Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Aktivitas Diuretik dan Analisa Mineral Urin Perlakuan Ekstrak Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus Benth) pada Tikus Jantan Rini Madyastuti; Ietje wientarsih; Setyo Widodo; Erni H Purwaningsih; Eva Harlina
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 2 (2020): Juli 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.912 KB) | DOI: 10.29244/avi.8.2.16-23

Abstract

Tanaman Kumis Kucing merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak keuntungan dan sudah digunakan sejak dahulu dalam upaya menjaga kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi aktivitas diuretik dari penggunaan ekstrak Kumis Kucing dan mengukur kadar kalium dan natrium dalam urin. Sebanyak 24 ekor tikus dibagi menjadi empat grup; kontrol negatif (akuades), kontrol positif (furosemide), dosis ekstrak 1 (250mg/kg BB) dan dosis ekstrak 2 (500mg/kg BB). Ekstrak diberikan secara peroral selama 7 hari. Aktivitas diuretik pada kelompok ekstrak dan kontrol positif pada jam pertama (P>0.05) dan jam keenam (P<0.05). Volume urin kumulatif dosis 1 mendekati furosemide. Pengukuran mineral urin menunjukkan hasil kehilangan mineral natrium dan kalium pada kelompok ekstrak lebih kecil dibandingkan kelompok referensi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dosis efektif ekstrak Kumis Kucing adalah 250 mg/kg BB pada jam ke-2 dan menunjukkan kehilangan mineral dalam urin yang lebih kecil.
Aktivitas Diuretik dan Analisa Mineral Urin Perlakuan Ekstrak Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus Benth) pada Tikus Jantan Madyastuti, Rini; Ietje wientarsih; Setyo Widodo; Erni H Purwaningsih; Eva Harlina
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 2 (2020): Juli 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.912 KB) | DOI: 10.29244/avi.8.2.16-23

Abstract

Tanaman Kumis Kucing merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak keuntungan dan sudah digunakan sejak dahulu dalam upaya menjaga kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi aktivitas diuretik dari penggunaan ekstrak Kumis Kucing dan mengukur kadar kalium dan natrium dalam urin. Sebanyak 24 ekor tikus dibagi menjadi empat grup; kontrol negatif (akuades), kontrol positif (furosemide), dosis ekstrak 1 (250mg/kg BB) dan dosis ekstrak 2 (500mg/kg BB). Ekstrak diberikan secara peroral selama 7 hari. Aktivitas diuretik pada kelompok ekstrak dan kontrol positif pada jam pertama (P>0.05) dan jam keenam (P<0.05). Volume urin kumulatif dosis 1 mendekati furosemide. Pengukuran mineral urin menunjukkan hasil kehilangan mineral natrium dan kalium pada kelompok ekstrak lebih kecil dibandingkan kelompok referensi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dosis efektif ekstrak Kumis Kucing adalah 250 mg/kg BB pada jam ke-2 dan menunjukkan kehilangan mineral dalam urin yang lebih kecil.
Efek Penambahan Mineral Zn Terhadap Gambaran Hematologi pada Anak Sapi Frisian Holstein Sus Derthi Widhyari; Anita Esfandiari; Agus Wijaya; Retno Wulansari; Setyo Widodo; Leni Maylina
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 19 No. 3 (2014): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.703 KB)

Abstract

The objective of this experiment was to determine the effects of zinc supplementation on health status in dairy calves. Nine Frisian Holstein (FH) at 6-10 months of age were used in this experiment and divided into three groups. First group (no added Zn) for control, the second group was added 60 ppm Zn, and the third group was added 120 ppm Zn. Zn was administered daily for three months. Blood samples were collected from the jugular vein and anticoagulated with EDTA. Whole blood were used for measuring erythrocytes, hemoglobin concentration, hematocrit value, total leukocyte count, and leukocyte cell types. The results showed that no difference among groups for hematological parameters and the value of hematology were in the range values references. In conclusion, 60 and 120 ppm Zn supplementation in the feed is relatively safe for health.
Tinjauan Penambahan Mineral Zn dalam Pakan Terhadap Kualitas Spermatozoa pada Sapi Frisian holstein Jantan Sus Derthi Widhyari; Anita Esfandiari; Agus Wijaya; Retno Wulansari; Setyo Widodo; Leni Maylina
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 20 No. 1 (2015): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.214 KB)

