Freddy Wagey
Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi/ Prof. Dr. RD Kandou Hospital Manado

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI Mokodongan, Menthari H.; Wantania, John; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6829

Abstract

Abstract: Leucorrhoea in teenagers can be caused by bad behavior of leucorrhoea precaution. Knowledge is a factor to build behavior in teenager. Method: observational analytic research with cross sectional design with using 200 samples from 4 Senoir high school at Manado and Kotamobagu city purposely. Data is collected by using questionnaire and be analysed by using chi-square. Result: more teenager at Manado and Kotamobagu city have good knowledge of leucorrhoea. More teenager with good knowledge of leucorrhoea have good behavior in leucorrhoea precaution (53,7%), while more teenager with poor knowledge of leucorrhoea have poor behavior of leucorrhoea precaution (66,1%). There is a relationship between knowledge level of leucorrhoea with behavior of leucorrhoea precaution (p=0,023). Teenager with good knowledge of leucorrhoea is 1,5 times to have good behavior of leucorrhoea precaution (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Conclusion: Knowledge of leucorrhoea is related significantly to behavior of leucorrhoea precaution in teenager.Keywords: leucorrhoea, knowledge, behavior.Abstrak: Keputihan pada remaja dapat disebabkan karena perilaku pencegahan keputihan yang kurang baik. Pengetahuan adalah salah satu faktor terbentuknya perilaku pada remaja. Metode: penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang menggunakan 200 sampel dari 4 SMA di Manado dan Kotamobagu yang diambil secara tidak acak. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan chi-square. Hasil: remaja di kota Manado dan Kotamobagu lebih banyak memiliki pengetahuan yang baik tentang keputihan. Remaja dengan pengetahuan yang baik tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang baik dalam pencegahan keputihan (53,7%), sementara itu remaja dengan pengetahuan yang buruk tentang keputihan lebih banyak memiliki perilaku yang buruk dalam pencegahan keputihan (66,1%). Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja (p=0,023). Remaja dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang keputihan memiliki kecenderungan 1,5 kali memiliki perilaku pencegahan yang baik (PR=1,5; 95% CI=1,1-2,2). Simpulan: pengetahuan tentang keputihan berhubungan secara bermakna dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja.Kata kunci: keputihan, pengetahuan, perilaku
PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN MENGENAI PENGGUNAAN PARTOGRAF DALAM PERSALINAN DI PUSKESMAS PONED KOTA MANADO Toemandoek, Jacqueline P.; Wagey, Freddy; Loho, Maria
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.9344

Abstract

Abstract: The high maternal mortality rate is mostly due to pregnancies and labours. Health workers who can help labour are inter alia midwives. A health center that has the facilities and the ability to provide 24-hours services to cope emergency cases of obstetric and neonatal care is called PONED Public Health Center (PHC). This study aimed to obtain the knowledge and attitude of midwives about partograph in PONED PHCs in Manado. There were 33 respondents of 6 PONED PHCs in Manado. The results showed that most of the midmives (90.9%) in PONED PHCs had good knowledge about the usage of pantograph in labour; 2 respondents (6.1%) had fair knowledge, and 1 respondent (3.0%) had poor knowledge. All midwives (100%) had positive attitude about the usage of partograph. Conclusion: Most midwives in PONED PHC in Manado had good knowledge and positive attitude about the usage of partograph in labour.Keywords: midwives, PONED Public Health Center, partographAbstrak: Tingginya angka kematian ibu terutama pada saat kehamilan dan persalinan. Tenaga kesehatan yang dapat menolong persalinan yaitu salah satunya bidan. Puskesmas yang memiliki fasilitas dan kemampuan memberikan pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal selama 24 jam yaitu puskesmas PONED. Pada penelitian ini terdapat 33 responden dari 6 puskesmas PONED di Kota Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan bidan tentang penggunaan partograf dalam persalinan di Puskesmas PONED Kota Manado umumnya (90,9%) baik, 2 responden (6,1%) cukup, dan 1 responden (3,0%) kurang. Mengenai distribusi sikap, semua bidan (100%) mempunyai sikap positif. Simpulan: Umumnya bidan di puskesmas PONED Kota Manado mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif mengenai penggunaan partograf dalam persalinan.Kata kunci: bidan, puskesmas PONED, partograf
GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BAHU MANADO Warongan, Gabrielle; Wagey, Freddy; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6459

