Jaya Murjaya
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ESTIMASI WAKTU ULANG GEMPABUMI MENGGUNAKAN BESARAN STRESS DROP STATIS DAN STRAIN RATE (Studi kasus : Gempabumi Mentawai 25 Oktober 2010) Jaya Murjaya; P. J. Prih Haryadi; Lilik Hendrajaya; Kirbani Sri Brotopuspito; Subagyo Pramumijoyo
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.808 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.115

Abstract

Usaha untuk menentukan waktu perulangan (τr) gempabumi telah banyak dilakukan dengan berbagai metode, namun sampai saat ini hasilnya masih kurang memuaskan. Pada studi ini penetuan τr dilakukan dengan   menggunakan parameter karakteristik sumber gempabumi.  τr diestimasi dengan menggunakan stress drop statis (∆σ) dari parameter sumber gempabumi dan seismogram. Parameter sumber gempabumi yang digunakan terdiri dari momen seismik (Mo), Slip rata-rata (panjang L dan lebar W) digunakan untuk mengestimasi ∆σ gempabumi Mentawai (Mw 7.7) tanggal 25 Oktober 2010. 6 (enam) lembar seismogram dari stasiun seismik PPI, PSI, KLI, KAPI, AAI dan JAY juga digunakan untuk menduga besaran ∆σ untuk gempabumi tersebut. Menggunakan varian parameter sumber gempabumi pada model circular crack, didapatkan nilai ∆σ sekitar 3,6 bar sampai 28,8 bar, sedangkan pada model dip slip sekitar 9,62 bar sampai 65,86 bar. Apabila digunakan nilai strain rata-rata berorde 10-15 s-1, akumulasi stress dapat diduga sekitar 7076 Pa/tahun. Dengan membandingkan kedua nilai ∆σ yang dilepas oleh gempabumi Mentawai terhadap akumulasi stress, maka nilai τr didapat sekita 75 tahun sampai 930 tahun. A lot of methods is used to determine of earthquake recurrence time (τr) but the result was still unsufficient. τr  can be estimated by using the static stress drop (∆σ) from the earthquake source parameter (ESP) and seismogram. That parameters consist of seismic moment (Mo), Slip rate (length L and width W) is used to estimate of ∆σ of Mentawai earthquake (Mw 7.7) on Oct 25, 2010. Then the six seismograms from PPI, PSI, KLI, KAPI, AAI and JAY was used also to estimate of the ∆σ. Using the variant of ESP above to the circular crack model, the ∆σ was found around 3,6-28,8 bars, for dip slip model around 9,62- 65,86 bars. Then applied strain rate value with order 10-15 s-1, the stress accumulation can be estimated around 7076 Pa yr-1. By comparing the ∆σ values with stress accumulation, the τr is found around 75 yr until 930 yr.
STUDI AWAL PENYUSUNAN SKALA INTENSITAS GEMPABUMI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Muzli Muzli; Masturyono Masturyono; Jaya Murjaya; Mochammad Riyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19016.177 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.440

