.v18i1.88

Abstract

Wilayah yang memiliki sungai sebagai salah satu elemen ciri khas kota, sebagian besar memiliki peradaban yang tercipta di sepanjang tepian sungai. Kota Pontianak dilewati oleh Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Peradaban yang muncul di sepanjang tepian Sungai Kapuas memiliki khas budayanya tersendiri. Mulai dari kegiatan sehari-harinya yang memiliki interaksi erat dengan sungai, memiliki jalur transportasi dan distribusi dari sungai, dan mata pencahariannya bersumber dari sungai. Hal ini, membentuk citra kawasan yang atmosfernya menonjolkan keunikan sosial dan budaya masyarakat tersebut. Selain itu, karakter yang khas juga terlihat pada fasad kawasan, khususnya pada area permukiman, dengan mayoritas rumah berbentuk rumah kayu panggung. Penelitian ini mencoba untuk mencari genius loci dengan kasus yang ditelaah pada peradaban lokal di tepian Sungai Kapuas. Pengamatan dibatasi hanya pada penggalan sempadan Sungai Kapuas yang terletak pada Kelurahan Bansir Laut yang masih menjadi area permukiman vernakular. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan metode kualitatif untuk mengumpulkan dokumentasi digital di lapangan.
LEGITIMASI SIMBOLIS DALAM PENGETAHUAN MEMBANGUN RUMAH ADAT TORAJA Richard Elisa Fernando Pali; Agus S Ekomadyo; Sigit Kurniawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v7i1.978

Abstract

Abstract: Constructing process of traditional house requires knowledge, skill, material and technical expert by some actors.In Indonesia, Toraja societies have their own knowledge  to build their traditional. This research is purposed to explore actors’ roles, and knowledge distribution of Toraja traditional house constructing process. Based on tecnography approach, this research uses descriptive qualitative method to identify the making, distributed cognition and the construction of rules in this  construction. Data is collected through observation, interview and documentation. It is found that there are four main process in building Toraja tradistional house of: taking agreement, discussion, collecting material, and construction. There are also identified several significant actors: the big family, To Tumoke Buriak, Pandai Paliuk, Pandai Manarang, To Manarang, Pandai Nunu, Passura’ and society of around the traditional house. This research concludes that the actors’ role and their knowledge based authorities are framed by symbolic legitimation of Toraja culture. Actors’ positions are prequisites for constructed house are legitimated as Toraja traditional house or just common house.Abstrak: Dalam mendirikan rumah adat, diperlukan pengetahuan, kemampuan, dan keahlian teknik dan materialitas yang dimiliki oleh beberapa pelaku.Di Indonesia, masyarakat Toraja mempunyai pengetahuan khusus tentang rumah adat mereka. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran distribusi pengetahuan dari aktor yang terlibat dalam pembanguan rumah adat Toraja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teknografi, untuk mengidentifikasi proses pembuatan (the making), persebaran pengetahuan (distributed cognition) dan terbentuknya aturan (the construction of rules) dalam proses pembangunan tersebut. Data dikumpulkan lewat observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 4 proses mendirikan rumah adat Toraja yaitu, proses pengambilan kesepakatan, proses musyawarah, proses pengumpulan material, dan proses konstruksi. Ditemukan juga beberapa aktor yaitu, rumpun keluarga, To Tumoke Buriak, To Manarang, Pandai Manarang, Pandai Paliuk, Pandai Nunu, Passura’ dan masyarakat sekitar rumah adat yang memiliki peran masing masing dalam proses mendirikan rumah adat Toraja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran pelaku beserta pengetahuan untuk kewenangan mengambil keputusan ada dalam kerangka legitimasi simbolis budaya Toraja. Legitimasi ini menjadi penting, apakah suatu rumah yang terbangun akan dianggap sebagai rumah adat atau sekadar rumah biasa.