Freddy Wagey
Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi/ Prof. Dr. RD Kandou Hospital Manado

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : e-CliniC

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PATOLOGIS PADA SISWI DI SMA NEGERI 1 MANADO Tombokan, Arianto; Wantania, Jhon; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5708

Abstract

Abstract: All women may experience vaginal discharge according to the data on women’s reproductive health research shows 75 % of women in the world would suffer from vaginal discharge, at least once in her life. Bad attitude in maintaining genital hygiene, such as washing with dirty water, wear rinse excessively, use pants that do not absorb sweat, change underwear rarely, change pads rarely can trigger the onset of the infection that causes vaginal discharge. The purpose of this study is to determine the correlation of the level of the knowledge and attitude of maintaining the external genitalia with pathological vaginal discharge event on schoolgirl in SMA Negeri 1 Manado on 2012. Methods: The type of this research is observational analytic studies with cross sectional design. Subject of this research is 106 class XII schoolgirl of SMA Negeri 1 Manado 2012 – 2013. Data were collected by questionnaires which have been tested. Results: Schoolgirl who have had vaginal discharge is obtained as 35,8 % and who haven’t as 64,2 %. Knowledge of schoolgirl who have had vaginal discharge 24,6 % included in good category and on schoolgirl who haven’t had vaginal discharge 75,4 % included in good category. Attitude of schoolgirl who have had vaginal discharge 29,6 % included in supportive category and of schoolgirl who haven’t had vaginal discharge 70,4 % included in supportive category. Conclusion: According to the result of the research, knowledge and attitude of maintaining the cleanliness of the external genitalia are related with pathological vaginal discharge events. Bad knowledge about maintaining the cleanliness of the external genitalia increase the risk of experiencing vaginal discharge by 2,304 times. Meanwhile, attitude that does not support manitaining cleanliness of the external genitalia increase the risk of experiencing vaginal discharge by 1,89 times. Keywords: Knowledge, attitude, pathological vaginal discharge.   Abstrak: Semua wanita dapat mengalami keputihan berdasarkan data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukan 75% wanita didunia pasti menderita keputihan, paling tidak sekali dalam hidupnya. Sikap buruk dalam menjaga kebersihan genitalia, seperti mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi yang menyebabkan keputihan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan patologis pada siswi di SMA Negeri 1 Manado tahun 2012. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 106 siswi kelas XII SMA Negeri 1 Manado periode 2012-2013. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner yang telah diuji cobakan. Hasil: Siswi yang pernah mengalami keputihan didapatkan sebanyak 35,8 % dan yang tidak pernah 64,2 %. Pengetahuan siswi yang pernah mengalami keputihan 24,6 % masuk dalam kategori baik dan pada siswi yang tidak pernah mengalami keputihan 75,4 % masuk dalam kategori baik. Sikap siswi yang mengalami keputihan 29,6 % masuk dalam kategori mendukung dan pada siswi yang tidak pernah mengalami keputihan 70,4 % masuk dalam kategori mendukung. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan dan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna berhubungan dengan kejadian keputihan patologis. Pengetahuan buruk mengenai kebersihan genitalia eksterna meningkatkan resiko mengalami keputihan sebesar 2,304 kali. Sementara itu, sikap yang tidak mendukung menjaga kebersihan genitalia eksterna meningkatkan resiko mengalami keputihan sebesar 1,89 kali. Kata kunci: Pengetahuan, sikap, keputihan patologis.
Karakteristik penderita kanker serviks di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2015 Watulingas, Andre M.; Loho, Maria; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14477

