Aleta Apriliana Ruimassa
Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku. Jl. Ot. Pattimaipauw, Kelurahan Wainitu, Ambon – Indonesia.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : kurios

Moderasi beragama dan trauma konflik komunal: Eksplorasi pemahaman dan pengembangan model bagi remaja Kristen di kota Ambon Jenne Jessica Revanda Pieter; Martha Marselina Patty; Aleta Apriliana Ruimassa; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1298

Abstract

Christian adolescents who survived communal conflict in Ambon have grown up within narratives of religiously based violence while living in a digital era susceptible to the spread of radicalism and hate speech. This reality underscores the urgent need to cultivate religious moderation in a structured, context-specific manner. This study aims to explore how Christian adolescent survivors of communal conflict in Ambon understand religious moderation and to develop a relevant model of religious moderation for them. A qualitative case study method was employed, with in-depth interviews conducted with 23 adolescent informants. Findings reveal that their understanding of religious moderation remains normative and incomplete, as trauma from communal conflict has generated negative perceptions toward adherents of other religions. Drawing on these findings, the researchers developed a religious moderation model grounded in Jack Mezirow's Transformative Education theory, encompassing four stages: experience, critical reflection, reflective discourse, and action. This model integrates trauma healing with the formation of a moderate character and can be implemented through Christian churches and schools in post-conflict Ambon.   Abstrak Remaja Kristen penyintas konflik komunal di Ambon bertumbuh dalam narasi kekerasan berbasis agama sekaligus terpapar dunia digital yang rentan menyebarkan radikalisme dan ujaran kebencian. Realitas ini menegaskan urgensi penanaman moderasi beragama secara terstruktur dan kontekstual bagi mereka. Penelitian ini bertujuan menggali pemahaman remaja Kristen penyintas konflik komunal di Ambon tentang moderasi beragama serta mengembangkan model moderasi beragama yang relevan dengan konteksnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif studi kasus dengan wawancara terhadap 23 informan remaja. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemahaman informan tentang moderasi beragama masih bersifat normatif dan belum terbentuk secara utuh, karena trauma akibat konflik komunal memunculkan persepsi negatif terhadap pemeluk agama lain. Berdasarkan temuan ini, peneliti mengembangkan model moderasi beragama yang mengacu pada teori pendidikan transformatif Jack Mezirow yang mencakup empat tahapan: pengalaman, refleksi kritis, diskursus reflektif, dan aksi. Model ini mengintegrasikan pemulihan trauma dengan pembentukan karakter moderat dan dapat diimplementasikan melalui gereja dan sekolah Kristen di Kota Ambon pascakonflik.
Pelaku yang terlupakan: Konstruksi model pendampingan pastoral empatik-restoratif bagi remaja pelaku cyberbullying di jemaat GPM Bethania dan Nehemia, kota Ambon Aleta Apriliana Ruimassa; Peter Boris Salenussa; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1540

Abstract

This study explores the motivations and contributing factors of cyberbullying among Christian adolescents in Ambon while constructing a contextual pastoral care model for perpetrators, a group largely neglected in pastoral theological discourse. A qualitative phenomenological method was applied within Richard Osmer's four-task framework of practical theology: descriptive-empirical, interpretive, normative, and pragmatic. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, and observations with 43 adolescent informants from the GPM Bethania and GPM Nehemia congregations. The findings indicate that flaming and outing are the dominant forms of cyberbullying, driven mainly by peer solidarity and low emotional regulation. The normative analysis develops a theological foundation drawn from Andrew Sung Park's Triune Atone-ment, Miroslav Volf's paradigm of embrace, and Dietrich Bonhoeffer's costly grace. The study proposes an empathetic, restorative pastoral care model structured around four pillars: preventive education, empathetic pastoral counseling, peer tutor groups, and communal restorative action. Its contribution lies in shifting the paradigm of demonization of perpetrators toward a pastoral embrace that balances acceptance and moral accountability.   Abstrak Penelitian ini menggali motivasi dan faktor pendorong tindakan cyberbullying di kalangan remaja Kristen di Kota Ambon, sekaligus mengonstruksi model pendampingan pastoral yang relevan bagi pelaku cyberbullying, kelompok yang selama ini terabaikan dalam diskursus teologi pastoral. Metode kualitatif fenomenologis digunakan dengan kerangka empat tugas teologi praktis Richard Osmer, yaitu deskriptif empiris, interpretatif, normatif, dan pragmatik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi terhadap 43 informan remaja di Jemaat GPM Bethania dan GPM Nehemia. Hasil menunjukkan bahwa bentuk dominan cyberbullying adalah flaming dan outing, dengan dua faktor utama, yaitu solidaritas sebaya dan rendahnya regulasi emosi. Analisis normatif membangun landasan teologis berbasis Triune Atonement Andrew Sung Park, paradigma embrace Miroslav Volf, dan costly grace Dietrich Bonhoeffer. Penelitian ini mengusulkan model pendampingan empatik-restoratif berbasis empat pilar: edukasi preventif, konseling pastoral empatik, kelompok tutor sebaya, dan aksi restoratif komunal. Kontribusinya adalah pergeseran paradigma dari demonisasi pelaku menuju perangkulan pastoral yang menjaga keseimbangan antara penerimaan dan pertanggungjawaban moral.