Leni Maylina
Departemen Klinik, Reproduksi Dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : ARSHI Veterinary Letters

Pendekatan Metode Double Advancement Flap pada Operasi Tumor Kulit pada Anjing Leni Maylina; Citra Ayu Lestari; Elma Nefia; Siti Sarah Ulia; Christia Dilla; Siti Komariah
ARSHI Veterinary Letters Vol. 1 No. 1 (2017): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2017
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.212 KB) | DOI: 10.29244/avl115-6

Abstract

Anjing King Charles Spaniel (KCS) dan Golden Retriever (GR) berumur dua tahun memiliki jenis kelamin jantan datang ke Animal Clinic Jakarta (ACJ) pada tanggal 8 November 2016 dengan gejala klinis adanya pertumbuhan massa kenyalyang menempel pada kulit di bagian thoraks kanan (KCS) dan di kaki kiri depan, ventral thoraks dan pada daerah scapula kanan (GR). Hasil pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah menunjukkan kedua anjing boleh dilakukan anaesthesia untuk terapi pengangkatan tumor. Terapi yang dilakukan adalah operasi pengangkatan tumor dengan luka operasi ditutup menggunakan metode penjahitan double advancement flap. Terapi injeksi yang diberikan pada kedua anjing setelah operasi yaitu pemberian antibiotik Ceftriaxone®. Terapi oral untuk rawat jalan yang diberikan adalah Cefadroxil®dan Metacam®syrup. Tambahan terapi oral untuk anjing KCS adalah Metronidazole® dan Tramadol®. Operasi berhasil dengan baik dan kedua anjing diperbolehkan pulang dengan rawat jalan.
Suspect feline infectious peritonitis pada kucing Sus Derthi Widhyari; Bayu Firmala Kusuma; Setyo Widodo; Anita Esfandiari; Retno Wulansari; Leni Maylina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.059 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.1.15-16

Abstract

Feline infectious peritonitis (FIP) adalah penyakit menular akibat infeksi corona virus dan dapat berakibat kematian. Diagnosa FIP dijumpai pada seekor kucing  dengan gejala anoreksia, lemas, perut membesar dan diare. Hasil pemeriksaan abdomen menunjukkan adanya undulasi positif diduga akibat penimbunan cairan di rongga abdomen. FIP tipe ini dijumpai adanya akumulasi cairan dalam rongga perut dan menyebabkan terjadinya pembesaran daerah abdomen dan disertai kesulitan bernafas. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratories, kucing di diagnosa mengalami suspect Feline Infectious Peritonitis (FIP) tipe basah. Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk lebih meneguhkan diagnosa, seperti uji serologis, radiografi, dan ultrasonografi.
Keracunan paracetamol pada kucing lokal Putu Jodie Kusuma Wijaya; Retno Wulansari; Husnul Hamdi; Arief Purwo Mihardi; Leni Maylina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 2 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.408 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.2.39-40

Abstract

Kucing domestik betina berumur satu tahun bernama Kesi datang ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) dengan keluhan wajah yang membengkak. Anamnesa yang didapat dari pemiliknya bahwa hewan terlihat lesu, sehingga pemiliknya memberikan Decolgen® pada Kesi sehari sebelumnya. Kelainan yang paling umum diamati pada pemeriksaan fisik dari kucing adalah: tingkat pernapasan meningkat, pucat-berlumpur selaput lendir, hipotermia, dan takikardia. Tanda-tanda lain adalah depresi, anoreksia, muntah, wajah dan cakar membengkak, air liur, diare, koma dan kematian. Dari temuan klinis dan anamnesa pemilik didapati bahwa hewan mengalami keracunan paracetamol. Prognosa yang didapat dari kasus adalah dubius apabila segera ditangani dan infausta apabila tidak segera ditangani. Pemberian paracetamol pada kucing tidak disarankan karena dapat berakibat fatal pada kucing. Pemberian acetylcysteine pada Kesi bertujuan untuk membantu kucing dalam pembentukan glutathione seluler. Setelah dilakukan pengobatan selama 3 hari, terlihat adanya kemajuan yang dapat diamati dari mukosa yang sudah tidak membengkak  dan mukosa sudah tidak berwarna pucat lagi. Setelah 4 hari pengobatan, hewan sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang oleh dokter.
An integrative therapy for paraplegia dog with ehrlichiosis Frizky Amelia; Danny Umbu T. Hambandima; Erly Rizka Adistya; Roro Soesatyoratih; Leni Maylina; Nindya Dwi Utami; Tatang Cahyono; Deni Noviana
ARSHI Veterinary Letters Vol. 3 No. 4 (2019): ARSHI Veterinary Letters - November 2019
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.438 KB) | DOI: 10.29244/avl.3.4.65-66

Abstract

An eight-months-old male Golden Retriever was referred to Veterinary Teaching Hospitalof IPB University with clinical signs of non-ambulatory paraplegia, tail paralysis, urinary and faecal incontinence, pale mucosa, and loss of sensory and motoric responses on both pelvic limbs. The hematology examination showed thrombocytopenia (125x103/µL), monocytopenia (0.09x103/µL),and no significant decreased of hematocrit (36.88%). Rapid diagnostic test and blood smears were positive for Ehrlichiacanis infection. Abdominalsonogram showed splenomegaly and hepatomegaly with hepatic vessels dilatation. An integrative therapy was done using medications (vitamin B-complex, cyproheptadine, methylprednisolone, doxycycline, and Fundamin E®), herbal (Gui Pi Tang® and Fu Fang Ejiao Jiang®), acupuncture, micro-radar, and Tuina massage. The dog was able to walk and run after 10th session of the intensivetreatment then discharged from the hospital after two months. One week after, the dog started dragging his toe. A customized shoe then made to prevent furtherinjury to the affected limb. The acupuncture was continued once a week for the following two months. The dog is still able to walk and run at his last visit 5 months later. This shows that an integrative therapycan give a good performance in recovering ambulation of paraplegia dog with ehrlichiosis