Abstract

Abstract: Cervical cancer and breasts cancer are both a cancer disease with the highest presentation in Indonesian in the time of 2013, that is 0,8% for cervical cancer and 0,5% for breasts cancer. In general this disease are managed 70-75% already on the advanced stadium with high mortality rate. Untill now cervical cancer are the reason of the highest death cases cause by cancer in the developing country.This study aimed to obtain the characteristics of patients with cervical cancer in the Department of Obstetric and Gynaecology in the Prof. R. D. Kandou Manado General Hospital. The method of this study was descriptive retrospective. The highest percentage that already been obtain in the Department of Obstetric and Gynaecology in the Prof. R. D. Kandou Manado General Hospital are patients with age 45-49 with 18 cases (20,48%), clinical stadium III B with 22 cases (25,12%), and Patients occupation as a housewife are the highest with 61 cases (69,35%).Keywords: cervical cancer, age, clinical stadium, and patients occupation. Abstrak: Kanker serviks dan kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan persentasi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013, yaitu kanker serviks sebesar 0,8% dan kanker payudara sebesar 0,5%. Pada umumnya penyakit ini dirawat kira-kira sekitar 70-75% sudah berada pada stadium lanjut dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di Negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita kanker serviks di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif. Hasil tertinggi yang didapat di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. R. D. Kandou Manado adalah usia 45-49 tahun dengan jumlah 18 pasien (20,48%), stadium III B dengan jumlah 22 pasien (25,12%), dan pekerjaan dari penderita sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) merupakan yang terbanyak yaitu 61 pasien (69,35%). Kata kunci: kanker serviks, usia, stadium klinis, dan pekerjaan penderita.
EVALUASI PENANGANAN KANKER SERVIKS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE 1 JANUARI 2013 – 31 DESEMBER 2014 Lala, Zefanya; Wagey, Freddy; Loho, Maria
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12113

Abstract

Abstract: Worldwide cervical cancer ranks as the second highest after breast malignancies. Up to now, cervical cancer has a high mortality in developed country including Indonesia. In Indonesia, cervical cancer and breast malignancy have a high prevalence among cancers in 2013. Most of the cancer cases were treated in advanced stage, therefore, the mortality rate is high. This study aimed to evaluate the treatment of cervical cancer in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study. The results showed that there were 102 cases of cervical cancer. Stage III B had the highest percentage and were found in 27 (26,47%) cases. Most of the treatment given was palliative care in 68 (66,7%) cases. Keywords: cervical cancer , stage and treatment Abstrak: Kanker serviks menempati urutan kedua terbanyak setelah keganasan payudara di seluruh dunia. Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyakit kanker pada wanita yang mengakibatkan kematian terbanyak terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit kanker serviks dan payudara merupakan penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013. Pada umumnya penyakit ini dirawat ketika sudah berada pada stadium lanjut dengan tingkat kematian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanganan kanker serviks di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif retorspektif. Hasil penelitian memperlihatkan dari 102 kasus kanker serviks, persentase tertinggi ialah stadium III B dengan jumlah 27 pasien (26,47%) dan terapi terapi paliatif sebanyak 68 pasien (66,7 %).Kata kunci: kanker serviks, stadium, dan penanganan
HUBUNGAN USIA REPRODUKSI DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pratiwi, Lilis; Suparman, Eddy; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1182

Abstract

Abstract: Age is the most significant risk factor for the development of myoma uteri. The issue of myoma uteri in women's reproductive health continues to increase. The high incidence of myoma uteri between the ages of 35-50 years shows an association of myoma uteri with estrogen. This study aimed to determine the relationship between the incidence of myoma uteri during this stage in the RSUP Prof. Dr. R.D. Manado Kandou from March until October 2012. This study was a retrospective observational descriptive analytic cross-sectional approach. This was carried out by using the Chi Square. A 95% confidence level (α ≤ 0.05) and P ≤ 0.05 showed there was a relationship between the independent variables and dependent variables. Based on 353 cases of all diseases in the Obstetrics-Gynecology section between the ages of 18-49 years, those who suffered from myoma uteri were 108 cases. Those aged between 34-49 years (101 cases, 93.5%), suffered most from of myoma uteri while those aged between 18-33 were only 7 cases (6.5%). The Pearson Chi-Square test value was 43.394 and obtained P = 0.000. These results indicated there was a very significant correlation between the incidence of reproductive ages with myoma uteri (P = 0.000; α = 0.01). Conclusion: the high incidences of myoma uteri during reproductive ages showed no association with estrogen myoma uteri. Keywords: reproductive age, myoma uteri. Abstrak: Usia merupakan faktor risiko yang paling bermakna untuk perkembangan mioma uteri. Salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita ialah mioma uteri dengan insidensi yang terus meningkat. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen pada usia reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret sampai dengan Oktober 2012. Penelitian ini bersifat observasi analitik deskriptif retrospektif dengan cross sectional design. Uji statistik menggunakan Chi square test. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α ≤ 0,05), jika P ≤ 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dari 353 kasus untuk semua penyakit ginekologi di Bagian Obstetri-Ginekologi yang berusia antara18-49 tahun, terdapat 108 kasus dengan mioma uteri. Usia 34-49 tahun merupakan kasus terbanyak dengan mioma uteri yaitu 101 kasus (93,5%); dan yang berusia 18-33 tahun terdapat tujuh kasus (6,5%). Uji Pearson Chi-Square memperlihatkan nilai 43,394 dengan P = 0,000. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri (P = 0,000; α = 0,01). Simpulan: Dari hasil penelitian di Bagian Obstetri-Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 1 Maret - 31 Oktober 2012 diperoleh bahwa kasus ginekologi terbanyak pada pasien berusia 18-49 tahun ialah mioma uteri, dengan usia tersering 34-49 tahun. Kata kunci: usia reproduksi, mioma uteri.
Karakteristik pasien dengan preeklampsia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hutabarat, Rien A.; Suparman, Eddy; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10936

