Maria Manungkalit
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Lama Menderita Ulkus Diabetik Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Ulkus Diabetikum Maria Manungkalit
Adi Husada Nursing Journal Vol 6 No 1 (2020): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v6i1.162

Abstract

Komplikasi kronik yang berkaitan dengan adanya kerusakan pada syaraf dan atau penyakit akibat kerusakan pembuluh darah tepi terutama pada bagian ektremitas bawah yang biasa diderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah ulkus diabetikum yang menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan bagian dalam atau kematian jaringan baik dengan ataupun tanpa infeksi. Durasi Ulkus (DU) dalam pengobatan dan perawatannya membutuhan banyak waktu. Dampak dari ulkus diabetikum bisa mempengaruhi kualitas hidup (KH) bagi penderitanya. Maksud dalam penulisan riset ini yaitu ingin menganalisis hubungan DU dan KH pada penyandang DMT2 dengan ulkus diabetikum (DMT2UD). Rancangan dalam riset ini yakni cross sectional. Populasi adalah semua penyandang DMT2UD yang rawat jalan di salah satu klinik rumah luka di Surabaya pada bulan April-Juni 2018 sejumlah 40 orang. Sampel diperoleh menggunakan teknik total sampling. Variabel bebas yaitu DU dan variabel terikat yaitu KH. Instrumen yang dipakai adalah WHOQOL-BREF. Data dianalisa memakai uji korelasiSpearman’s Rho (α<0,05). Mayoritas DU telah diderita selama 1-<8 bulan, dan mayoritas penyandang DMT2UD memiliki KH sedang. Tidak ada hubungan yang signifikan antara DU dan KH pada penyandang DMT2UD (p=0.496). Tidak ditemukannya hubungan antar variabel dalam penelitian ini potensial akibat DU mayoritas berdurasi pendek yaitu dalam rentang 1-<8 bulan sehingga data menjadi kurang variatif jika dibandingkan dengan data pada KH yang lebih variatif pada kurun waktu yang sama. Kata kunci: Durasi ulkus, Kualitas hidup, Ulkus diabetikum, Diabetes mellitus tipe 2.
Perubahan Citra Tubuh dan Daya Tarik Seksual Pasca Kanker Ginekologi: Perspektif Seorang Wanita Ni Putu Wulan Purnama Sari; Maria Manungkalit
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v4i9.7109

