Shane H.R. Ticoalu
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado Motto, Christavia J.; Mintjelungan, Christy N.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15632

Abstract

Abstract: Oral health is an important part of the overall body health. Children with special needs are at risk or have chronic physical, developmental, behavioral, or emotional condition, therefore, they commonly require some assistance in maintaining their cleanliness, especially the oral hygiene. The indicator degree of oral hygiene in Indonesia is the status of oral hygiene degree with an average of Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) <1.2 obtained from summing the number debris index and calculus index. This study was aimed to describe the dental and oral hygiene in students with special needs at SLB YPAC Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were 36 students, aged 10-28 years, cooperative, and had letters of consent signed by their parents or proxy parents, obtained by using total sampling method. Data were analyzed manually and presented in tables, figures, and percentages, grouped based on their characteristics. The results showed that the students with special needs in SLB YPAC Manado had an average score of OHI-S of 1.3 with a total scores of Simplified Debris Index (DI-S) 0.9 and Simplified Calculus Index (CI-S) 0.4 which belonged to the moderate category.Keywords: oral hygiene, students with special needs Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Anak berkebutuhan khusus (ABK) berisiko tinggi atau mempunyai kondisi kronis secara fisik, perkembangan, perilaku atau emosi sehingga memerlukan bantuan dalam menjaga kebersihan diri sendiri khususnya kebersihan gigi dan mulut. Indikator derajat kebersihan gigi dan mulut di Indonesia ialah status derajat kebersihan gigi dan mulut dengan rerata Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) <1,2 yang didapatkan dari menjumlahkan angka debris indeks dan kalkulus indeks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian sebanyak 36 siswa berusia 10-28 tahun, kooperatif, serta bersedia menjadi responden berdasarkan surat persetujuan yang ditandatangani oleh orang tua atau wali, diperoleh dengan metode total sampling. Data diolah secara manual dan ditampilkan dalam bentuk tabel, gambar, dan persentase yang dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya. Hasil penelitian menunjukkan dari 36 siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado didapatkan rerata skor OHI-S 1,3 dengan jumlah skor Debris Index Simplified (DI-S) 0,9 dan skor Calculus Index Simplified (CI-S) 0,4 yang tergolong pada status kebersihan gigi dan mulut sedang.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, siswa berkebutuhan khusus
Gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado Uamang, Sarlota; Leman, Michael A.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15153

Abstract

Abstract: Caries is one of the dentine diseases which causes tooth cavity. In people with chewing betel habit, caries occurs due to less of oral hygiene. Chewing betel habit is inherited from generation to generation to prevent tooth decay, albeit, this habit can cause caries as an impact of chewing betel inappropriately including the frequency, duration, and number of betles consumed. This study was aimed to obtain the caries status of students from Mimika who had chewing betel habit in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were 45 students from Mimika that had chewing betel habit obtained by using total sampling method. The results showed that the average of DMF-T index of subjects was 5,9 (D/Decay 222, M/Missing 30, F/Filling 15). The majority of subjects had that habit for >5 years, 1-5 times of chewing per day, and less than 5 betels consumed per day. Conclusion: Status of caries in students of Mimika who had chewing betel habit in Manado was classified in high category.Keywords: caries status, chewing betel habit Abstrak: Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang menyebabkan kavitas pada gigi. Karies gigi pada penyirih terjadi karena kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kebiasaan menyirih merupakan kebiasaan masyarakat peramu yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk merawat gigi namun dapat menyebabkan karies gigi pada penyirih akibat pola menyirih yang tidak teratur seperti frekuensi menyirih, lamanya menyirih dan jumlah pinang yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 45 mahasiswa dengan kebiasaan menyirih berasal dari Kabupaten Mimika, diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan rerata indeks DMF-T pada subyek penelitian yaitu 5,9 dengan nilai D (Decay) 222, M (Missing)30, F (Filling) 15. Mayoritas subyek peneltian telah menyirih >5 tahun, frekuensi menyirih 1-5 kali sehari, dan jumlah pinang yang dikonsumsi sehari <5 buah. Simpulan: Status karies pada mahasiswa asal Kabupaten Mimika yang mempunyai kebiasaan menyirih di Manado tergolong kategori tinggi. Kata kunci: status karies, kebiasaan menyirih
STATUS GINGIVA PADA PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN CEKAT DI RSGM PSPDG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Laoh, Melinda H.; Siagian, Krista V.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13927

