Dodo Gunawan
Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG)

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SIMULASI PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KOMPONEN FLUKS RADIASI DAN PARAMETER PERMUKAAN DI PROVINSI JAMBI MENGGUNAKAN MODEL IKLIM REGIONAL REGCM4 Dodo Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.585 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i3.131

Abstract

Model iklim regional RegCM4 telah digunakan untuk mempelajari dampak perubahan penggunaan lahan (land use) terhadap variabilitas komponen fluks radiasi dan pameter permukaan. Data penggunaan lahan tahun 2000 dan tahun 2010 digunakan sebagai data permukaan untuk kondisi batas (boundary condition) model. Dua jenis simulasi dijalankan untuk menunjukkan pengaruh perubahan penggunaan lahan pada dua periode tersebut. Simulasi pertama adalah kondisi awal atmosfer tahun 2010 disimulasikan dengan data penggunaan lahan tahun 2010 sebagai kondisi penggunaan lahan terkini, dan simulasi kedua adalah kondisi atmosfer tahun 2010 yang menggunakan data penggunaan lahan tahun 2000.   Perbedaan nilai parameter komponen fluks radiasi dan permukaan antara dua simulasi tersebut menunjukkan pengaruh perubahan penggunaan lahan. Hasil perbandingan parameter seperti kandungan air dan suhu tanah menunjukkan adanya pengaruh perubahan jenis penggunaan lahan.  Lahan akibat deforestasi yang sudah banyak terbuka seperti pada kondisi tahun 2010 telah mengakibatkan radiasi matahari banyak diserap permukaan dan dirubah menjadi radiasi gelombang panjang yang memanaskan permukaan. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya suhu tanah maksimum dan rendahnya kandungan air tanah pada kondisi penggunaan lahan tahun 2010. The climate model RegCM4 has been used to study the impact of land use change (LUC) on the energy flux and surface parameters. The LUC of 2000 and 2010 has been used as the boundary condition. Two simulations have performed to show the impact of LUC. The first simulation is using the atmosphere and land use of 2010 as the current condition. The second one is using the same as the 1st simulation but using the land use of 2000. The difference of radiation flux and surface parameters are due to the impact of LUC. The comparison results of the flux radiation and surface parameters have proven as the impact of LUC. The deforested land with more open areas as in the land use of 2010 caused more radiation absorbed by surface. These finding revealed by the increase of the soil temperature and the decrease of the soil water content.
PEMANFAATAN DATA GELOMBANG MIKRO PASIF DAN INFRAMERAH DALAM PEMISAHAN BUTIRAN AWAN KONVEKTIF DAN STRATIFORM Dodo Gunawan; Endarwin Endarwin; Radyan Putra Pradana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9412.89 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i1.145

Abstract

Di wilayah tropis, jenis awan dapat dibagi  atau dipisahkan menjadi 2 kelompok yakni konvektif dan stratiform.  Pada penelitian ini dilakukan pemisahan dengan menggunakan 3 metode pemisahan yakni Convective Stratiform Technique (CST), Variability Index (VI) dan Window Channel Difference (WCD). Ketiga metode tersebut memanfaatkan data satelit cuaca baik satelit gelombang mikro pasif maupun inframerah sebagai masukan utamanya. Verifikasi menggunakan metode tabel kontingensi dari ketiga metode tersebut dilakukan dengan menggunakan data radar cuaca. Penggunaan data radar cuaca sebagai pembanding didasarkan atas kemampuan data radar yang lebih baik dari satelit dalam mendeteksi kondisi hidrometeor. Penelitian dilakukan di wilayah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta untuk tujuh hari pengamatan yang dilaksanakan pada awal Januari 2010. Selama tujuh hari pengamatan diperoleh 180 titik yang bersesuaian waktu dan posisi antara data satelit dan radar. Berdasarkan hasil verifikasi di 180 titik tersebut diketahui bahwa metode CST adalah metode terbaik untuk  melakukan pemisahan yang selanjutnya diikuti oleh VI dan terakhir WCD. Separation of 2 main groups of tropical rainfall namely convective and stratiform was conducted in this research. There are 3 methods of separation i.e. Convective Stratiform Technique (CST), Variability Index (VI) and Window Channel Difference (WCD). These methods utilized the passive microwave and infrared weather satellite data. Verification using contingency table method of separation results from those methods has also been done in this research to assess the quality of separation. To verify the separation results, the same methods were applied to radar data. Utilization of radar data for verification was considered due to its ability on observing the hydrometeor which is more sensitive than satellite. From seven observation days in early January 2010 there were found 180 points with appropriate position and time among passive microwave satellite, infrared satellite and radar in West Java, Banten and Jakarta area. Based on the verification results at those points, the CST give the best outcome, followed by VI and WCD. 
PENENTUAN NILAI AMBANG VARIABILITY INDEX (VI) SERTA NILAI INTENSITAS CURAH HUJAN OPTIMAL DALAM MELAKUKAN ESTIMASI CURAH HUJAN DI INDONESIA MENGGUNAKAN METODE CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE HASIL MODIFIKASI (CSTm) Endarwin Endarwin; Bayong Tjasyono H. Kasih; Dodo Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9273.302 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i1.141

