Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Menyeimbangkan Fungsi Otak Melalui Teknik Kreasi Lagu dalam Pencapaian Pemahaman Matematis Siswa SMP Ramlah Ramlah; Hanifah Hanifah
SJME (Supremum Journal of Mathematics Education) Vol 2 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Singaperbangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/sjme.v2i1.923

Abstract

Salah satu tujuan pembelajaran matematika sekolah adalah menguasai kemampuan pemahaman matematis.Tetapi, faktanya kemampuan pemahaman matematis siswa masih tergolong rendah.Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah keefektifan TKL dengan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan  terhadap pencapaian kemampuan pemahaman matematis siswa. Serta tingkat kepuasaan siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan TKL. Penelitian dengan pendekatan perbedaan ganda, desain grup non-ekivalen kepercobaan-kuasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP N kelas VII di Kecamatan Karawang Barat, dengan sampel sebanyak 30 siswa untuk masing-masing grup ( pembelajaran TKL) dan kelompok kontrol (pembelajaran langsung). Teknik analisis data menggunakan SPSS Versi 17. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pencapaian kemampuan Pemahaman Matematis siswa yang memperoleh TKL dengan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran langsung. Dan respon yang sangat baik  tehadap pembelajaran TKL. Jadi dapat disimpulkan bahwa Teknik kreasi lagu dengan menyeimbangkan fungsi oatak, efektif dalam pencapaian kemampuan pemahaman matematis siswa.
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA MATERI PERSAMAAN GARIS LURU Rizal Priatna; Lessa Roesdiana; Hanifah Hanifah
PHI: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 1 (2023): Edisi April 2023
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/phi.v7i1.178

Abstract

Yang melatarbelakangi penelitian ini adalah kurangnya pemahaman konsep siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas VIII hal ini perlu di teliti secara baik oleh peneliti dan di tinjau dari kemandirian belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengnalisis pemahaman konsep matematis dan kemandirian belajar siswa pada materi persamaan garis lurus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di lakukan di MTS Miftahulhuda tegal waru Karawang, yang di lakukan di kelas VIII semester ganjil Tahun ajaran 2021-2022. Sample pada penelitian ini berjumlah 8 orang. Instrumen pada penelitian ini berupa soal untuk mengukur pemahaman konsep matematis dan angket untuk mengukur kemandirian belajar siswa. Kesimpulan dari hasil penelitian: (1) Pada pemahaman konsep matematis, siswa rata-rata mempunyai pemahaman yang cukup dimana sebagian siswa dapat mengerjakan soal yang di berikan walau belum sesuai dengan indikator pemahaman konsep (2)kemandirian belajar yang di miliki siswa rata-rata kategori sedang dimana kemandirian belajar siswa terbilang cukup baik (3) Siswa dengan pemahaman konsep kategori tinggi mempunyai kemandirian belajar kategori tinggi, siswa dengan pemahaman konsep kategori sedang mempunyai kemandirian belajar kategori sedang, dan siswa dengan pemahaman konsep rendah mempunyai kemandirian belajar sedang dan rendah.
Hubungan antara Konsep Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa pada Mata Kuliah Teori Grup Hanifah Hanifah
Jurnal Pendidikan Matematika IKIP Veteran Semarang Vol 3 No 2 (2019): Journal of Medives : Journal of Mathematics Education IKIP Veteran Semarang
Publisher : Urogram Studi Pendidikan Matematika, Universitas IVET

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.137 KB) | DOI: 10.31331/medivesveteran.v3i2.859

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester IV kelas E Program Studi pendidikan Matematika FKIP UNSIKA. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket konsep diri dan hasil akademik mahasiswa. Dari hasil analisis korelasi sederhana, diperoleh nilai koefisien korelasi antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa sebesar 0,41. Berdasarkan perolahan data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup. Kata kunci: konsep diri, prestasi akademik, teori grup. ABSTRACT The purpose of this research is to describe the corelation betwen self-concept with academic achievement college student in teori grup courses.This research is quantitative experiment with descriptive methode. The subject of this research is college student of Fourth Semester on E Class in Educational Faculty of Singaperbangsa University. The instrument of research is some self-concept questionnaire and academic achievement college student score. The result of simple corelation analysis is 0,41. Based on the data, it concluses that there is positive and significant corelation between self-concept and academic achievement college student in teori grup courses. Keywords: self-concept, academic achievement, teori grup.
PENGEMBANGAN MODUL AJAR SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERBASIS LITERASI MATEMATIS UNTUK SISWA SMA Nita Hidayati; Ramlah Ramlah; Hanifah Hanifah; Adiesty Novia Yesiliana; Siti Annisa Samsudin
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v14i1.10668