Abstract

Abstract: The use of fixed denture aims to preserve and maintain the remained teeth and the whole mastication system properly. The use of fixed denture can be perceived as original teeth because it cannot be removed by the patient. However, fixed denture can also have an impact on periodontal tissues, such as gingivitis. This can probably occur due to the inappropriate process of the fixed denture that does not meet the requirements. This study was aimed to determine the gingival status of fixed denture users at RSGM PSPDG University of Sam Ratulangi Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population was all patients who used fixed denture made at RSGM PSPDG University of Sam Ratulangi Manado. Respondents were 31 people obtained by using total sampling method. Data consisted of checking sheets of gingival status with gingival index. The results showed that gingival status of 29 fixed denture users (93.6%) was in mild inflammation category (gingival index 0.7). Conclusion: In this study, most fixed denture users had gingival status of mild inflammation category.Keywords: gingival status, fixed denture Abstrak: Penggunaan gigi tiruan cekat (GTC) dimaksudkan untuk mempertahankan dan memelihara kesehatan gigi geligi yang masih ada beserta seluruh sistem penguyahan supaya dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan GTC dapat dirasakan seperti gigi asli karena tidak dapat dilepas oleh pasien. Penggunaan GTC juga dapat berdampak pada jaringan periodontal seperti gingivitis. Hal tersebut dapat terjadi bila dalam pembuatannya tidak memenuhi syarat-syarat pembuatan gigi tiruan cekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva pada pasien pengguna GTC di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah seluruh pasien yang menggunakan GTC yang dibuat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jumlah responden sebanyak 31 orang yang diambil dengan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar pemeriksaan status gingiva dengan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan status gingiva pada 29 pasien (93,6%) pengguna GTC termasuk kategori peradangan ringan (indeks gingiva 0,7). Simpulan: Status gingiva pada sebagian besar pasien pengguna gigi tiruan cekat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado termasuk dalam kategori peradangan ringan. Kata kunci: status gingiva, gigi tiruan cekat
Perbedaan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Susu Sapi Murni dan Susu Sapi Bubuk Seralurin, Iriana T.; Wowor, Vonny N.S.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19514

Abstract

Abstract: Saliva is a complex oral fluid consisting of a mixture of secretion of the major and minor salivary glands in the oral mucosa with a normal pH of 5.6-7.0. There are several factors that can cause changes in the salivary pH, as follows: average saliva flow rate, oral microorganisms, salivary buffer capacity, and food and beverages oftenly consumed inter alia milk. Milk contains a lot of nutrients such as carbohydrates, proteins, minerals, and vitamins. This study was aimed to determine the difference of salivary pH after consuming pure cow milk and powdered cow milk, and to obtain the salivary pH after consuming pure cow milk or powdered cow milk. This was an experimental study using pretest-posttest study design. There were 38 respondents. Each respondent consumed pure cow milk or powdered cow milk. Decreased salivary pH was more dominant in respondents who consumed powdered cow milk. The Mann-Whitney test showed that there was a difference of salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk (P=0.000). Conclusion: There was a significant difference in salivary pH between after consuming pure cow milk and powdered cow milk. Salivary pH showed bigger dicrease after consuming powdered cow milk than consuming pure cow milk.Keywords: salivary pH, pure cow milk, powdered cow milk Abstrak: Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks, terdiri atas campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor yang terdapat dalam mukosa mulut dengan pH saliva berkisar 5,6-7,0. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada pH saliva antara lain rerata kecepatan aliran saliva, mikroorganisme rongga mulut, kapasitas bufer saliva, serta makanan dan minuman yang sering di konsumsi; salah satunya ialah susu. Susu mengandung banyak zat-zat makanan seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk, dan untuk mengetahui pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan pretest-posttest study design. Terdapat total 38 responden penelitian. Setiap responden mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk sebanyak 250ml. Pengukuran pH saliva dilakukan pada menit ke-5 setelah mengonsumsi susu sapi murni atau susu sapi bubuk. Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk (P=0,000). Penurunan pH saliva terbanyak terdapat pada responden yang meminum susu sapi bubuk. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi murni dan susu sapi bubuk. Penurunan pH saliva setelah mengonsumsi susu sapi bubuk lebih besar dibandingkan setelah mengonsumsi susu sapi murni.Kata kunci: pH saliva, susu sapi murni, susu sapi bubuk