Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Medica Hospitalia

Korelasi Antara Jumlah Cd4 Dengan Global Longitudinal Strain Ventrikel Kiri Pada Penderita Human Immunodeficiency Virus Pratama, Yanuar Surya; Chairunnisa, Andita; Bahrudin, Udin; Uddin, Ilham; Nugroho, Mochamad Arif; Sofro, Muchlis Achsan Udji; Kristina, Tri Nur
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.326 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.495

Abstract

Latar Belakang: Jumlah CD4 merupakan parameter penting pada penderita HIV dan berhubungan dengan peningkatan risiko disfungsi sistolik. Hingga saat ini, korelasi antara jumlah CD4 dengan parameter global longitudinal strain (GLS) sebagai indikator fungsi sistolik subklinis masih belum jelas. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode belah lintang. GLS ventrikel kiri diperiksa menggunakan ekokardiografi dua dimensi. Jumlah CD4 baseline dan nadir diperoleh dari rekam medis sedangkan jumlah CD4 aktual dan CD4 percentage (CD4%) diperiksa menggunakan metode flow cytometry. Hasil: Total 37 pasien HIV asimptomatik mengikuti penelitian dengan rerata umur 31,95± 7,54 tahun dan median durasi penggunaan ARV adalah 34 bulan. Median CD4 baseline dan CD4 nadir adalah 272 sel/uL dan 223 sel/uL, sedangkan rerata CD4 aktual dan CD4% adalah 516,08±252,03 sel/uL dan 19,66±7,97 %. Semua subyek penelitian memiliki fungsi sistolik normal. Rerata GLS ventrikel kiri adalah 17,02±0,71. GLS ventrikel kiri berkorelasi positif dengan CD4 aktual (r=0,43; p=0,008) dan CD4% (r=0,349; p=0,034). Penderita HIV dengan jumlah CD4 aktual ?400 sel/uL memiliki GLS ventrikel kiri yang lebih baik dibandingkan dengan yang <400 sel/uL (p=0,022). Kesimpulan: Jumlah CD4, terutama CD4 aktual dan CD4 percentage berkorelasi dengan disfungsi sistolik subklinis yang diukur dengan global longitudinal strain pada penderita HIV asimtomatik. Hal ini mungkin dapat menjelaskan peran CD4 terhadap patogenesis gagal jantung pada penderita HIV.
Aspirasi Trombus Selektif Memperbaiki Aliran Koroner dan Mengurangi Tingkat Badai Trombus pada Pasien Sindroma Koroner Akut Dengan Elevasi Segmen ST yang dilakukan Intervensi Koroner Perkutan Primer Bramantyo, Liborius; Bahrudin, Udin; Ardhianto, Pipin; Uddin, Ilham; Rifqi, Sodiqur
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 8 No. 3 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.685 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i3.583

Abstract

Latar belakang: Embolisasi distal koroner berkontribusi terhadap tingginya kejadian kardiovaskular mayor (KKVM) pasca intervensi koroner perkutan primer (IKPP). Aspirasi trombus (AT) manual berpotensi mengurangi embolisasi distal dan memperbaiki perfusi mikrovaskular pada pasien sindroma koroner akut dengan elevasi segmen ST (SKA-EST), terutama pasien dengan badai trombus tinggi. Tujuan: Mengetahui pengaruh aspirasi trombus selektif terhadap skor TIMI trombus dan luaran klinis pasca IKPP. Metode: Penelitian retrospektif pada pasien SKA-EST dengan onset ?12 jam dan skor trombus TIMI awal ?3 yang menjalani IKPP dengan aspirasi trombus selektif di RSUP Dr. Kariadi periode Januari 2018 sampai Desember 2019. Luaran klinis yang diobservasi adalah KKVM selama rawat inap yang terdiri dari mortalitas, syok kardiogenik, edema paru akut, aritmia, revaskularisasi ulang, dan stroke. Hasil: Sejumlah 100 pasien memenuhi kriteria, terdiri dari 50 pasien kelompok AT dan 50 pasien kelompok non-AT. Rerata skor trombus TIMI awal kelompok AT dan non-AT, masing-masing 4,76 dan 3,8 (p<0,001). Kelompok AT mengalami penurunan skor trombus TIMI lebih baik dibanding non-AT (4,72 vs. 3,8, p<0,001). Terdapat 8 (16%) pasien kelompok AT dan 11 (22%) pasien non-AT yang mengalami KKVM pasca IKPP (RR 1,08, IK 95% 0,89-1.30, p=0,44). Kesimpulan: Aspirasi trombus selektif mungkin mengurangi tingkat badai thrombus. Aspirasi trombus mungkin menurunkan kejadian kardiovaskular mayor selama rawat inap pasca IKPP pada pasien dengan skor trombus TIMI di atas 4 setara dengan yang memiliki skor trombus TIMI kurang dari 4 tanpa aspirasi trombus.