Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SINERGITAS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM PEKARANGAN PANGAN LESTARI MENCAPAI SDGS TANPA KELAPARAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Muhammad Habibi
Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) CIASTECH 2022 Transisi Global dalam Mencapai SDGs 2030
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai salah satu bagian dari negara yang tergabung dalam United Nations (UN) turut melaksanakan program pembanguan berkelanjutan SDGs. Salah satunya adalah Zero Hunger atau tanpa kelaparan. Untuk itu, Kabupaten Kutai Kartanegara turut mengimplementasikan program SDGs tanpa kelaparan melalui penguatan kemandirian P2L sebagai program kebijakan pemerintah pusat. Berdasarkan observasi dan penjajakan awal, keberadaan kebijakan program P2L masih memerlukan intervensi yang lebih intens lagi, terutama kepada kelompok sasaran, khususnya membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan replikasi P2L dipekarangan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menggali peran dari stakeholder pentahelix dalam pembangunan kemasyarakatan yang meliputi pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas atau masyarakat dan media massa dalam rangka mendukung penguatan implementasi kebijakan program P2L mencapai SDGs tanpa kelaparan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konsep kolaborasi pentahelix dalam pelaksanaan program P2L sebagai kebijakan untuk mencapai tujuan SDGs tanpa kelaparan masih belum optimal, mengingat program ini sebagai program pilot project sehingga masih terbatas pada stakeholders yang terlibat. Dimana dari 5 (lima) stakehoders peran akademisi, pengusaha, dan media massa belum terlibat secara mendalam, termasuk peran dari pemerintah desa khususnya dari sisi kebijakan dan dukungan program pemberdayaan serta anggaran pada tingkat desa. Sehingga kedepannya perlu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama para OPD perangkat daerah yang terkait pada bidang ini, melalui MoU dan MoA yang efektif dan terlaksana dengan baik, konsisten dan berkelanjutan.
EDUKASI TEORI ORGANISASI KEPADA IKATAN REMAJA MESJID SULTAN M. SULAIMAN KELURAHAN GUNUNG KELUA KOTA SAMARINDA Muhammad Habibi; Ahmad Yani; Kiki Risky Tania
Jurnal Pengabdian Kreativitas Pendidikan Mahakam (JPKPM) Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.682 KB) | DOI: 10.24903/jpkpm.v2i1.959

Abstract

Organisasi merupakan hal yang paling penting dalam manajemen. Karena tanpa organisasi yang baik dan teratur, tak ada manajemen yang bisa menjalankan fungsinya. Pada hakikatnya organisasi dibentuk sebagai wadah untuk berkumpul, bekerja sama secara sistematis. Alasan mengapa Teori Organisasi itu penting adalah, karena dengan mempelajari teori organisasi umum, seseorang akan lebih bisa memahami bagaimana ia harus menempatkan diri ketika berada didalam suatu ikatan organisasi. Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) adalah salah satu contoh organisasi yang merupakan bagian dari jamaah masjid, bertugas dan berkewajiban dalam menjalin hubungan harmonis dengan para remaja masjid, hingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan maju. Melalui organisasi ini pula para remaja bisa mengasah kemampuannya dalam berorganiasi. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah; (1) mengedukasi remaja khususnya IRMAS Mesjid Sultan M Sulaiman mengenai teori organisasi agar dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang organisasi kehidupan, remaja dapat mengantisipasi berbagai jenis masalah yang mungkin akan dihadapi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab baik dalam organisasi IRMAS maupun di organisasi lainnya. (2) mengevaluasi secara bersama – sama anggota IRMAS apakah IRMAS Mesjid Sultan M Sulaiman sudah menerapkan teori organisasi dengan baik, sehingga dapat memperbaiki proses operasional yang ada dalam organisasi. Hasil pelaksanaan yakni peserta termotivasi untuk lebih mengasah kemampuan mereka dalam berorganisasi karena dengan berorganiasi banyak sekali manfaat yang akan mereka peroleh yaitu: Manfaat Sosial: banyak organisasi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk pergaulan. Manfaat material: melalui organisasi manusia dapat melakukan berbagai hal yang tidak bisa dilakukannya sendiri misalnya dengan beroganisasi Memperbesar kemampuannya. Dengan berorganisasi manusia dapat menghemat waktu untuk mencapai suatu sasaran. Alasan material ketiga untuk adanya organisasi adalah bahwa organisasi memungkinkan manusia untuk menarik manfaat dari pengetahuan yang terakumulasi. Melalui PKM ini organisasi IRMAS Mesjid Sultan M Sulaiman telah mengevaluasi permasalahan yang terdapat dalam organisasi tersebut dan telah mendiskusikan solusi atas permasalahan tersebut. Kata Kunci: Teori Organisasi, IRMAS, Manfaat teori organisasi
Diskusi Kepemudaan Eksistensi Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Dalam Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja Desa Bukit Raya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Muhammad Kasim; Muhammad Habibi
Jurnal Pengabdian Kreativitas Pendidikan Mahakam (JPKPM) Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.522 KB) | DOI: 10.24903/jpkpm.v2i2.1097

