Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH GENDER, TEKANAN KETAATAN, TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN PENGALAMAN AUDIT TERHADAP AUDIT JUDGMENT Rosadi, Riza Anggraeni; Waluyo, Indarto
Nominal: Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen Vol. 6 No. 1 (2017): Nominal April 2017
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.416 KB) | DOI: 10.21831/nominal.v6i1.14337

Abstract

Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, Tekanan Anggaran Waktu dan Pengalaman Audit Terhadap Audit Judgment. Penelitian ini dilakukan di Kantor BPK Perwakilan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh Gender terhadap Audit Judgment auditor; (2) pengaruh Tekanan Ketaatan terhadap Audit Judgment auditor; (3) pengaruh Tekanan Anggaran Waktu terhadap Audit Judgment auditor; (4) pengaruh Pengalaman Audit terhadap Audit Judgment auditor; (5) pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, Tekanan Anggaran Waktu dan Pengalaman Audit secara simultan terhadap Audit Judgment auditor. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji coba instrumen menggunakan metode uji coba sampel terpakai. Uji asumsi klasik menggunakan uji normalitas, uji linearitas, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinearitas. Uji hipotesis menggunakan analisis regresi sederhana dan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil penelitian: (1) Tidak terdapat pengaruh Gender terhadap Audit Judgment auditor. (2) Terdapat pengaruh Tekanan Ketaatan terhadap Audit Judgment auditor. (3) Terdapat pengaruh Tekanan Anggaran Waktu terhadap Audit Judgment auditor. (4) Terdapat pengaruh Pengalaman Audit terhadap Audit Judgment auditor. (5) Terdapat pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, Tekanan Anggaran Waktu dan Pengalaman Audit secara simultan terhadap Audit Judgment auditor. Kata kunci: Gender, Tekanan Ketaatan, Tekanan Anggaran Waktu, Pengalaman Audit, Audit Judgment
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, OPINI AUDIT, DAN UMUR PERUSAHAAN TERHADAP AUDIT DELAY (Studi Empiris pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2012-2014) Amani, Fauziyah Althaf; Waluyo, Indarto
Nominal: Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen Vol. 5 No. 1 (2016): Nominal April 2016
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.222 KB) | DOI: 10.21831/nominal.v5i1.11482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Opini Audit, dan Umur Perusahaan terhadap Audit Delay pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif dengan pendekatan ex post facto. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 41 perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linier sederhana, dan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa (1) Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay, hal ini dibuktikan dengan koefisien regresi=-3,118, nilai signifikansi t sebesar 0,010 < 0,05. (2) Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay, hal ini dibuktikan dengan koefisien regresi=-22,386, nilai signifikansi t sebesar 0,026 < 0,05. (3) Opini Audit berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay, hal ini dibuktikan dengan koefisien regresi=3,407, nilai signifikansi t sebesar 0,013 < 0,05. (4) Umur Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Audit Delay, hal ini dibuktikan dengan koefisien regresi=-0,231, nilai signifikansi t sebesar 0,030 < 0,05. (5) Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Opini Audit, dan Umur Perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap Audit Delay, hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,002 < 0,05. Besarnya pengaruh secara simultan ditunjukkan dengan nilai R square sebesar 12,9%. Kata kunci: Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Opini Audit, Umur Perusahaan, Audit Delay
PENGARUH MOTIVASI DAN PENGETAHUAN UU NO.5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI MENGIKUTI PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk) Kusumastuti, Rita; Waluyo, Indarto
Nominal: Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen Vol. 2 No. 2 (2013): Nominal September 2013
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.624 KB) | DOI: 10.21831/nominal.v2i2.1662

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Motivasi dan Pengetahuan Undang-Undang No.5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi. Pemilihan sampel menggunakan metode proportionate stratified sampling. Jumlah sampel penelitian sebanyak 102 sampel. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji linieritas dan uji heteroskedastisitas. Analisis data untuk menguji hipotesis adalah dengan menggunakan teknik analisis regresi sederhana dan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Motivasi Karir berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, dibuktikan thitung 5,289 > ttabel 1,984 (2) Motivasi Mengikuti USAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, dibuktikan thitung 4,528 > ttabel 1,984 (3) Motivasi Kualitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, thitung 5,287 > ttabel 1,984 (4) Motivasi Ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, dibuktikan thitung 4,544 > ttabel 1,984 (5) Pengetahuan UU.No.5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, dibuktikan thitung 2,417 > ttabel 1,984 (6) Motivasi Karir, Motivasi Mengikuti USAP, Motivasi Kualitas, Motivasi Ekonomi, Pengetahuan Undang-Undang No.5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik berpengaruh positif terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Mengikuti PPAk, dibuktikan Fhitung sebesar 9,907 > Ftabel sebesar 2,309. Kata Kunci: Motivasi, Pengetahuan Undang-Undang No.5 Tahun 2011, Minat Mengikuti PPAk
Penilaian Kinerja Perusahaan Melalui Pendekatan "Economic Value Added" Suatu Paradigma Baru Indarto Waluyo
Informasi Vol 29, No 1 (2003): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3072.446 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6974

