Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Gambaran kadar ureum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis Loho, Irendem K. A.; Rambert, Glady I.; Wowor, Mayer F.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.12658

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a pathophysiological process with diverse etiology, resulting in a progressive decreased in renal function, and generally ends up with kidney failure. In CKD patient, the level of urea increases -uremia- a clinical syndrome that occurs in all organs due to the increased level of urea. During catabolism process, protein is broken down into amino acids and deamination ammonia which is further synthesized to become urea. Increased level of urea depends on the glomerular filtration rate (GFR). Decreased of GFR (<15ml / min) can cause renal failure and uremia. This study aimed to determine the levels of urea in patients with stage 5 CKD non-dialysis. This was an observational descriptive study. This study was conducted from December 2015 to January 2016 at two hospitals, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital and Adventist Hospital Manado. Samples were blood samples of all patients suffering from CKD stage 5 non-dyalisis within the specified time. The results of laboratory tests showed that of 35 patients diagnosed with stage 5 CKD non-dialysis all had increased urea levels (100%). Conclusion: There was an increase in urea level of patients with stage 5 chronic kidney disease non-dialysis either of outpatients or inpatients.Keywords: urea serum, stage 5 non-dialysis chronic kidney disease.Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Umumnya pada PGK terjadi peningkatan kadar ureum dan mengakibat-kan terjadinya uremia yaitu suatu sindrom klinik yang terjadi pada semua organ akibat meningkatnya kadar ureum. Dalam proses katabolisme, protein dipecah menjadi asam amino dan deaminasi ammonia yang selanjutnya disintesis menjadi urea. Peningkatan kadar ureum bergantung pada tingkat laju filtrasi glomerulus (LFG). Pada penurunan LFG (<15ml/mnt) dapat terjadi gagal ginjal dan uremia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non-dialisis. Jenis penelitian ini ialah deskriptif observasional. Penelitian dilakukan sejak Desember 2015-Januari 2016 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dan RS Advent Teling Manado. Sampel penelitian ialah sampel darah dari semua pasien yang menderita penyakit ginjal kronik stadium 5 nondialisis dalam kurun waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan laboratorium dari 35 pasien yang terdiagnosis penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis memperlihatkan peningkatan kadar ureum serum (100%). Simpulan: Terjadi peningkatan kadar ureum serum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non-dialisis baik yang dirawat jalan maupun dirawat inap.Kata kunci: ureum, penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis
DETEKSI DINI DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN PEMERIKSAAN ANTIGEN NS1 Wowor, Mayer F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 3, No 1 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.1.2011.853

Abstract

Abstract: Efficient and accurate diagnosis of dengue is of primary importance for clinical care, surveillance activities, outbreak control, pathogenesis, academic research, vaccine development, and clinical trials. Laboratory diagnostic methods for confirming dengue virus infection may involve detection of the viruses, viral nucleic acids, antigens and antibodies, or a combination of these techniques. After the onset of illness, the virus can be detected in serum, plasma, circulating blood cells, and other tissues for 4–5 days. During the early stage of the disease, virus isolation and the detection of viral nucleic acids or antigens, can be used to confirm the diagnosis of dengue infection. NS1 antigen appears as early as day 1 after the onset of fever, and declines to undetectable levels after day 5–6. At the end of the acute phase of infection, a serological test is the method of choice for diagnosis. A range of laboratory diagnostic methods has been developed to support patient management and disease control. The choice of diagnostic method depends on the purpose for which the test is done, available  laboratory facilities and technical expertise, costs, and the time of sample collection. Keywords: laboratory diagnostic methods, acute phase, NS1 antigen     Abstrak: Diagnosis dengue yang efisien dan akurat adalah hal yang paling penting  untuk proses perawatan di klinik, aktivitas surveilens, kontrol penularan penyakit, patogenesis, penelitian akademik, pengembangan vaksin dan percobaan-percobaan klinis. Metode diagnosis laboratorium untuk mengonfirmasi adanya infeksi virus dengue dapat meliputi deteksi virus dengue, asam nukleat virus, antigen dan antibodi, atau kombinasi dari teknik-teknik tersebut. Setelah serangan penyakit, virus dapat dideteksi dalam serum, plasma, sel-sel darah yang bersirkulasi, dan di jaringan lain dalam waktu 4-5 hari. Selama tahap awal dari penyakit, isolasi virus, asam nukleat virus, atau deteksi antigen dapat digunakan untuk diagnosis infeksi. Antigen NS1 muncul pada hari pertama setelah serangan demam dan menurun ke tingkat tidak terdeteksi setelah 5-6 hari. Pada akhir fase akut infeksi, serologi adalah metode pilihan untuk diagnosis. Metode diagnosis laboratorium telah berkembang untuk menunjang penanganan pasien dan kontrol penyakit. Pilihan untuk metode diagnosis bergantung pada tujuan tes dilakukan, fasilitas laboratorium dan tenaga ahli yang tersedia, biaya, dan saat sampel dikumpulkan. Kata kunci: metode diagnosis laboratorium, fase akut, antigen NS1
Gambaran nitrit urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Berhandus, Lusye A.H.; Mongan, Arthur E.; Wowor, Mayer F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14650