Abstract

Bulls are expected to be able to produce a good quality and quantity of sperm. The objective of this experiment was to study the effect of Zn supplementation on the sperm quality, in Frisian holstein bulls. Ten bulls, 1618 months of age were used in this experiment. The experimental bulls were divided into two groups, i.e.,group without Zn supplementation (control) and group with 60 ppm of Zn supplementation. Zn supplementations were given everyday for a period of four months. Semen was collected by using artificial vaginaat the end of the experiment. Semen quality was evaluated macroscopically and microscopically. The variables measured were semen volume, semen pH, sperm motility, sperm concentration, sperm viability, and sperm abnormality. The results showed that Zn supplementation significantly increased sperm motility and sperm concentration (P<0.05), whereas there was no significant difference in other parameters.
KIVSA-4 Identifikasi Klinis Kristaluria pada Kasus Feline Lower Urinary Track Disease (FLUTD) di Klinik Hewan Maximus Pet Care Arief Purwo Mihardi; Intan Maria Paramita; Sherli Noviaria Pakpahan; Setyo Widodo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.12 KB)

Abstract

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) terjadi karena adanya disfungsi dari kantung kemih maupun uretra pada kucing.  Salah satu simptom dari FLUTD yaitu polakiuria tanpa disertai poliuria, adanya stranguria dan hematuria (Gunn-Moore 2003; Westroop dan Buffington 2010).  Menurut Hostutler et al. (2005), hampir kebanyakan kucing yang mengalami LUTD terjadi karena terjadinya feline idiopathic, interstitial cystitis, urolitiasis, infeksi bakterial pada saluran urinari, malformasi anatomi saluran urinari, neoplasia, behavioral disorder, dan gangguan syaraf seperti refleks dysnergia.  Seperti yang dilaporkan Dorsch et al. (2014), dari 302 ekor kucing yang mengalami LUTD terdapat feline idiopathic cystitis (FIC) (55%), infeksi bakterial saluran urinari (18,9%), uretral plug (10,3%) dan urolithiasis (7%).  Kojrys et al. (2017) juga melaporkan 385 kucing yang mengalami LUTD terdapat 60,7% mengalami FIC, 17,4% obstruksi uretra akibat plug, 7,8% infeksi bakterial saluran urinari, 13% mengalami urolitiasis, 1 % terjadinya hiperplasia.Hampir sebagian besar kejadian LUTD diikuti dengan adanya obstruksi.  Menurut laporan Kojrys et al. (2017), FLUTD diikuti terjadi obstruksi uretra pada 229 kucing.  Umumnya obstruksi ini terjadi pada kucing jantan (204 ekor) dan hanya terdapat 25 ekor terjadi pada kucing betina.  Obstruksi ini biasanya terjadi pada kasus FIC yakni 129 ekor dan 67 ekor mengalami urolitiasis.  Menurut Osborne dan Lulich (2006), jenis kristal urin yang sering ditemukan pada kasus urolitiasis seperti struvit, kalsium oksalat, urat, sistin ataupun campuran.  Studi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kristalurin yang terjadi pada 13 ekor kucing yang mengalami LUTD.
KIVSA-5 Pijat Uretra (Urethral Massage) Alternatif Penanganan Kasus Obstruksi Uretra akibat FLUTD pada Kucing Jantan Intan Maria Paramita; Arief Purwo Mihardi; Sherly Noviaria Pakpahan; Setyo Widodo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.115 KB)

