Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFFECT OF CONSUMPTION ON ACCEPTANCE OF VALUE ADDED TAXES ( VAT ) IN INDONESIA DURING 1984-2016 Indri Arrafi Juliannisa
AFEBI Economic and Finance Review Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.622 KB) | DOI: 10.47312/aefr.v3i01.148

Abstract

VAT is a tax component that contributes the most to total tax revenue, this study analyzed the relationship of consumption to VAT receipts, but there are other free control variables such as; the money supply, population, and industrial sector revenues. This study refers to previous research that has been carried out by Harju, Kosonen, and Skans (2018) , entitled about “Firm types, pricesetting strategies, and consumption-tax incidence”. This study uses a Time Series Model, that is : is a forecast of future values based on past values of a variable and past mistakes. Time series models are usually use for forecasting. The research method used is quantitative descriptive, by using the Eviews test tool. Because at the beginning of testing this research experienced problems on the classical assumption test, then to overcome the problem of classical assumption test, the test continues using estimation method Newey-West HAC regression model (heteroscedasticity and autocorrelation consistent) standard error or more often called Newey-West HAC. The results of the study show that consumption as the main independent variable has a significant effect, and the control variable that has influence is the money supply and the industrial sector. the increasing amount of consumption each year can stimulate VAT revenues and economic growth in Indonesia.JEL Classification: H20, H25, H26Keywords: Consumption, Industrial sector Money Supply, VAT
STRATEGI MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN BENIH PADI DI INDONESIA Indri Arrafi Juliannisa; Khusnul Khatimah; Sarah Ghania; Viyolanda Azrimultiya; Fadhli Suko Wiryanto
JURNAL AGRIMANSION Vol 27 No 1 (2026): Jurnal Agrimansion April 2026
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v27i1.1998

Abstract

Program kemandirian benih padi merupakan salah satu upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional Indonesia. Inisiatif ini bertujuan memberdayakan petani lokal dalam memproduksi, mengelola, dan menggunakan benih padi unggul secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan benih dari luar. Melalui program ini, petani diharapkan mampu memenuhi kebutuhan benih sendiri, meningkatkan kualitas hasil pertanian, sekaligus mengurangi beban biaya produksi. Mendukung kemandirian benih juga berarti memperpendek rantai distribusi benih sehingga risiko keterlambatan maupun kelangkaan dapat diminimalkan. Pelaksanaan program kemandirian benih padi penting untuk dikaji dan dievaluasi secara komprehensif. Evaluasi yang dilakukan dapat mengidentifikasi kendala di lapangan, potensi inovasi, serta rekomendasi pengembangan program agar lebih efektif dan berkelanjutan yang dilakukan di tiga Provinsi, yaitu Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan model strategi dalam menciptakan kemandirian benih padi di Indonesia agar dapat mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah MULTIPOL (Multicriteria Policy) yang menggunakan prinsip integrated participatory approach dan Metode Multi Criteria Decision Making (MCDM). Hasil scenario, policy, dan action terpilih untuk mendukung Model SiPEKA BENIH adalah saat scenario penguatan supply benih padi terlaksana maka policy yang dapat mendukung yakni kerjasama offtaker, proteksi lumbung benih padi, dan menguatkan cadangan benih padi nasional, adapun action yang mensupportnya adalah pendampingan mentor lapangan, dan kolaborasi dengan dunia pendidikan, badan usaha milik negara maupun milik daerah, mitigasi bencana, memperkuat perjanjian dengan offtaker, dan pengembangan varietas (termasuk dalam difersivikasi varietas).