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. Pulmonary TB influence nutritional status because the course of the disease that affects immune system and caused immunodeficiency which makes TB patient prone to infection including urinary tract infection. The most common diagnostic method is chemical urinalysis using urine dipstick especially nitrite. Nitrite urine examination can be used to find bacteria in urine. In normal urine, nitrite is usually absent, but nitrate in urine will be reduced by the bacteria that have reductase enzyme and change to nitrite. This study was aimed to obtain the urine nitrite profile in adult pulmonary tuberculosis patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with a cross sectoional design to obtain data of nitrite in urinalysis of pulmonary tuberculosis patients from October to November 2016 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Sampels were urine of all pulmonary tuberculosis patients that met the inclusion criteria. The results showed that all 30 patients’ urine samples did not contain nitrite. Conclusion: The profile of urine of 30 pulmonary tuberculosis patients showed absence of nitrite.Keywords: pulmonary tuberculosis, urinalysis, nitrite Abstrak: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. TB paru dapat mempengaruhi status gizi penderita karena proses perjalanan penyakitnya yang mempengaruhi daya tahan tubuh menyebabkan immunodefisiensi sehingga rentan terkena berbagai penyakit infeksi diantaranya infeksi saluran kemih. Metode paling umum pada urinalisis adalah uji kimia dengan menggunakan dipstick urin terutama nitrit. Pemeriksaan nitrit urin dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya bakteriuria. Pada urin normal tidak terdapat nitrit, namun nitrat yang terdapat pada urin akan mengalami reduksi oleh bakteri yang mempunyai enzim reduktase menjadi nitrit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran nitrit urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah urin sewaktu dari semua pasien tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria inklusi. Dari hasil urinalisis nitrit urin yang dilakukan terhadap 30 pasien yang terdiagnosis penyakit tuberkulosis paru dewasa, seluruhnya (30 pasien) didapatkan hasil nitrit negatif. Simpulan : Dari 30 pasien yang diperiksa nitrit urin didapatkan seluruhnya hasil nitrit negatif. Kata kunci : tuberkulosis paru, urinalisis, nitrit
Gambaran kadar feritin pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis Puspitaningrum, Teresita; Rambert, Glady I.; Wowor, Mayer F.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.12486