Abstract

Penentuan nilai ambang dari metode Variability Index (VI) yang digunakan dalam melakukan separasi konvektif dan stratiform serta penentuan nilai intensitas curah hujan optimal baik untuk konvektif maupun stratiform guna menentukan estimasi curah hujan di Indonesia dilakukan pada penelitian ini. Dengan melakukan perubahan terhadap nilai ambang yang telah ada sebelumnya serta pengujian terhadap tingkat akurasi yang dapat diperoleh sebagai dampak dari perubahan tersebut maka nilai ambang baru yang dapat digunakan untuk melakukan separasi konvektif dan stratiform di Indonesia dapat ditentukan. Demikian pula untuk intensitas curah hujan konvektif, dengan mempertimbangkan nilai simpangan rata-rata terkecil terhadap kondisi riilnya dari hasil estimasi curah hujan yang seluruhnya dianggap konvektif, maka nilai optimal dari intensitas curah hujan konvektif di Indonesia dapat diketahui. Dengan memanfaatkan nilai ambang serta nilai intensitas konvektif yang telah ditentukan lebih dahulu, nilai intensitas curah hujan stratiform dapat ditentukan melalui pemanfaatan variasi nilai yang mungkin digunakan  dikaitkan dengan perolehan tingkat akurasi yang dapat diperoleh. Khusus untuk penentuan intensitas curah hujan konvektif dan stratiform, berbagai pendapat para peneliti sebelumnya juga digunakan sebagai dasar pertimbangan. Terakhir, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai optimal yang diperoleh untuk nilai ambang VI adalah 14, adapun intensitas curah hujan konvektif dan stratiform masing-masing adalah 26 mm jam-1 dan 0,8 mm jam-1.  Determination of new Variability Index (VI) threshold and optimal convective and stratiform rain rates were carried out in this research. By making changes to the existing threshold in the rainfall estimation process and in the accuracy test of estimation results, the new threshold value of VI can be determined. Likewise, by considering the smallest value of average deviation against the observation results, the convective rain rate can be determined. Both VI threshold and convective rain rate results could then be utilized for the determination of the stratiform rain rate by acquisitioning  the accuracy value using the possible value of variation rain rate.  Results of previous studies also is taken intoconsideration in determining the convective and stratiform rain rate . Concusively, the results of this research shows that the optimal value of VI is 14, whilst the convective rain rate is 26 mm h-1 and stratiform rain rate  is 0.8 mm h-1. Thus, these results can be used in modification of Convective and Stratiform Technique (CSTm) to estimate the rainfall in Indonesia with better estimation. 
PERBANDINGAN CURAH HUJAN BULANAN DARI DATA PENGAMATAN PERMUKAAN, SATELIT TRMM DAN MODEL PERMUKAAN NOAH Dodo Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v9i1.17

