Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR MAHASISWA MELALUI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Martias Martias; Adhi Dharma Suriyanto; A. Yudo Triartanto
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 3 No 7 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.629 KB)

Abstract

Banyak alasan yang dapat diketengahkan agar kita selalu berbenah diri dalam dunia pendidikan nasional, mulai dari pengelolaan lembaga pendidikan, proses pembelajaran, kompetensi dan kemampuan tenaga pengajar sampai kepada kompetensi lulusan. Tanpa survei dan dukungan data sekalipun kita dapat mengatakan bahwa pendidikan nasional Indonesia saat ini tertinggal dengan pendidikan di manca negara. Tulisan-tulisan yang dimuat di media masa, akhir-akhir ini semuanya bernada sama yaitu ingin melakukan pembenahan pendidikan nasional. Hal ini sangat positif dan harus disambut baik, guna melakukan pembenahan, peningkatan dan penyempurnaan secara menerus. Kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan Teknologi Informasi berperan besar untuk mendorong agar selalu dilakukan pembenahan dalam bidang pendidikan. Penggunaan Teknologi Informasi dengan pola pembelajaran melalui jasa elektronik atau lebih dikenal dengan istilah E-Learning merupakan salah satu cara mendorong para mahasiswa agar aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini akan membahas peran tenaga pengajar dalam pembelajaran melalui pengembangan E-Learning dan bagaimana upaya membangun budaya belajar melalui pengembangan E-Learning.
ANOMALUS SEBAGAI BRAND AURA PADA KARAKTER SUPERHERO FILM AVENGERS: ENDGAME A. Yudo Triartanto; Martias Martias; Adhi Dharma Suriyanto; Fitriyanto Fitriyanto
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 3 No 11 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi November
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.995 KB)

Abstract

Genre film superhero telah banyak mencapai boxoffice movie, termasuk tetralogi film The Avengers. Indikatornya, selama waktu tiga hari pemutaran, The Avengers (2012) – dari hasil kreasi Marvel Cinematic Universal - mampu meraup pendapatan USD 200 juta sepadan dengan Rp. 1,8 triliun. Begitupun Avengers: Endgame (2019). Mengacu dari kesuksesan tersebut, penelitian dan analisis ini difokuskan terhadap film Avengers: Endgame, yang dikaitkan dengan kuatnya minat penonton untuk menyaksikan filmnya. Selain skenario naratif yang menarik, patut dicermati adalah adanya unsur-unsur daya tarik yang dimiliki para karakter tokoh superhero, dan juga villains. Maka itu, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan konsep kategori anomalus yang digagas Claude Levi-Strauss, tentang posisi dan oposisi biner para superhero dan villains, yang tergabung dalam film Avengers: Endgame. Kategori anomalus bertujuan untuk mengurai batas kekaburan para superhero dan villains mengenai kategorialnya. Sedang konsep brand aura untuk menyingkap dan menemukan unsur-unsur daya tarik yang dimiliki para superhero dan villains. Struktur Naratif Vladimir Propp dimanfaatkan sebagai penjabaran mengenai peran-peran karakter dalam suatu narasi.
DEKONSTRUKSI MAKNA TEKS PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 PADA KAMPANYE LAGU ”INGAT PESAN IBU” DI MEDIA YOUTUBE (ANALISIS HERMENEUTIKA RADIKAL DERRIDA) A.Yudo Triartanto; Adhi Dharma Suriyanto; Tuti Mutiah
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Januari
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52160/e-jmp.v5i1.808

Abstract

Wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia melalui Gugus Tugas dan Satuan Tugas telah menciptakan sejumlah rangkaian teks yang terdiri dari 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan, New Normal, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Zona Merah/Oranye/Kuning/Hijau, dan Karantina Mandiri. Salah satu rangkaian teks yaitu 3M menjadi fokus penelitian, ketika teks tersebut dihimpun menjadi sebuah lagu dengan durasi yang pendek berjudul Ingat Pesan Ibu diciptakan oleh grup band Padi Reborn. Merujuk dari teks lagu tersebut, maka penelitian ini menggunakan konsep Dekonstruksi yang digagas Jaques Derrida. Titik pusat analisis penelitian mengerucut pada kata “Ibu” sebagai bagian dari teks lagu tersebut. Dalam proses dekonstruksi kata “Ibu” pada akhirnya menimbulkan interpretasi-interpretasi yang cenderung tidak berkesudahan.
The Rational and Irrational Dialectics in the Simulacrum of Posters and Narratives in Indonesian Horror Film Genre A. Yudo Triartanto; Tuty Mutiah; Adhi Dharma Suriyanto; Ali Imron Hamid; Syarif Fitri
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 11 No. 2 (2024): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In recent years—and even dating back to the 1970s and 1980s—the Indonesian horror film genre has consistently drawn large audiences to theaters. Conceptually, this study examines this phenomenon by employing Max Horkheimer’s theory of rational and irrational dialectics, Jean Baudrillard’s concept of simulacrum, and Textual Analysis applied to horror film posters and narratives from the 1970s to the 2000s, alongside select Asian horror films that resonate with audiences. The rational and irrational dialectic emerges prominently in Indonesian horror films, as viewers grapple with the interplay between reality and the supernatural depicted in posters and narratives that serve as simulacra, ultimately becoming modern myths. Philosophically, this dialectic presents a dilemma where humans navigate rationality and irrationality in attempting to dismiss mythological elements. Simulacrum, in this context, represents a duplication without an original, blurring the line between the copy and the real. Textual Analysis, rooted in media and cultural studies, is employed here as a methodology for examining texts that contain meaningful signs. Most Indonesian horror film posters and narratives feature terrifying creatures without real-world references. As a result, despite a dip in popularity during the 1990s, horror films from the 1970s through the 2000s have frequently achieved high viewership, especially those based on legendary tales familiar to audiences. These recurring themes, perpetuated through film posters and narratives, are further reinforced by makeup, animation techniques, and CGI (Computer Generated Imagery), all of which bring the horror elements to life.