Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Dimensi Interior

Akulturasi Budaya Pada Interior Gereja Katolik (Studi Kasus: Gereja Gemma Galgani Ketapang, Kalimantan Barat) Oscarina, Karin; Tulistyantoro, Lintu; Kattu, Grace Setiati
Dimensi Interior Vol 17, No 1 (2019): FEBRUARY 2019
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.068 KB) | DOI: 10.9744/interior.17.1.29-34

Abstract

Gereja Gemma Galgani Ketapang adalah gereja katolik yang sangat unik. Gereja ini mencerminkan sebuah akulturasi budaya lokal yang tampak pada ornamen dan elemen yang diaplikasikan pada interiornya. Budaya lokal yang diterapkan pada elemen dan ornamen adalah budaya Dayak. Ornamen Dayak tidak hanya sekedar memenuhi estetika, elemen tersebut tentunya memiliki makna yang dalam sesuai dengan konteks masyarakatnya.  Permasalahan muncul apakah elemen dekoratif tersebut sejalan dengan kepercayaan agama Katolik? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan komparasi.  Data dicapai dengan cara melakukan observasi, dokumentasi dan wawancara dengan pakar. Analisa dilakukan dengan cara membandingkan antara data lapangan, literatur dan pendapat pakar melalui pentabelan. Percampuran budaya Dayak dengan Katolik terlihat baik fisik maupun non fisik, seperti pada pola organisasi ruang yang sama dengan struktur Batang Garing yang merupakan kepercayaan agama Kaharingan. Penggunaan warna dan ornamen elemen pembentuk ruang dan perabot terdapat motif Dayak yang memiliki persamaan makna dengan kepercayaan Katolik. Kesamaan tidak hanya pada visualisasi tetapi lebih menekankan kepada makna dari ornamen tersebut.
MAKNA RUANG PADA TANEAN LANJANG DI MADURA Tulistyantoro, Lintu
Dimensi Interior Vol 3, No 2 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.696 KB) | DOI: 10.9744/interior.3.2.

Abstract

The understanding of the meaning of space between the traditional society and the modern society posses a very significant difference. The modern consideration of emphasizing on function is not always revelent if applied to determining the meaning of space according to the traditional society. The expression of space in a traditional Madura House%2C or generally mentioned as tanean lanjang%2C is one example of a cultural product that was created on the basis of the meaning that corresponds to foundation of the thoughts of its society. This is highly influenced by the presence and the lifestyle of its society. The meaning of space is not only based by merely aesthetic and visual understanding. Instead%2C the meaning of space is more frequently based on the deepest essence of what lies in the genuine mind of the its society. Because of that%2C visual expression is principally a reflection of the basic value of the nature or genuine identity of its society. Abstract in Bahasa Indonesia : Pemahaman akan makna ruang antara masyarakat tradisional dan masyarakat modern memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Pertimbangan fungsional oleh masyarakat modern tidak selalu benar bila dipakai untuk mengkaji makna ruang oleh masyarakat tradisional. Ekspresi ruang pada susunan rumah tradisional Madura%2C atau yang lazim disebut tanean lanjang%2C adalah salah satu contoh hasil olah budaya yang lebih didasarkan kepada makna yang mendasari pola pemikiran masyarakatnya. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh keberadaan dan cara hidup masyarakatnya. Makna ruang tidak hanya didasari oleh pengertian estetis dan visual semata. Pemaknaan lebih didasarkan kepada esensi terdalam dari apa yang ada dalam alam pemikiran masyarakatnya. Karena itulah ekspresi visual adalah cerminan nilai dasar dari jati diri masyarakatnya. meaning%2C space%2C tanean lanjang.
STUDI IKONOGRAFI PANOFSKY PADA ORNAMEN INTERIOR VIHARA AVALOKITESVARA PAMEKASAN, MADURA Tania, Felicia; Tulistyantoro, Lintu; Suryanata, Linggajaya
Dimensi Interior Vol 15, No 1 (2017): JUNE 2017
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2101.254 KB) | DOI: 10.9744/interior.15.1.7-15

Abstract

Vihara  Avalokitesvara  Pamekasan,  Madura  merupakan  Vihara  yang  dibangun  pada  300  tahun  yang  lalu.  Vihara  ini  merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang berhasil bertahan hingga hari ini dan menjadi salah satu Vihara yang megah di Indonesia. Hal yang menarik dari Vihara ini adalah bahwa Vihara ini bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi pemeluk agama Buddha, Khonghucu, maupun Tao tetapi juga menjadi tempat ibadah bagi pemeluk agama Islam dan Hindu. Perkembangan Vihara ini menjadikan Vihara ini menarik untuk dikaji makna-makna ornamen yang terkandung didalamnya. Untuk mengkaji pemaknaanya digunakan metode studi ikonologi  yang  dikemukakan  oleh  Panofsky.  Metode  ini  dilakukan  dengan  tahapan  deskripsi  pra  ikonografi,  tahapan  analisis ikonografi  dan  tahapan  interpretasi  ikonologi.  Tahap  pra-ikonografi  dilakukan  sebagai  langkah  awal  untuk  menemukan  makna primer.  Sedangkan  tahap  ikonografi  dilakukan  sebagai  langkah  lanjutan  untuk menemukan makna sekunder dan tahap interpretasi ikonologi  untuk  menemukan  makna  intrinsic.  Makna  primer  yang  dihasilkan  dari  tahap  pra-  ikonografi  menunjukkan  wujud  dari ragam  hias  ornamen  pada  interior  Vihara  Avalokitesvara.  Adapun  tahap  ikonografi  menghasilkan      makna  sekunder  yang menunjukkan  bahwa  makna  ragam  hias  ornamen  pada  interior  Vihara  mengandung  makna  filosofis  kebudayaan  China  dan  ajaran Buddha. Selanjutnya makna bangunan diinterpretasikan berdasarkan kondisi politik, sosial, dan budaya Indonesia selama orde lama hingga saat ini.
MEMAHAMI TOK WI PADA ALTAR SEMBAHYANGAN MASYARAKAT Tulistyantoro, Lintu; Mariana, Mariana
Dimensi Interior Vol 4, No 2 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.084 KB) | DOI: 10.9744/interior.4.2.pp. 64-71

