Endang Lukitaningsih
Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimasi Tablet Lepas Cepat Levofloksasin Hidroklorida Menggunakan Crospovidone Sebagai Disintegran dan Studi Disolusi Efisiensi Puspa Dwi Pratiwi; Akhmad Kharis Nugroho; Endang Lukitaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.291 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48352

Abstract

Tablet mengandung zat aktif dan eksipien yang berfungsi untuk meningkatkan sifat fisik tablet sehingga perlunya optimasi dan pengaruhnya terhadap sifat fisik tablet. Crospovidone merupakan salah satu disintegran yang diklaim dapat meningkatkan waktu hancur dan disolusi obat. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan optimasi tablet dan menentukan efek dari perbedaan jumlah crospovidone terhadap respon untuk mendapatkan formula optimal. Optimasi tablet dilakukan metode simplex lattice design dari perangkat lunak Design Expert versi 11 menggunakan dua variabel independen, yaitu crospovidone 2-10% dan laktosa monohidrat (45-53%). Preparasi tablet dilakukan menggunakan metode granulasi basah. Semua formula dilakukan uji sifat alir serbuk, kekerasan tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur tablet, penentuan kadar levofloksasin dalam tablet, dan DE60. Formula optimal didapatkan dari respon kekerasan tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur tablet, dan DE60. Formula optimal yang didapatkan adalah formula dengan jumlah crosspovidone 10% ditandai dengan nilai desirability 0,546 menghasilkan sifat fisik tablet berupa rata-rata kekerasan 4,33 kg, kerapuhan 0,49%, waktu hancur 6,36 menit, dan rata rata DE60 sebesar 75,00%. Terdapat perbedaan signifikan adanya perbedaan jumlah crospovidone terhadap waktu hancur. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara respon prediksi yang diberikan perangkat lunak Design Expert versi 11 dengan hasil observasi sehingga simplex lattice design dari perangkat lunak Design Expert versi 11  mampu memprediksi respon secara akurat.
Penggunaan Antibiotika Aminoglikosida pada Pasien Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Wahyu Utaminingrum; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati; Endang Lukitaningsih
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Vol. 19 No. 01 Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v19i1.12223

Abstract

Antibiotik merupakan obat yang banyak diresepkan. Penggunaannya yang tidak tepat dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas dan toksistas obat serta dapat memperpanjang lama perawatan dan menambah biaya pengobatan. Penggunaan antibiotik pada pasien anak membutuhkan perhatian khusus karena beresiko mengalami Adverse Drug Reactions (ADRs). Antibiotik aminoglikosida merupakan antibiotik spektrum luas yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih, sepsis dan pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik aminoglikosida pada pasien anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Pelaksanaan penelitian dengan ethical approval dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Catatan Medik RSUP Dr. Sardjito. Sampel penelitian adalah pasien anak yang mendapatkan terapi antibiotik aminoglikosida amikasin dan gentamisin selama tahun 2020. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pasien terbanyak adalah pasien usia 0-12 bulan dengan jenis kelamin laki-laki. Sebanyak 66 % merupakan pasien rujukan, 35,4 % mendapatkan perawatan ≤ 10 hari, 66,2 % luaran terapi membaik dan diizinkan pulang berdasarkan keputusan dokter. Terapi antibiotik yang diperoleh sebanyak 63,1 % adalah terapi empiris, 48,4% mendapatkan antibiotik selama ≥ 6 hari. Jenis antibiotik terbanyak yang digunakan adalah kombinasi antibiotik ampisilin dan gentamisin sesuai dengan pedoman terapi.