Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGGUNAAN LIMBAH SERBUK BESI SEBAGAI MATERIAL PENGISI (FILLER) PADA CAMPURAN STRUKTUR PERKERASAN JALAN KOLEKTOR PONCO – JATIROGO (STA.130+200 – STA.138+700) Nugroho Utomo; Iwan Wahjudijanto; Fitri Sri Rizki Yasin
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 12 No. 2 (2020): Envirotek: Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dalam usaha peningkatan kekuatan struktur jalan sekaligus untuk menangani limbah serbuk besi, yakni dengan memanfaatkannya sebagai material pengisi (filler) dalam perencanaan campuran pada struktur perkerasan di ruas Jalan Ponco – Jatirogo (STA.130+200 – STA.138+700). Penambahan filler serbuk besi pada penelitian ini diberikan dengan kadar variasi 0%, 12%, 17%, 22%, dan 27% dari berat total campuran berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam Spesifikasi Umum Bina Marga Divisi 6 Tahun 2010 (Revisi 3) tentang ketentuan penggunaan material pengisi (filler) pada campuran perkerasan jalan. Hasil pengujian Marshall pada campuran aspal dengan variasi material filler dari limbah serbuk besi paling baik dan memenuhi syarat Spesifikasi Umum Bina Marga diperoleh pada kadar filler 22% dengan waktu rendaman 1 jam, yakni dengan nilai VMA (Void in Mineral Aggregate) 67,93%, nilai VFA (Void Filled with Aggregate) 92,91%, nilai VIM (Void In Mix) 4,82%, nilai stabilitas 1371,6 kg, nilai Flow 4,77 mm dan nilai Marshall Quotient (MQ) 288,93 kg/mm.
PENANGANAN SAMPAH DI BANDAR UDARA MENURUT STANDAR FAA (FEDERAL AVIATION ADMINISTRATION) Nugroho Utomo
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2019): Envirotek: Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah di bandar udara sekarang ini dipandang sebagai suatu permasalahan lingkungan yang kritis dan menjadi hal yang sangat istimewa berkenaan dengan kenaikan jumlah penumpang secara signifikan berpengaruh terhadap volume sampah yang dihasilkan. FAA (Federal Aviation Administration) bersama EPA (Environmental Protection Agency) telah memberikan prosedur standar dalam menangani permasalahan sampah di fasilitas bandar udara. Pada prosedur ini dijelaskan secara spesifik tentang hal yang harus dipersiapkan dalam menangani sampah yang dihasilkan dari bandar udara baik pada sisi darat (landside) dan sisi udara (airside), yakni: i).Identifikasi terhadap sampah yang dapat dan tidak dapat ditangani secara langsung, ii). Lokasi-lokasi di area bandar udara yang berpotensi menghasilkan sampah terbesar, iii). Jenis sampah yang dihasilkan dari lokasi dalam bandar udara termasuk sampah kertas, plastik dan sebagainya, iv). Kuantitas atau jumlah sampah yang dihasilkan dari area kegiatan di dalam bandar udara, v). Identifikasi terhadap jenis sampah mana yang dapat dilakukan proses daur ulang (recycle), penggunaan kembali (reuse) dan pengurangan jenis sampah (reduce).
PENANGANAN SAMPAH DI BANDAR UDARA MENURUT STANDAR FAA (FEDERAL AVIATION ADMINISTRATION) Nugroho Utomo
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2019): Envirotek: Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/envirotek.v11i2.11

Abstract

Pengelolaan sampah di bandar udara sekarang ini dipandang sebagai suatu permasalahan lingkungan yang kritis dan menjadi hal yang sangat istimewa berkenaan dengan kenaikan jumlah penumpang secara signifikan berpengaruh terhadap volume sampah yang dihasilkan. FAA (Federal Aviation Administration) bersama EPA (Environmental Protection Agency) telah memberikan prosedur standar dalam menangani permasalahan sampah di fasilitas bandar udara. Pada prosedur ini dijelaskan secara spesifik tentang hal yang harus dipersiapkan dalam menangani sampah yang dihasilkan dari bandar udara baik pada sisi darat (landside) dan sisi udara (airside), yakni: i).Identifikasi terhadap sampah yang dapat dan tidak dapat ditangani secara langsung, ii). Lokasi-lokasi di area bandar udara yang berpotensi menghasilkan sampah terbesar, iii). Jenis sampah yang dihasilkan dari lokasi dalam bandar udara termasuk sampah kertas, plastik dan sebagainya, iv). Kuantitas atau jumlah sampah yang dihasilkan dari area kegiatan di dalam bandar udara, v). Identifikasi terhadap jenis sampah mana yang dapat dilakukan proses daur ulang (recycle), penggunaan kembali (reuse) dan pengurangan jenis sampah (reduce).
Analisis Kelayakan Tarif Transportasi Laut Dengan Metode ATP dan WTP : Studi Kasus: Kapal Cepat Express Bahari Rute Bawean – Gresik Isnaina Safarela; Nugroho Utomo; Fithri Esthikamah
Jurnal Konstruksi Vol 24 No 1 (2026): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.24-1.2857

Abstract

Transportasi laut menjadi sarana utama yang sangat penting dalam memperkuat hubungan antar daerah di Indonesia, terutama bagi daerah kepulauan seperti Pulau Bawean. Salah satu layanan angkutan laut yang melayani rute Bawean–Gresik adalah Kapal Cepat Express Bahari. Penetapan tarif pada moda ini perlu memperhatikan keseimbangan antara kemampuan ekonomi dan kemauan membayar dari penumpang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan tarif menggunakan metode Ability To Pay (ATP) dan Willingness To Pay (WTP). Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuisioner terhadap 100 penumpang Kapal Cepat Express Bahari, yang datanya dietelaah dengan pendekatan kuantitatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan rata-rata ATP penumpang adalah Rp202.565,00, sedangkan rata-rata WTP sebesar Rp191.457,00. Nilai ATP lebih tinggi dari tarif saat ini sebesar Rp200.000,00, yang berarti penumpang memiliki kemampuan membayar tarif yang berlaku. Namun, WTP lebih rendah dari tarif eksisting, menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara persepsi harga dan tarif aktual. Dengan demikian, meskipun secara ekonomi tarif masih terjangkau, perlu dilakukan evaluasi untuk memastikan tarif sesuai dengan nilai yang dirasakan oleh pengguna. Penelitian ini mendukung perumusan tarif transportasi laut yang adil dan berkelanjutan di wilayah kepulauan.