Hani Rohayani
Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Fatherless dalam Keluarga Kristen: Implikasi terhadap Perkembangan Anak di Masa Emerging Adulthood Marisa Theofani; Hani Rohayani
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.395

Abstract

This study explores the psychological, emotional, and social impact of fatherlessness during emerging adulthood (ages 18-29), a critical developmental stage which an individual transitions from adolescence to early adulthood. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through questionnaires and in-depth interviews with young adults from Sumatra, Java, and Kalimantan who experienced fatherlessness with categories: parental divorce, busy work, and as father death. The novelty of this study lies in the specific focus on fatherlessness during emerging adulthood, a stage that has not been explored in previous research. The findings showed that the psychological impact felt by respondents varied. Respondents whose fathers were busy working showed ambitious responses as well as low self-confidence and lack of motivation. Those who experienced parental divorce struggled with intimacy, social interaction and loneliness. Those who lost their fathers to death struggled with emotional dysregulation, difficulty controlling anger, as well as difficulty in building trust. In all cases, the absence of paternal emotional support emerged as a significant factor affecting self-esteem and social development. This research contributes to a deeper understanding of the long-term psychological effects and underscores the importance of social support systems for fatherless emerging adulthood. AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi dampak psikologis, emosi, dan sosial dari ketidakhadiran ayah selama masa emerging adulthood (usia 18-29 tahun), sebuah tahap perkembangan kritis yaitu seorang individu bertransisi dari masa remaja ke masa dewasa awal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan orang dewasa muda dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang mengalami ketidakhadiran ayah karena perceraian orang tua, sibuk bekerja, juga ayah yang meninggal. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokus spesifiknya pada ketidakhadiran ayah selama masa emerging adulthood, sebuah tahap yang belum dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. Temuan menunjukkan bahwa dampak psikologis yang dirasakan responden bervariasi. Para responden yang ayahnya sibuk bekerja menunjukkan respons yang ambisius juga sebaliknya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan kurang motivasi. Mereka yang mengalami perceraian orang tua berjuang dengan keintiman, interaksi sosial, dan perasaan kesepian yang terus-menerus. Mereka yang kehilangan ayah karena meninggal berjuang menghadapi disregulasi emosi, sulit mengendalikan kemarahan, juga sulit dalam membangun kepercayaan. Di semua kasus, tidak adanya dukungan emosional ayah muncul sebagai faktor signifikan yang mempengaruhi harga diri dan perkembangan sosial. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang efek psikologis jangka panjang dan menggarisbawahi pentingnya sistem pendukung sosial bagi kelompok emerging adulthood yang tidak memiliki ayah.
Model Mengajarkan Cerita Alkitab Kepada Anak Sekolah Minggu Usia 6-9 Tahun Hani Rohayani
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.30

Abstract

 Loving God with all the existence is God's command. God wants this commandment continue for generation to generation. Parents have responsibility to teach their children to live loving God, living in obedience to the Word of God. In the context of church, Sunday School teachers are also responsible for teaching the Bible. But in carrying out this important task, they had difficulties because the Bible is written in conceptual and abstract form, while the children which according to Piaget's theory is in the preoperational and operational concrete stages is thinking very concrete. The purpose of this study was to bridge the gap between biblical teachings written in adult language and how children learn and understand information. The research method used is descriptive qualitative based on phenomenological. There is a phenomenon that children often difficult to understand the Bible, especially doctrinal themes. The results of the study present ways to teach the Bible to children by paying attention to children's cognitive development.AbstrakMengasihi Allah dengan segenap keberadaan hidup orang percaya merupakan perintah Allah. Allah menghendaki perintah ini terus dilakukan turun-temurun. Orang tua di rumah memiliki tanggung jawab untuk mengajar anak-anaknya hidup mengasihi Allah, hidup mentaati Firman Allah. Dalam konteks gereja para guru Sekolah Minggu (SM) yang bertanggung jawab mengajarkan Alkitab kepada anak-anak. Tetapi dalam melaksanakan tugas yang penting ini guru mengalami kesulitan karena pokok pengajaran Alkitab dicatat dalam bentuk konsep-konsep yang bersifat abstrak, sementara cara berpikir anak-anak yang menurut teori Piaget berada pada tahap praoperasional dan operasional konkret sangat bersifat konkret. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjembatani antara ajaran Alkitab yang dituliskan dengan bahasa orang dewasa dengan cara belajar dan kemampuan anak memahami suatu informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berbasis fenomenologis. Terdapat fenomena bahwa anak-anak sering kali sulit memahami isi Alkitab, terutama tema-tema yang sifatnya doktrinal. Hasil penelitian menyajikan cara-cara mengajarkan Alkitab kepada anak-anak dengan memperhatikan perkembangan kognitif anak.  Kata Kunci : Metode mengajar; Sekolah Minggu; Proses belajar mengajar