Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Strukturalisme Lévi-Strauss dalam Cerita Rakyat Tundung Mediyun: Sebagai Alternatif Baru Sumber Sejarah Afiyanto, Hendra; Nurullita, Hervina
Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4525

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah pertanyaan, mengapa mitos, cerita rakyat, karya sastra, legenda selalu ditempatkan pada ranah fiksi, sehingga tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah? Sutherland mengatakan esensinya historiografi yang dibutuhkan adalah historicizing history. Demikianlah, artinya sebuah historiografi saat ini haruslah memahamkan sejarah itu sendiri. Untuk memahamkan sejarah yang diperlukan adalah semangat dekonstruksi. Ketika dekonstruksi menyisip dalam sebuah peristiwa sejarah akan terjadi kecenderungan historiografi mulai meninggalkan narasi besarnya. Historiografi akan bergeser dari makro ke mikro dengan bantuan sumber-sumber alternatif. Salah satu sumber alternatif yang bisa digunakan adalah mitos, cerita rakyat, karya sastra, atau legenda. Ketika sumber-sumber sejarah tersebut masih dianggap penuh unsur fiksinya, maka diperlukan alat bantu untuk membuatnya memiliki unsur fakta. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka digunakanlah cerita rakyat Keris Tundung Mediyun yang akan dianalis menggunakan Strukturalisme Lévi-Strauss sehingga nantinya dapat ditemukan unsur-unsur faktanya sebagai sumber alternatif historiografi.
Berdamai dengan Hutan; Memberdayakan Kelompok Tani Dusun Sodong Ponorogo sebagai Agen Substitusi Pangan Afiyanto, Hendra
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Services - UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.543 KB) | DOI: 10.21580/dms.2018.182.3264

Abstract

The cutting of the poverty chain is done through providing entrepreneurial insight to the farmer groups that is an agricultural sector of cassava super that is able to provide bigger income to improve the economic level of the community. The development of entrepreneurial spirit will automatically cut the unemployment class, the working class of Sodong village Sampung sub-district Ponorogo regency. Later, with the emergence of many cassava super entrepreneurs, people's income will increase. The increasing income of the community is related to the increasing level of education of the younger generation. If the level of education has begun to increase, the poverty rate will gradually be reduced in the following year. This paper concludes that Sodong farmers which are actually part of a social group, in a community stigmatized as looters and forest destroyers. Even if it is empowered with a structured plan, this stigma can be eliminated. The farmers should be able to be used as an agent to socialize various processed cassava products as food crops to replace rice. Pemotongan mata rantai kemiskinan bisa dilakukan melalui pemberian wawasan kewirausahaan kepada kelompok tani bahwa ada sektor pertanian singkong dengan varietas gajah yang mampu memberikan income lebih untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Berkembangnya jiwa wirausaha akan secara otomatis memangkas kelas pengangguran, kelas buruh masyarakat KT dsn. Sodong, kec. Sampung. Nantinya dengan banyak munculnya wirausahawan singkong gajah maka pendapatan masyarakat meningkat. Peningkatan pendapatan masyarakat berelasi dengan meningkatnya tingkat pendidikan generasi muda. Jika tingkat pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan maka secara perlahan angka kemiskinan ditahun berikutnya sedikit dapat dikurangi. Tulisan ini menyimpulkan bahwa kelompok tani Dusun Sodong yang notabene merupakan bagian dari kelompok sosial, di masyarakat distigma sebagai penjarah dan perusak hutan. Padahal jika diberdayakan dengan rencana terstruktur maka stigma ini dapat dihilangkan. Kelompok tani tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai agen untuk memasyarakatkan berbagai hasil olahan singkong sebagai tanaman pangan pengganti beras.
IDENTITAS PENAMPILAN MASYARAKAT YOGYAKARTA 1950’an-1970’an Khasanah, Nurul; Afiyanto, Hendra
Kodifikasia Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.158 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v11i1.1149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontestasi ragam penampilan masyarakat Yogyakarta sebagai akibat dari westernisasi dan agamaisasi. Tahun 1950?an dipilih sebagai batasan awal penelitian sebab tahun tersebut adalah masifnya arus westernisasi yang masuk ke Yogyakarta. Westernisasi menjadi budaya populer di dalam masyarakat Yogyakarta yang membongkar kokohnya pondasi budaya keraton termasuk penampilan masyarakat. Kepintaran masyarakat Yogyakarta terlihat ketika mampu mengakomodasi westernisasi untuk eksistensi penampilannya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis melalui penggunaan sumber tekstual, seperti arsip, buku-buku referensi, surat kabar, majalah, dan sumber non-tekstual seperti foto atau gambar.Melalui tulisan ini disimpulkan masuknya westernisasi menimbulkan pergeseran cara pandang masyarakat atas penampilannya. Bergesernya cara pandang memunculkan perubahan penampilan dan ragam penampilan masyarakat Yogyakarta. Adanya kontestasi ragam penampilan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat, karena pada fase ini terjadi penghakiman atas benar salah penampilan yang digunakan. Muaranya adalah pemaknaan ulang terkait penampilan yang digunakan di dalam masyarakat.
IDENTITAS PENAMPILAN MASYARAKAT YOGYAKARTA 1950’an-1970’an Khasanah, Nurul; Afiyanto, Hendra
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v11i1.1149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontestasi ragam penampilan masyarakat Yogyakarta sebagai akibat dari westernisasi dan agamaisasi. Tahun 1950’an dipilih sebagai batasan awal penelitian sebab tahun tersebut adalah masifnya arus westernisasi yang masuk ke Yogyakarta. Westernisasi menjadi budaya populer di dalam masyarakat Yogyakarta yang membongkar kokohnya pondasi budaya keraton termasuk penampilan masyarakat. Kepintaran masyarakat Yogyakarta terlihat ketika mampu mengakomodasi westernisasi untuk eksistensi penampilannya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis melalui penggunaan sumber tekstual, seperti arsip, buku-buku referensi, surat kabar, majalah, dan sumber non-tekstual seperti foto atau gambar.Melalui tulisan ini disimpulkan masuknya westernisasi menimbulkan pergeseran cara pandang masyarakat atas penampilannya. Bergesernya cara pandang memunculkan perubahan penampilan dan ragam penampilan masyarakat Yogyakarta. Adanya kontestasi ragam penampilan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat, karena pada fase ini terjadi penghakiman atas benar salah penampilan yang digunakan. Muaranya adalah pemaknaan ulang terkait penampilan yang digunakan di dalam masyarakat.
Berdamai dengan Hutan; Memberdayakan Kelompok Tani Dusun Sodong Ponorogo sebagai Agen Substitusi Pangan Hendra Afiyanto
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Services - UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.543 KB) | DOI: 10.21580/dms.2018.182.3264

