Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pemberdayaan ekonomi masyarakat rentan pasca kondisi new normal pada daerah rawan kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Siak Ashaluddin Jalil; Yesi Yesi; Seger Sugiyanto
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 2 (2020): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.2.531-536

Abstract

The economy of people in areas prone to forest and land fires after the new normal is very shaken because of the Covid-19 crisis and the dry season. This service was carried out in Kampung Rawa Mekar Jaya, Siak Regency with the aim of creating economic resilience for people living in areas prone to forest and land fires by managing peat using environmentally friendly methods or not using fire. The service method begins with preparation and implementation by involving elements of students and the local community. The community service activities include catfish farming and planting of family medicinal plants or TOGA. The achievement of community service can be seen from the enthusiasm of the community in participating in the entire process, from discussions to field actions. Meanwhile, service constraints were caused by covid-19, which limited time and movement and required rearranging program plans.
Mangrove and Akit Tribe: Description of Value Orientation and Natural Conservation Effort Seger Sugiyanto; Ashaluddin Jalil; Hesti Asriwandari; Rd. Siti Sofro Sidiq
Sosial Budaya Vol 19, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v19i1.16628

Abstract

Mangrove dan kehidupan Suku Akit memiliki relasi yang erat sebagai sumber penghidupan. Namun, sejak dua dekade terakhir ketersediaan mangrove berkurang akibat aktivitas manusia dan faktor alam sehingga menyebabkan terjadinya abrasi. Tulisan ini menjelaskan praktik pelestarian dan orientasi nilai Suku Akit pada hutan mangrove. Kami menggunakan kualitatif melakukan wawancara dan observasi serta menganalisis secara deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sampai saat ini Suku Akit masih memanfaatkan mangrove untuk kehidupan mereka, misalnya dalam bentuk kayu bakar, cerocok atau kayu fondasi rumah, pancang, maupun arang. Tetapi, pemanfaatan mangrove ini tidak dilakukan dalam jumlah yang besar, hal ini disebabkan karena adanya himbauan untuk mengurangi penebangan mangrove sebagai upaya mencegah abrasi. Beberapa orang mengikuti anjuran tersebut bahkan mereka sudah mulai bergerak mencari sumber penghidupan lain selain dari mangrove. Sebagian yang lain masih bekerja pada industri mangrove baik sebagai pelaku utama maupun pekerja. Temuan ini memberikan penekanan bahwa alternatif sumber penghidupan berkelanjutan selain bergantung pada mangrove sangat diperukan untuk kehidupan Suku Akit. Orientasi nilai mereka terhadap mangrove memiliki keterkaitan yang erat pada kondisi kehidupan mereka, sehingga diperlukan pemahaman serta alternatif pekerjaan lain agar tidak lagi memanfaatkan mangrove meskipun dalam jumlah yang kecil.
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN MELALUI PENGEMBANGAN PRODUK DODOL NENAS DI DESA TANJUNG LEBAN BENGKALIS Ashaluddin Jalil; Yesi; Seger Sugiyanto
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.052 KB)

Abstract

Abstract Dodol Nenas became the superior commodity of Tanjung Leban Bengkalis. It is done by women's groups and the product is in demand by the community. However, there have not been many efforts to develop dodol nenas, especially with online marketing. This devotion seeks to encourage the development of dodol nenas with a wider market reach. We apply the Participatory Rural Appraisal method in carrying out devotion, obervasi, in-depth interviews as well as hands-on practice. The materials we present are related to packaging design, licensing, marketing, and digital literacy. Successfully implementing attractive and modern product packaging, digital literacy is able to provide women's understanding of product marketing, procedures and ethics, online marketing for now is still limited through Facebook and other social media, while marketing through wider marketplaces such as shopee, tokopedia, lazada, and the like cannot be done because of licensing constraints. The devotional activities also revealed the need for cooperation, coordination and direct communication between stakeholders, especially regarding the licensing process of dodol nenas products in order to penetrate much broader marketing Abstrak Dodol Nenas menjadi komoditas unggulan Desa Tanjung Leban Bengkalis. Dikerjakan oleh kelompok perempuan dan produk tersebut diminati oleh masyarakat. Namun, belum banyak dilakukan usaha pengembangan dodol nenas terutama dengan pemasaran online. Pengabdian ini berupaya mendorong pengembangan dodol nenas dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Kami menerapkan metode Participatory Rural Appraisal dalam melaksanakan pengabdian, obervasi, wawancara mendalam serta praktik langsung. Materi yang kami sajikan terkait desain kemasan, perizinan, pemasaran, dan literasi digital. Pengabdian berhasil menerapkan kemasan produk menarik dan modern, literasi digital mampu memberikan pemahaman perempuan tentang pemasaran produk, prosedur serta etika, pemasaran online untuk saat ini masih dilakukan terbatas melalui facebook dan media sosial lain, sementara pemasaran melalui marketplace yang lebih luas seperti shopee, tokopedia, lazada, dan sejenisnya belum dapat dilakukan karena terkendala perizinan. Kegiatan pengabdian juga mengungkap diperlukan kerjasama, koordinasi dan komunikasi searah antar stakeholder terutama mengenai proses perizinan produk dodol nenas agar dapat menembus pemasaran yang jauh lebih luas.
Penguatan Ketahanan Pangan Melalui Sistem Pertanian Lahan Tanpa Bakar (PLTB) Di Desa Tanjung Leban Kecamatan Bandar Laksamana Kabupaten Bengkalis Yesi Yesi; Ashaluddin Jalil; Seger Sugiyanto
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2023): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i2.1159