Abstract

Abstract: World Health Organization (WHO) estimates that 585.000 women die every day from complications of pregnancy, birth process, and as a result of unsafe abortion. Maternal mortality in Indonesia was 307 of 100.000 live births and the infant mortality in Indonesia was 39 of 1000 live births. The most frequent cause of maternal mortality and fetal mortality is preeclampsia. This was a retrospective descriptive study. Data were obtained from the medical records of preeclampsia patients from January 1 until December 31, 2013 at the Department of Obstetrics and Gynecology, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that there were 135 patients diagnosed with preeclampsia. There were 79 patients (58.52%) with mild preeclampsia, and 56 patients (41.48%) with severe preeclampsia. The highest frequencies were found at the age group 21-35 years (in mild preeclampsia 67.1% and in severe preeclampsia 73.2%); housewives (in mild preeclampsia 84.8% and in severe preeclampsia 78.5%); senior high school education (in mild preeclampsia 68.36% and in severe preeclampsia 76.7%); parity of multigravida (in mild preeclampsia 62% and in severe preeclampsia 59%); and interval of labor 2-5 years (in mild preeclampsia 51.02% and in severe preeclampsia 52%).Keywords: preeclampsia, characteristicsAbstrak: World Health Organization (WHO) memperkirakan 585.000 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan, proses kelahiran, dan akibat aborsi yang tidak aman. Angka kematian ibu bersalin di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi di Indonesia adalah 39 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab morbiditas dan mortilitas ibu dan janin adalah Preeklamsia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan melihat data rekam medik pasien Preeklampsia periode 1 Januari - 31 Desember 2013 di Bagian Obstetri-Ginekologi. Hasil penelitian memperlihatkan 135 pasien dengan diagnosis preeklampsia, terdiri dari 79 (58,52%) preeklampsia ringan (PER), dan 56 (41,48%) preeklampsia berat (PEB). Kelompok umur tersering ialah 21–35 tahun (pada PER 67,1% dan PEB 73,2%). Pekerjaan tersering ialah ibu rumah tangga (pada PER 84,8% dan PEB 78,5%). Pendidikan tersering ialah SMA (pada PER 68,36% dan PEB 76,7%). Jumlah paritas tersering ialah multigravida (pada PER 62% dan PEB 59%). Jarak persalinan tersering antara 2–5 tahun ( pada PER 51,02% dan PEB 52%).Kata kunci: preeklampsia, karakteristik
Hubungan Kejadian Plasenta Previa dengan Riwayat Kehamilan Sebelumnya Husain, Widia R.; Wagey, Freddy; Suparman, Eddy
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27095

