Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hegemony and Regionalism: Brazil’s Subordination of Argentina through the Formation of Mercosur Aditya Pratama
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4161.1-21

Abstract

Rivalitas strategis antara Brazil dan Argentina di masa Perang Dingin membuat kawasan Amerika Latin relatif tidak kohesif dan tidak terintegrasi. Ketidakbersatuan ini dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS) dalam rangka mengimplementasikan doktrin Monroe-nya di mana AS perlu fokus atas situasi di Amerika Latin. Sehingga AS pada masa itu dapat membangun hegemoninya di kawasan tersebut misalnya dengan adanya otoritas moral AS atas junta-junta militer di Brazil, Argentina, dan Bolivia. Namun demikian, pasca Perang Dingin AS disibukkan dengan situasi di Timur-Tengah dan Indo-Pasifik, oleh sebab itu prioritasnya terhadap Amerika Latin relatif berkurang. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Brazil dalam rangka mengaktualisasikan keinginannya menjadi kekuatan regional di kawasan tersebut melalui pendirian Mercosur dan memarginalkan kekuatan regional berpotensi lainnya seperti Meksiko dari sebuah kawasan baru yang bernama Amerika Selatan. Penelitian ini berpendapat bahwa tujuan Brazil dibalik pendirian Mercosur adalah tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tetapi juga guna menenangkan Argentina dan memasukkan Argentina ke dalam hegemoninya. Dengan menggunakan metode kualitatif, tulisan ini menganalisis upaya-upaya Brazil melalui perspektif sub-sistem regional di mana harus terdapat sebuah pemimpin kawasan dalam proses membangun suatu kawasan baru.
Novel Adaptation of Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 Into Film and Its Implications for Indonesian Language Learning in Senior High School Dimas Dwi Pramudia; Muhammad Fuad; Aditya Pratama; Munaris Munaris
LinguaScopes: International Journal of Language Education Vol. 3 No. 1 (2026): LinguaScopes: International Journal of Language Education
Publisher : Madiha Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to describe the adaptation process of the novel Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 into its film version and to explain its implications for Indonesian language learning in Senior High School (SMA). The adaptation of a novel into a film is a process that not only transfers the story but also involves structural and narrative transformations due to differences in the characteristics of each medium. This research employs a descriptive qualitative method. The data sources consist of the novel Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 and its film adaptation. The data were analyzed by comparing the intrinsic elements of the novel and the film namely plot, characters, and setting based on adaptation theory, which includes reduction, addition, and variation changes. The results show that reduction is carried out by omitting certain narrative details to achieve dramatic effectiveness; additions are made to strengthen conflicts and clarify relationships between characters; and variation changes occur through modifications in the presentation of events without eliminating the core of the story. The findings of this study have implications for Indonesian language learning in Senior High School, particularly in drama text material for Phase F Grade XI of the Merdeka Curriculum, as contextual teaching material that supports the development of students’ critical, analytical, and creative thinking skills.  
KONSTRUKSI MAKNA TERSEMBUNYI DALAM LIRIK DJ VIRAL: KAJIAN PRAGMATIK-KOGNITIF PADA PLATFORM VIDEO PENDEK Muhammad Ramdhan Fathin Al Farabi; Mei Fatmila Sari; Andriansyah; Aditya Pratama; Septia Uswatun Hasanah
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2025