Abstract

Tujuan pengabdian memberi penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan gambut tanpa bakar. Metode pengabdian adalah Participatory Rurral Appraisal dengan melibatkan empat kelompok sasaran atau mitra meliputi Pemerintah Desa Tanjung Leban, kelompok perempuan, lembaga ekonomi desa (BUMDes) dan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan dimulai dengan mengenalkan potensi lahan gambut bagi tanaman pangan menggunakan metode tanpa bakar yang selama ini belum dilaksanakan dengan optimal. Pengabdian ini menggunakan sistem demplot sebagai lahan percontohan yang ditanami jagung, kangkung dan tanaman obat-obatan. Tanaman dirawat bersama secara bergantian dan dilakukan monitoring selama beberapa hari. Hasil monitoring menujukkan pertumbuhan yang baik dengan tambahan pupuk kompos. Tanaman dapat dipanen dan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga meskipun dalam jumlah yang kecil. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sistem pertanian tanpa bakar memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala luas bagi komoditas pangan dengan dukungan berbagai pihak. Hal ini dikarenakan dalam praktik sistem pertanian lahan tanpa bakar diperlukan biaya cukup besar mulai dari tahap persiapan hingga penanaman dan perawatan. Strengthening Food Security Through A Non-Burn Farming System in Tanjung Leban Village Bandar Laksamana Sub-District Bengkalis Regency The purpose of the service is to strengthen food security through the utilization of peatlands without burning. The service method is Participatory Rurral Appraisal by involving four target groups or partners including the Tanjung Leban Village Government, women's groups, village economic institutions (BUMDes) and involving students from various disciplines. The activity began by introducing the potential of peatlands for food crops using the no-burn method, which has not been implemented optimally so far. This service uses a demonstration plot system as a pilot land planted with corn, water spinach and medicinal plants. The plants were cared for together in turn and monitoring was carried out for several days. The monitoring results showed good growth with the addition of compost. The plants can be harvested and utilized for household needs even though in small quantities. This success shows that the no-burn agriculture system has the potential to be developed on a wide scale for food commodities with the support of various parties. This is because the practice of no-burn agriculture requires considerable costs from the preparation stage to planting and maintenance
MODAL SOSIAL KEBERLANJUTAN PONARI (KELOMPOK MASYARAKAT NENAS BERDURI) DI DESA RIMBO PANJANG, KECAMATAN TAMBANG, KABUPATEN KAMPAR Romi Lidya Sihombing; Ashaluddin Jalil
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2023): November
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i2.199

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rimbo Panjang dengan tujuan untuk mengidentifikasi serta mengetahui indikator modal sosial yang paling berperan dalam aktivitas ekonomi kelompok masyarakat nenas berduri ( PONARI) dan untuk mengetahui komponen modal sosial tersebut mampu menjadi peran utama dalam keberlanjutan usaha kelompok masyarakat nenas berduri (PONARI). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi langsung dan dokumentasi. Modal sosial yang terdapat pada kelmpok masyarakat nenas berduri yaitu jaringan yang ada pada kelompok masyarakat nenas berduri yaitu hubungan terjalin baik sesama anggota dan jaringan dengan pihak luar untuk membangun kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. hubungan yang baik dengan pihak luar telah memberikan akses kepada pelatihan dan sumber daya teknis yang mendukung pertumbuhan usaha. Kepercayaan sendiri terbentuk antar sesama anggota kelompok karena adanya hobi yang sama dan kepercayaan membantu dalam setiap kegiatan yang dilakukan serta kepercayaan dari pihak luar dalam membantu proses produksi dan distrubusi produk. Nilai dan Norma merupakan yang hal penting dijaga oleh setiap anggota karena norma sebuah hal yang tidak tertulis dan dipatuhi oleh setiap anggota apabila melanggar aturan yang telah disepakati maka akan mendapatkan sanksi berupa teguran. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam keberlanjutan usaha PONARI, jaringan adalah komponen modal sosial yang paling berpengaruh. Oleh karena itu, pemahaman dan pengelolaan jaringan ini secara efektif adalah kunci dalam mempertahankan dan meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian di wilayah pedesaan.
Alih Fungsi Lahan Petani Karet Ke Kelapa Sawit di Desa Pemandang Kecamatan Rokan IV Koto Kabupaten Rokan Hulu Bibi Alfiandi; Ashaluddin Jalil
Journal of Education Transportation and Business Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4449

