Audrey Wahani
Universitas Sam Ratulangi

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : e-CliniC

PROFIL PNEUMONIA NEONATUS YANG DIRAWAT DI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Jufri, Juhtisari; Wahani, Audrey; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3279

Abstract

Abstrack: Background : Pneumonia is an important cause of neonatal infection. Neonatal mortality rate in pneumonia ranged from 750,000 to 1.2 million deaths and the number of deaths is unknown at birth each year. Methods : This study uses a retrospective descriptive. Results : 95.31% occurred in the age group 0-7 days. 85.94% with normal leukocyte levels. 54.69% trombist normal levels. 40.62% increase hemoglobin levels. On examination CRP increased 67.86%. 54.69% IT ratio <0.2. 96.87% with clinical symptoms of tachypnea. 45.83% using the first linea (amoxycillin + gentamicin). 53.12% of patients were healed with the state. Conclusions : Neonatal pneumonia is most prevalent in early onset (0-7 days). Normal leukocytes are most found. While the platelets also found in most normal limits. The hemoglobin most commonly found an increase. Examination results are most CRP increased. Furthermore, the examination and the ratio of immature neutrophils total (IT ratio) is most commonly found <0.2. Tachypnea is the most clinical symptoms found. Patients with pneumonia were cured many neonates using the first linea treatment combinations (amoxycillin + gentasmisin). Mortality rates were obtained from neonates suffering from pneumonia at 4.69%. Key words : Pneumonia, neonates.  Abstrak: Latar Belakang : Pneumonia merupakan penyebab penting infeksi neonatal. Angka kematian neonatal pada penyakit pneumonia berkisar antara 750.000 sampai 1,2 juta kematian dan jumlah kematian saat dilahirkan tidak diketahui setiap tahunnya. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif. Hasil : 95,31 % terjadi pada kelompok umur 0 – 7 hari. 85,94 % dengan kadar leukosit normal. 54,69 % kadar trombist normal. 40,62 % kadar hemoglobin meningkat. Pada pemeriksaan CRP 67,86 % meningkat. 54,69 % IT Rasionya <0,2. 96,87 % dengan gejala klinis takipnea. 45,83 % menggunakan linea pertama (amoxycillin+gentamisin).  53,12 % dengan keadaan penderita yang sembuh. Kesimpulan : Pneumonia neonatus paling banyak ditemukan pada onset awal (0-7 hari). Leukosit ditemukan paling banyak normal. Sementara trombosit juga ditemukan paling banyak dalam batas normal. Hemoglobin paling banyak ditemukan adanya peningkatan. Pemeriksaan CRP hasilnya paling banyak mengalami peningkatan. Selanjutnya pada pemeriksaan Rasio imatur dan neutrofil total (Rasio IT) yang paling banyak ditemukan <0,2. Takipnea merupakan gejala klinis yang paling banyak ditemukan. Penderita pneumonia neonatus banyak yang sembuh dengan menggunakan pengobatan linea pertama kombinasi (amoxycillin+gentasmisin). Angka kematian yang didapatkan dari neonatus yang menderita pneumonia sebesar 4,69%. Kata Kunci : Pneumonia, neonatus.  
HUBUNGAN ANAK DENGAN RIWAYAT BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN INSIDENS TERJADINYA ASMA PADA ANAK Pondaag, Mark P.; Wahani, Audrey; Manoppo, Ch.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6753

Abstract

Abstract: Asthma is a chronic lung disease characterized by symptoms such as recurrent wheezing, shortness of breath, chest distress, and coughing at night. The incidence of asthma is increasing every year. In a recent study noted that LBW contribute to the incidence of asthma. This study used a descriptive analytical method with cross sectional approach. The results showed that from 73 sampels 47 (64.4%) child who show asthma symptoms. The symptoms that were shown in this study were: wheezing (68.4%), wheezing in the past 12 months (64.3%), speaking disorder due to wheezing (59.6%), and dry coughs at night (59.6%). Based on logistic analysis showed a significant negative correlation (p=0.008). Conclusion: There was a relationship between a child with a history of low birth weight with the incidence of asthma.Keywords: asthma, low birth weight, airway remodelingAbstrak: Asma merupakan penyakit paru kroniik yang ditandai dengan gejala berupa mengi berulang, sesak napas, dada rasa tertekan, dan batuk pada malam hari. Angka kejadian asma meningkat setiap tahunnya. Pada penelitian terbaru disebutkan bahwa BBLR berperan terhadap insidens terjadinya asma. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang. Hasil penelitian memperlihatkan dari 73 sampel ditemukan 47 (64.4%) anak yang menunjukan gejala asma. Gejala yang ditunjukan berupa Mengi (68,4%), Mengi 12 bulan terakhir terakhir (64,3%), keterbatasan bicara akibat mengi (59,6%), batuk kering pada malam hari (59,6%). Berdasarkan analisis logistic menunjukan hubungan negative bermakna (p= 0,008). Simpulan : Terdapat hubungan antara anak dengan riwayat BBLR dengan angka kejadian asma.Kata kunci: asma, BBLR, remodeling saluran napas
Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Obesitas pada Anak di Kota Manado Tahun 2015 Ali, Nurlana; pateda, Vivekenanda; Wahani, Audrey
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.22123

Abstract

Abstract: Obesity is a health problem and its number of cases is increasing worldwide. The prevalence of overweight and obesity in children in the world increased from 4.2% in 1990 to 6.7% in 2010, and is expected to reach 9.1% in 2020. This study was aimed to obtain the level of mothers’ knowledge about obesity in children in Manado 2015. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population were mothers who visited Puskesmas Bahu (primary health care). The instrument used in this research was an interview consisting of 19 questions. Samples were mothers who had their children visited Puskesmas Bahu, obtained by using simple random sampling technique. The results showed 91 mothers as respondents. The majority of respondents (40.7%) had good knowledge about obesity in children. Among respondents with good knowledge, 23.8% were highly educated; age 20-30 years and 21-40 years had the same percentage (17.6%); worked as private employment (15.39%); and got information from print media (19.79%). Conclusion: The majority of mothers whose children visited Puskesmas Bahu had good knowledge. Age, education, work, and sources of information became the benchmark for the level of knowledge about obesity in children.Keywords: knowledge, obesity Abstrak: Obesitas merupakan masalah kesehatan yang jumlahnya meningkat diseluruh dunia. Prevalensi overweight dan obesitas pada anak di dunia meningkat dari 4,2% di tahun 1990 menjadi 6,7% di tahun 2010, dan diperkirakan akan mencapai 9,1% di tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak di Kota Manado tahun 2015. Jenis penilitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah ibu-ibu yang berkunjung ke Puskesmas Bahu. Sampel penelitian ialah ibu-ibu yang memiliki anak yang berkunjung ke Puskesmas Bahu Kota Manado dengan responden sebanyak 91 orang. Instrumen yang digunakan ialah wawancara yang terdiri dari 19 pertannyaan. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian memperlihatkan pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak yang terbanyak ialah baik sebanyak 37 responden (40,7%). Tingkat pengetahuan baik terbanyak berdasarkan pendidikan yaitu pendidikan perguruan tinggi (23,8 %); usia 20-30 tahun dan 21-40 tahun memiliki persentase yang sama (17,6%); pekerjaan swasta (15,39%); dan sumber informasi dari media cetak (19,79%). Simpulan: Mayoritas ibu dengan anak yang berkunjung ke Puskesmas Bahu Kota Manado memiliki pengetahuan baik. Usia, pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi menjadi tolok ukur tingkat pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak.Kata kunci: pengetahuan, obesitas