Abstract

Abstract: Ferritin is a major iron storage protein in human tissues. It functions as an iron storage especially in liver, spleen, and bone marrow. Anemia occurs in 80-90% chronic kidney disease (CKD) patients; the most common type of anemia is normocytic anemia. WHO assumes that in Indonesia chronic kidney disease patients will increase 41.4% in 1995-2025. This study aimed to obtaind ferritin level in non dialysis end-stage renal disease patients. This was a descriptive study with a cross sectional design. Data of ferritin levels in non dialysis end-stage renal disease patients were obtained from two hospitals, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado and Advent Hospital Manado, from December 2015 to January 2016. Blood samples of 35 patients suffering from non dialysis end-stage renal disease were obtained by using non-probability consecutive sampling method. The results showed that of the 35 patients, there were 28 patients with increased ferritin levels and 7 patients with normal ferritin level. Conclusion: Increased ferritin level occurred among non dialysis end-stage renal disease patients.Keywords: ferritin level, non-dialysis end-stage renal disease. Abstrak: Feritin adalah protein penyimpan zat besi utama yang ditemukan pada jaringan tubuh manusia. Fungsi feritin ialah sebagai penyimpanan zat besi terutama di dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Anemia terjadi pada 80-90% pasien penyakit ginjal kronik (PGK) dengan jenis normositik yang paling umum ditemukan. WHO memperkirakan di Indonesia akan terjadi peningkatan penderita gagal ginjal pada tahun 1995-2025 sebesar 41,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar feritin pada PGKstadium 5 non dialisis. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Data kadar feritin pada pasien PGK stadium 5 non dialisis diperoleh dari dua rumah sakit yaitu RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan Rumah Sakit Advent Manado sejak Desember 2015-Januari 2016. Sampel darah dari 35 pasien PGK ditentukan dengan cara non-probability consecutive sampling. Hasil penelitian memperlihatkan dari 35 pasien yang terdiagnosis PGK stadium 5 non dialisis terdapat 28 pasien dengan peningkatan kadar ferritin dan 7 pasien dengan kadar ferritin normal. Simpulan: Peningkatan kadar feritin dapat terjadi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis. Kata kunci: kadar feritin, penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis
Gambaran Hematologi pada Wanita Hamil Trimester 3 yang Terkonfirmasi Positif SARS-CoV-2 di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Periode Juli-September 2020 Manopo, Fibriani F.; Berhimpon, Siemona L. E.; Wowor, Mayer F.
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31850

Abstract

Abstract: Pregnancy is a condition of physiological and mechanical changes in the body that can reduce the ability of the immune system. During pregnancy, the normal changes that occur can be observed on the hematological index. There are studies that have found decreased levels of lymphocytes and monocytes, total leukocytes, increased platelet counts, and increased Hb in pregnant women infected with SARS-CoV-2. This study aimed to determine an overview of leucocytes, differential counting and platelets in 3rd trimester pregnant women. This research is a descriptive type of retrospective study, by collecting secondary data from medical record status. There were 26 samples of pregnant women in trimester 3 who were confirmed positive for SARS-CoV-2, 17 patients (65%) had an increase in the number of leukocytes. Differential counting was decreased stem neutrophils in 13 patients (50%), normal segment neutrophils in 16 patients (62%), decreased lymphocytes in 13 patients (50%), decreased eosinophils in 14 patients (54%), monocytes increased only in 2 patients (8%) and basophils were normal in all patients. 100% normal platelet count in all samples. In conclusion, the hematological features obtained are leukocytosis, decreased stem neutrophils, 62% normal segment neutrophils, lymphopenia, eosinopenia. normal 92% monocytes are normal, basophils and platelets within normal limits.Keywords: SARS-CoV-2, pregnant women, leukocytes, differential counting, thrombocyte  Abstrak: Kehamilan merupakan suatu kondisi perubahan fisiologis dan mekanis tubuh yang dapat berdampak pada penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh. Selama kehamilan, perubahan normal yang terjadi dapat diamati pada indeks hematologi. Terdapat penelitian yang menemukan penurunan kadar limfosit dan monosit, total leukosit, peningkatan jumlah trombosit, dan peningkatan Hb pada wanita hamil yang terinfeksi SARS-CoV-2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran leukosit, differential counting dan trombosit pada wanita hamil trimester 3. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan studi retrospektif, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder berupa data dari status rekam medik. Terdapat 26 sampel wanita hamil trimester 3 yang terkonfirmasi positif SARS-CoV-2, 17 pasien (65%) mengalami peningkatan jumlah leukosit. Differential counting yaitu neutrofil batang menurun pada 13 pasien (50%), neutrofil segmen normal pada 16 pasien (62%), limfosit menurun pada 13 pasien (50%), eosinofil menurun pada 14 pasien (54%), monosit meningkat hanya pada 2 pasien (8%) dan basofil dalam jumlah normal pada semua pasien. Jumlah trombosit 100% normal pada semua sampel. Sebagai simpulan, gambaran hematologi yang didapatkan yaitu leukositosis, penurunan neutrofil batang, neutrofil segmen 62% normal, limfopenia, eosinopenia. monosit 92% normal, basofil dan trombosit dalam batas normal.Kata kunci : SARS-CoV-2, wanita hamil, leukosit, differential counting, trombosit 
Gambaran Glukosa Darah dan Glukosa Urin pada Dewasa Muda Berat Badan Lebih dan Obes Lengkong, Timothy D.; Wowor, Mayer F.; Berhimpon, Siemona L. E.
Medical Scope Journal Vol 1, No 2 (2020): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.1.2.2020.27816