Abstract

Membandingkan  data curah hujan bulanan antara hasil pengamatan di permukaan (OBS) dengan data dari pengukuran melalui satelit TRMM dan hasil keluaran model permukaan NOAH telah dilakukan terhadap beberapa  lokasi yaitu Medan, Indramayu, Karang Ploso dan Makassar. Data yang dibandingkan adalah curah hujan bulanan dari periode 1998 sampai 2007. Hasil perbandingan ini menunjukan bahwa  curah hujan yang diukur melalui satelit  maupun hasil keluaran model NOAH memperlihatkan pola curah hujan bulanan yang sesuai dengan pengamatan  di permukaan. Namun besarannya setiap lokasi yang dianalisa menunjukan adanya variasi perbedaan curah hujan bulanan. Hal ini terlihat melalui korelasi dari ketiga data set tersebut yang tertingi adalah curah hujan observasi dengan satelit TRMM dilokasi Hasanuddin (Makassar), Karang Ploso dan Medan. Di Indramayu korelasi tertinggi adalah antara data model NOAH dengan TRMM. Di Stasiun Hasanuddin, korelasi tinggi selain pasangan data observasi-TRMM juga pada pasangan data model NOAH dengan observasi. Memperhatikan besarnya korelasi, yaitu antara 0.7-0.9 data curah hujan dari TRMM berpotensi untuk digunakan mengisi data-data pengamatan di darat yang  kosong baik secara temporal untuk series data suatu lokasi, maupun mengisi kekosongan spasial untuk suatu wilayah yang kurang memiliki kerapatan pengamatan curah hujan di permukaan.  Comparing monthly rainfall data between the surface observation (OBS) with satellite data (TRMM) measurement and output result of model surface (NOAH) have been conducted to some location that is Medan, Indramayu, Karang Ploso and Hasanuddin (Makassar). The compared data is monthly rainfall of period 1998 until 2007. Result of this comparison shows that measured rainfall by satellite and also output of model show monthly rainfall pattern matching with the surface observation in term of monthly rainfall pattern. However, every analyzed location shows an existence of difference variation of monthly rainfall. This matter seen through correlation from the three data set. The highest correlation is observation rainfall with satellite ordered by location in Hasanuddin (Makassar), Karang Ploso and Medan respectively. In Indramayu the highest correlation is between data model NOAH with TRMM. In Station of Hasanuddin, the high correlation besides data set of observation-TRMM also at data set of model NOAH with observation. Consideingr to the level of correlation, with the range from 0.7-0.9 the rainfall data of TRMM have potency to be used in fill data empty either through temporal for the series of data in a location, and also to fill blankness of spatial data in a region having sparse rain gauge station distribution. 
PENENTUAN PREDIKTOR UNTUK PREDIKSI CURAH HUJAN BULANAN MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL DYNAMICAL DOWNSCALING Dodo Gunawan; Utoyo Ajie Linarka
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.89

Abstract

Pemilihan prediktor terbaik untuk curah hujan di 15 pos pengamatan di Indramayu telah dilakukan menggunakan metode statistical downscaling. Teknik Singular Value Decomposition (SVD) yang diaplikasikan pada metode ini menggunakan data curah hujan bulanan dari GPCP dan CMAP, serta data tekanan udara, precipitable water, tekanan udara permukaan laut, suhu, dan komponen angin zonal luaran NCEP/NCAR reanalisis sebagai input. Dari metode ini diperoleh hasil bahwa  angin zonal adalah prediktor terbaik untuk memprediksi rata-rata curah hujan bulanan di 15 pos pengamatan di Indramayu. Selanjutnya, digunakan data input NCEP/NCAR reanalisis yang telah di-downscale menggunakan CCAM (dynamical downscaling) resolusi ~60 km  untuk wilayah Indonesia. Kombinasi dua metode ini (dynamical dan statistical downscaling) terbukti mampu meningkatkan akurasi prediksi curah hujan bulanan dan menurunkan nilai RMSEP di 15 pos pengamatan tersebut. Selection of best predictor for 15 rain gauge station in Indramayu has been investigated using statistical downscaling method. The Singular Value Decomposition technique is applied using monthly rainfall data from GPCP and CMAP, and air pressure, precipitable water, sealevel air pressure, temperature zonal wind component from NCEP/NCAR reanalysis as an input. From this method is shown that the zonal wind component is the best predictor to predict monthly rainfall at 15 rain gauge observation in Indramayu. Furthermore, the NCEP/NCAR reanalysis downscaled using CCAM (dynamical downscaling, ~60 km resolution) is used as an input for Indonesia region. The combination of these two methods (dynamical dan statistical downscaling) proven the ability to increase monthly rainfall prediction accuracy and to reduce RMSEP values at these 15 raingauge observation site.