Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMBERDAYAAN TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN (TPA) PASCA PANDEMI Syaeful Rokim; Rahendra Maya; Agus Yuspiain; Hasnil Hasyim
Khidmatul Ummah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 01 (2022): Khidmatul Ummah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : STAI Al-Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/khidmatul.v3i01.2835

Abstract

Pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui pendampingan pendidikan TPA merupakan kegiatan pengabdian sosial yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama hal ini dilakukan pasca pandemi covid 19 dan di daerah pedesaan atau pinggiran ibukota yang masih minim penggunaan sarana komunikasi digital dalam proses pendidikannya. Sebagian besar pendidikan mengalami kendala vakum saat terjadi wabah covid-19, tak terkecuali pada pendidikan keagamaan non formal seperti TPA. Pemdampingan TPA ini dilakukan di Madrasah Diniyah Al-Hasan di desa Neglasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor, dengan bersama-sama melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan memperhatikan protokol kesehatan.
Aktualisasi Kegiatan Sosial Keagamaan Pasca Pandemi Covid-19 Pada Masyarakat Perkotaan (PKM di Kelurahan Menteng Kota Bogor Jawa Barat) Syaeful Rokim; Ade Kohar; Budi Heryanto; Abdul Jabar
Khidmatul Ummah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 01 (2023): Khidmatul Ummah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : STAI Al-Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/khidmatul.v4i01.4811

Abstract

Selain pertumbuhan ekonomi, pasca pandemi covid-19 menjadi kesempatan untuk aktualisasi kegiatan sosial dan keagamaan yang terhenti dikarenakan pandemi ini. Dosen STAI Al-Hidayah bogor berusaha mengambil bagian ini dalam program kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu tugas dari tridarma perguruan tinggi. Daerah yang menjadi objek PKM dosen ini adalah kelurahan Menteng yang beradai wilayah kec. Bogor Barat Kota Bogor Jawa Barat. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam PKM ini adalah empat langkah; perencanaan, observasi, tindakan, dan evaluasi. Program utama dalam PKM ini adalah (1) Program Pelatihan Baca Al-Qur’an. (2) Pembinaan Keluarga Sakinah. (3) Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Amil Dalam Pemulasaran Jenazah. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya antusias masyarakat dalam aktifasi kegiatan sosial keagamaan seperti ta’lim “Ngabaca”, layanan konsultasi pra nikah, dan terbentuknya amil pemulasaran jenazah di kelurahan Menteng. 
RUMAH TINGGAL DALAM AL-QUR’AN: Analisis Term Al-Bait dan Al-Maskan dalam Al-Tashîl Li Ta’wîl Al-Tanzîl Karya Mushthafâ Ibn Al-‘Adawî Rahendra Maya; Hidayati Hidayati; Syaeful Rokim; Muhammad Fadilah Alfarisi
TAFAKKUR : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 01 (2024): TAFAKKUR : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Ar-Rahman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62359/tafakkur.v5i1.407

Abstract

In the verses of the Qur’an, the concept of a house in general and a residence or permanent residence is often mentioned using several terms, including the terms al-bait or al-buyût and al-maskan or al-masâkin with various forms of derivations. This reality attracts the attention of interpreters to study it through their interpretations in their tafsir works. Among them is Mushthafâ ibn Al-‘Adawî, an Egyptian scholar who has a general science background in his tafsir work entitled Al-Tashîl li Ta’wîl Al-Tanzîl: Al-Tafsîr fî Su’âl wa Jawâb using the question-and-answer method. By using qualitative methods through a descriptive-qualitative literature study approach with data collection techniques using literature sources and documentation studies with descriptive-interpretive data analysis techniques through content analysis, this article uses data sources The primer is the book Al-Tashîl li Ta’wîl Al-Tanzîl: Al-Tafsîr fî Su’âl wa Jawâb by Mushthafâ ibn Al-‘Adawî. Mushthafâ ibn Al-‘Adawî in his interpretation of the terms al-bait and al-maskan in the Al-Qur’an does not seem to really differentiate the nature and accentuation of the meaning of the two terms, except in his interpretation of Q.S. Al-Nahl [16]: 80. If it is considered different, then Mushthafâ ibn Al-‘Adawî stated that al-bait is stated as a residence or permanent residence in a nomadic or sedentary lifestyle, it functions as a place to spend the night or rest at night, while al-maskan is a house that functions as a bringer of peace for its residents.