Ferdinan Pasaribu
Asst. Dosen STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Konstruksi Kristologi Di Bumi Indonesia Febriaman Lalaziduhu Harefa; Jeane Paath; Ferdinan Pasaribu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.012 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.62

Abstract

Kristologi adalah pusat dari disiplin ilmi teologi, karena dalam studi Kristologi memuat tentang Pribadi dan Karya Yesus Kristus dalam rangka penyelamatan umat manusia dari dosa agar manusia memperoleh hidup yang kekal. Namun dewasa ini khususnya di Indonesia, finalitas doktrin Kristologi mengalami pergeseran makna oleh karena studi interpretasi radikal dari beberapa teolog. Bertolak dari pergumulan konteks dan didukung oleh filsafat Postmodern, mereka berusaha untuk melakukan Re-Kristologi yang selama ini diajarkan di dalam gereja-gereja dan menghasilkan model-model Kristologi Kontekstual khususnya yang berkenaan dengan konteks bumi Indonesia. Pendekatan Kristologi ini telah kehilangan makna serta identitasnya dan sangatlah berbeda dengan doktrin Kristologi sebagaimana yang dinyatakan oleh teks-teks Alkitab firman Allah. Kristologi yang benar adalah Kristologi yang bertolak dari pernyataan teks-teks Alkitab kemudian Kristologi tersebut menjawab problematika konteks khususnya di bumi Indonesia. Christology is the center of the scientific discipline of theology, because in the study of Christology it contains the Person and Work of Jesus Christ in the context of saving mankind from sin so that humans can have eternal life. But today especially in Indonesia, the finality of the Christology doctrine has shifted in meaning because of the study of radical interpretations of some theologians. Starting from the struggle of context and supported by Postmodern philosophy, they tried to do Re-Christology that had been taught in the churches and produced contextual Christology models especially with regard to the context of the Indonesian earth. This Christological approach has lost its meaning and identity and is very different from the Christological doctrine as stated by the biblical texts of God's word. The correct Christology is a Christology that departs from the statement of the biblical texts and then the Christology answers the problematic context especially in Indonesian soil.
Konstruksi Pernikahan Kristen Alkitabiah Jean Paath; Yuniria Zega; Ferdinan Pasaribu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.263 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v8i2.104

Abstract

ABSTRAK Pernikahan adalah suatu kemitraan yang permanen yang dibuat dengan komitmen di antara seorang wanita dan pria. Ada dalam Alkitab, ”Dan sesudah itu Ia berkata, Itu sebabnya laki-laki meninggalkan ibu bapaknya dan bersatu dengan istrinya, maka keduanya menjadi satu. Jadi mereka bukan lagi dua orang, tetapi satu. Itu sebabnya apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Tujuan dalam tulisan ini tentang supremasi pernikahan Kristen pada Abad XXI agar semua yang percaya tidak menganggap remeh tentang pernikahan. Agar orang percaya tidak menyepelekan pernikahan kudus yang sudah di persatukan oleh adalah dan tidak merusak rencana Allah dalam hidup mereka. Asumsi dalam penelitian ini adalah Alkitab adalah firman Allah yang tidak bersalah karena diinspirasikan oleh Roh Kudus kepada para penulis. Firman Allah menjadi dasar dalam memperbaiki pernikahan pada Abad XXI. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif bibliologis dengan pendekatan kualitatif. Metode inilah yang dianggap paling sesuai oleh peneliti karena metode deskriptif memberikan gambaran lengkap dan natural akan suatu peristiwa dan fenomena yang terjadi. ABSTRACT Marriage is a permanent partnership made with a commitment between a woman and a man. It's in the Bible, "And after that He said, That's why a man leaves his father's mother and unites with his wife, then the two become one. So they are no longer two people, but one. That is why what has been united by God must not be divorced by humans ". The purpose in this paper is the supremacy of Christian marriage in the XXI Century so that all believers do not underestimate marriage. So that believers do not underestimate the holy marriage that has been united by is and does not damage God's plan in their lives. The assumption in this study is that the Bible is the innocent word of God because it was inspired by the Holy Spirit to the writers. God's Word became the basis for fixing marriages in the XXI Century. To solve this problem, researchers used a descriptive bibliological method with a qualitative approach. This method is considered the most appropriate by researchers because descriptive methods provide a complete and natural picture of events and phenomena that occur.
Kepemimpinan Spiritualitas Musa Sebagai Dasar Bagi Pembinaan Asrama Di Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Aris Elisa Tembay; Eliman; Ferdinan Pasaribu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 14 No. 2 (2022): Kepemimpinan Kristen dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.792 KB)