Abstract

Abstract: Increased body mass index (BMI) in overweight and obese individuals is related to blood glucose as the main source of energy. Urine glucose or glucosuria is a condition where glucose is found in the urine (usually when serum blood glucose >200 mg/dL). This study was aimed to obtain the profile of blood glucose and urine glucose among overweight and obese young adult individuals. This was an observational and descriptive study. Samples were taken by using non-probability sampling and consecutive sampling. The results showed that of 106 overweight and obese young adult individuals, there were 51 individuals (48.1%) with blood glucose <90 mg/dL and 55 individuals (51.9%) with blood glucose ≥90 mg/dL; none of them had urine glucose. In conclusion, among overweight and obese young adult individuals, about half of them had blood glucose ≥90 mg/dL and the others had blood glucose ≥90 mg/dL, albeit, none had glucosuria.Keywords: overweight, obese, blood glucose, urine glucose, BMI Abstrak: Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) pada keadaan berat badan lebih dan obes berhubungan dengan glukosa darah yang merupakan sumber energi dalam tubuh. Glukosa urin atau glukosuria adalah kondisi dimana glukosa ditemukan dalam urin (biasanya saat serum glukosa darah >200 mg/dL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran glukosa darah dan glukosa urin pada subjek dewasa muda dengan berat badan lebih dan obes. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling jenis consecutive sampling. Hasil penelitian mendapatkan dari 106 dewasa muda yang tergolong berat badan lebih dan obes, terdapat 51 orang (48,1%) yang memiliki kadar glukosa darah <90 mg/dL dan 55 orang (51,9%) yang memiliki kadar glukosa darah ≥90 mg/dL, serta tidak ada yang memiliki glukosa urin. Simpulan penelitian ini ialah pada dewasa muda yang tergolong berat badan lebih dan obes, sekitar setengah daripadanya memiliki kadar glukosa darah ≥90 mg/dL dan setengahnya lagi memiliki kadar glukosa darah ≥90 mg/dL, tetapi tidak ada yang memiliki glukosuria.Kata kunci: berat badan lebih, obes, glukosa darah, glukosa urin, IMT
Gambaran Kadar Hemoglobin dan Hematokrit pada Pasien Stroke Iskemik Berusia 15-64 Tahun di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Malingkas, Lingkanwene T. D.; Wowor, Mayer F.; Berhimpon, Siemona L. E.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53662

