Aminuddin Aminuddin
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ALASAN HARTA KEPEMILIKAN ORANG TUA TERBAGI DI AWAL SEBELUM ADANYA KEMATIAN Aminuddin Aminuddin; Ardiansyah Ardiansyah
QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam STAIN Majene Jurusan Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.17 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengulas mengenai‚ “Alasan harta kepemilikan orang tua terbagi di awal sebelum adanya kematian di Kec. Binuang Kab. Polewali Mandar”. Bentuk penelitian menggunakan kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang dilaksanakan di lapangan berupa pengelolaan data yang dikumpulkan dalam bentuk wawancara yang terstruktur. Adapun pola analisis pada penelitian ini, berupa pendekatan descriptif analisis. Berdasarkan fakta lapangan yang didapatkan memberikan petunjuk bahwa alasan harta kepemilikan orang tua terbagi pada awal sebelum adanya kematian di Kec. Binuang Kab. Polewali Mandar yaitu: Pertama; adanya kemaslahatan yang diperoleh keluarga yang ditinggalkan dengan dasar pertimbangan adat dan budaya yang begitu kental. Kedua; keadilan dan kesetaraan antara pihak anak laki-laki dengan perempuan dengan melihat pada sisi biaya kehidupan yang didapatkan selama masa hidupnya. Ketiga; kebutuhan berumah tangga pada anak yang baru saja melangsungkan pernikahan. Keempat; kemudahan dalam pembagian harta dibandingkan dengan pembagian harta yang dilakukan pada Pengadilan Agama, dan. Kelima; masalah konfilik antara anak ketika orang tua telah tiada di antara mereka. Implikasi Penelitian; Hukum Islam pada dasarnya tidaklah mutlak bersifat kaku namun dapat bersifat pleksibel terhadap suatu persoalan semalama itu masih memiliki dasar hukum dalam Islam baik itu dari Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Namun yang menjadi dasar atas perubahan atau peralihan tersebut tentunya juga memiliki alasan kemaslahatan demi perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa dalam hal perubahan dan mencari alternatif penyelesaian masalah dalam hukum Islam tentunya perlu kiranya diperhatikan dan lebih berhati-hati agar tidak malah lebih jauh dan cenderung akan ke hal-hal kesyirikan dengan dalih adat dan budaya yang dijalani.
Dakwartistik: Prototipe Digitalisasi Dakwah Berbasis Kearifan Lokal dalam Konteks Budaya Mandar Nirwan Wahyudi AR; Aminuddin Aminuddin; Irnawati Irnawati
Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah) Vol. 26 No. 1 (2026): ANIDA (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/anida.v26i1.54882

Abstract

This study aims to develop a prototype of Dakwartistik as an innovation in culture-based digital Islamic preaching. Dakwartistik is conceptualized as both a framework and an applied model that integrates Islamic preaching with artistic expressions rooted in local wisdom. Mandar culture was chosen as the experimental context for examining the intersection of preaching, culture, and technology. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the Design–Production–Evaluation (PPE) framework. Data were collected through library research, participatory observation of Mandar traditions, document analysis, and interviews with 10 informants selected through purposive sampling involving academics and practitioners in the fields of preaching, culture, and digital media. The data were analyzed qualitatively through data condensation, data display, and conclusion verification, supported by source and method triangulation. The findings reveal that the Dakwartistik prototype was successfully developed as a cross-device web-based application with a simple and accessible interface. The platform features a gallery of Mandar traditions, narratives containing Islamic values, and interactive user spaces. These findings highlight the potential of Dakwartistik as an adaptive culture-based digital preaching model that can be replicated in other cultural contexts.