Denden Setiaji
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMBELAJARAN LAGU ORAY BUNGKA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI Denden Setiaji
EARLY CHILDHOOD : JURNAL PENDIDIKAN Vol. 1 No. 1 (2017): Early Childhood: Jurnal Pendidikan
Publisher : Pendidikan Guru PAUD, FKIP, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.025 KB) | DOI: 10.35568/earlychildhood.v1i1.43

Abstract

Abstrak Kakawihan barudak yakni salah satunya kawih oray bungka sebgai salah satu media pembelajaran lagu-lagu tradisional Sunda khususnya kini mulai mengalami kemunduran bahkan nyaris dilupakan keberadaannya. Masuknya budaya-budaya barat yang sifatnya lebih popular disinyalir sebagai salah satu pengaruh terbesar menghilangnya kecintaan atau penghargaan terhadap sebuah karya-karya kawih atau kaulinan barudak. Permasalahan-permasalahan yang timbul menggerakan hati para seniman sunda salah satunya Mang Koko yang akhirnya membuat terobosan dalam lagu-lagu kakawihan barudak yang dikemas secara lebih mendalam. Karya yang dibawakan maupun notasi-notasi yang terkandung di dalam karyanya secara tidak langsung dapat mengolah nilai-nilai pendidikan untuk pembentukan karakter anak sejak usia dini. Kata kunci: Kawih Barudak, Oray Bungka Abstract Kawih is a Sundanese song that is not bound by special rules. Kakawihan is a Sundanese song used on traditional children's games. Kakawihan barudak one of them is titled oray bungka is one of the learning media of traditional Sundanese songs that began to decline even almost forgotten. The introduction of a popular western culture is the greatest influence of the disappearance of love or respect for the work of kakawihan barudak. A Sundanese artist that is Mang Koko moved to make a new breakthrough in packing the song kakawihan barudak. The work played and the notations contained in it can indirectly cultivate the value of education for the formation of the character of early childhood. Keywords: Kawih Barudak; Oray Bungka
Seni Terebang Gebes Dalam Prosesi Ritual Hajat Lembur pada Grup Candralijaya di Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya Leli Deniati; Denden Setiaji
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 2 (2020): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.3, No. 2, Desember 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.924 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v3i2.956

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang seni terebang gebes dalam prosesi ritual hajat lembur pada Grup Candralijaya di Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya, yang mengkaji permasalahan tentang bagaimana mengenai struktur penyajian seni serta peran dan fungsi seni terebang gebes pada hajat lembur. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh adalah dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri menggunakan alat bantu berupa lembar wawancara, catatan lapangan, dan alat rekam berupa handphone. Temuannya mengenai struktur penyajian musik terebang gebes Grup Candralijaya dalam rangkaian ritual hajat lembur yang terbagi kedalam tiga bagian meliputi bagian pembuka pertunjukan, bagian isi dan penutup. Sedangkan peran dan fungsi seni diklasifikasikan menjadi fungsi primer yaitu sebagai sarana ritual, ungkapan pribadi dan presentasi estetis.
Fenomena Seni Dangdut Jalanan Kota Tasikmalaya: Studi Analisis Tentang Bentuk dan Garap Musik Dangdut Jalanan Grup Amosta Nada Gilang Gandara; Denden Setiaji
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 2 (2020): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.3, No. 2, Desember 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.962 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v3i2.1019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi seni musik dangdut jalanan grup Amosta Nada Kota Tasikmalaya sekaligus bentuk dan garap penyajian seni musik dangdut jalanan grup Amosta Nada Kota Tasikmalaya. Subjek penelitian ini adalah salah satu pengamen (anak jalanan) Kota Tasikmalaya yang bernama grup Amosta Nada. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitik. Tempat penelitian dilakukan di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya dan di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah partitur, audio mp3, audio visual/video lagu Maya karya Mahmud ATT yang disajikan oleh grup Amosta Nada, buku yang relevan, skripsi eksistensi grup musik, skripsi analisis karya musik, jurnal analisis karya musik. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Teknik pengolahan data dilakuakn tiga tahap yaitu (a) Reduksi data; (b) Penyajian Data; (c) Mengambil kesimpulan dan verifikasi data. Hasil temuan dari penelitian ini adalah grup Amosta Nada merupakan grup jalanan yang menyajikan lagu dangdut, mereka sudah bertahan selama 11 tahun dan keberadaannya mendapatkan pengakuan dari masyarakat setempat. Penyajian musiknya pun sangat bernilai dibandingkan dengan pengamen jalanan pada umumnya, terbukti dari bentuk dan garap penyajian musik. Sebagai contoh, pada penelitian ini, lagu Maya karya Hamdan ATT yang kemudian diteliti, karena lagu tersebut merupakan lagu andalan Amosta Nada. Adapun bentuk penyajiannya sama persis dengan lagu yang asli, hanya saja beda pada intro. Bentuk lagunya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu A-B-C yang masing-masing memiliki frase atau anak kalimat.
Analisis Pergeseran Fungsi pada Kesenian Gondang di Kampung Nagrog Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya Intan Ismawati Putri; Denden Setiaji; Wan Ridwan Husen
Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual. Vol. 1 No. 4 (2024): Desember : Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/misterius.v1i4.447

Abstract

This research took the title “Analysis of Function Shift in Gondang Art in Kampung Nagrog, Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya” aims to find out how the function shift in Gondang Art that occurred in Nagrog Village, Mandalagiri Village, Leuwisari District, Tasikmalaya Regency. This research focused on how the initial form of Gondang Art during its initial function and how the form of Gondang Art after experiencing a shift in function. This research uses descriptive qualitative research methods, data collection in this study was carried out by going to the field directly in the form of observation, interviews, and documentation which then became the source of data to be analyzed. The results of the findings made by researchers are the function shift that occurred in the Gondang Art in Nagrog Village which was influenced by the times.
Analisis Pola Iringan Gambang dalam Kesenian Tembang Sunda Pagerageungan Chandra Nur Fauzi; Denden Setiaji; Arni Apriani
Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual. Vol. 1 No. 4 (2024): Desember : Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/misterius.v1i4.483

Abstract

Sundanese song pagerageungan is a traditional art originating from Tasikmalaya district. The xylophone accompaniment pattern in the Sundanese song art Pagerageungan plays a very important role in creating an atmosphere and strengthening the message contained in the song lyrics. The xylophone, as a traditional Sundanese instrument made from wooden blades, produces a distinctive sound and has a dual function as a rhythm regulator as well as adding melodic nuances to the song. The xylophone accompaniment pattern in this song is not only rhythmic, but also often has a melodic character that beautifies the song's strains. This gambang accompaniment pattern has 3 parts, namely merean, cacagan and geumbyang. The aims of this research are: (1) to find out the xylophone accompaniment pattern in the Sundanese pagerageungan song art (2) to find out the function of the xylophone accompaniment pattern in the Pagerageungan Sundanese song art. The method used in this research is qualitative with a descriptive analysis approach. The techniques used in this research are observation, interview and documentation techniques. The main instrument in this research is the research itself using tools in the form of field notes and recording tools in the form of cellphones.