Komunikasi politik yang mengeksplorasi hasil jajak pendapat tentang popularitas
figure yang bersaing dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) menjadi primadona
pemberitaan di era demokrasi dalam komunikasi. Hasil jajak pendapat dipakai
sebagai landasan membangun kredibilitas calon kepala daerah atau calon wakil
kepala daerah yang berupaya mengungguli pesaingnya. Kalaupun hasil jajak
pendapat tidak memberikan makna positif, kelompok â kelompok entitas
pendukungnya akan melakukan pembelaan demi menjaga popularitas dan
keterpilihan. Namun tidak dapat diabaikan, hasil jajak pendapat berbagai lembaga,
menunjukkan adanya perbedaan substansial yang berpotensi menjadi
kontraproduktif. Akibatnya, hasil jajak pendapat tertentu saja yang akan dipakai
sebagai rujukan dalam komunikasi politik para kandidat yang bersaing. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisis komunikasi politik
yang berkaitan dengan jajak pendapat sebagai pendukung fondasi dalam kontestasi
pemilihan kepala daerah langsung. Sedangkan metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kualitatif, dengan dukungan penelusuran teks maupun data
online yang relevan untuk menghasilkan deskripsi terhadap kompleksitas jajak
pendapat dalam pemilihan kepala dearah langsung. Temuan penelitian ini mencakup
tiga hal, yaitu: bagaimana komunikasi politik mampu membangun kepercayaan
publik, bagaimana jajak pendapat sebagai upaya kampanye terselubung, dan
sejauhmana pemilihan kepala daerah langsung berjalan sesjalan dengan
demokratisasi bernegara.
Kata Kunci : komunikasi politik, jajak pendapat, kampanye, pemilihan kepala daerah
dan demokras