Ika Martanti Mulyawati
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Surakarta Gastronomy in Student Presentations to Increase Self-Confidence and Reduce Speaking Anxiety Mulyawati, Ika Martanti
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 6 No. 02 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v6i02.13366

Abstract

This study aims to analyze how Surakarta gastronomy can be utilized as a cultural context to reduce students' speaking anxiety and increase their confidence in academic presentations. The phenomenon of speaking anxiety remains a dominant issue for Indonesian Language Education students, especially when they have to demonstrate their oral skills in front of the class. This anxiety generally arises from performative pressure, fear of making mistakes, and a lack of relevant and meaningful speaking experiences. Given the importance of context in language learning, the Project-Based Learning (PjBL) approach is considered an effective strategy because it emphasizes authentic experiences, collaboration, and the production of concrete artifacts. This qualitative study used presentation observation, in-depth interviews, visual documentation, and performance assessment to collect data. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model through the stages of reduction, presentation, and conclusion drawing. The results showed that using Surakarta gastronomy as a project context was able to reduce students' speaking anxiety by providing a topic that was familiar, emotionally close, and rich in cultural values. Through involvement in the culinary project, students appeared more confident, more expressive, and better able to convey ideas coherently. Learning also became more collaborative and dialogic, thus providing a safe space for students to experiment with language. These findings confirm that gastronomy-based PjBL is an innovative and relevant pedagogical alternative for teaching speaking skills in higher education.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana gastronomi Surakarta dapat dimanfaatkan sebagai konteks budaya untuk mengurangi kecemasan berbicara mahasiswa dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam kegiatan presentasi akademik. Fenomena kecemasan berbicara masih menjadi persoalan dominan bagi mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, terutama ketika harus menampilkan kemampuan lisan di depan kelas. Kecemasan ini umumnya muncul akibat tekanan performatif, ketakutan melakukan kesalahan, serta minimnya pengalaman berbicara yang relevan dan bermakna. Mengingat pentingnya konteks dalam pembelajaran bahasa, pendekatan Project-Based Learning (PjBL) dipandang sebagai strategi efektif karena menekankan pengalaman autentik, kolaborasi, dan produksi artefak konkret. Penelitian kualitatif ini menggunakan observasi kegiatan presentasi, wawancara mendalam, dokumentasi visual, serta penilaian performansi untuk mengumpulkan data. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gastronomi Surakarta sebagai konteks proyek mampu menurunkan kecemasan berbicara mahasiswa dengan menyediakan topik yang familiar, dekat secara emosional, dan kaya nilai budaya. Melalui keterlibatan dalam proyek kuliner, mahasiswa tampak lebih percaya diri, lebih ekspresif, dan lebih mampu menyampaikan gagasan secara runtut. Pembelajaran juga menjadi lebih kolaboratif dan dialogis, sehingga memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen dengan bahasa. Temuan ini menegaskan bahwa PjBL berbasis gastronomi merupakan alternatif pedagogis yang inovatif dan relevan untuk pembelajaran keterampilan berbicara di perguruan tinggi.  
KULINER TUMPENG DI KABUPATEN BOYOLALI: TINJAUAN GASTRONOMI SASTRA Budiarni, Aprilia Dwi; Mulyawati, Ika Martanti
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 12, No 1 (2024): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v12i1.80872

Abstract

Semakin kuatnya arus globalisasi, bangsa Indonesia harus dapat mempertahankan kebaradaan kuliner legendaris Indonesia salah satunya ialah tumpeng. Kuliner tumpeng bukan hanya sekedar nasi dengan bentuk kerucut, namun didalamnya terkandung filosofi kehidupan manusia. Bentuk, warna, pemilihan bahan, serta lauk pauk didalam tumpeng menjadi simbol yang menarik untuk dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam dan simbol kuliner tumpeng di Kabupaten Boyolali melalui ilmu gastronomi sastra serta mengidentifikasi relevansinya kedalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Madrasah Tsanawiyah. Data primer yang akan dianalisis diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi kepada masyarakat Kabupaten Boyolali. Penelitian ini masuk dalam penelitian deskriptif kualitatif dengan memaparkan kata kata secara menyeluruh berdasarkan sudut pandang tiap informan dari hasil wawancara yang telah diperoleh. Didapatkan 83 data dari 18 narasumber dan ditemukan 22 ragam kuliner tumpeng yang berada di Kabupaten Boyolali. Hasil dari penelitian ini dapat direlevansikan kedalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester 1 dengan materi teks deskriptif.
WUJUD MODERASI BERAGAMA PADA TUMPENG PUNGKUR SEBAGAI TRADISI KEMATIAN DI KABUPATEN BOYOLALI: KAJIAN GASTRONOMI SASTRA Mulyawati, Ika Martanti
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 12, No 1 (2024): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v12i1.84884

Abstract

Kemunculan tumpeng pungkur hanya ada saat tradisi kematian di Kabupaten Boyolali, diidentikkan dengan pergantian kehidupan dari hidup ke mati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang makna tumpeng pungkur dengan kajian gastronomi sastra di Kabupaten Boyolali. Kualitatif deskripstif adalah jenis penelitian ini dengan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik menyimak dan catat. Teknik analisis data menggunaan model interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya wujud kerukunan, gotong royong, dan pengharapan dalam tumpeng pungkur yang muncul dalam tradisi Sortanahan.  Makna tumpeng yang berbentuk kerucut, dibelah, dan diposisikan saling membelakangi memiliki arti bahwa kehidupan antara yang hidup dan yang mati sudah berbeda. Tumpeng pungkur yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Boyolali memiliki makna yang sangat dalam berhubungan dengan pengharapan, doa, dan pengampunan dari Allah swt. Makanan atau kuliner yang muncul karena tradisi kesripahan (Sortanahan) ini memiliki beberapa pelengkap yang juga hadir. Pelengkap tumpeng pungkur ini adalah sego golong, sego asahan, pancenan, ancak, ingkung dan kembang setaman. Tradisi kesripahan ini yang didalamnya terdapat tumpeng pungkur merupakan bagian dari sastra lisan yang dikaji dengan ilmu gastronomi sastra menghasilkan beberapa perspekstif makanan ditinjau dari tradisi lokal yang harus dilestarikan.