Fithria Fithria
Universitas Halu Oleo

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN KETEPATAN WAKTU PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI BADUTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KATOBU KABUPATEN MUNA TAHUN 2021 Sulastri Tahir; Devi Safitri Effendy; Fithria Fithria
Jurnal Gizi dan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 1 (2023): Jurnal Gizi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Program Studi Gizi FKM UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jgki.v4i1.43092

Abstract

Abstrak Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi selain dari ASI. Hal ini dikarenakan ASI hanya mampu memenuhi dua pertiga kebutuhan bayi pada usia 6-9 bulan, dan pada 9-12 bulan memenuhi setengah dari kebutuhan bayi. Dalam pemberian MP-ASI, yang perlu diperhatikan adalah usia pemberian MP-ASI, jenis MP-ASI, frekuensi dalam pemberian MP-ASI, porsi pemberian MP-ASI dan cara pemberian MP-ASI pada tahap awal. Salah satu faktor pemenuhan gizi dari sisi ekonomi yang mempengaruhui kemampuan daya beli masyarakat terhadap pangan. Berdasarkan laporan Puskesmas Katobu bahwa jumlah baduta adalah sebanyak 1,17% orang, tercatat oleh petugas bahwa bayi yang mengkonsumsi MP-ASI usia dini semakin tinggi sebanyak 1,51% orang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei analitik dengan pendekatan “cross sectional study” yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi baduta di wilayah kerja Puskesmas Katobu Kabupaten Muna pada tahun 2021. Populasi pada penelitian ini yaitu berjumlah 268 Baduta dengan besar sampel sebanyak 57 Baduta. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian MP-ASI terhadap status gizi Baduta dengan nilai p-value= 0,325 >0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian MP-ASI terhadap status gizi baduta di Wilayah Puskesmas Katobu Kabupaten Muna Tahun 2021. Kata kunci: Baduta; Pemberian MP-ASI; Status Gizi Abstract Complementary food for breast milk (MP-ASI) is food or drink that contains nutrients other than breast milk. This is because breast milk is only able to meet two thirds of a baby's needs at the age of 6-9 months, and at 9-12 months it fulfills half of the baby's needs. In giving MP-ASI, what needs to be considered is the age of giving MP-ASI, type of MP-ASI, frequency of giving MP-ASI, portion of giving MP-ASI and how to give MP-ASI at an early stage. One of the factors for fulfilling nutrition from an economic standpoint is affecting the purchasing power of people towards food. Based on the report from the Katobu Community Health Center, the Baduta was 1.17%, it was noted by officials that babies who consumed MP-ASI at an early age had a higher rate of 1.51%. The research method used was an analytic survey with a "cross-sectional study" approach which aimed to analyze the relationship between complementary feeding and the nutritional status of Baduta who were observed at the same time. The population in this study was 268 Baduta, the sample size was 57 Baduta. The results of this study indicate that there is no relationship between the provision of MP-ASI on the nutritional status of Baduta (p-value = 0.325 > 0.05). Suggestions from the results of this study are mothers who have Baduta aged 6-4 months in giving MP-ASI which must be given according to the needs and age of the child by seeking information through books or online media so that children do not experience malnutrition or obesity. Keywords : Baduta; Complementary Feeding; Nutritional Status
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP (IDL) PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JATI RAYA TAHUN 2022 Indrika Septiani Khairunnisa; Sartiah Yusran; Fithria Fithria
Jurnal Gizi dan Kesehatan Indonesia Vol 4, No 2 (2023): Jurnal Gizi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Program Studi Gizi FKM UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jgki.v4i2.43112