Abstract

Kehidupan sehari-hari individu maupun masyarakat secara keseluruhan tidak lepas dengan masalah ekonomi. permasalahan tersebut membuat seseorang mengambil keputusan tentang cara terbaik dalam kegiatan perekonomian yang dilakukan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Seperti yang dirasakan petani karet di Desa Pemandang yang membuat mereka melakukan alih fungsi lahan dari karet ke sawit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: 1) alasan petani karet beralih ke kelapa sawit. 2) eknomi petani karet setelah beralih ke kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teori yang digunakan adalah Teori David McClelland Kebutuhan akan prestasi atau Need for Achievement (N-Ach). Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik yang digunakan dalam menentukan subjek adalah purposive, dengan subjek penelitian sebanyak tujuh orang. Hasil penelitian ini alasan petani karet pindah ke sawit dikarenakan harga karet yang murah sering mengalami fluktuasi yang membuat ketidakstabilan dalam pendapatan petani dan cara kerja karet yang memerlukan banyak waktu dan tenaga, namun pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan. Ekonomi petani karet setelah pindah ke sawit memberikan peningkatan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan sehari- hari, membiayai Pendidikan anak, kemampuan menabung dan investasi, lebih aktif dalam kegiatan sosial.
Modal Sosial dalam Pengembangan Objek Wisata Pantai Raja Kecik di Desa Muntai Barat Kecamatan Bantan Ayu Ningtias; Ashaluddin Jalil; Rd. Siti Sofro Sidiq
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 1 (2025): Volume 14 Issue 1, February 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i1.2885

Abstract

This study seeks to identify the development of the Raja Kecik Beach tourist attraction, including the elements of social capital, and to determine the strengths and weaknesses of each element of social capital. This type of research uses qualitative methods. The subjects in this research were four people. The author uses a purposive technique in determining research subjects. The author collected primary data from interviews and observations, while secondary data was documents. This research shows that the involvement of various parties, such as community groups, village governments, and tourism organizations, creates synergy in developing tourist attractions. Trust between community members and tourism managers plays a key role in managing Raja Kecik Beach. Apart from that, the existing norms at Raja Kecik Beach include religious norms and cultural norms that have been in effect for generations. However, the sanctions imposed on violators of these regulations are still limited to social sanctions and warnings. In developing the tourist attraction, Raja Kecik Beach has strengths and weaknesses; the most prominent strengths are the strength of networks and trust, while norms are weak when viewed from the process of developing the tourist attraction. The following strengths in developing the Raja Kecik Beach tourist attraction are support from the village government, district government in developing the Raja Kecik Beach tourist attraction, and support from related agencies.
BODY SHAMING DI KALANGAN MAHASISWI UNIVERSITAS RIAU Murni Nainggolan; Ashaluddin Jalil
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2024): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i4.1051

Abstract

Penelitian ini di laksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau dengan tujuan untuk mengidentifikasi serta mengetahui reaksi mahasiswi yang menjadi korban body shaming dan untuk mengetahui dampak body shaming bagi mahasiswi FISIP UNRI. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi langsung dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menemukan perilaku-perilaku mahasiwa yang menunjukkan adanya body shaming. Body shaming sering terjadi dalam interaksi sesama teman atupun omongan basa-basi juga sering mengarah kepada perilaku body shaming baik dengan maksud sengaja ataupun tidak sengaja. Fenomena body shaming kebanyakan dilakukan oleh teman terdekat korban sendiri yang telah merajalela dan menjadi hal yang biasa, candaan atau basa basi sering dijadikan alasan penyebab body shaming. Terkait dengan reaksi dan juga dampak dari body shaming tersebut dimana hasil wawancara menunjukkan adanya rasa kurang nyaman pada diri korban dan juga membuat si korban kurang percaya diri serta dampak dari body shaming tersebut juga memang langsung dirasakan oleh beberapa subjek sebelumnya. Karena perbuatan tersebut dianggap buruk  dan tentu akan berdampak negatif pada korban. Kemudian mahasiswi yang mengalami body shaming memperlihatkan respon yang beragam yaitu respon secara apatis; tidak perduli, pasif; menerima begitu saja, dan asertif; bertindak secara tegas.
KEHIDUPAN MARTAROMBO PADA MAHASISWA BATAK TOBA DI UNIVERSITAS RIAU Putri Sion Siregar; Ashaluddin Jalil
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2024): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i4.1118

