This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dunia Kesmas
Heru Suparno
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

The Life Experiences of Female Survivors of Intimate Partner Violence in Abortion Decisions: A Qualitative Study in DKI Jakarta and Yogyakarta 2019–2020 Jatusari, Bethani Putri; Anshari, Dien; Suparno, Heru; Simbolon, Indriana; Ilma, Robbiyani
Jurnal Dunia Kesmas Vol 15, No 1 (2026): Volume 15 Nomor 1
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v15i1.24341

Abstract

Abstrak: Studi kualitatif eksploratif ini mengeksplorasi pengalaman hidup perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terkait dengan keputusan aborsi, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong KDRT dan kehamilan yang tidak diinginkan, proses pengambilan keputusan aborsi, dampak psikososial, dan kebutuhan dukungan, untuk memberikan informasi bagi intervensi berbasis bukti seperti skrining KDRT dalam layanan keluarga berencana dan pendidikan yang peka gender. Dilakukan di Jakarta dan Yogyakarta, Indonesia (2019–2020), studi ini melibatkan wawancara semi terstruktur mendalam dengan 40 perempuan usia reproduktif (21 di Jakarta, 19 di Yogyakarta) yang direkrut melalui pengambilan sampel bertujuan dan snowball. Analisis tematik mengungkapkan prevalensi KDRT yang cukup tinggi (total 12 kasus, terutama pelecehan verbal psikologis, kontrol perilaku, kemarahan berulang) dan aborsi yang diinduksi terbatas (6 kasus). Hubungan KDRT dan aborsi bersifat tidak langsung, dimediasi oleh paksaan reproduksi, penghentian kontrasepsi karena trauma atau tekanan pasangan, dan peningkatan risiko kehamilan yang tidak diinginkan. Norma agama yang kuat dan stigma sosial seringkali menghalangi aborsi meskipun terjadi kekerasan. Temuan ini menyoroti kerentanan ganda perempuan terhadap kesehatan reproduksi di lingkungan yang restriktif, menekankan perlunya intervensi yang peka terhadap gender, termasuk skrining rutin kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam perencanaan keluarga dan pendidikan yang mempromosikan otonomi reproduksi.