Abstract - This study explores the representation of senior citizens' lives at the Al-Jenderami Foundation through a qualitative descriptive approach, focusing on spirituality, self-actualization, and social participation. Data collection methods include participatory observation using the Tawamas technique (laughter with senior citizens), semi-structured interviews with the Memory Card technique, and audiovisual documentation compiled into the documentary film Aku dan Al-Jenderami. The study involved six senior residents of PPSHIA Al-Jenderami as key informants, selected purposively based on their willingness to participate and length of residence. Thematic analysis following Braun and Clarke's (2006) framework was applied to interview transcripts, field notes, and audiovisual materials, with member checking and researcher reflexivity used to minimize subjectivity. Findings reveal that the documentary challenges conventional social constructions of aging by portraying elderly individuals as spiritually resilient, socially active, and self-empowered. This representation confronts negative stereotypes and highlights the importance of spiritual and social engagement in aging populations. The documentary also functions as a tool for social advocacy, emphasizing compassion and communal support in upholding the rights and dignity of the elderly. The study encourages similar media and policy approaches in aging societies, particularly in Indonesia and Malaysia. Keyword: Al-Jenderami, documentary film, social engagement, social advocacy media, visual representation. Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana kehidupan warga emas di Yayasan Al-Jenderami direpresentasikan, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menitikberatkan pada dimensi spiritualitas, aktualisasi diri, dan partisipasi sosial. Metode yang digunakan meliputi observasi partisipatif dengan pendekatan Tawamas (Tawa bersama warga emas), wawancara semi-terstruktur dengan pendekatan Memory Card, serta dokumentasi audiovisual yang kemudian disajikan dalam bentuk film dokumenter "Aku dan Al-Jenderami". Penelitian melibatkan enam warga senior PPSHIA Al-Jenderami sebagai informan kunci yang dipilih secara purposif berdasarkan kesediaan berpartisipasi dan lama tinggal. Analisis tematik mengacu pada kerangka Braun dan Clarke (2006) diterapkan terhadap transkrip wawancara, catatan lapangan, dan materi audiovisual, disertai member checking dan refleksivitas peneliti untuk meminimalkan subjektivitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dokumenter ini memperbarui pandangan konstruksi sosial yang menggambarkan lansia sebagai individu aktif, kuat secara spiritual, dan berdaya dalam komunitas. Representasi ini tidak hanya melawan stereotip negatif terhadap lansia, tetapi juga menunjukkan urgensi keterlibatan sosial dan spiritual dalam kehidupan lansia. Lewat peran media sebagai alat advokasi sosial, dokumenter ini mengadvokasi dan memperjuangkan hak-hak lansia dengan landasan kasih sayang dan community togetherness. Penelitian ini menyarankan agar pendekatan serupa diterapkan dalam kebijakan sosial dan produksi media, khususnya di negara dengan populasi lansia yang tumbuh pesat, seperti Indonesia dan Malaysia. Kata kunci: Al-Jenderami, film dokumenter, keterlibatan sosial, media advokasi sosial, representasi visual.