Abstract

The cutting of the poverty chain is done through providing entrepreneurial insight to the farmer groups that is an agricultural sector of cassava super that is able to provide bigger income to improve the economic level of the community. The development of entrepreneurial spirit will automatically cut the unemployment class, the working class of Sodong village Sampung sub-district Ponorogo regency. Later, with the emergence of many cassava super entrepreneurs, people's income will increase. The increasing income of the community is related to the increasing level of education of the younger generation. If the level of education has begun to increase, the poverty rate will gradually be reduced in the following year. This paper concludes that Sodong farmers which are actually part of a social group, in a community stigmatized as looters and forest destroyers. Even if it is empowered with a structured plan, this stigma can be eliminated. The farmers should be able to be used as an agent to socialize various processed cassava products as food crops to replace rice. Pemotongan mata rantai kemiskinan bisa dilakukan melalui pemberian wawasan kewirausahaan kepada kelompok tani bahwa ada sektor pertanian singkong dengan varietas gajah yang mampu memberikan income lebih untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Berkembangnya jiwa wirausaha akan secara otomatis memangkas kelas pengangguran, kelas buruh masyarakat KT dsn. Sodong, kec. Sampung. Nantinya dengan banyak munculnya wirausahawan singkong gajah maka pendapatan masyarakat meningkat. Peningkatan pendapatan masyarakat berelasi dengan meningkatnya tingkat pendidikan generasi muda. Jika tingkat pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan maka secara perlahan angka kemiskinan ditahun berikutnya sedikit dapat dikurangi. Tulisan ini menyimpulkan bahwa kelompok tani Dusun Sodong yang notabene merupakan bagian dari kelompok sosial, di masyarakat distigma sebagai penjarah dan perusak hutan. Padahal jika diberdayakan dengan rencana terstruktur maka stigma ini dapat dihilangkan. Kelompok tani tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai agen untuk memasyarakatkan berbagai hasil olahan singkong sebagai tanaman pangan pengganti beras.
PEREMPUAN DAN GAYA HIDUP BARAT DI KOTA YOGYAKARTA PADA AWAL KEMERDEKAAN INDONESIA Hervina Nurullita; Hendra Afiyanto
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 5, No. 1, December 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v5i1.147

