Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REDUKSIONIS NORMA SOSIAL DALAM KELUARGA PADA ANAK BERKONFLIK HUKUM Supriadi Torro; Muhammad Akbal; Dimas Ario Sumilih
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v17i1.33383

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk sosialisasi norma sosial dalam keluarga pada anak berkonflik hukum, penyebab anak berkonflik hokum, dan pola pembinaan anak berkonflik hokum di Lapas Khusus Anak di Maros . Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan dipilih  melalui tehnik purposed sampling dengan kriteria; anak yang telah menjalani hukuman lebih dari 6 bulan, anak yang masih memiliki salah seorang tua, sehingga terpilih 12orang. Data dikumpulkan dengan wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan mekanisme kondensasi data, display data dan memberi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sosialisasi norma social dalam keluarga pada anak berkonflik hokum adalah melalui bentuk sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Penyebab anak berkonflik hokum adalah adanya reduksi norma social dalam kelaurga dan arus teman sebagaya yang kuat serta kontrlok social atau mayarakat yang lemah dan abai.
Sosialisasi Bahaya Narkoba bagi Pelaut Melalui Kegiatan “Dari Laut Tanpa Narkoba” Di Desa Tarasu Dimas Ario Sumilih; Rifal Rifal
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat PROSIDING EDISI 3: SEMNAS 2020
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.557 KB)

Abstract

Sebagai besar Pelaut belum banyak memahami bahaya narkoba. Akibatnya, Pelaut masih memandang bahwa pengguna narkoba itu sesuatu yang lazim-lazim saja. Tanpa disadari bahwa narkoba telah menyebar luas di kalangan masyarakat Kajuara, termasuk diantaranya di Desa Tarasu. Beberapa kasus yang terjadi selesai begitu saja, tanpa ketelibatan masyarakat secara penuh dalam mencegah penyebaran dan penggunaan narkoba. Tulisan ini berusaha menjelaskan kepada pelaut perihal bahaya narkoba kepada para pelaut, yang akan menimbulkan keresahan kepada masyarakat. Menghancurkan pekerjaan, keluarga, bahkan yang lebih berbahaya kepada penggunanya. Kegiatan “dari laut tanpa narkoba” merupakan sesuatu yang akan terus dilakukan di Pelabuhan Tuju-tuju. Kegiatan ini sebagai slogan dari kegiatan pencegahan narkoba dengan cara melakukan sosialisasi, menggantungkan brosur dan menonton video bahaya narkoba melalui handphone masing-masing peluat yang akan dipandu langsung. Pelaut tidak lengkap dengan melihat di televisi, berita penangkapan narkoba, atau dampak kesehatan terhadap penggunaan narkoba yang mereka dapatkan di media massa tetapi perlu diadakan sosialisasi kultural mengenai bahaya narkoba. Salah satu cara untuk merealisasikan ini semua dengan membentuk tim yang didalamnya berasal dari pelaut dengan nama ‘dari laut tanpa narkoba’. Melalui tim yang dibentuk ini, yang berasal dari peserta sosialisasi dapat memproduksi pengetahuan mengenai bahaya narkoba, harapannya pelaut memiliki perspektif yang utuh mengenai bahaya narkoba. Luaran yang diharapkan dari kegiatan “dari laut tanpa narkoba” dengan melakukan sosialisasi secara masiv, salah satunya yaitu sumber ilmu dan informasi yang mendukung kegiatan pencegahan narkoba dengan cara pembuatan brosur dan nonton video bahaya narkoba yang tentunya merawat generasi pelaut tanpa narkoba. Luaran yang diharapkan adalah barang dan jasa. Bentuk jasa berupa sosialisasi bahaya narkoba, sedangkan barang berupa brosur “dari laut tanpa narkoba”.Kegiatan akhir dari pengabdian ini adalah melaksanakan sosialisasi kepada pelaut yang berada di pelabuhan dan perahu, selain itu melakukan menanggalan brosur yang  berada perahu sebagai penanda bahaya, dan sebagai pengingat bahaya narkoba. Kegitan ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Tarasu, Ahmad Tang Suki dengan jumlah 6 orang mengingat bahwa masih dalam kondisi Covid-19 dengan mempertimbangkan protokol kesehatan. Selanjutnya kegiatan ini berlangsung selama sehari secara bertahan dan periodik selama sebulan, yang dimlai pada 7 september pukul 08.00-16.00 WITA. Kegiatan pengabdian ini menitiberatkan pada sosialisasi terkait bahaya narkoba bagi para pelaut melalui kegiatan dari laut tanpa narkoba. Substansi dari penyajian materi lebih memperkenalkan bagaimana pentingnya menghindari bahaya narkoba, karena semua akan hancur apabila barang terlarang ini menjadi bagian dalam hidup para pelaut. Kegiatan ini dilakukan dengan metode partisipatoris dengan langsung memantau setiap perkembangan pola pikir masyarakat.
TANTANGAN DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN DI KABUPATEN TAKALAR Atma Ras; Sultan; Arsyad Genda; Dimas Ario Sumilih; Hariashari Rahim; Andi Nurlela; Syahrul Ramadhan
Journal Publicuho Vol. 7 No. 3 (2024): August - October - Journal Publicuho
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35817/publicuho.v7i3.518

Abstract

This study aims to determine the role of the village government in organizing health services in Sampulungan Village. In addition, this study also aims to determine the challenges faced by the village government and the community in the service process and accessibility to health facilities. Using a qualitative research approach with a case study strategy. The results of this study indicate that the role of the village government in health services is still very minimal, as seen from the unavailability of health centres and inadequate health facilities. The village government also lacks initiative in facilitating health services because it is hampered by the lack of participation in voicing the aspirations of the community in the village. In addition, the community's view of the role of government in the field of services, especially health, is greatly influenced by the low level of community knowledge about participation at the village apparatus level. This study also found several obstacles faced by the village government, especially in Sampulungan Village, in improving the quality of services, including social construction, power dominance, and the non-involvement of village officials in decision-making at the central and district levels. Therefore, it is important to provide education about bureaucracy in order to improve the understanding of the community and the village government of Sampulungan District regarding the quality of health services.