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Jakarta menunjukkan angka yang cukup berarti bila dibanding dengan tahun tahun sebelumnya, ini menunjukkan bahwa pasar modal mempunyai daya tarik tersendiri bag; para investor dewasa ini. Dengan semakin maraknya investor "bermain" di pasar modal, tentunya kompetisi menjadi semakin tajam, dengan semakin tajamnya kompetisi maka diperlukan alat yang lebih akurat dalam mengevaluasi tingkat hasil yang akan diperoleh. Sampat dengan tahun 90-an, alat yang digunakan oleh para investor dalam menilai "kelayakan" investasi mereka adalah ROI (return on investment) dan Rl (residual income). . Tetapi dalam kenyataannya alat penilai ini ban yak mengalami bias. Karena hasil analisanya bias maka mengakibatkan keputusan yang diambil oleh para investor mengalami distorsi. Berdasar pengalaman tersebut maka akhir-akhir ini muncul alat penilai investasi baru yang merupakan penyempurnaan dari alat ukur sebelumnya, yakni yang dikenal dengan nama EVA (Economic Value J4dded). Keistimewaan alat ini adalah tidak hanya semata-mata [nett "dewa "kan laba secara akuntansi, sebab perusahaan yang meraih un tung secara akuntansi belum tentu memberikan keuntungan bagi pemiliknya atau para pemegang sahamnya. Disamping itu alat penilai ini btsa juga digunakan oleh para komisaris untuk menentukan berapa kompensasi yang akan diberikan kepada manajemen atas kinerjanya selama ini,
Akankah Pemerintah Daerah Bangkrut karena Kenaikan Gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah? Indarto Waluyo
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 1, Februari 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2696.51 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v11i1.3985

Abstract

Pegawai Negeri Sipil (PNS) mempunyai tiga peran dalam kehidupan bernegara. Peran tersebut adalah PNS sebagai Abdi Negara, Abdi Masyarakat, serta Abdi Pemerintah, Sebagai imbal jasanya, pemerintah memberikan gaji dan tunjangan kepada PNS yang dibayarkan setiap bulan. Dewasa ini, jumlah PNS di daerah dan besaran gaji yang semakin bertambah menjadi beban tersendiri bagi daerah. Belanja gaji pegawai yang dianggarkan dari dana alokasi umum (DAU) juga semakin bertambah porsinya. Di beberapa daerah porsi belanja pegawai mencapai lebih dari 70% dari APBD-nya. Bila hal tersebut dibiarkan, maka dikhawatirkan beberapa pemerintah daerah lama kelamaan akan mengalami kebangkrutan, karena APBD habis hanya untuk membayar gaji pegawai. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab adalah 1) Meningkatnya jumlah dan besaran gaji pegawai, 2) Kebebasan pemberian tunjangan pegawai, 3) Formula penghitungan DAU yang tidak mendorong efisiensi, 4) Sistem Rekrutrnen PNS di daerah, 5) Tidak Adanya Rasio Ideal Jumlah Pegawai, 6) Pernekaran Wilayah. Untuk itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan riil dari pemerintah. Reformasi birokrasi dipandang sebagai langkah penting untuk mengatasinya. Reformasi birokrasi meliputi ; 1) Moratorim PNS di daerah, 2) Revisi formula penghitungan DAU, 3) Peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Desentralisasi Fiskal sebagai Bentuk PErtimbangan Keuangan Pemerintah Pusat Kepada Daerah Indarto Waluyo
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume IX, Februari 2009
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6563.427 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v9i1.3943