Abstract

Abstrak Tujuan vaksinasi adalah untuk secara proaktif meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit. Menurut WHO, vaksinasi tetanus, campak, dan difteri dapat mengurangi risiko kematian neonatal akibat infeksi sekitar 42%. Puskesmas Jati Raya belum mencapai Universal Child Immunization (UCI), menurut statistik yang diterima, karena hanya 33% dari tujuan yang telah dicapai. Beberapa alasan berkontribusi pada rendahnya cakupan imunisasi dasar di Puskesmas Jati Raya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang terlibat dalam pemberian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada bayi usia lebih dari 11 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jati Raya Kota Kendari pada tahun 2022. Metode penelitian menggunakan strategi cross-sectional dan uji statistik, termasuk uji chi square dan prosedur pengambilan sampel secara kebetulan, dengan melibatkan 80 partisipan. Kuesioner digunakan sebagai alat pengumpulan data. Hasil penelitian, terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan telah menerima semua vaksinasi anak yang direkomendasikan (p value 0,016 < 0,05). Ada korelasi antara mengetahui dan mendapatkan semua vaksinasi anak yang direkomendasikan (p = 0,008-0,05). Tingkat pekerjaan ibu dan vaksinasi dasar lengkap berkorelasi (p value 0,000-0,05). Fungsi petugas vaksinasi dan kelengkapan imunisasi dasar tidak berhubungan (p value 0,421 > 0,05). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik seperti pengetahuan, tingkat pendidikan, dan jabatan memiliki pengaruh terhadap cakupan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Jati Raya Kota Kendari. Kata kunci : Imunisasi Dasar Lengkap, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan, Status Pekerjaan, Peran Petugas Imunisasi. Abstract The goal of vaccination is to proactively boost a person's immunity against a disease. According to the WHO, tetanus, measles, and diphtheria vaccinations may reduce the risk of infection-related neonatal mortality by roughly 42%. Jati Raya Health Center has not yet achieved Universal Child Immunization (UCI), according to the statistics received, as just 33% of the objective had been met. Several reasons contribute to Puskesmas Jati Raya's poor basic vaccination coverage. The goal of the research was to identify the variables involved in administering Complete Basic Immunization (IDL) to babies older than 11 months in the operating area of the Jati Raya Health Center in Kendari City in 2022. This study's cross-sectional strategy and statistical tests, which included the chi square test and the accidental sampling procedure, included 80 participants. Questionnaires were utilized as the tool. According to the findings, there was a correlation between maternal education level and having received all recommended childhood vaccinations (p value 0.016 < 0.05). There is a correlation between knowing and having had all recommended childhood vaccinations (p = 0.008–0.05). Maternal work level and full basic vaccination are correlated (p value 0.000 to 0.05). The function of vaccination officers and the comprehensiveness of the basic immunization are unrelated (p value 0.421 > 0.05). The findings of this research demonstrate that characteristics such as knowledge, educational attainment, and job position have an impact on the extent of basic vaccination in the working area of Jati Raya Health Center in Kendari City. Keywords : Basic Immunization Complete, Education Level, Knowledge, Employment Status, Role of Immunization Officer
HUBUNGAN PENERAPAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LANGARA KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN Astuti Astuti; Suhadi Suhadi; Fithria Fithria
Jurnal Kesehatan Lingkungan Universitas Halu Oleo Vol 4, No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Lingkungan Universitas Halu Oleo
Publisher : FKM Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jkl-uho.v4i2.43280

Abstract

Diare merupakan penyakit yang banyak ditemukan di negara berkembang dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk. Penyakit diare masih menjadi permasalahan kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia. Menurut data Dinkes Sultra 2020, jumlah kasus diare yang ditangani sebesar 18,9% dengan kasus terrtinggi berada di Kabupaten Konawe Kepulauan sebesar 37,06%. Data Puskesmas Langara tahun 2021 menunjukan jumlah kasus diare yang ditangani sebesar 73 kasus. Tingginya angka kejadian diare dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu dengan pendekatan sanitasi total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Langara Kabupaten Konawe Kepulauan tahun 2022. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di wilayah kerja Puskesmas Langara sebanyak 1.383 kepala keluarga. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 301 kepala keluarga dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Propational Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dan selanjutnya dilakukan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara perilaku buang air besar (ρ=0,000), cuci tangan pakai sabun (ρ=0,000), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (ρ=0,016), pengamanan sampah rumah tangga (ρ=0,009) serta pengamanan limbah cair rumah tangga (ρ=0,027) dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Langara Tahun 2022. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara perilaku buang air besar, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga dan pengamanan limbah cair rumah tangga dengan kejadian diare.
Gambaran Status Gizi Anak di SD Negeri 1 Poasia Kendari Fithria Fithria; Ananda Ramadani; Wa Ode Hety Dirahayu; Citra Nurhalizah Pini; Idham Mahmud; Hadi Kalisi; Nur Sailan Andani
Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat (JKKM)
Publisher : Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jkkm.v4i1.1197

Abstract

This study aims to describe the nutritional status of children at SD Negeri 1 Poasia, Kendari City, with a focus on students aged 7 to 12 years. The method used was a survey with samples taken from 40 students. The research results showed that 32% of students were undernourished, 32% had good nutritional status, 12% were overnourished, and 22% were obese. These findings indicate significant nutritional problems, including obesity, which can be caused by an unbalanced diet and lack of physical activity. This research emphasizes the importance of nutritional education, promotion of physical activity, and collaboration between schools, parents, and the government to create an environment that supports healthy lifestyles for children
Gambaran Status Gizi Pada Siswa(i) SD Negeri 100 Kendari Fithria Fithria; Najwa Namrin; Ayu Anisa Putri A; Rahayanah Rahayanah; Iin Mutmaina; Wa Ode Umalia; Sinar Dwi Ulfa; Dela Ramadhan
Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat (JKKM)
Publisher : Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37887/jkkm.v4i2.1198

Abstract

This study aims to evaluate the nutritional status of students at SD Negeri 100 Kendari, considering the importance of good nutrition for children's growth and development. Using quantitative descriptive methods, this research involved 40 respondents aged 9-12 years, with nutritional status measurement carried out through Body Mass Index (BMI) analysis based on Ministry of Health guidelines. The research results showed that 67.5% of respondents had normal nutritional status, while 20% were categorized as underweight, 7.5% overweight and 5% obese. Even though the majority of children are in the good nutritional category, there are still children who are at risk of experiencing long-term health problems due to less than optimal nutritional status. This research emphasizes the importance of sustainable interventions to increase public awareness about healthy eating patterns and physical activity to support optimal growth and development of children