Abstract

ABSTRACT Body image is one component of self-concept that forms individual perceptions of sexual attractiveness. Women with gynecologic cancer experience many physical changes from the diagnosis to therapy period. Therefore, they may experience changes in their perception of body image and sexual attractiveness. This study aims to explore changes in body image impacting sexual attractiveness after gynecological cancer diagnosis from women’s perspective. This qualitative study used a phenomenological design. The population was all women with gynecological cancer in the working area of the Pacar Keling Health Center, Surabaya. Informants were selected by purposive sampling (n=12). Instruments were interview guide, observation sheet, and voice recorder. Data analysis used thematic analysis with a nine-step approach of Collaizi method. The results validity was obtained through data triangulation to informants, researcher’s experience, and literature review. The majority was elderly with sufficient education, married, and live with their husbands. Breast cancer was the main cases. Pain was the most complained by informants. Most of them had undergone trimodality of cancer therapy. Physical changes occured include cancer wounds, post-op wounds, various physical symptoms of cancer, fatigue, gastrointestinal symptoms, hair loss, darkening of the skin, and pain. All of these changes may trigger negative and positive emotions. Informants stated that their body image did not change significantly, so there was no change in perception of sexual attractiveness after cancer. In general, there is no change in post-cancer body image triggered by gynecological cancer-related physical changes, so that there is no change in perception of sexual attractiveness in women with gynecologic cancer. Keywords: Body Image, Gynecological Cancer, Physical Changes, Sexual Attractiveness, Women’s Perspective ABSTRAK Citra tubuh merupakan salah satu komponen dari konsep diri yang membentuk persepsi individu terhadap daya tarik seksualnya. Wanita penderita kanker ginekologi mengalami banyak perubahan fisik sejak didiagnosis hingga masa terapi sehingga berpotensi mengalami perubahan persepsi terhadap citra tubuh dan daya tarik seksualnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan citra tubuh yang berdampak pada daya tarik seksual pasca diagnosis kanker ginekologi dari sudut pandang wanita penderita kanker. Penelitian kualitatif ini menggunakan desain fenomenologi. Populasi adalah semua wanita penderita kanker ginekologi di wilayah kerja Puskesmas Pacar Keling, Surabaya. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling (n=12). Instrumen meliputi pedoman wawancara, lembar observasi, dan alat perekam suara. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan pendekatan sembilan tahap metode Collaizi. Validitas hasil penelitian diperoleh melalui triangulasi data kepada informan, pengalaman peneliti, dan telaah pustaka.  Mayoritas informan berusia lanjut dengan pendidikan yang cukup, berstatus menikah dan tinggal serumah dengan suaminya. Penyakit yang diderita mayoritas kanker payudara dengan keluhan utama nyeri dan sudah menjalani trimodalitas terapi kanker. Perubahan fisik yang terjadi meliputi luka kanker, luka post-op, gejala fisik kanker yang bervariasi, fatigue, gejala gastrointestinal, rambut rontok, kulit menghitam, dan rasa nyeri. Semua hal itu dapat memicu timbulnya emosi negatif maupun positif. Informan menyatakan citra tubuh tidak berubah secara signifikan, sehingga tidak terjadi perubahan persepsi terhadap daya tarik seksual pasca kanker. Secara umum, tidak terjadi perubahan citra tubuh pasca kanker yang dipicu oleh perubahan fisik sehingga tidak terjadi perubahan persepsi terhadap daya tarik seksual wanita penderita kanker ginekologi. Kata Kunci: Citra Tubuh, Daya Tarik Seksual, Kanker Ginekologi, Perspektif Wanita, Perubahan Fisik
Tingkat Kebahagian dengan Kualitas Hidup Pada Lansia yang Tinggal di Panti Werdha Jambangan Surabaya Maria Manungkalit; Ni Putu Wulan Purnama Sari
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v4i9.7145

