Penggunaan sianida dalam proses ekstraksi emas telah banyak ditinggalkan oleh negara lain sebab sifatnya yang toksik dan permasalahan lainnya. Namun saat ini, reagen tersebut masih digunakan di Kalimantan Barat dan daerah lainnya di Indonesia untuk mengekstraksi emas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini telah dilakukan eksperimen pelindian emas menggunakan reagen alternatif sianida yang relatif lebih aman, yaitu amonia tiosulfat (Cu(II)-NH3-S2O32-). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik sampel bijih emas dari desa Malenggang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat dan mengkaji pengaruh variasi konsentrasi tiosulfat terhadap perolehan emas dalam proses pelindian. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu preparasi sampel dan bahan kimia, karakterisasi sampel, dan eksperimen pelindian sampel biji emas dengan variasi konsentrasi tiosulfat. Karakterisasi sampel bijih menggunakan AAS menunjukkan bahwa sampel mengandung Au (emas) sebesar 5 ppm. Hasil XRF menunjukkan bahwa sebagian besar sampel tersusun dari SiO2 (52,04%), CaO, dan Fe2O3. Berdasarkan analisis XRD, sampel diketahui mengandung beberapa mineral turunan pirit (FeS2) seperti argentopirit (AgFe2S3), arsenopirit (FeAsS), dan kalkopirit (CuFeS2). Perolehan Au tertinggi sebesar 77,13% pada pelindian dengan menggunakan natrium tiosulfat 0,6 M pada jam ke-0, di mana ore dipisahkan dari larutan tiosulfat segera setelah dicampurkan. Perolehan emas meningkat bersama dengan peningkatan konsentrasi tiosulfat sebagai leaching agent. Nilai pH larutan dan recovery emas menurun seiring dengan waktu pelindian.