Abstract

Siswa diharapkan memiliki kemampuan literasi matematis, yang berkorelasi dengan kompetensi matematis, karena keduanya akan meningkatkan kualitas hidup mereka. Berbagai metode, pendekatan, dan pendekatan pembelajaran matematika dapat digunakan untuk meningkatkan literasi matematika siswa. Scaffolding metakognitif adalah salah satu strategi yang dapat digunakan oleh siswa ketika mereka menghadapi kesulitan. Bahan ajar adalah model scaffolding yang paling umum digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu modul ajar scaffolding metakognitif berbasis literasi matematis. Studi ini adalah studi pengembangan, dan model ADDIE digunakan untuk analisis, desain, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Berdasarkan hasil uji ahli yang dilakukan, modul ajar dengan scaffolding metakognitif memiliki klasifikasi yang sangat baik dengan persentase 89,8% untuk ahli media dan sangat baik dengan persentase 90,8% untuk ahli materi. Tanggapan siswa terhadap modul ajar dengan scaffolding dinilai sangat baik dengan persentase 87,82%. Selanjutnya, ketuntasan klasikal kelas 81,48%, artinya siswa secara efektif dapat menggunakan modul ajar dengan scaffolding metakognitif. Hasilnya adalah modul ajar berbasis scaffolding metakognitif ini layak dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk melatih ketrampilan literasi matematis siswa.
Upaya Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Desa Kiara Kabupaten Karawang Dewi Suprihatin; Hanifah Hanifah; Roni Nugraha
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah hingga kini masih menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Kiara Kabupaten Karawang. Sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya akan menimbulkan masalah di lingkungan, namun dapat menjadi masalah kesehatan, ekonomi, dan social. Banyaknya aspek berkaitan dengan masalah sampah ini menunjukkan, bahwa diperlukan adanya banyak peran yang harus dijalankan mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia usaha, dan home industry sehingga diperlukan persepsi yang sama tentang penanganan sampah untuk berbagai pihak. Pengelolaan sampah selama ini, hanya dilakukan oleh petugas pemerintah dengan urutan dari sumber sampah menuju TPS dan pada akhirnya ke TPA. TPA selama ini menjadi harapan solusi utama dalam mengatasi sampah. Akan tetapi, berbeda dengan wilayah yang ada di Kabupaten Karawang ini. Terlebih, penduduk Desa Kiara yang tidak ada TPS. . Sebagian besar sampah rumah tangga di bakar dan takutkan lagi samapah di buang di irigasi dekat rumah masing-masing. Oleh karena itu, keberadaan TPS sangat dibutuhkan bersama demi terhindarnnya penyakit dan mengakibatkan kebanjiran yang menjadi langganan Kabupatern Karawang. Perhatian utama keberadaan TPS di Desa Kiara Kabupaten Karawang sudah dipastikan dapat membantu pembuangan sampah dari manusia. Solusi sepertinya diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat yang peduli atas sampah. Dengan demikian, masyarakat sekitar mau bertanggung jawab atas sampah sendiri. Pembahasan mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan teori manajamen lingkungan akan menghasilkan jawaban terhadap pertanyaan mengenai cara mengatasi permasalahan, pengelolaan sampah manusia di Desa Kiara Kabupaten Karawang.
Pelatihan lembar kerja siswa-digital ‘puzzle interaktif’ berbasis liveworksheet bagi guru-guru madrasah Ramlah Ramlah; Agung Prasetyo Abadi; Hanifah Hanifah; Amanda Mutiara Putri; Nisa Nabilatuzzahra; Vanessa Rahmawati Julistiwa6
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22210

