Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Penentuan Titik Lokasi Gangguan Menggunakan Simulasi Short Circuit Etap Untuk Mempercepat Recovery Time Di PT. PLN (Persero) Ulp Palangka Raya Barat peny puspayanti; saiful karim
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v3i1.6565

Abstract

Listrik dihasilkan dari pembangkit listrik yang kemudian ditransmisikan melalui jaringan transmisi lalu didistribsikan ke konesumen untuk dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. Proses penyaluran ini tidak lepas dari gangguan yang timbul akibat dari faktor bahan/jenis penghantar dan faktor jarak. Gangguan yang biasa timbul pada proses penyaluran adalah gangguan hubung singkat. Gangguan hubung singkat terdiri dari 4 jenis, yaitu gangguan hubung singkat 3 fasa, gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah, gangguan hubung singkat ganda, dan gangguan hubung singkat ganda ke tanah. Gangguan yang terjadi ini harus ditemukan secara cepat untuk pemulihan recovery time, semakin panjang penyulang yang dimiliki, semakin lama juga upaya recovery time. PT. PLN UP3 Palangkaraya memiliki panjang jaringan 3.839 kms, sehingga apabila terjadi gangguan dibutuhkan waktu recovery time yang lama. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mempercepat recovery time  dan mengurangi ENS (energy not sale) saat terjadi gangguan yaitu melakukan analisa pencarian titik lokasi gangguan berdasarkan record gangguan yang terjadi dan simulasi short cicuit ETAP. Metode yang digunakan adalah dimulai dari pengumpulan data dan informasi record gangguan, membuat single line diagram pada ETAP 12.6, melakukan pengecekan dengan simulasi load flow, melakukan simulasi short circuit analysis, melakukan analisa titik lokasi gangguan dan kesimpulan.              Kata Kunci : record gangguan, simulasi short circuit ETAP, recovery time 
ANALISA PENGGUNAAN SOLAR CELL PADA PJU DI PULAU LAUT TENGAH KABUPATEN KOTABARU KALIMANTAN SELATAN Saiful Karim; Alimuddin Alimuddin
AL-JAZARI JOURNAL SCIENTIFIC OF MECHANICAL ENGINEERING Volume 2, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.054 KB) | DOI: 10.31602/al-jazari.v2i1.856

Abstract

Secara geografis kabupaten Kotabaru terletak antara 2º 18' 44,57" – 5º 0' 35,24" Lintang Selatan dan 115º 29' 38,36" - 117º 31' 29,17" Bujur Timur, Dengan Luas Wilayah 9.422,46 Km2 (lebih dari ¼ Kalsel) dan terdiri dari 1 pulau besar dan 110 kecil serta Panjang pantai 825 Km dan jumlah penduduk yang ada di kabupaten kotabaru adalah sebesar 308.730 jiwa yang terdiri 160.720 laki-laki dan 148.010 perempuan, dengan 18 etnis yang tersebar di 21 Kecamatan, 198 Desa dan 4 Kelurahan. Untuk meningkatkan pembangunan transportasi, baik darat, laut maupun udara, Kabupaten Kotabaru dapat ditempuh dengan melalui jalan darat yang meliputi panjang sekitar 1.000 (seribu) Kilometer, terdiri dari sepanjang 148 (seratus Empat puluh delapan) Kilometer jalan Negara, 134 (seratus tiga puluh empat) Kilometer jalan Propinsi, dan 792 (tujuh ratus sembilan puluh dua) Kilometer jalan KabupatenPembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada dasarnya adalah pencatu daya (alat yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan hybrid (dikombinasikan dengan sumber energi lain) baik dengan metode Desentralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metode Sentralisasi (listrik didistribusikan dengan jaringan kabel)Besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh Pemda Kotabaru setiap bulanya untuk membayar tagihan listrik dalam penggunaan PJU Listrik PLN di Pulau Laut Tengah adalah Rp 1.675.989. Namun kenyataanya penggunaan PJU listrik PLN tersebut sudah tidak berfungsi atau tidak menyala, tagihan yang ada ini merupakan tagihan minimum yang harus dibayar oleh Pemerintah Daerah. Adapun besarnya investasi untuk pemasangan jaringan baru PJU listrik PLN dengan daya yang tersambung 3500 VA dengan jumlah lampu 33 titik adalah 54.550.000/33 unit = 16.530.300 per unit.Jadi besarnya biaya tagihan per titik PJU listrik PLN dalam 1 bulan adalah = Rp 21.902, dalam 1 tahun adalah Rp 21.902 x 12 bulan = Rp 262.824 untuk 1 unit PJU listrik PLN menggunakan lampu LHE 45 Watt.
INSTALASI PENERANGAN MADRASAH IBTIDAYAH (MI) TASRIHUL ISLAM UNTUK PENINGKATAN FASILITAS SEKOLAH MENYONGSONG PENDIDIKAN YANG LEBIH MAJU Moethia Faridha; Abdurahim Sidiq; Saiful Karim; Ayu Novia Lisdawati; Rusilawati Rusilawati; Irfan Irfan
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 7, No 3 (2022): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.616 KB) | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v7i3.6932