Abstract

Lyrics containing sexual, drug-related, and violent content are widely consumed by teenagers as background music for dancing and memes without adequate semantic understanding. This study aims to analyze the pragmatic-cognitive mechanisms at work in the consumption of such problematic lyrics, using four viral songs as case studies. The method used is a qualitative pragmatic-cognitive analysis based on Relevance Theory, cognitive schema theory, and media cultivation theory. The analysis focuses on identifying illocutionary acts, conversational implicatures, presuppositions, and mapping the patterns of adolescents’ cognitive processing. The research findings reveal two dominant cognitive patterns: the “Ignorant Pattern,” in which adolescents consume lyrics without decoding problematic meanings due to a lack of relevant cognitive schemas; and the “Deliberate Framing Pattern,” in which adolescents are aware of the problematic meanings but reframe them within a context of humor or social irony. This study introduces the concept of an “algorithmic vacuum of meaning.” These findings extend media cultivation theory to the context of fragmented algorithmic consumption and provide a foundation for the development of a differential media literacy model for short-form video platforms.   Lirik bermuatan seksual, narkoba, dan kekerasan dikonsumsi secara masif oleh remaja sebagai backsound tarian dan meme tanpa pemahaman semantik yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pragmatik-kognitif yang bekerja dalam proses konsumsi lirik bermasalah tersebut, dengan studi kasus empat lagu viral. Metode yang digunakan adalah analisis pragmatik-kognitif kualitatif berbasis Relevance Theory, teori skema kognitif, dan teori kultivasi media. Analisis difokuskan pada identifikasi tindak tutur ilokusioner, implikatur konversasional, presuposisi, serta pemetaan pola pemrosesan kognitif remaja. Hasil penelitian mengungkap dua pola kognitif dominan: Pola Ignorant, di mana remaja mengonsumsi lirik tanpa mendekode makna bermasalah karena minimnya skema kognitif yang relevan; serta Pola Deliberate Framing, di mana remaja menyadari makna bermasalah namun mengemas ulangnya dalam bingkai humor atau ironi sosial. Penelitian ini memperkenalkan konsep vacuum of meaning algoritmik. Temuan ini memperluas teori kultivasi media ke konteks konsumsi algoritmik terfragmentasi dan memberikan landasan bagi pengembangan model literasi media yang diferensial untuk platform video pendek.
PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL TUPING DALAM PEMBELAJARAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH Istiqomah Nurzafira; Aditya Pratama; Septia Uswatun Hasanah; Fadila Amalia
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2070

Abstract

Local wisdom-based character education is crucial in facing the challenges of globalization, which have the potential to erode students' moral values and cultural identity. This study aims to describe the use of local wisdom, tuping, in learning as a medium for character education for students in secondary schools. This topic was chosen because tuping, as a cultural heritage of Lampung, contains religious, moral, social, and ethical values relevant to the objectives of character education. The study used a qualitative approach with a descriptive qualitative type. Data were collected through learning observations, in-depth interviews with teachers and students, and documentation studies at a secondary school in Lampung Province. The results showed that the use of tuping in learning was carried out through the stages of introducing the cultural context, discussing symbolic meanings, analyzing cultural values, exploring character values, reflective discussions, and internalizing values through reflection tasks and simple social practices.Tuping-based learning has been proven to develop religious, moral, social, ethical, responsibility, cooperation, and respect for local culture values in students. These findings confirm that the local wisdom of tuping plays a strategic role as an effective contextual learning medium for strengthening character education in secondary schools.   Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis nilai moral dan identitas budaya peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kearifan lokal tuping dalam pembelajaran sebagai media pendidikan nilai karakter peserta didik di sekolah menengah. Topik ini dipilih karena tuping sebagai warisan budaya Lampung mengandung nilai religius, moral, sosial, serta etika yang relevan dengan tujuan pendidikan karakter. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan peserta didik, serta studi dokumentasi di SMA N 2 Kalianda Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tuping dalam pembelajaran dilakukan melalui tahapan pengenalan konteks budaya, diskusi makna simbolik, analisis nilai budaya, eksplorasi nilai karakter, diskusi reflektif, dan internalisasi nilai melalui tugas refleksi serta praktik sosial sederhana. Pembelajaran berbasis tuping terbukti mampu mengembangkan nilai religius, moral, sosial, etika, tanggung jawab, kerja sama, dan sikap menghargai budaya lokal pada peserta didik. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal tuping memiliki peran strategis sebagai media pembelajaran kontekstual yang efektif dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah menengah.
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN ABAD KE-21: EVALUASI PELATIHAN DEEP LEARNING BAGI GURU DI BANDAR LAMPUNG Bambang Riadi; Yanuar Dwi Prastyo; Aditya Pratama
Education, Language, and Arts: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Education, Language, and Arts: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ela.v5i1.1489