Abstract

The article came as the inheritance reconstruction of the colonial effect phenomenon in Yogyakarta after the declaration of independence. It is interesting to discuss how the people of Yogyakarta show an anti-Netherland attitude toward colonial heritage, which is interpreted widely as anticolonial and anti-Netherland, but accept western lifestyle in daily life. The spread of western lifestyles makes Yogyakarta women begin to reconstruct culture to look for a new identity in their life which is paradoxical with the mainstream attitude and behavior of Yogyakarta people at the beginning of Independence Day. The paper aims to explain the acceptance of women in Yogyakarta to western lifestyles in daily life amidst the strengthening of anti-western sentiment. This paper presents the historical study result using the historical method with the stage of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. This study used modernization theory. Modernization has a significant influence on the easy access of women in Yogyakarta to keep up with the times. The study shows how western lifestyles grew and became a trend of women’s appearance in Yogyakarta at that time.
Menjejak Keseharian Etnis Tionghoa Madiun 1966’an-2000’an Hendra Afiyanto
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v5i2.6378

Abstract

ABSTRAKTulisan ini dibuat untuk mengetahui bagaimana konstruksi ulang identitas yang ditampilkan komunitas Tionghoa Madiun setelah pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Rentang waktu yang digunakan adalah 1966’an hingga 2000’an. Tahun 1966’an sebagai penanda secara kultural adanya pemaksaan untuk unifikasi orang-orang Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia. Sementara tahun 2000’an adalah masa reformasi yang diyakini sebagai penanda kebebasan orang-orang Tionghoa dalam berbagai aktivitas di masyarakat, yang ditandai dengan simbolisasi K.H. Abdurrahman Wahid sebagai bapak Tionghoa.Tulisan ini menggunakan metode sejarah ex-post factum sehingga sumber sejarah bisa ditelusi melalui wawancara dari para pelaku sejarah. Penulis juga menggunakan konsepsi dari Piere Nora terkait pengalaman dan memori mereka untuk melihat identitas yang digunakan dalam keseharian didua masa rezim. Bagaimana aktivitas ekonomi, bagaimana kultur yang harus dipaksa untuk sama dengan kultur masyarakat setempat, dan bentuk kebebasan setelah runtuhnya rezim orde baru. Dari sini nantinya bisa diliat tiap babak keseharian komunitas Tionghoa di Madiun yang membedakan dengan komunitas lainnya di Indonesia.Temuan tulisan ini secara garis besar adalah upaya negosiasi yang dilakukan komunitas Tionghoa Madiun untuk mempertahankan eksistensinya dari rezim. Negosiasi ini teraktualisasi menjadi simbol-simbol, baik secara ekonomi, kultural, dan sosial. Kata kunci: Komunitas Tionghoa; Madiun; Eksistensi; Rezim ABSTRACTThis article was create to reconstruct the identity of appereance Tionghoa ethnic of Madiun after a regime change. The year 1966’s was a cultural marker for Thionghoa ethnic unification into Indonesian society. And 2000’s was Reformation regime, marker for Tionghoa ethnic freedom on daily life, with KH. Abdurrahman Wahid as a Tionghoa’ father symbolism.This article use ex-post factum historical method, so historical evidence can be search with interview by historical actors. The author also use Piere Nora conception about experience and memories to see identity used of daily life into two regime. How about economic activities, how about culture coercion, and freedom forms after Orde Baru regime. From here we can see each parts in Tionghoa Ethnic Madiun daily life that distinguishes others.This conclusion of this article is negotiate efforts by ethnic Tionghoa Madiun to defend its existence from regime. This existence it actualized became symbols, such as economic, culture, and social.Keyword: Tionghoa Community; Madiun; Existence; Regime
ANALISIS STRUKTURALISME LÉVI-STRAUSS DALAM CERITA RAKYAT TUNDUNG MEDIYUN: SEBAGAI ALTERNATIF BARU SUMBER SEJARAH Hendra Afiyanto; Hervina Nurullita
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v4i2.4631

