Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Merayakan Records in Contexts: Latar dan Kandungan Standar Deskripsi Arsip Terbaru Keluaran International Council on Archives Raistiwar Pratama
Diplomatika: Jurnal Kearsipan Terapan Vol 4, No 1 (2020): Volume 4 No 1 2020
Publisher : Program Studi Kearsipan, DBSMB SV UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/diplomatika.61050

Abstract

Artikel ini menguraikan pokok-pokok gagasan standar terbaru keluaran International Council on Archives, bertajuk Records in Contexts. Tidak hanya merangkum keempat standar yang ada, standar ini mengutamakan fungsi dan kegiatan setiap arsip sesuai sejarah penciptaannya. Setelah hampir tiga dasawarsa setelah standar pertama (General International Standard Archival Description [ISAD-G]) terbit, standar ini telah mengembangkan pengertiannya sendiri mengenai antara lain asal-usul, fonds, dan aturan asli, menyesuaikannya dengan perkembangan medium informasi yang begitu cepat teralihmediakan sembari mempertanyakan adagium “medium adalah informasi” sejak dasawarsa 1970-an dan perangkat keterbacaan yang dipahami sebagai bukan-arsip. Arsip telah berpindah dari teks menuju konteks.
HILANGNYA CATATAN KAKI: POKOK-POKOK GAGASAN KEARSIPAN DALAM DUTCH MANUAL: Array Raistiwar Pratama
Jurnal Kearsipan Vol 12 No 1 (2017): -
Publisher : Arsip Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Handleiding voor Het Ordenen en Beschrijven van Archieven, known also as Dutch Manual, is the first codified version of Dutch Archivistiek and to large extent reflects European archival tradition, primarily France and Germany. The Manual was published in a time when the remaining archives are paper-based ones, the only model is life cycle, methods of making finding aid are provenance and original order, and methodology of making finding aid is based on arrangement and description. Only the main rules of the Manual are known to Indonesian archivists because there has been no complete and reliable Indonesian translation. This paper attempts to introduce the main rules of it to the Indonesian archivists. Handleiding voor Het Ordenen en Beschrijven van Archieven, juga dikenal sebagai Manual Belanda (Dutch Manual), merupakan bentuk terpadu kodifikasi kearsipan Belanda dan juga mencerminkan tradisi kearsipan Eropa (Perancis dan Jerman). Terbit pertama kali pada waktu ketika arsip masih berbentuk kertas, daur hidup merupakan model satu-satunya, metode penyusunan inventaris hanya provenance dan original order, dan metodologi pengolahan arsip statis hanya berdasarkan pada arrangement dan description. Arsiparis Indonesia hanya mengenal pokok-pokok gagasan Manual karena tidak tersedia terjemahan utuh berbahasa Indonesia yang memadai. Tulisan ini merupakan upaya pertama untuk memperkenalkan pokok-pokok Manual kepada arsiparis Indonesia.
DARI DUTCH MANUAL HINGGA RECORDS IN CONTEXTS: PERUBAHAN DAN KESINAMBUNGAN PRINSIP-PRINSIP KEARSIPAN: Array Raistiwar Pratama
Jurnal Kearsipan Vol 13 No 2 (2018): -
Publisher : Arsip Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Handleiding voor Het Ordenen en Beschrijven van Archieven or simply known as Dutch Manual is the first codified archival standard succeeded in combining provenance and original order as the first twin pillars of archiving. In the nineteenth century the twin originated from France and German were separated. In order to do arrangement and description in archiving, the twin have to be completely understood. As the previous four archival standards (ISAD-G, ISAAR, ISDF, and ISDIAH) of International Council on Archives make the influence of Dutch Manual clear, the same goes for the latest archival standard. This paper describes the continuity and change of the two since they are combined within Dutch Manual, followed by various national standards and currently applied in Records in Contexts, the single and latest archival standard.
JARINGAN KEARSIPAN KESULTANAN: KASUS SUMENEP DAN PONTIANAK Raistiwar Pratama
Jurnal Kearsipan Vol 10 No 1 (2015): -
Publisher : Arsip Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada periode kekuasaaan pemerintah East Indie tahun 1816, kebijakan tentang kearsipan dan kegunaannya bertujuan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan administratif. Oleh karena itu, banyak staf yang diperkerjakan pada masa itu menyimpan dan mengumpulkan arsip-arsip dari masa lalu sampai kemudian pada periode akhir abad ke-19. Kegiatan pengumpulan arsip ini dilaksanakan melalui tiga tingkatan, yaitu tingkat bawah, menengah dan tingkat atas. Pada tingkatbawah, pimpinan lokal menyampaikan laporan. Pada tingkat menengah, pimpinan daerah lokal mengadakan kesepakatan (antara sultan dan resident); dan pada tingkat atas, pejabat tinggi di Batavia dan di Den Haag (Gubernur Jenderal dan Menteri Koloni). Pertukaran Informasi yang terjadi di dalam tiga tingkatn tersebut seringkali tidak diperhatikan oleh para sejarawan dan arsiparis. Para sejarawan hanya memperhatikan mengenai penulisan atau menuliskan kembali historiografi dan membuat hubungan tentang hal yang ditulisnya dengan sumber-sumber sejarah. Para arsiparis hanya memperhatikan bagaimana membuat sarana temu balik dan memperhatikan relevansinya dengan organisasi penciptaan. Terlepas dari hal tersebut, informasi yang terkandung dalam hubungan tigatingkatan tersebut memiliki arti yang sangat penting karena mereka dapat berperan sebagai sumber dan penghubung kepada agen-agen pelaku utama. Informasi tersebut dapat menghubungkan secara global dan kita dapat melihat bagaimana kebijakan dibuat dan bagaimana para pimpinan di daerahmerespon kebijakan tersebut. Contoh kasus adalah kesultanan Sumenep dan Pontianak., dimana para pemimpin lokal di daerah tersebut membuat kesepakatan dengan pihak asing. Hal yang menarik adalah para pihak yang bekerja sama tak hanya saling berhubungan dalam tindakan, tetapi juga praktek-praktek kearsipan yang menjelaskan hubungan tersebut dilakukan sesuai dengan kesepakatan tersebut. Kita dapat melihat bagaimana pengaruh barat mempengaruhi kegiatan kearsipan di kesultanan bahkan setelah abad ke-19 ketika sultan melakukan kerja sama dengan pejabat di Batavia melalui korespondensi. Kita dapat melihat gaya, bahasa, struktur dan penciptaan surat sangat dipengaruhi oleh barat.
CINCIN ARSIP: PENANGGULANGAN BENCANA DAN PENGELOLAAN ARSIP: Array Raistiwar Pratama
Jurnal Kearsipan Vol 14 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Arsip Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46836/jk.v14i1.128

Abstract

Disaster mitigation consists of three sequential processes, similar to functional approach towards disaster. The two puts concern that series system able to capture disaster function each of related governmental bodies. Despite the various structures and names of government bodies, it is their single function that creates records. Function defines activity and transaction. Align to it, life cycle approach is considered fail to capture the series system. Thus, records continuum contemporarily suitable. Preserving collective memory and providing access over time are main requirements. Structurism might lower the tense between structure and function.