Abstract

Abstract: To date, the main cause of maternal mortality rate is bleeding. Placenta previa is one of the causes of bleeding in pregnant women. This study was aimed to obtain the relationship between the occurence of placenta previa and pregnancy history among patients at RS Bhayangkara Manado, RSU GMIM Pancaran Kasih Manado, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive and retrospective study with a cross sectional design. Subjects were pregnant women or women who laboured from January 2017 to December 2018 that had placenta previa. There were 72 cases as subjects, obtained by using non random sampling. The results showed that placenta previa were most common among subjects aged ≥35 tahun as many as 30 subjects (41.7%), multiparity as many as 39 subjects (54.2%), no history of sectio caesarea as many 39 subjects (54.2%), and no history of curetage as many as 66 subjects (91.7%). In conclusion, there were relationships between the occurence of placenta previa and age ≥35 years as well as multiparity, albeit, there were no relationships between the occurence of placenta previa and sectio caesaria as well as curetage history.Keywords: placenta previa, age, parity, histories of sectio caesarea and curetage Abstrak: Penyebab angka kematian ibu (AKI) yang utama ialah perdarahan. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab perdarahan yang tersering terjadi pada ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian plasenta previa dengan riwayat kehamilan sebelumnya di RS Bhayangkara Manado, RSU GMIM Pancaran Kasih Manado dan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian ialah ibu hamil atau bersalin yang mengalami plasenta previa pada periode Januari 2017-Desember 2018 yang berjumlah 72 kasus, diperoleh dengan metode non random sampling. Hasil penelitian menunjukkan kejadian plasenta previa terbanyak pada usia ibu >35 tahun yaitu 30 orang (41,7%), paritas multipara yaitu 39 orang (54,2%), tidak ada riwayat seksio sesarea yaitu 39 orang (54,2%), dan tidak ada riwayat kuretase yaitu 66 orang (91,7%). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan kejadian plasenta previa dengan usia ibu dan multiparitas namun tidak terdapat hubungan dengan riwayat seksio sesarea dan riwayat kuretase.Kata kunci: plasenta previa, umur ibu, paritas, riwayat seksio sesaria dan riwayat kuretase
PREVALENSI MIOMA UTERI BERDASARKAN UMUR DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Pasinggi, Sabrianti; Wagey, Freddy; Rarung, Max
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6517

Abstract

Abstract:Myoma uteriis a benign tumor of the uterine. Insidence of myoma uteri at 20% -30% of all women and continues to increase. The second most common gynecological tumors in Indonesia. Commonly found in women of reproductive age and only 10% of myoma uteri is still growing after menopause. Approximately 60% asymptomatic and almost 50% are found incidentally on gynecologic examination. Objective: to determine the age prevalence of uterine myomas compared with other gynecological tumors in the Prof. Dr R. D. KandouHospital Manado.Methods:Retrospective descriptive study using medical records. Sample of this study is 401 cases of gynecological tumors, 127 of them is cases of myoma uteri in period of July1st2013-July 1st 2014. The data analysis is univariateanalysis.Results and Conclusion: The results of medical recordsin periodJuly 1st 2013-July 1st2014, myoma uteri is the second largest gynecological tumors (31.7%). Based on 127 cases,the suffered most from of myoma uteri is the age between 41-50 years (56.7%). The highest prevalence of uterine myoma in the age between 41-50 years (48.9%).Keywords: gynecological tumors, myoma uteri, prevalence, ageAbstrak: Mioma uteri adalah tumor jinak pada uterus. Insidensinya sekitar 20%-30% dari seluruh wanita dan terus mengalami peningkatan. Tumor ginekologi kedua terbanyak di Indonesia. Umumnya ditemukan pada wanita usia reproduksi dan hanya 10% miomauteriyang masihtumbuh setelah menopause. Kira-kira 60% asimtomatik dan hampir 50% ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan ginekologik.TujuanPenelitian: Untuk mengetahui prevalensi mioma uteri berdasarkan umur dibandingkan dengan tumor ginekologi lainnya di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.Metode Penelitian:Desain deskriptif retrospektif menggunakan catatan rekam medik. Sampel pada penelitian ini adalah 401 kasus tumor ginekologi, 127 di antaranya kasus mioma uteri periode 1 Juli 2013-1 Juli 2014.Analisis data yang digunakanadalahanalisisunivariat.Hasil dan Kesimpulan:Darihasil catatan rekam medik pada periode 1 Juli 2013–1 Juli 2014, mioma uteri merupakan tumor ginekologi kedua terbanyak (31,7%). Dari 127 kasus yang paling banyak menderita mioma uteri adalah kelompok umur 41-50 tahun (56,7%). Prevalensi mioma uteri tertinggi pada kelompok umur 41-50 tahun (48,9%).Kata kunci:Tumor ginekologi, mioma uteri, prevalensi, umur
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI Mokodongan, Menthari H.; Wantania, John; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6829