Abstract

ABSTRACT Happiness in old age is slightly lower than happiness in youth regardless of the setting in which the elderly live, in the community or in a nursing home. Happiness contains the aspects of positive emotions and life satisfaction that contribute to the quality of an individual's life. This study aimed to analyze the correlation between the level of happiness and the quality of life in Panti Werdha. This study used a cross-sectional design. The population was all elderly who live in a nursing home of Jambangan Surabaya. Total sampling was applied in this study. The sample size was 150 elderly. The independent variable was the level of happiness as measured by the OHQ instrument, while the dependent variable was the quality of life as measured by the OPQOL instrument. The statistical test used was the Spearman Rank correlation test (α<0.05). Resulit 49.4% of respondents are elderly (75-90 years old), 52% of respondents are male, education level is 69.46%, 51.4% of respondents are widows/widowers and most of them have closeness to their children as much as 54, 35%. 38% of respondents have a history of working as private employees. Most of them have a moderate level of happiness (47.3%) but their quality of life was high (68.7%). There was a sufficient and significant correlation between the level of happiness and the quality of life in panti werdha (Rho = 0.456; p = 0.000). There is a strong and significant relationship between the level of happiness and the quality of life in the elderly living in panti werdha.  Keywords: Elderly, Happiness, Nursing Home, Quality Of Life ABSTRAK Kebahagiaan di masa tua memang sedikit lebih rendah dari kebahagiaan di masa muda terlepas dari di setting mana lansia itu tinggal, di komunitas atau di panti werdha. Di dalam kebahagiaan ada aspek emosi positif dan kepuasan hidup yang berkontribusi terhadap kualitas hidup individu. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat kebahagiaan dengan kualitas hidup pada lansia yang tinggal di panti werdha. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh lansia yang tinggal di panti werdha Jambangan di Surabaya. Total sampling diterapkan dalam penelitian ini. Besar sampel 150 orang. Variabel independen adalah tingkat kebahagiaan yang diukur dengan instrumen OHQ, sedangkan variabel dependen adalah kualitas hidup yang diukur dengan instrumen OPQOL. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Rank Spearman (α<0,05). Hasil 49,4% responden adalah lansia usia tua (75-90 tahun), 52% responden adalah laki-laki, tingkat pendidikan sebanyak 69,46%, 51,4% responden adalah janda/duda dan kebanyakan memiliki kedekatan dengan anaknya sebanyak 54,35%. 38% responden memiliki riwayat pekerjaan sebagai pegawai swasta. Sebagian besar memiliki tingkat kebahagiaan yang sedang (47,3%) namun kualitas hidupnya tinggi (68,7%). Ada hubungan yang cukup kuat dan signifikan antara tingkat kebahagiaan dengan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti werdha (Rho=0,456; p=0,000). Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara tingkat kebahagiaan dengan kualitas hidup pada lansia yang tinggal dipanti. Kata Kunci: Bahagia, Kualitas Hidup, Lansia, Panti Werdha 
Lingkungan di Panti Werdha Yang Mendukung Kualitas Tidur Baik Pada Lanjut Usia Ninda Ayu Prabasari; Maria Manungkalit; Cormutia Jesica Radjawane
JURNAL NERS LENTERA Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : JURNAL NERS LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sleep needs at each stage are different. When you get older, there are changes in sleep patterns that cause the sleep quality of the elderly to change. One of the changes that occur is due to individual environmental factors. The purpose of this study was to describe the nursing home environment that supports good sleep quality in the elderly. The research method is descriptive research design. The study population was all elderly people aged > 60 years at the Surya Panti Surya Surabaya's Elderly House. The research sample amounted to 45 respondents with purposive sampling technique. The variables of this study were the nursing home environment and sleep quality. Sleep quality was measured by the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire, and the environment was given a questionnaire and observation sheets. The results of this study showed that 45 respondents (100%) had good sleep quality with the majority of respondents choosing a bright light parlor environment as many as 16 respondents (36%) with a normal room temperature as many as 29 respondents (65%), no noise level as many as 30 respondents (67%). The elderly who live in orphanages have different habits of room environmental conditions (light and temperature) when the elderly sleep and the elderly already have good adaptation to the environment so that the quality of sleep can be maintained properly.
Nilai Ankle Brachial Index (ABI) dan Kadar Gula Darah Puasa (GDP) Pada Lanjut Usia Dengan Penyakit Kronis Ninda Ayu Prabasari; Maria Manungkalit; Tiurma Dian Pramesti Putri
JURNAL NERS LENTERA Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : JURNAL NERS LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambahan usia mengakibatkan perubahan sistem kardiovaskuler dan endokrin pada lanjut usia. Hipertensi dan diabetes mellitus sering terjadi pada lanjut usia dan merupakan penyakit kronis. Ketidakstabilan kadar gula darah dan tekanan darah jika tidak mendapatkan penanganan baik dapat terjadi aterosklerosis, penyakit arteri perifer (PAP) dapat terjadi jika ateroskeloris semakin banyak dan terhambatnya aliran darah ke perifer.Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan nilai ankle brachial index (ABI) dan kadar gula darah puasa pada lanjut usia dengan penyakit kronis. Penelitian menggunakan desain deskriptif. Variabel penelitian adalah nilai ankle brachial index (ABI) dan nilai kadar gula darah puasa. Alat ukur yang digunakan portable doppler, Sphygmomanometer aneroid, dan glucotest. Populasi seluruh Lansia di Rumah Usiawan Panti Surya Surabaya  sebanyak 78 Reponden. Sampel penelitian sejumlah 20 responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian yaitu Mayoritas nilai ABI sebanyak 13 responden (65%) dengan kategori PAP Ringan-Sedang dan Nilai kadar gula darah puasa mayoritas sebanyak 19 responden ((95%) dengan kategori normal. Nilai ABI dan kadargula darah pada tubuh bisa dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya aktivitas fisik dan keteraturan terapi obat yang sedang dikonsumsi. Lansia dengan penyakit kronis mayoritas mengalami PAP ringan-sedang.
Tingkat Kesepian dan Kepuasan Hidup Terhadap Tingkat Kebahagiaan Lansia yang Tinggal di Panti Werdha Maria Manungkalit; Ni Putu Wulan Purnama Sari
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i12.12764

