Aris Elisa Tembay
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Ekspository Preaching: Jawaban Terhadap Kebutuhan Sistem Berkhotbah Masa Kini Aris Elisa Tembay
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 2 No. 2 (2016): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.249 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v2i2.23

Abstract

Dalam ilmu Homeletika, dikenal ada tiga jenis khotbah; yakni khotbah Topikal, Tekstual, dan Ekspositori. Dibandingkan dengan dua jenis khotbah yang lain, ekspositori memiliki ciri-ciri dan kelebihan tersendiri, oleh karena pengkhotbah sangat terikat dengan teks yang dikhotbahkan dan teks tersebut harus merupakan teks yang lengkap seperti satu perikop. Sesuai dengan namanya “Ekspositori” adalah memberitakan atau mengekspos kebenaran Firman Allah dalam satu rangkaian yang terdiri dari tema, pokok-pokok besar dan kecil yang kesemuannya bersumber dari teks. Sehingga menolong pengkhotbah untuk jauh dari penafsiran alegoris, karena seluruh khotbah terdiri dari suatu penjelasan terperinci tentang satu bagian tertentu dari Alkitab dan nats Alkitab itu terjalin dalam seluruh uraian. Khotbah ekspositori menolong jemaat atau pendengar untuk mudah mengerti maksud dan tujuan Firman Tuhan, karena yang diberitakan bukan ide pengkhotbah tetapi murni penguraian dari teks yang dibacakan. Di samping itu sistematika ekspositori yang menguraikan pokok-pokok besar dan kecil bersumber dari tema yang berasal dari teks, memudahkan pendengar untuk mengerti bahkan mengingat Firman Tuhan yang diberitakan. Oleh sebab itu khotbah ekspositori adalah jawaban bagi tantangan pemberitaan Firman Tuhan masa kini. In Homiletics, there are three types of preaching known; namely Topical, Textual, and Expository sermons. Compared with the other two types of preaching, the expository has its own characteristics and advantages, because the preacher is very bound to the text being preached and the text must be a complete text like a passage. In accordance with its name "Expository" is to preach or expose the truth of God's Word in a series consisting of themes, big and small points whose findings are sourced from the text. So it helps the preacher to be far from allegorical interpretation, because the entire sermon consists of a detailed explanation of one particular part of the Bible and the scriptures are intertwined in the entire description. Expository preaching helps the congregation or listener to easily understand the purpose and purpose of God's Word, because what is preached is not the preacher's idea but purely a decomposition of the text read. In addition, expository systematics that outlines the major and minor points of origin comes from themes originating from the text, making it easy for listeners to understand and even remember the Word of God preached. Therefore expository preaching is the answer to the challenges of preaching God's Word today.
Gerakan Perintisan Jemaat Dalam Kisah Para Rasul Bagi Pengembangan Gereja Masa Kini Aris Elisa Tembay; Febriaman Lalaziduhu Harefa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.818 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.33

