Alfatah Sibua
Universitas Pasifik Morotai

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDAYA PENDIDIKAN DALAM PRESPEKTIF ORANG TERNATE Alfatah Sibua
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 3 No 7 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.023 KB)

Abstract

Kebudayaan pendidikan merupakan gagasan dan konsep yang mendasari praksis pendidikan, kebudayaan pendidikan juga tidak terlepas dari keseluruhan elemen, dan wujud kebudayaan khususnya yang menyangkut ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan cara hidup lainnya. Nilai-nilai inilah yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya sebagai sebuah kesadaran budaya dalam kehidupan masyarakat. Ternate dipilih sebagai wilayah penelitian, dikarenakan kota ini memiliki benang sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhur zaman dahulu, sehingga menjadi warisan bagi bagi generasi sekarang di dalam mempersiapkan pendidikan baik formal maupun non-formal sebagai dasar pijakan atau pedoman dalam kehidupan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk mengukur dengan cermat terhadap fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat, dengan menggunakan perspektif etik dan emik serta analisis, model for dan model of untuk menggunakan makna dan fungsi, sesuai dengan persepsi warga setempat. Dengan demikian hasilnya dapat di pahami bahwa budaya pendidikan dapat mendorong masyarakat menjadi cerdas dalam melihat sebuah fenomena kehidupan konsep ini tidak bisah dipisahkan antara satu dengan lainnya, karena dengan ketiga dasar itulah akan melahirkan manusia yang kaya dalam ilmu pengetahuan dan anggun dalam berperilaku budaya.
Visionary Principal Leadership in Driving School-Based Management in the 3T Region of Morotai Island Fahmi Jaguna; Jasmal Martora; Irawati Sabban; Abd Sarman Sibua; Alfatah Sibua
Jurnal PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran) Vol. 10 No. 4 (2026): July
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/pjr.v10i4.1650

Abstract

School principal leadership is a strategic determinant of the successful implementation of School-Based Management (SBM), particularly in primary schools located in Indonesia’s Remote, Frontier, and Outermost (3T) regions, where educational development is constrained by limited resources and restricted access to quality educational services. This study aims to examine the characteristics of visionary school leadership, the strategies employed to drive SBM implementation, and their implications for educational quality and school autonomy at SD Muhammadiyah 1 Pulau Morotai. A qualitative approach with a case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving the principal, teachers, the school committee, parents, and the school supervisor. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, while research trustworthiness was ensured through source, method, and time triangulation, member checking, and an audit trail. The findings reveal that visionary leadership is reflected in the principal’s ability to formulate and communicate a shared vision, foster a collaborative school culture, optimize local resources, and strengthen partnerships with the Muhammadiyah organization, Save the Children, Stimulant Institute, and the Faculty of Teacher Training and Education of Universitas Pasifik Morotai. These practices enhance SBM implementation, improve teachers’ professional capacity, increase community participation, and strengthen school autonomy. The study contributes to the literature by proposing an Island-Based Collaborative Visionary Leadership Model, demonstrating that effective SBM in 3T regions depends not only on managerial competence but also on social capital, institutional collaboration, and context-responsive educational governance tailored to island communities.