Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penjatuhan Sanksi Pidana Maksimum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perkosaan Dihubungkan Dengan Pemenuhan Keadilan Korban Rorian Ilham Akbar; Zulkarnain Koto; Santrawan Paparang
Jurnal Penelitian Hukum Legalitas Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31479/jphl.v14i2.217

Abstract

ABSTRAKArticle 285 of the Criminal Code states that anyone with violence and threats of violence forces a woman to have sex with him outside of marriage, is threatened with rape with a maximum imprisonment of twelve years. If you look at the written sanctions formulation, the maximum sentence for the crime of rape is twelve years. However, in reality, judges rarely impose maximum criminal sanctions in society as stated in these provisions. In addition, when viewed from the perspective of creating justice for victims of maximum criminal sanctions, it has not touched the recovery of losses and suffering experienced by rape victims. This research is a normative juridical research but is also supported by empirical data so that what is studied is data originating from the literature and court decisions. The results of the study indicate that the imposition of maximum criminal sanctions on perpetrators of the crime of rape as regulated in the Criminal Code has not been implemented properly, this is because in practice law enforcement officers including the panel of judges who should be the mouthpiece of justice have not been able to provide maximum sanctions. to the perpetrator, in imposing criminal sanctions the judge tends to ignore the condition of the victim who is traumatized and depressed. This provides clear evidence that there is still a lack of guarantees for legal protection for victims of sexual violence and rape in criminal justice in Indonesia.Pasal 285 KUHP menyatakan barang siapa dengan kekerasan dan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Jika melihat formulasi sanski yang ditertulis maka pidana maksimum bagi tindak pidana perkosaan adalah dua belas tahun. Namum dalam kenyataannya di dalam masyarakat Hakim jarang menjatuhkan sanksi pidana maksimal seperti yang tercantum di dalam ketentuan tersebut. Selain itu apabila ditinjau dari terciptanya keadilan bagi korban sanksi pidana maksimum belumlah menyentuh pemulihan kerugian dan penderitaan yang dialami oleh korban perkosaan. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif namun juga didukung dengan data empiris sehingga yang diteliti adalah data yang berasal dari kepustakaan dan putusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjatuhan sanksi pidana maksimum terhadap pelaku tindak pidana perkosaan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Pidana belum terimplementasi dengan baik, hal tersebut dikarenakan dalam prakteknya aparat penegak hukum termasuk didalamnya majelis hakim yang seharusnya menjadi corong keadilan ternyata belum mampu memberikan sanksi yang maksimal kepada pelaku, dalam penjatuhan sanksi pidana hakim cenderung mengabaikan kondisi korban yang mengalami trauma dan depresi. Hal tersebut memberikan bukti nyata bahwa masih minimnya jaminan perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual perkosaan dalam peradilan pidana di Indonesia.
Rekonstruksi Pembuktian Tindak Pidana Perjudian Media Online dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia Abdul Tatuh Sowakil; Santrawan Paparang; Hedwig Adianto Mau
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 9 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i9.171

Abstract

Di Indonesia, judi online merupakan bentuk kejahatan di bidang teknologi informasi yang dapat dikenakan berupa sanksi berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik. Instrumen untuk menggali proses pembuktiannya dilakukan secara digitalĀ  forensik sebab pembuktian dalam dunia maya memiliki karakteristik sendiri. Pencarian bukti digital pelaku perjudian secara online memerlukan prosedur digital forensik yang diakui secara hukum nasional maupun internasional. Untuk menelusuri kembali bukti digital yang sudah hilang dan bahkan mampu mengembalikan digital forensik sangat diperlukan dengan mengamankan barang bukti, rekonstruksi kejahatan dan memastikan bahwa bukti yang dikumpulkan akan berguna di persidangan. Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang dilakukan terhadap peraturan-peraturan, undang-undang dan kepustakaan hukum serta doktrin yang berkaitan dengan objek penelitian tentang Rekonstruksi Pembuktian Tindak Pidana Perjudian Media Online Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Pembuktian permainan perjudian online di pengadilan secara eletronik dan bukti eletronik tersebut dijadikan alat bukti dalam persidangan dibutuhkan standar agar dapat dianggap sah dan asli tidak ada perubahan ataupun rekayasa maka Digital Forensik diperlukan untuk penugumpulan bukti berbasis digital dan eletronik, validasi bukti eletronik dan validasi terrsebut memilah apa saja yang digunakan dan dapat dipertanggungjawabkan keasiliannya. Validasi tersebut harus memenuhi syarat formil dan materiil serta syarat-syarat alat bukti asli dan untuk digunakan di persidangan yang dapat menyakinkan hakim dalam persidangan. Kedapan, diharapkan pemerintah membuat ketentuan atau peraturan khusus mengatur tentang rekonstruksi dalam perkara tindak pidana judi online sehingga publik dapat memahami dan mengetahui secara jelas terkait dengan tatacara rekonstruksi tindak pidana khususnya judi online atau tindak pidana yang berbasis eletronik. Pemerintah dan penegak hukum, kedepan lebih fokus untuk memberantas tindak pidana judi online dan melakukan pemblokiran situs-situs yang berkaitan dengan judi online dan menunjung tinggi nilai-nilai yang ada dalam hukum Indonesia.