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Universitas Riau, yang bertujuan untuk mengetahui hal yang melatarbelakangi mahasiswa suku Batak Toba di Universitas Riau menerapkan tradisi kekerabatan martarombo serta mendeskripsikan penerapan tradisi martarombo sebagai bentuk interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat suku Batak Toba khususnya bagi mahasiswa suku Batak Toba di Universitas Riau. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dalam analisis observasi penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai terjalinnya tradisi martarombo ditentukan oleh adanya tindakan sosial dan penerapannya sebagai bagian dari proses interaksi sosial. Berdasarkan temuan dari penelitian menunjukkan bahwa yang melatarbelakangi mahasiswasuku Batak Toba Universitas Riau melakukan tradisi martarombo yakni karena timbulnya ikatan batin yang murni diantara sesama mahasiswa Batak Toba di UNRI atau yang dikenal dalam sosiologi yaitu bentuk gemeinschaft (paguyuban) mereka melakukannya karena didasari oleh keinginan untuk mencari dan menjalin ikatan kekerabatan dengan sesama mahasiswa Batak Toba lainnya yang berada di UNRI sehingga hasil dari telah melakukan tradisi martarombo ini adalah timbulnya kedekatan dan keakraban diantara mereka untuk saling membantu dan menjaga satu sama lain layaknya seperti saudara kandung. Tradisi martarombo yang masih dilakukan oleh alumni mahasiswa Batak Toba Universitas Riau juga menjadi wujud tindakan nyata terjalinnya tradisi martarombo sebagai bagian dari tindakan tradisional karena memilki makna yang positif bagi masyarakat Batak Toba antara lain untuk membentuk kepedulian dan solidaritas sosial di dalam kehidupan mahasiswa Batak Toba di Universitas Riau.
IKATAN SOSIAL PUNGUAN MAHASISWA SUKU BATAK TOBA DI PEKANBARU Yoan S Lumban Gaol; Ashaluddin Jalil
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2024): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i4.1123

Abstract

Dewasa ini, fenomena masyarakat membentuk asosiasi etnis di kalangan mahasiswa menjadi sorotan penting dalam studi sosial dan budaya. Mahasiswa suku Batak Toba berupaya membentuk sebuah asosiasi guna mencari teman satu marganya di perantauan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu dasar-dasar mahasiswa Batak membentuk punguan di Pekanbaru serta makna yang didapatkan oleh anggota punguan dalam partisipasinya ketika mengikuti punguan tersebut. Subjek pada penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan penulis sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan adalah teori ikatan sosial dari Travis hirschi. Hasil penelitian yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa membentuk punguan marga di pekanbaru demi menjaga etnisitas agar tidak hilang. Faktor-faktor akan kebutuhan identitas etnis, dukungan sosial dari sekitar dan sadar akan pelestarian budaya juga merupakan alasan dalam pembentukan punguan mahasiswa berdasarkan marga di Pekanbaru. Kekompakan etnik juga menjaga kesatuan, kelekatan dan ikatan bagi masing-masing anggota punguan. Selain itu, punguan marga juga menghasilkan makna yang bervariasi bagi anggotanya, mulai dari pengetahuan akan partuturan marganya sendiri, mendapatkan dukungan dalam berbagai aspek kehidupan dan menambah jaring pertemanan di perantauan. kesimpulan dari penelitian ini yaitu dasar mahasiswa suku Batak Toba membentuk punguan melokal yaitu agar ikatan persaudaraan sesama marga tetap kuat dan untuk menghindari perkawinan satu marga. Adapun makna yang dihasilkan mahasiswa mengikuti punguan marga adalah tradisi-tradisi dari suku Batak tetap dilestarikan supaya tidak terkikis oleh zaman modern. Kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan dalam punguan juga membuat ikatan masing-masing anggota semakin erat.