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah pertanyaan, mengapa mitos, cerita rakyat, karya sastra, legenda selalu ditempatkan pada ranah fiksi, sehingga tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah? Sutherland mengatakan esensinya historiografi yang dibutuhkan adalah historicizing history. Demikianlah, artinya sebuah historiografi saat ini haruslah memahamkan sejarah itu sendiri. Untuk memahamkan sejarah yang diperlukan adalah semangat dekonstruksi. Ketika dekonstruksi menyisip dalam sebuah peristiwa sejarah akan terjadi kecenderungan historiografi mulai meninggalkan narasi besarnya. Historiografi akan bergeser dari makro ke mikro dengan bantuan sumber-sumber alternatif. Salah satu sumber alternatif yang bisa digunakan adalah mitos, cerita rakyat, karya sastra, atau legenda. Ketika sumber-sumber sejarah tersebut masih dianggap penuh unsur fiksinya, maka diperlukan alat bantu untuk membuatnya memiliki unsur fakta. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka digunakanlah cerita rakyat Keris Tundung Mediyun yang akan dianalis menggunakan Strukturalisme Lévi-Strauss sehingga nantinya dapat ditemukan unsur-unsur faktanya sebagai sumber alternatif historiografi.
Budidaya Naga di Kebun: Pengolahan Buah Naga dalam Rangka Peningkatan Produksi Ekonomi Desa Bululor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo Hervina Nurullita; Hendra Afiyanto; Endrik Safudin
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 10, No 2 (2019): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v10i2.3297

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memotong mata rantai kemiskinan di Desa Bululor, Kecamatan Jambon. Mata rantai kemiskinan di Desa Bulu Lor dapat dipotong jika masyarakat mampu mengubah pola pikir terkait tanaman pertanian. Tanaman pertanian untuk konsumsi didiversifikasi dengan tanaman alternatif untuk produksi. Berubahnya pola pikir ini akan mengubah jenis tanaman pertanian dari padi ke buah naga. Efeknya adalah lahan pertanian tidak hanya untuk tanaman padi (baca=konsumsi), tetapi masyarakat sudah berpikir lahan pertanian dan pekarangan kosong juga digunakan untuk buah naga (baca=produksi). Perubahan pola pikir dan diversifikasi tanaman pertanian akan mampu meningkatkan income lebih untuk kenaikan taraf ekonomi masyarakat. Nantinya dengan banyak munculnya wirausahawan buah naga maka pendapatan masyarakat meningkat. Peningkatan pendapatan masyarakat berelasi dengan meningkatnya tingkat pendidikan generasi muda. Jika tingkat pendidikan sudah mulai mengalami peningkatan maka secara perlahan angka kemiskinan di tahun berikutnya sedikit dapat dikurangi. Melalui tulisan ini disimpulkan adanya agen dari luar sangat diperlukan bagi masyarakat Desa Bulu Lor. Agen berfungsi untuk memberikan pengetahuan tentang budidaya buah naga. Dengan adanya agen akan dapat memotong mata rantai pola pikir masyarakat yang cenderung take it for granted, sehingga masyarakat terbuka peluangnya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri. 
Gemeente Malang: Keruangan, Segregasi, dan Potensi Wilayah 1914-1940 Choirunnisak Nisa; Hendra Afiyanto
Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah Vol 6, No 1 (2022): Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hm.v6i1.18422

Abstract

The reconstruction of the development of Colonial Cities in the Dutch East Indies which experienced growth and development after the issuance of the Sugar Law and Agrarian Law encourages the implementation of this study. After 1914, Malang City experienced development and changed its status to Gemeente based on Bouwplan I-VIII. During the Dutch colonial, this city functioned as a resort city, comfortable residence, and tourist area. The presence of colonial government changed the regional typology of Javanese and Islamic characteristics that already existed in this city. The division of the area was based on ethnicity according to the existing social status. The existence of urban development and the division of the city also applies to the economic facilities of each region.This study aims to describe the development of Malang City which leads to the separation of each ethnic area and affects the potential of the economic area. This study used a historical method with the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. This paper provided some findings. First, the development of Malang City during the colonial period resulted in Bouwplan I-VIII. Second, the prevailing typology of Java and Islam turned into the interests of the Colonial Government. Third, the results of urban development affect the economic value of each area or building.