Abstract

Obstruksi uretra merupakan salah satu manifestasi dari kasus Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) yang sering muncul dan bila tidak mendapatkan perawatan yang baik akan menimbulkan kematian. Obstruksi uretra dapat terjadi akibat keberadaan kalkuli, serta urethral plug yang tersusun atas mukoprotein, blood clot, kristal, hingga kalkuli. Obstruksi urethra lebih sering terjadi pada kucing jantan dibandingkan kucing betina (Hostutler et. al. 2005). Hal ini terjadi akibat anatomi uretra kucing jantan lebih panjang dan berbentuk selongsong yang mempermudah kejadian pengendapan kristal dan mukoprotein membentuk plug yang menghambat aliran urin keluar melalui uretra. Kucing yang mengalami obstruksi uretra dapat dikenali dari adanya perubahan frekuensi urinasi dan perubahan tingkah laku urinasi (Gunn-Moore 2002). Beberapa kucing menunjukkan gejala muntah, nyeri di abdomen, lemah, lesu, nafsu makan turun, ulcer di rongga mulut, hingga penurunan bobot badan yang signifikan (Berent 2011). Diagnosa obstruksi uretra dapat dilakukan dengan palpasi kondisi vesica urinaria (VU). Vesica urinaria kucing yang mengalami obstruksi uretra akan teraba besar, tegang, dan keras karena terisi penuh oleh urin. Teknik yang disarankan untuk memperlancar aliran urin adalah dengan memberikan obat obatan yang bersifat antispasmodik seperti atropin untuk merelaksasikan lumen uretra, melakukan pijat uretra atau “milking technique” selama beberapa menit pada uretra yang sudah dilubrikasi, irigasi uretra menggunakan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy (Gaskell 1978). Pemasangan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy merupakan tindakan invasi yang dilakukan apabila tindakan lain tidak berhasil dilakukan. Tindakan invasif memiliki resiko jika tidak dilakukan secara lege artis. Osborne et. al. (1996) menyatakan bahwa tindakan kateterisasi mampu menginduksi terjadinya trauma hingga penyempitan uretra akibat infeksi karena adanya benda asing yang dimasukkan dalam tubuh kucing tersebut.Salah satu alternatif memperbaiki aliran urin adalah dengan melakukan tindakan pijat uretra. Osborne et. al. (1978) menyarankan melakukan tindakan ini sebelum melakukan tindakan invasi lainnya. Tindakan kateterisasi dilakukan apabila pijatan uretra tidak mampu melancarkan aliran urin. Studi ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas teknik pijat uretra dalam menangani kasus obstruksi uretra pada 10 ekor kucing jantan yang mengalami FLUTD.
KIVP-3 Pengamatan Performa Pada Sapi FH Jantan yang Diberi Suplementasi Mineral Zinc Sus Derthi Widhyai; Dondin Sajuthi; Setyo Widodo; Anita Esfandiari; Retno Wulansari; Agus Wijaya; Chusnul Choliq; Agus Lelana; Leni Maylina; Arief Purwo Mihardi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.391 KB)

