Welly Fitria
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH FENOMENA EL NINO 1997 DAN LA NINA 1999 TERHADAP CURAH HUJAN DI BIAK Welly Fitria; Maulana Sunu Pratama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.075 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i2.156

Abstract

Secara umum, telah diketahui bahwa El Nino mengurangi curah hujan dan La Nina menambah curah hujan di wilayah Indonesia tetapi intensitasnya bervariasi tergantung lokasi dan kondisi lokal. Berkaitan dengan hal tersebut di lakukan kajian untuk mengetahui pengaruh El Nino 1997 dan La Nina 1999 terhadap curah hujan di Biak dengan membandingkan penyimpangan jumlah curah hujan dengan normalnya, dan membandingkan anomali curah hujan dengan Indeks Nino 3.4 dan SOI. Selain juga dilakukan analisa korelasi antara Indeks Nino 3.4 dan SOI dengan curah hujan di Biak tahun 1981 – 2010 untuk mengetahui besar kecilnya sumbangan pengaruhnya terhadap variasi jumlah curah hujan di Biak. Hasil analisa menunjukkan bahwa curah hujan di Biak secara umum mengalami penurunan pada tahun 1997 dan mengalami peningkatan pada tahun 1999. Hasil analisa perbandingan variasi anomali curah hujan dengan variasi Indeks Nino dan SOI tahun 1997 dan tahun 1999 menunjukkan peran Osilasi Selatan lebih dominan pada saat El Nino maupun pada saat La Nina. Hasil analisa korelasi Indeks Nino dan SOI menunjukan peran El Nino / La Nina dan Osilasi Selatan cukup kecil dibanding peran faktor lokal. In general, it is known that El Nino reduces rainfall and La Nina increase the rainfall in Indonesia but their intensities vary depending on location and local conditions. Acknowledging this, a study to determine the effect of El Nino 1997 and La Nina 1999 to rainfall in Biak is conducted by comparing deviations with the normal amount of rainfall and the rainfall anomalies with Nino 3.4 index and SOI. As an addition, the correlation between Nino 3.4 index and SOI with rainfall in Biak years 1981 to 2010 is also analyzed to determine the size effect of the contribution of variation in the amount of rainfall in Biak. The analysis results of the data shows that rainfall in Biak has decreased in 1997 and increased in 1999. The comparative analysis result of variations in rainfall anomalies with Nino index and SOI variations in 1997 and 1999 shows that the role of the Southern Oscillation is more dominant during El Nino and La Nina. The analysis result of Nino index and SOI correlation indicates that the role of El Nino / La Nina and the Southern Oscillation is relatively small compared to the role of local factors.
PENGGUNAAN SKEMA KONVEKTIF MODEL CUACA WRF (BETTS MILLER JANJIC, KAIN FRITSCH DAN GRELL 3D ENSEMBLE) (Studi kasus: Surabaya dan Jakarta) Roni Kurniawan; Wido Hanggoro; Rian Anggraeni; Sri Noviati; Welly Fitria; Rahayu S. Sri Sudewi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.812 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.170

Abstract

Pada kajian ini dilakukan evaluasi penggunaan beberapa skema konvektif pada model WRF (Weather Research and Forecasting) untuk prediksi cuaca di wilayah Indonesia. Terdapat tiga skema konvektif yang akan dievaluasi yaitu; skema konvektif cumulus BMJ (Betts Miller Janjic), KF (Kain Fritsch), dan GD (Grell 3D ensemble). Data yang digunakan untuk evaluasi adalah data curah hujan per 3 jam dan data angin per 12 jam (level ketinggian; permukaan, 850, 500, 250 mb) dari hasil pengolahan model WRF dan observasi selama periode bulan Agustus 2011 dan Februari 2012 di stasiun Juanda-Surabaya dan Cengkareng-Jakarta. Hasil verifikasi dari tiga skema konvektif pada model WRF terhadap data observasi menunjukkan bahwa untuk prakiraan curah hujan, penggunaan skema konvektif BMJ lebih baik dari skema KF dan GD, dan untuk prakiraan arah dan kecepatan angin skema BMJ dan GD relatif lebih baik dari skema KF. Berdasarkan analisis hasil verifikasi yang diperoleh, pemilihan skema konvektif cumulus BMJ cenderung lebih baik dari skema konvektif KF dan GD untuk di aplikasikan pada model WRF. In this study, the use of some convective schemes on the model WRF (Weather Research and Forecasting) for weather prediction in the Indonesian region has been evaluated. There are two models evaluated; BMJ cumulus convective scheme (Betts Miller Janjic), KF (Kain Fritsch), and GD (Grell 3D ensemble). The data used in the evaluation are the 3 hourly rainfall data and the 12 hourly wind data (level height; surface, 850, 500, 250mb) from the WRF models and observation processing during August 2011 and February 2012 period at the Juanda-Surabaya and Cengkareng-Jakarta stations. The results of the verification of the three convective schemes in WRF models against observation data indicate that for precipitation forecasts, the application of the BMJ convective scheme is better than the KF and GD schemes, and for direction and wind speed forecast, BMJ and GD schemes are relatively better than the KF scheme. Based on the analysis of the verification results obtained, the selection of the BMJ cumulus convective scheme tends to be better than GD and KF convective scheme to be applied to WRF models.