Abstract

Refoimasi yang terjadi di era tahun 90 an mendorong keinginan pemberian wewenang yang lebih luas dari pemerintah pusat kepada daerah untuk mengelola keuangannya sendiri. Laporan bank dunia tahun 1999 mengemukakan bahwa terjadi gerakan-gerakan lokalisasi di sejumlah Negara. Lokalisasi yang mencerminkan hasrat lebih besar dari penduduk setempat untuk lebih banyak turut bersuara dalam pemerintahan, mewujudkannya dalam bentuk tuntutan akan identitas daerah. Hal ini mendorong pemerintah nasional untuk memberikan desentralisasi yang lebih luas kepada pemerintah daerah dan kota sebagai cara yang terbaik untuk mengatur dan menangani perubahan-perubahan yang mempengaruhi politik domestik dan pola pertumbuhan. Pemerintah Indonesia merespon dengan mengeluarkan separangkat paket kebijakan reformasi dalam bidang keuangan daerah, dimulai dari dikeluarikannya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian disempumakan dalam UU No. 32.2004 dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat Dan Daerah yang kemudian disempurnakan dalam UU No. 33/2004. Dengan diberlakukannnya paket kebijakan pemerintah tersebut, anggaran yang dikelola oleh pemerintah pusat mengalami penurunan yang cukup signifikan (29,8%) dan pada saat yang sama anggaran yang dikelola oleh daerah naik 25,2%. Dengan adanya hal tersebut diharapkan agar masyarakat dapat menikmati fasilitas publik dalam jumlah dan kualitas yang sama dan berimbang dengan cara pedesentralisasian urusan disertai dengan pendesentralisasian pembiayaan. Selain itu, pemerintah daerah secara demokratis dapat menentukan dan mengatur sendiri berbagai pelayanan dari kebutuhannya tanpa intervensi yang dalam dari pusat.
MENYIKAPI BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DAN BADAN USAHA MILIK DAERAH (BUMD) YANG KURANG SEHAT Indarto Waluyo
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol 3, No 1 (2004): Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.072 KB) | DOI: 10.21831/jpai.v3i1.834

Abstract

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai salah satu dari tiga pilar penggerak ekonomi negara dalam kenyataannya sering dijumpai belum beroperasi seperti yang diharapkan. Masih sering ditemui di pusat maupun di daerah, perusahaan milik negara tersebut dalam kondisi merugi, meskipun banyak pula yang menunjukkan performance cukup sehat. Pertanyaan yang muncul adalah apakah dengan kondisi merugi tersebut BUMN BUMD harus dilikuidasi ? Keberadaan BUMN BUMD  tidak bisa lepas dari dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama melihat BUMN BUMD sebagai bussiness entity, dan yang kedua memandang sebagai public service. Sebagai bussiness entity BUMN BUMD merupakan profit getter, sehingga kinerjanya diukur dari seberapa jauh perusahaan tersebut mampu mencetak laba, semakin tinggi laba yang diperoleh akan semakin baik pula kinerjanya, demikian pula sebaliknya. Sudut pandang kedua lebih menekankan pada sisi pelayanan kepada publik yang merupakan salah satu tugas negara kepada rakyatnya, seperti disebutlkan dalam PP No: 3/1983, dengan tidak semata-mata mencari keuntungan. Beban tetap depresiasi sebagai salah satu komponen penentu laba/rugi perusahaan, dapat dijadikan dasar untuk menentukan ditutup tidaknya BUMN BUMD yang merugi. Bila kerugian per tahun lebih kecil dari  beban tetap depresiasi per tahun, maka perusahaan masih bisa beroperasi namun tidak bisa mengganti aktiva tetapnya dengan yang baru. Bila kerugian per tahun lebih besar dari  beban tetap depresiasi per tahun, maka perusahaan tersebut harus ditutup atau dijual atau dimasukkan bagian dari departemen/dinas (bukan sebagai bussiness entity). Dengan demikian, pemerintah dalam hal ini sebagai pemegang saham BUMN BUMD bisa mengambil langkah – langkah yang bijaksana dalam menyikapi kondisi tersebut. Kata kunci : BUMN BUMD; Aspek sosial Aspek ekonomi; Beban tetap depresiasi.
Badan Layanan Umum Sebuah Pola Baru Dalam Pengelolaan Keuangan Di Satuan Kerja Pemerintah Indarto Waluyo
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.09 KB) | DOI: 10.21831/jpai.v9i2.962

Abstract

Dalam dekade terakhir reformasi keuangan negara telah memasuki babak baru, salah satuagendanya adalah adanya pergeseran dari pengganggaran tradisional menjadipengganggaran berbasis kinerja. Dengan berbasis kinerja ini, arah anggaran (penggunaandana pemerintah) tidak lagi berorientasi pada input, tetapi lebih pada output. Perubahan inimerupakan momentum yang penting dalam rangka proses pembelajaran untuk menggunakansumber daya pemerintah yang lebih efektif, efisien dan produktif, tetapi tetap dapatmemenuhi kebutuhan dana yang makin tinggi seiring dengan keterbatasan sumber dana yangada. Penganggaran yang berorientasi pada output merupakan praktik yang telah dianut luasoleh pemerintahan modern di berbagai belahan negara Eropa dan Amerika. Pendekatanpenganggaran yang demikian sangat diperlukan bagi satuan kerja instansi pemerintah(satker yang memberikan pelayanan kepada publik. Salah satu alternatif untuk mendorongpeningkatan pelayanan publik adalah dengan mewiraswastakan pemerintah.Mewiraswastakan pemerintah (enterprising the government) adalah paradigma yangmemberi arah yang tepat bagi pengelolaan keuangan sektor publik, seperti yangdiamanatkan dalam undang-undang nomer 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.Dengan dikeluarkannya undang-undang nomer 1 tahun 2004 tentang PerbendaharaanNegara membuka celah baru bagi penerapan anggaran berbasis kinerja di lingkunganinstansi pemerintah. Dalam undang-undang tersebut, instansi pemerintah yang tugas pokokdan fungsinya (tupoksi) memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat menerapkanpengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, danefektivitas.Satuan kerja baru tersebut bernama Badan Layanan Umum (BLU).Untuk dapat menjadi Badan Layanan Umum, suatu instansi pemerintah harus memenuhi tigapersyaratan pokok, yaitu persyaratan substantif, yang terkait dengan penyelanggaraanlayanan umum, persyaratan teknis yang terkait dengan kinerja pelayanan dan kinerjakeuangan, serta persyaratan administratif terkait dengan terpenuhinya dokumen seperti polatata kelola, rencana strategis bisnis, standar layanan minimal, laporan keuangan pokok, danlaporan audit / bersedia untuk diaudit.Kata kunci : Badan Layanan Umum, Pola Baru Pengelolaan Keuangan Instansi Pemerintah.
Dampak RUU Akuntan Publik Terhadap Pengembangan Profesi Akuntan Publik Di Indonesia Indarto Waluyo
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpai.v8i2.950