Abstract

Diskusi Kepemudaan Eksistensi Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Dalam Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja Desa Bukit Raya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Muhammad Kasim1, Muhammad Habibi2 Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda habibi.mayangmaurai@gmail.com ABSTRAK Dinamika sosial budaya terus berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Pada satu sisi perkembangan tersebut memberikan dampak baik bagi kehidupan manusia dan menjadi semakin mudah dan praktis, tetapi pada sisi lain justru melahirkan bencana baru bagi kehidupan, terutama bagi individu yang belum memiliki pengetahuan untuk memfilter segala sesuatu yang bersifat negatif. Hal tersebut terutama terjadi pada usia tertentu, dan pada kenyataannya usia remaja sangat rentan mengalami degradasi moralitas, sehingga terjadi suatu fenomena sosial berupa kenakalan remaja sebagai sebuah perilaku menyimpang dari adat, budaya, dan nilai agama. pada beberapa kasus terjadi karena ketidaksiapan para remaja dalam menyikapi perubahan IPTEKS yang menghasilkan perilaku dan sikap baru dalam menghadapi perubahan, ditambah dengan ketidaksiapan pranata sosial dalam memberikan perlindungan bagi generasi muda sebagai generasi yang rentan terhadap berbagai dampak yang merubah perilaku para remaja kearah negatif. Sementara itu, bagi generasi muda yang memiliki bekal pengetahuan agama yang baik, lebih terlindungi dengan kemuliaan ajaran-ajaran Tuhan yang menjadi perisai, dan dapat menjadi contoh teladan untuk memberikan contoh nyata bagi remaja lainnya, yakni keberadaan remaja masjid yang biasanya bernaung di bawah organisasi kepemudaan Ikatan Remaja Masjid (Irma). Melalui kegiatan tersebut, PKM menghasilkan (a) wawasan peran penting para remaja Irma dalam mengurangi dan mengatasi kenakalan remaja, (b) Membangun konsep program mengurangi dan mengatasi kenakalan remaja bersama remaja Irma. Metode yang digunakan adalah metode tatap muka, berupa silaturahim, perkenalan, presentasi, dan diskusi. Diskusi menghasilkan pokok bahasan bahwa wilayah L-1 Desa Bukit Raya berada di jalur poros yang menghubungkan Kota Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Tenggarong sebagai Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki akses cepat, baik dinamika kehidupan dan informasi yang membawa konsekuensi pada perilaku remaja, terutama menyimpang yang berakibat pada kenakalan remaja. IRMA Miftahul Janna berada di wilayah L-1 Desa Bukit Raya, merupakan pendukung kegiatan ta’mir masjid, dan selalu aktif dalam melaksanakan kegiatan keagamaan dan kegiatan nasional. IRMA Miftahu Jannah dipandang jamaah dan masyarakat sekitar sebagai salah satu benteng bagi diri remaja dalam menyikapi berbagai dampak dari kemajuan IPTEKS. Kata Kunci: Remaja Masjid, Kenakalan Remaja, Desa Bukit Raya, Kabupaten Kutai Kartanegara
IBU KOTA NEGARA (IKN) NUSANTARA MESIN BARU PENGGERAK EKONOMI Abdul Rachim AF; Reslianty Rachim; Muhammad Habibi; Zulkifli Zulkifli
Jurnal Pengabdian Kreativitas Pendidikan Mahakam (JPKPM) Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.041 KB)

Abstract

Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ekonomi makro, kesenjangan antara Jawa dan pulau-pulau lain dalam pembentukan growt national product (GNP), postur anggaran, perbandingan GNP dengan APBN, skema pendanaan IKN, hasil penelitian, data dan peluang atau potensi sosial ekonomi Kaltim dengan adanya IKN Nusantara. Metode penyuluhan live dialogue interaktif. Hasil kegiatan PKM ini masyarakat memahami dalam hal kesiapan Sosial Ekonomi Kerakyatan Kaltim Menuju IKN memerlukan SDM Kaltim yang diperlukan dengan 3 (tiga) mantra yakni intak (kurikulum sekolah), Iptek (vokasi dan kesesuaian potensi daerah), kearifan lokal (seni dan budaya).
PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI PEMBANGUNAN FISIK MENGATASI PERMASALAHAN BANJIR KELURAHAN SUNGAI PINANG DALAM KOTA SAMARINDA Muhammad Habibi; Arbainah Saidi
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol 7, No 2 (2023): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v7i2.9991