Abstract

ABSTRACT Every individual will experience the aging process naturally which cannot be avoided. Elderly is someone who has entered the aging phase. Oftenly these people subjectively feel that they are no longer useful for their family and society. Sometimes they feel isolated from their social environment. Living in the nursing home may result in negative feelings to some extent. Thus, elderly feel lonely and unhappy, which may impact their life satisfaction. This study aimed to analyze the correlation between levels of loneliness and life satisfaction on the level of happiness in nursing home residents.  This correlational study implemented cross-sectional design. The population was 150 elderly living in a private nursing home in Surabaya, Indonesia. The independent variables were the level of loneliness and life satisfaction which measured by instruments of UCLA loliness scale and Satisfaction with Life Scale (SWLS), respectively. The dependent variable was the level of happiness which measured by the Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Ordinal regression tests were employed in data analysis. The majority was old-aged individuals (75-90 y.o.), female, high school graduated, widowed, and closest to their children. The most frequent visit was done by their children. They live in the nursing home mainly due to the absence of caregiver at home. Currently, most respondents have been lived there for four years. High happiness was followed by mild loliness and very satisfied toward life in most respondents. There was a strong significant correlation between the level of satisfaction and happiness and between the level of loneliness and happiness with p value of 0.000 for each.  Life satisfaction and loliness are strongly correlated with happiness in nursing home residents.  Keywords: Elderly, Happiness, Loliness, Life Satisfaction, Nursing Home.   ABSTRAK Setiap individu akan mengalami proses penuaan secara alami yang tidak dapat dihindari. Lansia merupakan seseorang yang telah memasuki fase menua. Seringkali orang-orang ini secara subjektif merasa dirinya tidak berguna lagi bagi keluarganya dan masyarakat. Terkadang mereka merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya. Tinggal di panti jompo dapat menimbulkan perasaan negatif sampai batas tertentu. Dengan demikian, lansia merasa kesepian dan tidak bahagia, yang dapat berdampak pada kepuasan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kesepian dan kepuasan hidup terhadap tingkat kebahagiaan penghuni panti jompo. Penelitian korelasional ini menggunakan desain cross-sectional. Populasinya adalah 150 lansia yang tinggal di salah satu panti jompo swasta di Surabaya, Indonesia. Variabel independennya adalah tingkat kesepian dan kepuasan hidup yang masing-masing diukur dengan instrumen skala kesepian UCLA dan Satisfaction with Life Scale (SWLS). Variabel terikatnya adalah tingkat kebahagiaan yang diukur dengan Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Uji regresi ordinal digunakan dalam analisis data. Mayoritas responden adalah lanjut usia tua (75-90 tahun), perempuan, lulusan SMA, janda, dan paling dekat dengan anak. Kunjungan paling sering dilakukan oleh anak-anak mereka. Alasan tinggal di panti jompo terutama karena tidak adanya pengasuh di rumah. Saat ini, sebagian besar responden telah tinggal di sana selama empat tahun. Kebahagiaan yang tinggi diikuti oleh rasa kesepian yang ringan dan sangat puas terhadap kehidupan pada mayoritas responden. Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara tingkat kepuasan dan kebahagiaan serta antara tingkat kesepian dan kebahagiaan dengan nilai p masing-masing 0,000. Kepuasan hidup dan kesepian berhubungan kuat dengan kebahagiaan pada penghuni panti jompo. Kata Kunci: Lanjut Usia, Kebahagiaan, Kesepian, Kepuasan Hidup, Panti Jompo.