Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Emas dalam Menjaga Kestabilan Nilai Tukar dan Mengurangi Inflasi Perspektif Ekonomi Islam Fadhli Suko Wiryanto; Faiz Andreas Fawwaz; Muhammad Alif Shafwan; Elca Vebi Anggelyani; Wafa Az zahra
Journal of Economic and Business Advancement Vol. 1 No. 2 (2025): December: Ascendia: Journal of Economic and Business Advancement
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/rpak6w43

Abstract

This study aims to analyze the role of gold in maintaining exchange rate stability and reducing inflation from an Islamic economic perspective, given the increasing exchange rate volatility and inflationary pressures on the fiat money-based monetary system. The study focuses on the characteristics of gold as an asset with intrinsic value that has hedging capabilities and its relevance to Islamic monetary principles. The research method used is descriptive with a literature study approach, utilizing secondary data in the form of official reports from the Central Statistics Agency, data on gold prices, exchange rates, inflation, as well as scientific literature and related regulations. The results and discussion show that gold has a positive correlation as a monetary stabilization instrument, especially in mitigating the effects of exchange rate depreciation and inflation, due to its limited supply and global acceptance. In Islamic economics, gold is considered capable of maintaining the fairness of money value, protecting purchasing power, and supporting sustainable economic stability. The conclusion of the study confirms that strengthening the role of gold as a monetary and Islamic financial instrument has the potential to be a strategic alternative in strengthening national monetary resilience and reducing inflation vulnerability.  
STRATEGI MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN BENIH PADI DI INDONESIA Indri Arrafi Juliannisa; Khusnul Khatimah; Sarah Ghania; Viyolanda Azrimultiya; Fadhli Suko Wiryanto
JURNAL AGRIMANSION Vol 27 No 1 (2026): Jurnal Agrimansion April 2026
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v27i1.1998

Abstract

Program kemandirian benih padi merupakan salah satu upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional Indonesia. Inisiatif ini bertujuan memberdayakan petani lokal dalam memproduksi, mengelola, dan menggunakan benih padi unggul secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan benih dari luar. Melalui program ini, petani diharapkan mampu memenuhi kebutuhan benih sendiri, meningkatkan kualitas hasil pertanian, sekaligus mengurangi beban biaya produksi. Mendukung kemandirian benih juga berarti memperpendek rantai distribusi benih sehingga risiko keterlambatan maupun kelangkaan dapat diminimalkan. Pelaksanaan program kemandirian benih padi penting untuk dikaji dan dievaluasi secara komprehensif. Evaluasi yang dilakukan dapat mengidentifikasi kendala di lapangan, potensi inovasi, serta rekomendasi pengembangan program agar lebih efektif dan berkelanjutan yang dilakukan di tiga Provinsi, yaitu Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan model strategi dalam menciptakan kemandirian benih padi di Indonesia agar dapat mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah MULTIPOL (Multicriteria Policy) yang menggunakan prinsip integrated participatory approach dan Metode Multi Criteria Decision Making (MCDM). Hasil scenario, policy, dan action terpilih untuk mendukung Model SiPEKA BENIH adalah saat scenario penguatan supply benih padi terlaksana maka policy yang dapat mendukung yakni kerjasama offtaker, proteksi lumbung benih padi, dan menguatkan cadangan benih padi nasional, adapun action yang mensupportnya adalah pendampingan mentor lapangan, dan kolaborasi dengan dunia pendidikan, badan usaha milik negara maupun milik daerah, mitigasi bencana, memperkuat perjanjian dengan offtaker, dan pengembangan varietas (termasuk dalam difersivikasi varietas).