Abstract

Permintaan dunia terhadap protein hewani sangat besar dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan yang meningkat tidak dibarengi dengan kemampuan penyediaan protein hewani yang cukup sehingga sebagian besar dipenuhi melalui import. Pemenuhan protein dalam negeri diharapkan mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas daging melalui perbaikan mutu nutrisi sehingga mampu bersaing dengan pihak luar. Salah satu sumber protein hewani selain dari ternak potong, adalah memanfaatkan sapi jantan dari sapi perah FH. Oleh karena itu ternak jantan dapat digunakan sebagai alternatif sumber protein hewani dalam upaya untuk penyediaan pangan asal ternak.  Pembangunan peternakan diarahkan agar produk ternak dalam negeri mampu bersaing dengan produk ternak impor dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional. Mineral Zn dilaporkan mampu memperbaiki skor marbling karkas [1].  Hal ini penting untuk memperbaiki kualitas karkas daging sebagai sumber protein hewani. Belum banyak informasi tentang efek suplementasi Zn terhadap pertambahan bobot badan terutama pada sapi FH jantan. Oleh karena itu pengamatan tentang suplementasi Zn terhadap performa (bobot badan) pada sapi FH jantan perlu dilakukan.
PENELITIAN DURABILITAS MINYAK LUMAS MESIN SEPEDA MOTOR SAE 10W-40, API SL/JASO MB MELALUI UJI JALAN Rona Malam K; M. Hanifuddin; Setyo Widodo
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan minyak lumas yang tepat akan berpengaruh pada kinerja mesin yang baik, sehingga masa pakai mesinkendaraan lebih lama dan meningkatkan efi siensi secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan dengan cara membuatminyak lumas untuk kendaraan sepeda motor SAE 10W 40, API SL/JASO MB yang memerlukan spesifi kasi khususdengan kinerja yang optimum, kemudian melakukan uji jalan sampai mencapai jarak tempuh 5000 km. Analisisminyak lumas bekas (used oil) dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja minyak lumas dan pengaruh pemakaiannyaterhadap komponen mesin.
SAPROFIT AND PATHOGENIC FUNGI ISOLATED FROM PET CLINICS AND STORES IN BOGOR CITY WEST JAVA PRIBADI, Eko Sugeng; Kadri, Febrina Suci Dwi; Wijayanti, Revi Esti; Deskiharto, Arman; Widodo, Setyo
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 19, No 3 (2025): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v19i3.28482

Abstract

The research aimed to observe the occurrence of dermatophyte and other fungal species in grooming rooms and on groomers' clothing in several pet clinics and pet shops in Bogor City West Java. Ten veterinary clinics and five pet stores served as the study sites for this investigation. Five plates containing growth media were placed at five points in each room. Clothing swabs were collected from groomers immediately before they initiated their daily work activities. The result showed ten genus/species identified in grooming room and 16 genus/species isolated from the groomer clothes. Fusarium sp. was the predominant fungal isolate in grooming rooms (24.39%), followed by Candida albicans (9.76%). Notably, Fusarium sp. was also detected on groomers' clothing at a prevalence of 20.00%. Other pathogenic isolates included Aspergillus flavus and A. fumigatus. Despite the routine use of quaternary ammonium compounds, glutaraldehyde, anionic surfactants, and the ectoparasiticide amitraz in facility hygiene protocols, these disinfectant regimens insufficient in controlling fungal contamination. These findings highlight potential gaps in current disinfection practices within pet care facilities.
Extra-hepatic biliary duct obstruction pada anjing ras Dachshund Kartjito, Nicolas Edward Christanto; Effendi, Siti Aisyah Rahmalia; Solinda, Gamelita Rizkawandi; Widodo, Setyo; Widhyari, Sus Derthi; Wulansari, Retno; Wijaya, Agus; Dewi, Fitriya Nur Annisa; Wibowo, Deny Setyo; Esfandiari, Anita
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 2 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.2.25-26

Abstract

Anjing jantan ras dachsund (Teckel) berwarna hitam, berusia 4 tahun dengan bobot badan 7,5 kg dibawa pemiliknya datang ke klinik hewan dengan keluhan muntah berulang. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan polisitemia, leukositosis dan jumlah granulosit yang tinggi. Hasil uji biokimia darah menunjukkan peningkatan pada aktivitas SGPT/ALT, GAMA-GT, total bilirubin, total protein, albumin, rasio ALB/GLOB dan rasio BUN/CRE. Hasil radiografi menunjukkan adanya bentukan membulat radiolucent didekat organ hati. Diagnosa kasus klinis pada anjing ini yaitu extrahepatic biliary duct obstruction dan terapi simptomatik dilakukan dengan memberikan gastroprotektan, antiemetik, serta obat-obatan untuk membantu memperbaiki fungsi hati. Pengobatan dilakukan selama 2 minggu dan menunjukan perbaikan pada organ hati berdasarkan hasil pemeriksaan biokimia darah, diikuti dengan tidak ada dilatasi kantung empedu pada radiogram.