Abstract

Abstrak Pengelolaan sampah menjadi masalah kesehatan lingkungan yang hingga saat ini belum dapat terselesaikan. Pada Kabupaten Banjar, timbulan sampah rata-rata dalam dua tahun terakhir sebanyak 148.944 ton dan diperkirakan dalam satu hari jumlah sampah yang dihasilkan penduduk mencapai 408 ton/hari pada tahun 2022. Berdasarkan hasil diagnosis komunitas, permasalahan yang muncul di Desa Tiwingan Lama RT 02, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar yaitu masyarakat belum melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Alternatif pemecahan masalah untuk menangani permasalahan mengenai pengelolaan sampah tersebut adalah dengan adanya program pemberdayaan berupa penyuluhan, pembuatan tempat sampah dari tong bekas, serta pemasangan media promotif visual berupa spanduk ajakan memilah sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalisir permasalahan kesehatan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan praktik. Instrumen kegiatan ini di antaranya adalah kuesioner pre dan post-test, lembar observasi, serta kuesioner sebagai pemandu wawancara kepada 7 responden pada monitoring pengetahuan lanjutan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa setelah dilakukan penyuluhan, terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat dari rata-rata 70 menjadi 90. Setelah dilakukan uji statistik berupa uji Wilcoxon, diketahui terdapat perbedaan pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan dengan nilai uji sebesar 0,027. Hasil monitoring pengetahuan lanjutan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah responden yang terkategori memiliki pengetahuan baik yaitu dari 1 orang saat post-test menjadi 6 orang saat monitoring ke-3. Pada kegiatan penyediaan tempat sampah sistem pilah, masyarakat desa bersama Karang Taruna berhasil membuat tempat sampah sistem pilah sehingga terjadi duplikasi pengadaan tempat sampah. Selain itu, pada kegiatan pemasangan spanduk tentang pemilahan sampah juga berhasil mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah. Kata kunci: sampah; pengelolaan sampah; pemilahan sampah; pemanfaatan sampah; tempat sampah sistem pilah Abstract Waste management remains an unresolved environmental health issue to date. In Banjar Regency, the average waste generation over the past two years has been 148,944 tons, with an estimated daily production of 408 tons per day in 2022. Based on community diagnosis results, the emerging issue in Tiwingan Lama Village, RT 02, Aranio District, Banjar Regency is inadequate waste management by the community. The alternative solution to address this waste management issue is through an empowerment program involving education, the construction of waste bins from recycled barrels, and the installation of visual promotional media such as banners encouraging waste sorting. The objective of these activities is to minimize environmental health issues, particularly regarding waste management. The methods employed include lectures, discussions, and practical demonstrations. The activity instruments include pre- and post-test questionnaires, observation sheets, and interview questionnaires for 7 respondents during the advanced knowledge monitoring. The results indicate that after the education sessions, there was an increase in community knowledge from an average of 70 to 90. Statistical analysis using the Wilcoxon test revealed a significant difference in knowledge before and after the education sessions, with a test value of 0.027. The follow-up monitoring showed an increase in the number of respondents categorized as having good knowledge, from 1 person in the post-test to 6 people in the third monitoring session. In the waste bin provision activity using a sorting system, the village community, along with the youth organization, successfully constructed waste bins with sorting systems, which led to the duplication of waste bin procurement. Additionally, the installation of banners promoting waste sorting was successful in influencing the community to engage in waste sorting. Keywords: waste; waste management; waste sorting; waste utilization; segregated waste bins
Reconceptualising the Cognition–Achievement Relationship in Secondary Mathematics: Evidence from a Classroom-Based Correlational Study Ananda Safitri; Attin Warmi; Hanifah Hanifah
Didactical Mathematics Vol. 8 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/dm.v8i1.16979

