This Author published in this journals
All Journal Imajinasi
Aryo Sunaryo
Penulis adalah dosen Jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Semarang, Magister Pendidikan Seni

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANEKA ORNAMEN MOTIF FLORA PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 6, No 2 (2010): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Borobudur merupakan candi Budha termegah di Jawa Tengah yang telah menyimpan banyak ornamen padarelief dan pahatan dinding candi. Di dinding kaki candi yang tertutup terdapat relief Karmawibhangga yang memuat 160panel, mengelilingi candi. Melalui penemuan dan hasil pendokumentasian pada waktu dilakukan pemugaran lebih dariseabad lalu, relief itu dapat dinikmati dan dilakukan pengkajian. Salah satu kajian yang menarik ialah keanekaragamanmotif flora yang terdapat pada relief tersebut. Selain motif flora kalpataru yang imajinatif sebagai pohon surga, ternyatapada sebagian besar panel terdapat motif flora yang menggambarkan tumbuhan alam yang dibudidayakan pada masaJawa kuna, yang dapat dikenali hingga kini. Jenis flora yang dipahatkan mencakupi pohon buah-buahan, tanamanpangan, bunga, dan tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Motif flora berfungsi sebagai penyekat adegan ceriterarelief, pembangun latar ceritera, dan dekorasi. Bentuk motif flora digambarkan utuh dan lengkap dengan buahnya,dipahat setinggi bidang panel, tetapi ada pula yang sebagian, ditempatkan di sela-sela sosok, di tengah, di pinggir kiriatau kanan bidang panel. Berbeda dengan relief sosok-sosoknya yang lebih realistis, motif flora dipahat dalam corakyang lebih dekoratif.Kata Kunci: ornamen, motif flora, karmawibhangga, dekoratif.
Bentuk dan Proses Pahatan Relief Karmawibhangga, Sebuah Telaah Visual Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 2, No 2 (2006): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karmawibhangga merupakan salah satu rangkaian relief candi Borobudur yangterdapat di bagian kaki candi. Ketika pembangunan candi belum selesai, rupanya kakicandi buru-buru ditutup dengan jutaan balok-balok batu menjadi pelataran yang luasuntuk menghindari bangunan runtuh. Candi Borobudur merupakan candi Budhaterbesar di dunia, didirikan di sebuah bukit, pada jaman dinasti Syailendra abad ke-9.Relief Karmawibhangga tersebut menggambarkan hukum sebab akibat, samsara dankarma kehidupan manusia, keseluruhannya telah didokumentasikan pada akhir abadke-19 ketika Borobudur dibongkar untuk penyelidikan dan restorasi, dan kemudianditutup kembali. Penggambaran ajaran penting dalam agama Budha itu jugamelukiskan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa pada waktu itu, dengan bahasarupa yang khas. Sebagian reliefnya dari keseluruhan yang berjumlah 160 panelpengerjaannya belum selesai, bahkan ada yang sengaja dirusak, merupakan gejalamenarik untuk dicermati secara visual dan ditelaah terkait dengan proses pengerjaanpemahatan relief candi tersebut. Pengerjaan relief dimulai dari membuat outlinebentuk-bentuk di atas susunan batu yang menjadi panelnya, tahapan kemudianpemahatan latar, dilanjutkan penggarapan sosok-sosok penting yang diawali daribentuk keseluruhan secara kasar sampai pada perbentukan lebih rinci, kemudianditeruskan dengan pemahatan unsur-unsur pendukung dan tahap penyelesaian akhir,yakni penghalusan atau pewarnaan. Proses pemahatan relief ternyata tidak jauhberbeda dengan tahapan mengukir pada masa kini. Melihat relief yang terdapat padakaki candi ini masih ada yang belum selesai, tampaknya pengerjaan pemahatan reliefdan ornamen candi di bagian bawah merupakan tahap-tahap akhir, setelahpengerjaan bagian atas diselesaikan.