Abstract

Madrasah Ibtidayah Tasrihul Islam memiliki motto dedikasi yang tinggi, usaha yang keras, ikhlas dalam bekerja, dan tawakal. Kondisi dari semua ruang dan kelas kecuali kantor yang ada di Sekolah ini semuanya tidak memiliki fasilitas penerangan, sehingga apabila proses belajar mengajar dalam kondisi mendung atau hujan keadaan kelas akan gelap yang tentu saja mengurangi mutu pengajaran yang berimbas pada kurangnya pendidikan yang lebih maju. Setelah diidentifikasi permasalahan mitra hasil survai lapangan dan wawancara dengan kepala sekolah dari 4 (empat) permasalahan yang dapat dilaksanakan adalah point 1 (satu) menyesuaikan dengan pengembangan mata kuliah desain instalasi tenaga listrik. Dengan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran sosial terhadap pendidikan, meningkatkan silaturahmi antara Uniska dengan pihak sekolah. Dapat melakukan penerapan Pengembangan mata kuliah desain instalasi tenaga listrik. Dapat memberikan fasilitas penerangan yang layak bagi siswa dalam proses belajar mengajar.
PERANCANGAN PENANGKAL PETIR DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) MANARAP PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM INTAN BANJAR Erma Noviana; Saiful Karim
EEICT (Electric, Electronic, Instrumentation, Control, Telecommunication) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/eeict.v5i2.9212

Abstract

Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap adalah salah satu unit pengolahan air baku menjadi air bersih yang dimiliki oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Intan Banjar. Dalam upaya mencegah dan meminimal kemugkinan terjadinya sambaran petir maka manajemen PDAM Intan Banjar akan memasang sistem proteksi sambaran petir terhadap bangunan dan peralatan yang ada. Pada penelitian ini bertujuan: menentukan tingkat proteksi petir pada  lingkungan bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap PDAM Intan Banjar, menentukan luas daerah proteksi penangkal petir, mengetahui nilai tahanan pentanahan yang terpasang pada sistem penangkal petir di Instalasi Pengolahan   Air   (IPA)   Manarap   PDAM   Intan Banjar dengan menggunakan metode bola bergulir (Rolling Sphere) dan mengacu pada SNI -03-715- 2004.   Tingkat   proteksi   petir   pada   bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Manarap PDAM Intan Banjar ditentukan dengan melakukan perhitungan dan diperoleh nilai parameter : pada ketinggian   obyek   20   m,   kerapatan   sambaran tahunan   (Ng) = 22,45     sambaran per km2 per tahun,   frekuensi sambaran lagsung (Nd) = 0,26, nilai tingkat efisiansi (E) sebesar 0,58 dan memerlukan proteksi petir minimal level IV. Untuk nilai arus petir (I) = 234,89 kA, jarak sambaran petir terhadap bangunan (ds)  = 347,58 m, panjang radius proteksi bola bergulir (R) =116,20 m sehingga diperoleh luas radius perlindungan (A) dari penangkal petir yang dipasang  seluas 42. 397 m2.      Nilai  tahanan  pentanahan  yang  terpasang pada sistem penangkal petir dari hasil analisa perhitungan sebesar 1,45 ohm, sedangkan dari hasil pengukuran diperoleh nilai 1,14 ohm (lebih kecil dari  hasil  analisa  perhitungan),  hal  ini kemungkinan disebabkan nilai tahanan jenis tanah dilokasi  pemasangan  lebih  kecil  dibanding  nilai tahanan jenis yang digunakan dalam analisa perhitungan.