Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Talasemia pada Kehamilan Rodiani Rodiani; Agam Anggoro
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1724

Abstract

Talasemia merupakan defek genetik yang mengakibatkan berkurang atau tidak adanya sama sekali sintesis satu atau lebih rantai globin. Talasemia ditandai anemia mikrositik hipokrom dengan berbagai derajat keparahan. Talasemia dapat ditemukan hampir di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi talasemia di tiap daerah berbeda-beda, dengan rerata prevalensi sebesar 0,1%. Penderita talasemia umumnya datang dengan keluhan pucat, tidak nafsu makan dan perut membesar. Pada ibu hamil yang menderita talasemia, gejala anemia dapat lebih buruk dimana kebutuhan transfusi akan meningkat dan kadar hemoglobin harus tetap terjaga ≥ 10 g/dl, terutama pada talasemia β mayor. Selain itu, perludilakukan observasi fungsi jantung pasien dan ultrasonografi (USG) serial untuk mengetahui kondisi janin . Bagi penderita talasemia penting untuk melakukan skrining sebelum atau saat kehamilan. Skrining pada penderita talasemia bertujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas karena talasemia. Talasemia merupakan penyakit genetik yang diturunkan secara autosomall resesif dimana semua perubahan genetik yang terjadi diturunkan dari ibu maupun ayah. Sehingga selainmenangani gejala dari sang ibu, janin yang dikandung oleh sang ibu pun perlu dipertimbangkan. Perencanaan kehamilan, penanganan dan pemeriksaan selama kehamilan sangat penting bagi wanita dengan talasemia agar dapat ditangani dengan sebaik mungkin.Kata Kunci: kehamilan, kelainan genetik, talasemia
Potensi Daun Pepaya (Carica papaya Sp.) sebagai Obat Anti Tuberkulosis Agam Anggoro
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) masih menjadi suatu masalah utama. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, Indonesia memiliki prevalensi kejadian TB yaitu 272 per 100.000 populasi. Pengobatan tuberkulosis memerlukan terapi yang komprehensif dan berkelanjutan. Ketidakpatuhanterhadap pengobatan akan menyebabkan resistensi, tercatat sedikitnya satu dari 10 kasus resisten terhadap pengobatan yang diberikan. Di Afrika terdapat beberapa tanaman yang telah digunakan secara lokal untuk pengobatan tuberkulosis. Indonesia kaya akan salah satu dari tanaman yang memiliki banyak efekfitofarmaka tersebut yaitu pepaya.Dikembangkannya pepaya dengan ketahanan terhadap virus pepaya ringspot (PRSV) menunjukkan potensi pemanfaatan pepaya lebih jauh lagi salah satunya sebagai alternatif obat anti tuberculosis (OAT). Daun pepaya mengandung antioksidan dan berperan dalam sistem inflamasi tubuh. Sehingga secara tidak langsung daun pepaya memiliki potensi dalammemodulasi TB serta berperan dalam memperbaiki fungsi paru. [J. Agromed Unila 2015; 2(2):86-89]Kata kunci: daun pepaya, OAT, tuberkulosis