Abstract

The purpose of this study was to find out the public's perceptions and the underlying ideas regarding physical development to overcome flood problems in Sungai Pinang Dalam Village, Samarinda City. The results of the study show that the community members give their perception that from year to year there has been no change, even though Probebaya has existed. Physical development under the pretext of drainage arrangements and others, in fact only moved the flood point from one point to another. Flood management by the City Government of Samarinda has not been consistent, not integrated, not integrated and not systematic. According to the public's perception, the arrangement should have started from the SKM estuary on the Mahakam River and then moved towards the outskirts and the border of Samarinda City and the Kutai Kartanegara region, both to the north, west, south and east. Furthermore, the basis for people's perceptions in physical development to overcome flooding in Samarinda City is based on a simple understanding, that the laws of physics where water flows from high areas to low areas. Likewise, if the flow of water is blocked or blocked, or due to space narrowing and siltation, it will cause water to overflow and flow in an unspecified and unpredictable direction, in addition to causing inundation within a certain period of time and even quite a long time, which causes flooding.
Social Capital as a Strengthener of Local Wisdom Identity of Fishermen Communities Muara Badak Ulu Village, Muara Badak Sub-district, Kutai Kartanegara Regency Trisna Waty Riza Eryani; Muhammad Habibi; Putri Regina; William Christian
Golden Ratio of Data in Summary Vol. 4 No. 2 (2024): May - October
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grdis.v4i2.524

Abstract

This study aims to explore and explain the strengths of social capital elements as reinforcers of local wisdom identity among the fishing community in Muara Badak Ulu Village, Muara Badak District, Kutai Kartanegara Regency. Fishermen, particularly traditional ones, face high risks at sea, with no guarantee of a catch to support their socio-economic needs. The local wisdom, deeply rooted in the fishing culture, is a key component of the social capital within this community. Social capital functions to enhance societal efficiency by facilitating coordinated actions through trust, norms, and networks. This research adopts a qualitative exploratory method, focusing on the core concepts of social capital: trust, norms, and networks. Data analysis is conducted using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana (2014), which involves data collection, data display, and drawing and verifying conclusions. The findings reveal that social capital is crucial in strengthening the local wisdom identity of the fishing community in Muara Badak Ulu. Trust among fishermen is vital, especially when at sea, and extends to local institutions, which provide necessary support such as funding, safety equipment, and boat engines, thereby forming networks. These networks, in turn, help preserve local wisdom traditions. Social norms also play a significant role by imposing social sanctions that prevent deviant behavior within the fishing groups and the broader community, thus reinforcing values like family, cooperation, and mutual aid.
Preserving Cultural Heritage Through Traditional Institutions and Youth Engagement: Melestarikan Warisan Budaya Melalui Lembaga Tradisional dan Partisipasi Pemuda Agustina Lirim; Muhammad Habibi; Trisna Waty Riza Eryani; Prawira Yudha Pratama
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.11419

Abstract

General Background: Cultural preservation is a pressing issue in Indonesia, where traditional heritage faces erosion due to modernization and shifting values. Specific Background: Lung Anai Cultural Village in East Kalimantan, home to the Dayak Kenyah Lepoq Jalan community, embodies rich traditions such as traditional dance, weaving, carving, and ceremonies, yet these practices are declining, particularly among youth. Knowledge Gap: While traditional institutions are recognized for safeguarding culture, limited empirical research examines their operational roles, youth engagement, and contextual challenges at the village level. Aims: This study analyzes the role of the Lung Anai Traditional Institution in preserving cultural heritage, identifying its functions, supporting factors, and obstacles. Results: Using a qualitative descriptive approach with interviews, observation, and documentation, the study reveals the institution’s pivotal role in channeling community aspirations, promoting cultural practices, and mediating with the village government. However, limited youth participation and inadequate training hinder effectiveness, while community solidarity and local leadership provide strong support. Novelty: This research delivers a granular, village-level analysis of how traditional institutions navigate modernization pressures while sustaining intangible heritage. Implications: Findings highlight the necessity for targeted youth engagement and capacity-building programs to strengthen traditional institutions as cultural stewards in rural Indonesia. Highlights: Traditional institutions are central to preserving Lung Anai’s Dayak Kenyah cultural heritage. Youth disengagement and lack of training threaten continuity of traditions. Community support and leadership are key enablers for cultural sustainability. Keywords: Cultural Preservation, Traditional Institutions, Youth Engagement, Dayak Kenyah, Lung Anai Village
Performance and Determining Factors for the Success of the General Election Commission in the 2024 Elections: Kinerja dan Faktor Penentu Keberhasilan Komisi Pemilihan Umum pada Pemilu 2024 Risna Safariah; Said Zulkifli; Arbainah Saidi; Muhammad Habibi
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.11430