Abstract

Abstract: Pregnancy is a unique period in a woman's life and is characterized by a complex physiological changes such as nausea and vomiting . These changes can affect oral health during pregnancy due to a change in diet and oral hygiene is lacking. Gingivitis is one that is highly susceptible to periodontal disease occurs when the maintenance of oral health in pregnant women is not properly maintained. The purpose of this study was to describe the gingival status of pregnant women in health centers Bahu Manado. This was a descriptive cross sectional (cross-sectional) study. There were 34 samples obtained by using consecutive sampling and their gingival indexes were measured with Loe and Sillness method. The results showed that among the pregnant women in the second trimester there were 11 (79%) that experienced inflammation. Most pregnant women in the third trimester experienced severe inflammation as many as 16 people (80%). There were 2 pregnant women with mild, 14 moderate, and 18 with severe inflammation. Conclusion: All pregnant women in this study did not have normal gingival status and their inflammation were severe, moderate, and mild respectively. Pregnant women with gestational age third trimester had higher gingival indexes which meant more inflammed status. It is expected that health centers improve the program of oral health care of pregnant women, such as promotional activities on the importance of health and oral hygiene during pregnancy, motivation, and advicing the pregnant women to check to the dentists during pregnancy. Keywords: gingival status, pregnant womenAbstrak: Kehamilan adalah masa yang unik dalam kehidupan seorang wanita dan ditandai oleh perubahan fisiologis yang kompleks seperti mual dan muntah. Perubahan ini dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan yang disebabkan adanya perubahan pola makan dan kebersihan mulut yang kurang. Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang sangat rentan terjadi jika pemeliharan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil tidak terjaga dengan baik.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran status gingiva ibu hamil di Puskesmas Bahu Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong. Penelitian dilakukan di Puskesmas Bahu Manado dengan subjek penelitian sebanyak 34 orang.Dengan menggunakan metode Convecutive samplingdan diukur dengan indeks gingival menurut Loe and Sillness.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil pada Trimester II rata-rata mengalami inflamasi sedang berjumlah 11 orang (79%). Terdapat 2 orang dengan inflamasi ringan, 14 orang inflamasi sedang dan 18 orang inflamasi berat. Kebanyakan ibu hamil pada Trimester III mengalami inflamasi berat sebanyak 16 orang (80%). Simpulan: Semua ibu hamil tidak memiliki status gingiva normal, dimana Ibu hamil dengan usia kehamilan Trimester III memiliki indeks gingiva lebih tinggi yang menggambarkan lebih banyak mengalami inflamasi.Bagi Puskesmas diharapkan lebih meningkatkan program pelayanan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil seperti kegiatan promotif tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan mulut selama kehamilan, memberi motivasi dan nasehat kepada ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan rongga mulutnya ke dokter gigi bersamaan pada saat pemeriksaan kehamilannya.Kata kunci: status gingiva, ibu hamil.
HUBUNGAN JUMLAH PEMERIKSAAN ANTENATAL DENGAN HASIL KEHAMILAN DAN PERSALINAN DI RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Simanjuntak, Janson; Sondakh, Joice M. M.; Wagey, Freddy
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4624

Abstract

Abstract: Maternal and perinatal mortality rate in Indonesia is still high. The most cause of maternal and perinatal deaths related to pregnancy and complication of pregnancy can be prevented. Adequate antenatal care is an important factor in reducing maternal and perinatal deaths. This is an analytic observasional cross-sectional study of 2268 women delivered and 2305 neonates born at Prof.Dr.R.D.Kandou Manado hospital  was used. Data is collected from medical record. This study shows that number of antenatal care <4 times is significantly associated with the incidence of severe asphyxia (p=0,003; PR: 2,047; 95% CI: 1,29-3,25) and low birth weight (p=0,000; PR: 1,713; 95% CI: 1,32-2,23). The number of antenatal care >4 times is significantly associated with operative delivery (p=0,001), this is due to Prof.Dr.R.D.Kandou Manado hospital is a referral hospital in North Sulawesi, many samples in this study are women with complicated pregnancy (26,7%). Pregnancy with complications is significantly related to operative delivery  (p=0,000; PR: 1,962; 95% CI: 1,77-2,17). Conclusion is number of antenatal care <4 times relates and increases the risk of incidence of asphyxia and low birth weight, while women with operative delivery are likely to have history of antenatal care visit more (>4 times) during pregnancy. Keywords: antenatal care, delivery outcome, pregnancy outcome.   Abstrak: Angka kematian ibu dan perinatal di Indonesia masih tinggi. Sebagian besar penyebab kematian ibu dan perinatal yang berhubungan dengan kehamilan dan komplikasi kehamilan dapat dicegah.Pemeriksaan antenatal yang adekuat merupakan faktor penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan perinatal. Jenis penelitian ini adalah analitik observatif cross-sectionalterhadap 2268 ibu yang melahirkan di RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado dan 2305 bayi yang dilahirkan. Data diperoleh dari catatan medis.Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah pemeriksaan antenatal <4 kali berhubungan dengan kejadian asfiksia berat (p=0,003; PR: 2,047; 95% CI: 1,29-3,25) danBBLR (p=0,000; PR: 1,713; 95% CI: 1,32-2,23). Jumlah pemeriksaan antenatal >4 kali berhubungan dengan persalinan tindakan (p=0,001), hal ini disebabkan RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado merupakan rumah sakit rujukan di Sulawesi Utara sehingga banyak sampel pada penelitian ini adalah ibu-ibu dengan kehamilan dengan komplikasi (26,7%). Kehamilan dengan komplikasi berhubungan dengan persalinan tindakan (p=0,000; PR: 1,962; 95% CI: 1,77-2,17). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah pemeriksaan antenatal <4 kali berhubungan dan meningkatkan risiko kejadian asfiksia berat dan BBLR, sementara itu wanita yang melakukan persalinan tindakan cenderung memiliki riwayat melakukan pemeriksaan antenatal lebih banyak (>4 kali) selama kehamilan. Kata kunci:hasil kehamilan, hasil persalinan, pemeriksaan antenatal