Abstract

Profesi Akuntan Publik merupakan suatu profesi yang jasa utamanya adalah jasaassuran dan hasil pekerjaannya digunakan secara luas oleh publik sebagai salah satupertimbangan penting dalam pengambilan keputusan ekonomis. Dengan demikian, profesiAkuntan Publik memiliki peranan yang sangat besar dalam mendukung terwujudnyaperekonomian yang sehat, efisien dan transparan. Untuk melindungi kepentingan masyarakatdan sekaligus melindungi profesi Akuntan Publik, maka diperlukan suatu undang-undangyang mengatur praktik profesi Akuntan Publik. Pengaturan mengenai praktik profesi AkuntanPublik dalam Undang-Undang Nomor 34 tahun 1954 tidak sesuai lagi dengan perkembanganyang ada saat ini. Oleh karena itu disusunlah Rencana Undang-Undang baru tentang PraktikAkuntan Publik yang mengatur berbagai hal mendasar dalam praktik profesi Akuntan Publik.Dalam penyusunan Rancangan Undang Undang baru tersebut ada beberapa hal yangkrusial yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pengembangan profesi AkuntanPublik di Indonesia. Hal tersebut adalah ; 1) Sanksi pidana bagi Akuntan Publik, 2) PerijinanAkuntan Publik Asing, 3) Persyaratan Akuntan Publik.Ketiga hal tersebut mendapat reaksi keras dari kalangan profesi maupun akademisi.Pertama, sanksi pidana dikhawatirkan akan semakin mengurangi minat generasi muda untukterjun menjadi Akuntan publik yang saat ini sudah sangat rendah, sanksi administratif kiranyasudah cukup memadai. Kedua, perijinan Akuntan Publik Asing yang dirasa begitu mudah,akan menggusur keberadaan Akuntan Publik lokal. Hal ini dimungkinkan karena jumlahAkuntan Publik di beberapa negara ASEAN sangat banyak, sehingga meraka akanmelakukan ekspansi ke Indonesia, disamping itu adanya potensi ancaman terhadapkepentingan keamanan negara ketika Akuntan Publik Asing tersebut memeriksa industristrategis negara. Ketiga, persayaratan untuk menjadi Akuntan Publik begitu mudah, karenatidak mensyaratkan harus dari jurusan akuntansi, hal ini menjadi preseden buruk bagipengembangan jurusan akuntansi di Indonesia’Kata kunci : RUU Akuntan Publik, Pengembangan Profesi Akuntan Publik
Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Pos-pos Neraca dan Ketrampilan Menyusun Laporan Keuangan Melalui Penerapan Metode Pemberian Tugas Moh. Sochih; Rr. Indah Mustikawati; Indarto Waluyo
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol 5, No 2 (2006): Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.264 KB) | DOI: 10.21831/jpai.v5i2.1783

Abstract

This research is aimed to improve the comprehension of real account concept and the presentation of that account in the right way by giving some assignments to the students. This research uses a class action research method which takes 2 cycles. Every cycle includes 4 steps. The steps are planning, implementation, observation and evaluation, and reflection. The result of first step is instructional design which is arranged based on the result of observation, interview and questionnaire. The learning method used by the lecturer is recitation method. The result shows that the implementation of recitation method can improve the comprehension of real account concept and the presentation of that account in the right way by giving assignments to the students. Students say that they are not serious when they do the assignments. But, the lecturers say that the assignments will determine the final score. It makes students do more serious. Students spent their time to read the financial accounting books and study in the study group. It’s better if there are some equipment which help the learning process held more effective and some activities outside class.