Abstract

General Background: The performance of electoral management bodies, such as the Indonesian General Election Commission (KPU), is crucial for ensuring democratic and high-quality elections. However, challenges in task execution and inter-divisional coordination often affect effectiveness. Specific Background: In Tana Tidung Regency, North Kalimantan, the KPU faces increased workloads ahead of the 2024 simultaneous elections, while staffing and resources remain limited, potentially hindering smooth operations. Knowledge Gap: While studies on KPU performance exist, empirical research specifically examining factors influencing district-level KPU performance in simultaneous elections is scarce. Aims: This study analyzes the performance of KPU Tana Tidung in the 2024 elections, focusing on quality, quantity, responsibility, cooperation, and initiative, and identifying supporting and inhibiting factors. Results: Using Miles and Huberman’s interactive analysis model, findings show that quality was maintained through effective coordination, communication, and leadership, though some tasks were delayed due to disproportionate workloads. Divisional accountability, cross-division collaboration, and proactive staff initiatives supported performance, while constraints included limited human resources, varied educational backgrounds, voter data validation issues, and inadequate infrastructure. Novelty: This research uniquely identifies district-level KPU performance determinants in simultaneous elections, emphasizing inter-divisional synergy and human resource strengthening. Implications: The study highlights the need to increase staffing and capacity, strengthen coordination, and optimize staff initiative to improve future electoral effectiveness and efficiency. Highlights: Identifies district-level factors influencing KPU performance. Emphasizes inter-divisional cooperation and staff initiative. Recommends strengthening human resources and coordination. Keywords: KPU Performance, Tana Tidung, 2024 Elections, Public Administration, Electoral Management
Optimizing Community Aspiration Processes by Village Consultative Bodies: Optimasi Proses Aspirasi Masyarakat Melalui Badan Musyawarah Desa Serly Febriyana; Muhammad Habibi; Ahmad Yani; Deandlles Christover
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.11431

Abstract

General Background: The absorption of community aspirations is a key indicator in establishing participatory and responsive village governance. Specific Background: In Bukit Raya Village, the Village Consultative Body (BPD) plays a central role as a liaison between the community and the village government, yet faces obstacles such as limited resources and low public participation. Knowledge Gap: While numerous studies have examined the general role of BPD, empirical research that specifically details the stages of aspiration absorption and the supporting or inhibiting factors at the village level remains scarce. Aims: This study analyzes the process of aspiration absorption by the BPD in Bukit Raya Village through four stages—identifying, accommodating, managing, and channeling aspirations—and identifies factors influencing its effectiveness. Results: Using a qualitative method and Miles and Huberman’s interactive analysis, the findings reveal that although cross-stakeholder synergy is relatively effective, the BPD lacks a formal method for collecting aspirations and faces challenges in participation, public understanding, and human resource capacity. Novelty: This research offers a detailed mapping of the stages and determining factors for successful aspiration absorption at the village level. Implications: The findings underscore the urgency of strengthening human resource capacity, participation mechanisms, and cross-sector collaboration to optimize the BPD’s role in achieving inclusive and sustainable village development. Highlights: Identifies four key stages of aspiration absorption. Reveals gaps in participation and resource capacity. Proposes strategies for inclusive and sustainable governance. Keywords: Village Consultative Body, Community Aspirations, Public Participation, Rural Governance, Sustainable Development
Peran Tokoh Masyarakat Sebagai Aktor Penerus Warisan Budaya Di Tanah Perantauan (Studi: Sanggar Budaya Kuda Lumping Campur Sari Turonggo Sri Margo Mulyo Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara) muhammad habibi
FisiPublik: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik Vol. 1 No. 1 (2016): may
Publisher : Social and Political Sciences Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/fpb.v1i1.7

Abstract

Penelitian ini membahas Peran Tokoh Masyarakat dalam membangun dan mempertahankan warisan budaya yang diperoleh dari leluhur di tanah perantauan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan, pertama, Merekatkan kerukunan warga dan bertekad untuk terus mengenalkan kebudayaan nenek moyang kepada anak cucu, serta melalui kesenian kuda lumping ini sebagai warga perantauan mereka tidak melupakan asal usul dan budaya dari tanah Jawa. Kedua, pelestarian budaya merupakan bukti kecintaan terhadap kampung halaman dan perlindungan dalam pergaulan anak-anak mereka. Ketiga, metode pelestarian dengan mengenalkan sejak dini, dan cara mengajak latihan, serta menonton pagelaran. Keempat, seni kuda lumping merupakan pagelaran seni berbiaya mahal dalam sewa dan operasional pagelaran. Dan Kelima, Pengakuan dan penghargaan masyarakat secara umum menjadi penghapus pesimisme kendala pelestarian sanggar budaya.