Abstract

Untuk mengukur dampak gempabumi terhadap infrastruktur dan kondisi lainnya selama ini Indonesia menggunakan skala intensitas gempabumi menurut Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini cukup kompleks dengan dua belas tingkatan dan kondisi bangunan yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat skala tersebut diperkenalkan. Oleh karena itu perlu adanya skala intensitas gempabumi yang lebih sederhana, mudah dipahami dan disesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini di Indonesia dengan tetap mengacu pada nilai parameter ilmiah lainnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menggagas penyusunan skala intensitas gempabumi BMKG (SIG-BMKG) dengan skala I-V. Dengan mempunyai lima skala ini, SIG-BMKG menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat serta tetap mengakomodir keterangan dampak yang ditimbulkan gempabumi dan parameter saintifik lainnya. Perbandingan penggunaaan skala intensitas MMI dan SIG-BMKG terhadap beberapa kasus gempabumi yaitu gempabumi Sorong tanggal 24 September 2015 dengan magnitudo 6,8, Gempabumi Sumbawa Barat tanggal 12 Februari 2016 dengan magnitudo 6,6 dan Gempabumi Painan, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 2016 dengan magnitudo 6,6, menunjukkan bahwa SIG-BMKG dapat diimplementasikan dengan relatif lebih mudah dan akurat dibandingkan dengan skala MMI. In order to measure the impact of a strong earthquake, the intensity scale is normally used. Up to now Indonesia uses the scale of Modified Mercalli Intensity (MMI). The MMI scale is relatively complicated with the twelve levels and the current development of modern building design is not suitable anymore for the scale as it was introduced for the first time. Therefore, it is necessary to have a universal but simple intensity scale, easy to be implemented and suitable for current typical buildings but also reflects the scientific parameters. Indonesia as one of the countries which is very prone of significant or destructive earthquakes, should have a new and more representative intensity scale which is suitable for the typical buildings in Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) proposes the scale of intensity i.e. the Earthquake Intensity Scale of BMKG (SIG-BMKG) with the scales from I to V. With these five scales, SIG-BMKG is much simple and easier to be used but could describe most of typical impacts. The comparison of MMI and SIG-BMKG scales to several cases of significant earthquakes is implemented for the 2015, Mw 6.8 Sorong earthquake, the 2016, Mw 6.6 Sumbawa Barat earthquake and the 2016, Mw 6.6 Painan, West Sumatra earthquake. The results show that the SIG-BMKG scale can be implemented relatively easier with better accuracy than MMI scale.
STUDI AWAL PENYUSUNAN SKALA INTENSITAS GEMPABUMI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Muzli Muzli; Masturyono Masturyono; Jaya Murjaya; Mochammad Riyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.440

Abstract

Untuk mengukur dampak gempabumi terhadap infrastruktur dan kondisi lainnya selama ini Indonesia menggunakan skala intensitas gempabumi menurut Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini cukup kompleks dengan dua belas tingkatan dan kondisi bangunan yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat skala tersebut diperkenalkan. Oleh karena itu perlu adanya skala intensitas gempabumi yang lebih sederhana, mudah dipahami dan disesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini di Indonesia dengan tetap mengacu pada nilai parameter ilmiah lainnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menggagas penyusunan skala intensitas gempabumi BMKG (SIG-BMKG) dengan skala I-V. Dengan mempunyai lima skala ini, SIG-BMKG menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat serta tetap mengakomodir keterangan dampak yang ditimbulkan gempabumi dan parameter saintifik lainnya. Perbandingan penggunaaan skala intensitas MMI dan SIG-BMKG terhadap beberapa kasus gempabumi yaitu gempabumi Sorong tanggal 24 September 2015 dengan magnitudo 6,8, Gempabumi Sumbawa Barat tanggal 12 Februari 2016 dengan magnitudo 6,6 dan Gempabumi Painan, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 2016 dengan magnitudo 6,6, menunjukkan bahwa SIG-BMKG dapat diimplementasikan dengan relatif lebih mudah dan akurat dibandingkan dengan skala MMI. In order to measure the impact of a strong earthquake, the intensity scale is normally used. Up to now Indonesia uses the scale of Modified Mercalli Intensity (MMI). The MMI scale is relatively complicated with the twelve levels and the current development of modern building design is not suitable anymore for the scale as it was introduced for the first time. Therefore, it is necessary to have a universal but simple intensity scale, easy to be implemented and suitable for current typical buildings but also reflects the scientific parameters. Indonesia as one of the countries which is very prone of significant or destructive earthquakes, should have a new and more representative intensity scale which is suitable for the typical buildings in Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) proposes the scale of intensity i.e. the Earthquake Intensity Scale of BMKG (SIG-BMKG) with the scales from I to V. With these five scales, SIG-BMKG is much simple and easier to be used but could describe most of typical impacts. The comparison of MMI and SIG-BMKG scales to several cases of significant earthquakes is implemented for the 2015, Mw 6.8 Sorong earthquake, the 2016, Mw 6.6 Sumbawa Barat earthquake and the 2016, Mw 6.6 Painan, West Sumatra earthquake. The results show that the SIG-BMKG scale can be implemented relatively easier with better accuracy than MMI scale.