Abstract

Abstract: Ischemic stroke is the most common stroke and represents 80% of stroke cases. Stroke causes an increase in blood viscosity, thus inhibiting blood flow which has an impact on the body's normal function which can be seen from the hemoglobin and hematocrit levels. This study aimed to determine the description of hemoglobin and hematocrit levels in ischemic stroke patients aged 15-64 years treated at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a retrospective and descriptive study using secondary data taken from medical records. The results obtained 47 patients that met the inclusion criteria, consisting of 29 male patients (61.7%) and 18 female patients (38.3%). Based on stroke classification, most patients were in acute phase (87.2%). Normal hemoglobin levels were more often found in the age of 46-55 years, meanwhile decreased hematocrit levels were more often found in the age of 56-65 years (23.4%).  In conclusion, normal hemoglobin level and decreased hematocrit level are more often found in acute ischemic stroke patients. Keywords: ischemic stroke; hemoglobin; hematocrit    Abstrak: Stroke iskemik merupakan stroke yang paling sering terjadi dan mewakili 80% kasus stroke. Stroke mengakibatkan peningkatan kekentalan/viskositas darah, sehingga menghambat aliran darah yang berdampak pada fungsi normal tubuh yang dapat dilihat dari hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit. Penelitian ini bertujun untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan hematokrit pada pasien stroke iskemik berusia 15-64 tahun yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari rekam medis. Hasil penelitian mendapatkan 47 pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 29 pasien laki-laki (61,7%) dan 18 pasien perempuan (38,3%). Berdasarkan klasifikasi stroke, pasien terbanyak pada fase akut (87,2%). Kadar hemoglobin normal lebih sering didapatkan pada kelompok usia 46-55 tahun (44,7%) sedangkan kadar hematokrit menurun lebih sering didapatkan pada kelompok usia 56-65 tahun (23,4%). Simpulan penelitian ini ialah kadar hemoglobin normal dan kadar hematokrit menurun sering didapatkan pada pasien stroke iskemik akut. Kata kunci: stroke iskemik; hemoglobin; hematokrit
Gambaran Kadar D-Dimer pada Pasien Stroke Iskemik Ticoalu, Micha M. C.; Wowor, Mayer F.; Rambert, Glady I.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60740

Abstract

Abstract: The primary cause of ischemic stroke is atherosclerosis affecting major arteries in the neck and head. D-dimer is linked to ischemic stroke, as it is the end product of fibrin breakdown by plasmin through the fibrinolytic process. This study aimed to assess D-dimer levels in ischemic stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a descriptive and retrospective study using the total sampling method. The results showed that there were 15 patients meeting the inclusion criteria for ischemic stroke patients consisting of nine male patients and six female patients. The majority of patients were in the age group of 60-79 years (53.3%), followed by age group 40-59 years (33.3%), and age group 80-99 years as well as 20-39 years (each of 6.67%). All patients with ischemic stroke had increased D-dimer level. In conclusion, the majority of patients with ischemic stroke are males, aged over forty, and have elevated D-dimer level. Keywords: D-Dimer; ischemic stroke    Abstrak: Penyebab utama stroke iskemik ialah aterosklerosis yang mengenai arteri besar pada leher dan kepala. D-dimer memiliki hubungan dengan stroke iskemik oleh karena merupakan produk akhir pemecahan fibrin oleh plasmin melalui proses fibrinolitik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kadar D-dimer pada pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 15 pasien stroke yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, terdiri dari sembilan laki-laki dan enam perempuan. Pasien terbanyak pada kelompok usia 60-79 tahun (53,3%), diikuti oleh kelompok usia 40-59 tahun (33,3%), serta kelompok usia 80-99 tahun dan 20-39 tahun (masing-masing 6,67%). Pada seluruh pasien stroke iskemik didapatkan peningkatan kadar D-dimer. Simpulan penelitian ini ialah majoritas pasien stroke iskemik berjenis kelamin laki-laki, usia di atas 40 tahun, dengan peningkatan kadar D-dimer. Kata kunci: D-Dimer; stroke iskemik