Abstract

Setiap orang percaya di panggil Allah untuk melayani. Pelayanan merupakan bagian hidup dan kewajiban mutlak bagi setiap orang percaya. Ketaatan dan kesetiaan dalam melayani Tuhan merupakan salah satu sikap yang terpuji dari kehidupan jemaat mula-mula. Dalam situasi dan kondisi yang sulitakibatpenghambatan dan penganiayaan yang diderita, jemaat tetap melakukan tanggungjawab untuk memberitakan Injil. Penganiayaan tidak membuat jemaat berhentibersaksi, bersekutu dan melayani dengan kasih. Pengembangan gereja sangatlah dipengaruhi oleh orang-orang yang ada didalam gereja tersebut yaitu jemaat, majelis dan hamba Tuhan. Jika sistem gereja berjalan dengan baik, maka pelaksanaan perkembangan gerejaakan berjalan dengan baik dan yang paling penting adalah tetap adanya hubungan yang intim dengan Allah dan kerjasama satu dengan yang lain maka akan terlaksana setiap rencana dalam pengembangan gereja. Panggilan gereja yang sejati ialah menjadi garam dan terang bagi Bangsa-bangsa. Gereja terpanggil untuk menjadi agen-agen pewartaan kabar keselamatan kepada semua manusia. Sehingga salah satu panggilan gereja ialah memuridkan semua jemaat Kristus untuk menjadi seorang murid dan pelaksana pemberitaan Injil. Gereja haruslah menjadi perpanjangan tangan Allah dalam melaksananakan dan penggenapan visi Allah bagi dunia. Allah menghendaki gereja menjadi sumber dan sinar kemuliaan dan kasih Allah bagi dunia. Dalam pelaksanaan penggenapan visi Allah, gereja diperhadapkan dengan sebuat tantangan dan kekuatan kuasa-kuasa gelap, sehingga gereja harus tetap konsisten dan tetap berdiri teguh dalam mengahadapi tantangan demi pencapaian kasih Allah bagi dunia melalui gereja dan semua orang percaya. Gereja yang kuat adalah gereja yang melaksanakan Mandat Agung Tuhan Yesus, sebab penyertaan Allah tersedian bagi gereja dan mereka yang bersedia melaksanakan Mandat Agung Allah. Every believer is called by God to serve. Service is a part of life and an absolute obligation for every believer. Obedience and loyalty in serving God is one of the praiseworthy attitudes of the lives of the early church. In situations and conditions that are difficult due to obstruction and persecution suffered, the congregation continues to carry out the responsibility to preach the gospel. Persecution does not cause the church to stop witnessing, fellowship and serve with love. Church development is greatly influenced by the people in the church, the congregation, assemblies and servants of God. If the church system goes well, the implementation of church development will go well and the most important thing is that there will still be an intimate relationship with God and cooperation with each other will carry out every plan in church development. The true calling of the church is to be salt and light to the Nations. The church is called to be agents of proclaiming the message of salvation to all humans. So one of the calls of the church is to make disciples of all the congregations of Christ to become disciples and administrators of evangelism. The church must be an extension of God in carrying out and fulfilling God's vision for the world. God wants the church to be the source and light of God's glory and love for the world. In the fulfillment of God's vision, the church is confronted with a challenge and the power of dark powers, so the church must remain consistent and remain firm in facing challenges for the achievement of God's love for the world through the church and all believers. A strong church is a church that carries out The Great Mandate of the Lord Jesus, because God's inclusion is available to the church and those who are willing to carry out the Great Mandate of God.
Signifikansi Pendidikan Moral dan Spiritual Kristen Bagi Anak Remaja Usia 12-17 Aris Elisa Tembay
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.829 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.38

Abstract

Proses perkembangan masa remaja dalam menemukan jati dirinya sangat bergantung pada beberapa unsur yakni orang tua, gereja, sekolah dan lingkungan sosial. Dalam hal ini orang tua secara khusus memegang peranan penting, dimana Allah sendiri yang telah memberi tanggung jawab kepada orang tua untuk mengasihi, melindungi, mendidik, dan mendisiplin anak-anak mereka. Orang tua merupakan faktor terpenting dalam pembentukan kepribadian anak remaja. Pendidikan spiritual kristen merupakan kebutuhan yang mendasar, yang harus diterapkan dalam kehidupan anak remaja. Pendidikan ’spiritual’ bersifat kejiwaan (rohani, batin), yang juga dipahami sebagai spirit yakni sumber kekuatan, semangat hidup untuk bertumbuh, dan berkembang dalam semua bidang kehidupan di dunia ini, baik secara pribadi maupun bersama orang lain, yang kita peroleh di dalam perjumpaan dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Pendidikan spiritual kristen anak remaja merupakan tugas utama orang tua, sebagaimana Allah sendiri menghendaki kedua orang tua membimbing anak mereka untuk mengenal dan takut akan Allah. Pendidikan spiritual kristen akan membantu anak remaja berpartisipasi dalam imannya, agar mereka menjadi orang Kristen yang dewasa. Kegiatan belajar biasanya sangat individual, dan memberi perhatian besar terhadap pengarahan rohani, membimbing individu memasuki bentuk kedewasaan yang lebih kompleks. The process of development in adolescence in finding one's true identity is very dependent on several elements namely parents, church, school and social environment. In this case parents specifically play an important role, where God himself has given responsibility to parents to love, protect, educate, and discipline their children. Parents are the most important factor in shaping the personality of teenagers. Christian spiritual education is a basic need, which must be applied in the lives of teenagers. 'Spiritual' education is spiritual (spiritual, mental), which is also understood as spirit which is a source of strength, a spirit of life to grow, and develop in all areas of life in this world, both personally and with others, which we get in encounter with God, others and yourself. Christian spiritual education of teenagers is the main task of parents, as God himself wants both parents to guide their children to know and fear God. Christian spiritual education will help teenagers participate in their faith, so that they become mature Christians. Learning activities are usually very individual, and pay great attention to spiritual direction, guiding individuals into more complex forms of maturity.
Konsep Penginjilan Dalam Kisah Para Rasul 18:9-10 Sebagai Upaya Revitalisasi Penginjilan Aris Elisa Tembay
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.151 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.52