Abstract

Abstract: Leucorrhoea in teenagers can be caused by bad behavior of leucorrhoea precaution. Knowledge is a factor to build behavior in teenager. Method: observational analytic research with cross sectional design with using 200 samples from 4 Senoir high school at Manado and Kotamobagu city purposely. Data is collected by using questionnaire and be analysed by using chi-square. Result: more teenager at Manado and Kotamobagu city have good knowledge of leucorrhoea. More teenager with good knowledge of leucorrhoea have good behavior in leucorrhoea precaution (53,7%), while more teenager with poor knowledge of leucorrhoea have poor behavior of leucorrhoea precaution (66,1%). There is a relationship between knowledge level of leucorrhoea with behavior of leucorrhoea precaution (p=0,023). Teenager with good knowledge of leucorrhoea is 1,5 times to have good behavior of leucorrhoea precaution (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Conclusion: Knowledge of leucorrhoea is related significantly to behavior of leucorrhoea precaution in teenager.Keywords: leucorrhoea, knowledge, behavior.Abstrak: Keputihan pada remaja dapat disebabkan karena perilaku pencegahan keputihan yang kurang baik. Pengetahuan adalah salah satu faktor terbentuknya perilaku pada remaja. Metode: penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang menggunakan 200 sampel dari 4 SMA di Manado dan Kotamobagu yang diambil secara tidak acak. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan chi-square. Hasil: remaja di kota Manado dan Kotamobagu lebih banyak memiliki pengetahuan yang baik tentang keputihan. Remaja dengan pengetahuan yang baik tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang baik dalam pencegahan keputihan (53,7%), sementara itu remaja dengan pengetahuan yang buruk tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang buruk dalam pencegahan keputihan (66,1%). Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja (p=0,023). Remaja dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang keputihan memiliki kecenderungan 1,5 kali memiliki perilaku pencegahan yang baik (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Simpulan: pengetahuan tentang keputihan berhubungan secara bermakna dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja.Kata kunci: keputihan, pengetahuan, perilaku
PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN MENGENAI PENGGUNAAN PARTOGRAF DALAM PERSALINAN DI PUSKESMAS PONED KOTA MANADO Toemandoek, Jacqueline P.; Wagey, Freddy; Loho, Maria
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.9344

Abstract

Abstract: The high maternal mortality rate is mostly due to pregnancies and labours. Health workers who can help labour are inter alia midwives. A health center that has the facilities and the ability to provide 24-hours services to cope emergency cases of obstetric and neonatal care is called PONED Public Health Center (PHC). This study aimed to obtain the knowledge and attitude of midwives about partograph in PONED PHCs in Manado. There were 33 respondents of 6 PONED PHCs in Manado. The results showed that most of the midmives (90.9%) in PONED PHCs had good knowledge about the usage of pantograph in labour; 2 respondents (6.1%) had fair knowledge, and 1 respondent (3.0%) had poor knowledge. All midwives (100%) had positive attitude about the usage of partograph. Conclusion: Most midwives in PONED PHC in Manado had good knowledge and positive attitude about the usage of partograph in labour.Keywords: midwives, PONED Public Health Center, partographAbstrak: Tingginya angka kematian ibu terutama pada saat kehamilan dan persalinan. Tenaga kesehatan yang dapat menolong persalinan yaitu salah satunya bidan. Puskesmas yang memiliki fasilitas dan kemampuan memberikan pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal selama 24 jam yaitu puskesmas PONED. Pada penelitian ini terdapat 33 responden dari 6 puskesmas PONED di Kota Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan bidan tentang penggunaan partograf dalam persalinan di Puskesmas PONED Kota Manado umumnya (90,9%) baik, 2 responden (6,1%) cukup, dan 1 responden (3,0%) kurang. Mengenai distribusi sikap, semua bidan (100%) mempunyai sikap positif. Simpulan: Umumnya bidan di puskesmas PONED Kota Manado mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif mengenai penggunaan partograf dalam persalinan.Kata kunci: bidan, puskesmas PONED, partograf