DI BALIK KEINDAHAN BENTUK HIASAN SENGKALAN MEMET PADA GAPURA TAMAN SARI Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Sari merupakan sebuah kawasan taman kerajaan Yogyakarta yang dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Hamengku Buwana I. Sebagian taman sampai sekarang masih tersisa dan dapat dinikmati keagungan dan keindahan bentuknya. Titimangsa pembangunannya ditandai oleh sengkalan memet yang terdapat di gapura Panggung dan gapura Agung dalam kompleks taman. Sengkalan memet di gapura Panggung berupa hiasan patung dua ekor naga berhadapan ke arah pintu masuk gapura, seolah sedang bercakap-cakap, dan dibaca catur naga rasa tunggal (percakapan naga rasa satu). Yang di gapura Agung berupa hiasan relief bermotif tumbuh-tumbuhan dan burung yang digambarkan sedang menghisap bunga. Sengkalannya berbunyi lajering sekar sinesep peksi (pokok bunga terisap burung). Kedua sengkalan memet yang menghiasi gapura taman menunjuk angka tahun yang bertalian dengan pembangunan Taman Sari. Hiasan bentuk sengkalan memet tidak semata memperindah dan menandai titimangsa bangunan, melainkan beserta keseluruhan bangunan gapura mengandung pesan-pesan, harapan, dan makna simbolis yang dalam. Kata kunci: sengkalan memet, titimangsa, hiasan, taman, gapura.
ORNAMEN CANDI BUDHA: KAJIAN BENTUK DAN POLA ORNAMEN CANDI BOROBUDUR, MENDUT, DAN PAWON Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut merupakan candi Budha yang berdekatan letaknya di daerah Kedu Jawa Tengah. Bentuk dan pola ornamen, khususnya yang terdapat pada candi-candi tersebut perlu dikaji dan didokumentasikan sebelum banyak mengalami kerusakan akibat waktu, keadaan alam, dan kontak manusia. Melalui kajian dan identifikasi ornamen dapat dijadikan sumber inspirasi penciptaan seni dan obyek apresiasi, khususnya dalam bidang seni rupa. Tujuan penelitian ialah untuk: (1) menginventarisasi dan mendokumentasikan ornamen-ornamen yang terdapat pada candicandi Budha di Jawa Tengah, (2) mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menggambar sketsa ornamen (3) mendeskripsikan bermacam bentuk dan pola ornamen yang terdapat pada candi-candi Budha di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data terutama menggunakan observasi dan kajian dokumen, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ornamen pada candi-candi Borobudur, Mendut, dan Pawon berupa pahatan motif hias relief rendah dan tinggi, dari bahan batu dalam berbagai ukuran dalam panel-panel hias persegi panjang, maupun dalam bentuk trimatra. Motif hias menggambarkan manusia, makhluk kahyangan, kala, makara, binatang, tumbuh-tumbuhan, kalpataru, pundi-pundi,pilar, dan tekstil atau kertas tempel. Pola ornamen terdiri atas pola dasar pilin tegar dan pola geometris, serta susunan unsur-unsur motif hias dalam pola keseimbangan setangkup.
WAYANG KULIT GAYA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA, PERUPAAN DAN PERBEDAANNYA Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang kulit purwa merupakan salah satu pertunjukan wayang yang masih digemari sampai sekarang. Pertunjukan wayang yang tersebar luas ke berbagai daerah itu, menimbulkan bermacam gaya, antara lain gaya Surakarta dan Yogyakarta. Perupaan wayang kulit sebagai peraga pertunjukan dari kedua gaya tersebut ternyata tidak hanya dari segi dimensi dan proporsi bentuk, melainkan juga banyak unsur lain yang membedakannya. Perbedaan perupaan wayang dari kedua gaya pada sejumlah tokohnya bahkan tampak sangat tajam sehingga masing-masing memiliki identitas dan penampilan yang berlainan. Penggambaran atribut dan irah-irahan, jenis busana, aksesori, pola muka, lengan dan tangan sampai kaki, serta tatah sungging wayang memiliki kontribusi yang nyata terhadap perbedaan perupaan kedua gaya wayang itu.