Abstract

Salah satu tugas gereja dan orang percaya adalah pekerjaan misi. Misi adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk mengabarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai pengorbanan untuk penebusan dosa manusia serta jaminan hidup yang kekal dalam nama-Nya. Jadi pekerjaan misi adalah Pengabaran Injil/penginjilan.Selanjutnya gereja bukan hanya mempunyai misi, tetapi seluruh kehidupan gereja itu adalah misi. Tugas memberitakan Injil adalah tugas setiap orang percaya. Gereja yang kuat dan bersinar adalah gereja yang bersedia pergi memberitakan kasih Allah kepada dunia, sehingga dunia mengalami kasih Allah. Sehingga masa depan dunia ada ditangan gereja. Gereja haruslah memiliki hati Allah. Tugas gereja memuridkan dan mengutus para murid untuk melaksanakan Mandat Agung Kristus. Maka, memberitakan kabar baik segala perbuatan dan karya Allah adalah tugas semua orang yang telah menerima anugerah keselamatan. Benih Injil haruslah terpancar dari semua aspek kehidupan orang percaya. Gereja yang kuat dan bertumbuh adalah gereja yang terlibat dalam pelaksanaan misi Allah bagi dunia. One of the tasks of the church and believers is missionary work. Mission is all activities aimed at proclaiming the death and resurrection of Jesus Christ as a sacrifice for the atonement of human sins and the guarantee of eternal life in His name. So missionary work is evangelism / evangelism. Furthermore, the church does not only have a mission, but the whole life of the church is a mission. The task of preaching the gospel is the duty of every believer. A strong and shining church is a church that is willing to go to preach God's love to the world, so that the world experiences God's love. So that the future of the world is in the hands of the church. The church must have the heart of God. The task of the church is to make disciples and send disciples to carry out the Great Mandate of Christ. So, to preach the good news of all the deeds and works of God is the duty of all those who have received the gift of salvation. The seeds of the gospel must be emanated from all aspects of a believer's life. A strong and growing church is a church that is involved in carrying out God's mission for the world.
Merajut Anugerah Dalam Penginjilan Holistik Aris Elisa Tembay; Eliman
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.763 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.59