Abstract

Leadership begins with a spritual personal ability possessed, demonstrated through roles and functions, manifested in a moral form that can inspire the lives of others. This means that leadership that can generate trust for others is not only built by authority or spiritual factors solely in an office and power but by exemplary. Talking about leadership in the context of believers is certainly closely related to the moral responsibility that is possessed. This is not only the standard in building one's identity as a spiritual human being that first needs to be achieved and can build, awaken the people around him. The development of self-quality becomes a pattern that strategically improves leadership
Kajian Biblika Tentang Allah Tritunggal Untuk Menyikapi Keimanan Terhadap “Tuhan Yang Maha Esa” Dalam Bingkai Iman Kristen ferdinan pasaribu; anetrin sakkiadat
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v5i1.44

Abstract

Pemahaman manusia akan Allah tetap saja terbatas karena Allah itu tak terbatas adanya dan kemungkinan besar pemahaman manusia pun bisa berbeda walau sumbernya sama. Hal pertama menyangkut istilah KeAllahan.    Istilah “Trinitas” atau “Trinity” tidak ada di dalam Alkitab.   Istilah yang ada adalah Keallahan (Divinity atau Godhead).   Istilah Trinitas muncul sebagai hasil usaha manusia (gereja) memanahami Allah di dalam Alkitab. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan berbagai literatur. Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini ialah untuk memberikan pengetahuan mengenai Tuhan yang Esa.
Analisis Kritis Teologi Feminis David Baluseda; Ferdinan Pasaribu
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v5i1.46

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai konsep teologi feminis tentang Allah. Adapun pendekatan yang Penulis pakai dalam penulisan karya ilmiah ini ialah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif-teologis, dimana pendekatan ini akan mendeskripsikan seputar isu-isu di dalam teologi feminisme yang akan dikupas lebih dalam guna memahami konsep pemikiran, dan tokoh-tokoh teolog feminisme, serta perspektif mereka dalam memandang Alkitab. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini ialah memberikan sebuah penjelasan mengenai konsep teologi feminis.
TANTANGAN: MENGHADAPI MASALAH GEN ALFA KRISTEN DI ERA DIGITAL Pasaribu, Ferdinan
Jurnal STT Gamaliel Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Gamaliel Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v7i1.305

Abstract

Gen Alfa yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, berkembang dalam konteks yang kaya akan teknologi dan informasi. Artikel ini mengkaji berbagai tantangan yang dihadapi oleh Gen Alfa Kristen, termasuk masalah identitas, dampak media sosial, serta pergeseran dalam nilai-nilai spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dengan pendekatan yang relevan terhadap kehidupan dan tantangan yang dihadapi oleh Gen Alfa, gereja dan lembaga pendidikan harus berperan sebagai wadah yang nyata untuk mendukung kehidupan spiritual dan pembentukan karakter anak, dengan memanfaatkan media digital dan sosial. Gen Alfa Kristen menghadapi tantangan digital, seperti identitas dan media sosial. Gereja dan lembaga pendidikan harus mengadopsi pendekatan adaptif untuk mendukung perkembangan spiritual anak. Keterlibatan di dunia digital penting untuk membangun fondasi iman.