Abstract

This community service program aimed to enhance teachers’ competencies in understanding and implementing the Deep Learning approach in meaningful learning. The training was conducted on October 3, 2025, at Hall B of the Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Lampung, and involved 20 teachers from various senior high schools in Bandar Lampung. The training employed a participatory workshop approach encompassing conceptual presentations, instructional material development workshops, microteaching sessions, and reflective activities. Data were collected through observations, post-test assessments, and interviews. The evaluation results showed that 80% of the participants answered all post-test items correctly, 15% answered nine items correctly, and 5% answered eight items correctly. These findings indicate a significant improvement in teachers’ understanding of Deep Learning strategies and their readiness to implement meaningful learning in accordance with the demands of the Merdeka Curriculum. In addition, the training strengthened teachers’ professional awareness in facilitating reflective, contextual, and learner-centered instruction oriented toward the development of 21st-century competencies.   Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran bermakna. Pelatihan dilaksanakan pada 3 Oktober 2025 di Aula B FKIP Universitas Lampung, melibatkan 20 guru dari berbagai SMA di Bandar Lampung. Metode pelatihan menggunakan pendekatan workshop-partisipatif yang meliputi pemaparan konsep, lokakarya penyusunan perangkat ajar, microteaching, dan refleksi. Data diperoleh melalui observasi, post-test, dan wawancara. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 80% peserta menjawab benar seluruh soal post-test, 15% menjawab benar sembilan soal, dan 5% menjawab benar delapan soal. Temuan ini menegaskan peningkatan signifikan pemahaman guru terhadap strategi Deep Learning serta kesiapannya menerapkan pembelajaran bermakna sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka. Pelatihan juga memperkuat kesadaran profesional guru dalam menghadirkan pembelajaran yang reflektif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.
PENGUATAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SENI MELALUI PENDEKATAN DEEP LEARNING PADA KOMUNITAS BELAJAR MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG Sumarti; Riyan Hidayatullah; Aditya Pratama; Muhammad Ramdhan Fathin Alfarabi; Mei Fatmila Sari
Education, Language, and Arts: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Education, Language, and Arts: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ela.v5i1.2105

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan memperkuat pembelajaran bahasa dan seni pada komunitas belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (JPBS) FKIP Universitas Lampung melalui pendekatan deep learning. Kegiatan dilatarbelakangi oleh dominasi orientasi belajar dangkal (surface learning) di kalangan mahasiswa calon pendidik, yakni kecenderungan menghafal dan mereproduksi informasi tanpa membangun pemahaman mendalam dan kritis. Program dilaksanakan dalam bentuk workshop satu hari (7 Agustus 2026) yang diikuti 25 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Musik, dan Pendidikan Bahasa Lampung, menggunakan metode ceramah konseptual, analisis wacana kritis, eksplorasi estetis, dan proyek kolaboratif musikalisasi puisi. Evaluasi dilakukan melalui pretest-posttest berbasis gamifikasi menggunakan Kahoot. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: persentase jawaban benar meningkat dari 36% menjadi 84%, dengan delta 48%. Refleksi kualitatif peserta menunjukkan perubahan orientasi belajar yang lebih kritis, reflektif, dan integratif. Program menghasilkan model penguatan komunitas belajar berbasis deep learning yang dapat menjadi referensi pengembangan komunitas belajar serupa.   This Community Service Program (PkM) aims to strengthen language and arts learning among the student learning community of the Department of Language and Arts Education (JPBS), FKIP, University of Lampung, through a deep learning approach. The program was motivated by prevailing surface learning orientations among pre-service teacher students, characterized by memorization and information reproduction without meaningful understanding. It was implemented as a one-day workshop (August 7, 2026) attended by 25 students from Indonesian Language and Literature, Music, and Lampung Language Education study programs, using conceptual lectures, critical discourse analysis, aesthetic exploration, and a collaborative poetry musicalization project. Evaluation used gamification-based pretest-posttest via Kahoot. Results showed significant improvement: correct answers rose from 36% to 84%, a gain of 48 points. Qualitative reflections indicated a shift toward more critical, reflective, and integrative learning. The program produced a deep learning-based community strengthening model applicable to similar contexts.