Abstract

Tok wi is a cloth covering altar tables, playing an important role in a religious ritual of the Chinese society. Tok wi possesses a particular making pattern- following two space pattern, that is, the upper space and lower space with a one is to two composition. This cloth originates from China, made through the technique of weaving with silk as its main material. In a further development in Indonesia, it is made from mori cloth through the technique of batik.The changes in elements and colors used reflects vivid local influences. The tok wi pattern illustrates meaning according to the perspective of it user that possesses balance cosmology or harmonization between positive and the negative aspects to express the upper or spiritual world and the lower world.Currently, the understanding of this meaning seems to be unconsidered and many of its users only use it as a traditional criteria in their customs. Abstract in Bahasa Indonesia : Tok wi adalah kain penutup meja altar yang memiliki peran penting dalam satu ritual keagamaan mayarakat tionghoa. Tok wi memiliki aturan pola pembuatan yang tetap, yaitu mengikuti pola dua ruang yaitu ruang atas dan bawah dengan komposisi satu berbanding dua. Kain ini asalnya dari tionghoa dengan teknik pembuatan sulam dan berbahan dasar sutra. Perkembangannya di Indonesia kain ini terbuat dari kain mori dan dikerjakan dengan teknik batik. Perubahan ragam yang digunakan dan juga warna menunjukkan pengaruh lokal yang sangat tinggi. Pola Tok wi menggambarkan pemaknaan sesuai dengan cara pandang penggunanya yang memiliki kosmologi keseimbangan atau harmonisasi antara unsur positif dan unsur negatif untuk mengekspresikan dunia atas atau dunia roh (arwah) dan dunia bawah. Saat ini pemahaman akan makna tersebut tampaknya sudah mulai tidak dipahami, bahkan banyak diantara pemakai yang sekedar melengkapi sebagai persyaratan yang berlaku secara turun temurun. Kata kunci: Tok Wi, Batik, Tionghoa
Studi Semiotik Ruang Hunian Tradisional Suku Sasak (Studi Kasus Dusun Sade, Lombok Tengah) Lukita, I Gusti Ayu Vadya; Tulistyantoro, Lintu; S. Kattu, Grace
Dimensi Interior Vol 14, No 2 (2016): DECEMBER 2016
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.298 KB) | DOI: 10.9744/interior.14.2.72-77

Abstract

Suku  Sasak  memiliki  tatanan  budaya  yang  terpelihara  dan  mapan,  seperti  terlihat  pada  permukiman  tradisional  yang  terletak  di Desa  Sade.  Tiap  bagian  ini  dinyatakan  dengan  penyimbolan-penyimbolan  tertentu  yang  sesuai  kepercayaan  suku  sasak.  Rumah tradisional suku Sasak di  Dusun  Sade  disebut  sebagai  bale  tani  atau  bale  gunung  rata.  Di dalam  rumah  ini  terdapat pembagian- pembagian    ruang    yang  memiliki    berbagai    tujuan.  Misalnya,    bale    dalem    yaitu    tempat  untuk  memasak  atau  dapur,  tempat menyimpan  benda-benda  pusaka  dan  juga  tempat  tidur  untuk  anak  perempuan  keluarga  tersebut  yang  belum  menikah.  Di  bale dalem  juga  merupakan  tempat  untuk  melahirkan.  Bale  luar  yang  merupakan  tempat  menerima  tamu  serta  tempat  berkumpulnya keluarga. Pembagian  ruangan  memang  kasat  mata.  Ada  dinding  pemisah  antara  bale  dalem  dan  bale  luar.  Namun,  elemen-elemen pembentuknya  mempunyai  makna  yang  layak  untuk  diteliti.  Makna  yang  ada  memang  tidak  dapat  langsung  dipahami,  karena diwujudkan  dengan tanda-tanda atau simbol. Penelitian ini berfokus pada  peninjauan  makna  dari  ruang  hunian  tradisional  Suku Sasak di  Dusun  Sade  dilihat  dari  pendekatan  semiotik.  Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  memahami  makna  ruang  dilihat  dari kegiatan  sehari-hari  masyarakat  Suku  Sasak,  agar  kelak  konsep  ruang  ruang  ini  bisa  digunakan  sebagai  sumber  dalam  merancang hunian berjati diri lokalitas nusantara.