Abstract

Kejatuhan manusia kedalam dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia bukan saja harus menerima hukuman Allah secara rohani sebagai mahluk yang diciptakan dengan Kemuliaan Allah, namun secara fisik dan social mereka menerima ganjaran hukuman dari Allah. Kehidupan secara fisik berubah, dimana mereka kemudian menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang dan merasakan malu. Secara social mereka mengalami putusnya hubungan dengan Allah dan lingkungannya kemudian menjadi takut dan menyembunyikan diri dari hadapan Allah. Manusia kemudian menerima hukuman dari Allah yang berdampak secara rohani, dan juga jasmani. Mereka dibuang dari tempat kemuliaan kedalam dunia yang penuh dengan penderitaan sebagai akibat dari perbuatan dosa tersebut. Allah kemudian menunjukkan Kasih-Nya, dengan mencari manusia yang telah jatuh dalam dosa mengadakan pemulihan, akan tetapi tetap menegakkan keadilan dengan menjatuhkan hukuman-Nya dan mengadakan perjanjian akan Keselamatan bagi manusia berdosa. Rancangan keselamtan dari Allah inilah yang kemudian dilaksankan dengan Misio-Dei, dimana Allah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus datang kedunia ini, para Nabi dan Rasul, kemudian Misio Eklesiae, dimana Allah menempatkan Gereja-Nya dan mengutus orang-orang percaya untuk memberitakan Injil Keselamatan. Injil Keselamatan itu adalah “Kabar Baik” dimana didalamnya ada berita tentang kelepasan manusia dari hukuman dosa. Dosa telah membuat manusia mengalami berbagai penderitaan, baik rohani, Jasmani juga hubungan berdampak pada lingkungan social. Pemulihan tidak hanya cukup pada tataran Rohani saja, karena dosa adalah permasalahan yang kompleksitas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia didunia ini. Pelayanan “Holistik” adalah upaya untuk memulihkan keberadaan manusia seutuhnya, baik secara spiritual dimana manusia diperdamaikan dengan Allah tetapi juga secara mental dimana manusia dibangkitkan kembali semangatnya untuk memperjuangkan kehidupannya didunia ini. Dengan demikian Injil bukan saja menyelesaikan perkara-perkara rohani saja, akan tetapi juga berdampak pada kehidupan social masyarakat, karena itulah tugas Gereja untuk melakukan tiga hal penting dalam dunia ini: Marturia, Koinonia, dan Diakonia. Inilah merupakan bagian dari pelayanan yang bersifat “Holistik” Man's fall into sin has made man lose the glory of God. Humans must not only receive God's punishment spiritually as a creature created with the Glory of God, but physically and socially they receive punishment from God. Life physically changes, where they then realize that they are naked and feel ashamed. Socially, they experience a break with God and their environment and become afraid and hide themselves from God. Humans then receive punishment from God that impacts spiritually, and also physically. They are banished from the place of glory in a world full of suffering as a result of these sins. God then shows His love, by searching for people who have fallen into sin to make restoration, but still uphold justice by dropping His punishment and entering into a covenant of Salvation for sinful humans. This salvation design from God was then carried out by Misio-Dei, where God sent His Son Jesus Christ to come into this world, the Prophets and Apostles, then Misio Eklesiae, where God placed His Church and sent believers to preach the Gospel of Salvation. The Gospel of Salvation is the "Good News" in which there is news about human deliverance from the penalty of sin. Sin has caused people to experience various sufferings, both spiritual, physical and also the relationship has an impact on the social environment. Restoration is not only enough at the Spiritual level, because sin is a complex and comprehensive problem in human life in this world. "Holistic" service is an effort to restore the whole human existence, both spiritually where humans are reconciled with God but also mentally where humans are reawakened to fight for their lives in this world. Thus the Gospel not only resolves spiritual matters, but also has an impact on the social life of the community, because that is the Church's duty to do three important things in this world: Marturia, Koinonia, and Diakonia. This is part of the service that is "Holistic".
Kepemimpinan Spiritualitas Musa Sebagai Dasar Bagi Pembinaan Asrama Di Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Aris Elisa Tembay; Eliman; Ferdinan Pasaribu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 14 No. 2 (2022): Kepemimpinan Kristen dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.792 KB)

Abstract

Leadership begins with a spritual personal ability possessed, demonstrated through roles and functions, manifested in a moral form that can inspire the lives of others. This means that leadership that can generate trust for others is not only built by authority or spiritual factors solely in an office and power but by exemplary. Talking about leadership in the context of believers is certainly closely related to the moral responsibility that is possessed. This is not only the standard in building one's identity as a spiritual human being that first needs to be achieved and can build, awaken the people around him. The development of self-quality becomes a pattern that strategically improves leadership