Abstract

This study aimed to examine the strength and direction of the relationship between mathematical thinking processes and mathematics learning outcomes among ninth-grade junior high school students. The research employed a quantitative nonexperimental correlational design to identify associative patterns between variables without inferring causal relationships. The population consisted of 476 students across twelve classes, and the sample was selected using purposive sampling, resulting in one intact class comprising 36 students. Data on mathematical thinking processes were collected through four constructed-response (essay) items designed to measure reasoning, conceptual linkage, and structured problem-solving abilities. Mathematics learning outcomes were obtained from students’ midterm examination scores as indicators of curriculum-based academic achievement. Data analysis was conducted in several stages, including descriptive statistical analysis and normality testing using the Shapiro–Wilk test. Due to non-normal distribution in one variable, the relationship between variables was analysed using Spearman’s rank correlation coefficient as a non-parametric alternative. The results indicated that students demonstrated relatively adequate levels of mathematical thinking; however, the correlation between mathematical thinking processes and learning outcomes was positive but weak and statistically non-significant (ρ = 0.211, p > 0.05). These findings suggest that mathematical thinking, while conceptually important, may not function as a strong standalone predictor of examination-based academic performance. The study implies that mathematics learning outcomes are influenced by multiple interacting cognitive and contextual factors, highlighting the importance of aligning assessment practices with higher-order thinking competencies to enhance the measurable contribution of mathematical reasoning to student achievement.
Pendampingan Pembuatan Media Manipulative bagi Mahasiswa Calon Guru Matematika Attin Warmi; Nita Hidayati; Hanifah Hanifah
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v10i1.5325

Abstract

ABSTRACT This activity aims to equip prospective mathematics teacher students with skills in creating and developing manipulative media, which is a type of learning media that can be used to facilitate the learning process in the classroom. The method used in this activity consists of three stages, namely needs analysis, design, and mentoring in the creation of manipulative media. The results of the activity show that prospective mathematics teacher students are able to understand the need for manipulative media in schools. In addition, they are also able to create and develop interesting mathematical manipulative media for each learning material. The evaluation of the activity shows an increase in the creativity of prospective mathematics teacher students in developing manipulative media for learning in schools. Based on these results, it can be concluded that mentoring in the creation of mathematical manipulative media can explore the potential of prospective mathematics teacher students and encourage them to express their creativity in designing manipulative media that can concretize abstract concepts so that they are more easily understood by students. Keywords: mentoring, manipulative media, prospective teachers ABSTRAK Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa calon guru matematika dengan keterampilan dalam membuat dan mengembangkan media manipulatif, yang merupakan salah satu jenis media pembelajaran yang dapat digunakan untuk memfasilitasi proses pembelajaran di kelas. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri atas tiga tahap, yaitu analisis kebutuhan, perancangan, dan pendampingan pembuatan media manipulatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru matematika mampu memahami kebutuhan media manipulatif di sekolah. Selain itu, mereka juga mampu menciptakan dan mengembangkan media manipulatif matematika yang menarik untuk setiap materi pembelajaran. Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kreativitas mahasiswa calon guru matematika dalam mengembangkan media manipulatif untuk pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendampingan dalam pembuatan media manipulatif matematika mampu menggali potensi mahasiswa calon guru serta mendorong mereka untuk mengekspresikan kreativitas dalam merancang media manipulatif yang dapat mengonkretkan konsep abstrak sehingga lebih mudah dipahami oleh peserta didik.   Keywords :pendampingan, media manipulative, calon guru
Analisis kesulitan siswa pada materi teorema Pythagoras ditinjau dari kemampuan numerik Azfa Nur Aqilah; Attin Warmi; Hanifah Hanifah; Kiki Nia Sania Effendi
JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif) Vol. 9 No. 1 (2026): JPMI
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/jpmi.v9i1.28690

Abstract

This study aims to analyze the difficulties of junior high school students in solving mathematics problems on the Pythagorean Theorem material in terms of numerical ability based on the limitations of specific studies on numerical barriers affecting students' accuracy in applying the Pythagorean concept. The approach used is qualitative with a case study method. The research subjects consisted of 24 ninth-grade students at an Islamic junior high school in East Karawang, selected through purposive sampling based on the subject teacher's recommendations regarding learning barrier characteristics. The instruments used were a numerical ability test, Pythagorean Theorem questions, and interview guidelines. The results showed that the majority of students had low numerical ability and experienced difficulties in various indicators, such as performing calculations, thinking logically, problem solving, and recognizing number patterns. Even students with high numerical ability still had difficulty determining the slant side in Pythagorean problems. These findings indicate the importance of considering numerical ability in the learning process to develop more targeted and personalized learning methods.