Asep Wasta
Unknown Affiliation

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PEMBELAJARAN LAGU DAERAH MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KETEPATAN NADA PADA SISWA KELAS 6 DI SDN 3 SIRNAJAYA KABUPATEN CIAMIS Desi Rahmawati; Asep Wasta; Asti Tri Lestari
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 1 (2019): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.2, No. 1, Juni 2019
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.014 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v2i1.928

Abstract

Penelitian yang berjudul “Pembelajaran Lagu Daerah Menggunakan Media Audi Visual Untuk Meningkatkan Ketepatan Nada Pada Siswa Kelas 6 di SDN 3 Sirnajaya Kabupaten Ciamis” ini di latar belakangi oleh kondisi belajar siswa dalam pembelajaran SBDP khususnya dalam pembelajaran lagu-lagu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan pembelajaran lagu-lagu daerah menggunakan media audio visual untuk meningkatkan ketepatan nada yang meliputi pemilihan materi, proses pembelajaran, dan hasil pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan dibantu dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Temuan yang di dapat dalam penelitian ini terdiri dari pemilihan materi dan hasil pembelajaran. Materi lagu yang diajarkan yaitu lagu Cing Cangkeling, Tokecang, Manuk Dadali dari Jawa Barat. Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa penerapan pembelajaran lagu daerah menggunakan media audio visual untuk meningkatkan ketepatan nada dalam kategori baik siswa-siswi SDN 3 Sirnajaya masih berminat terhadap lagu-lagu daerah dan mempunyai rasa memiliki terhadap aset kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia ini.
KOMPARASI VISUAL PROPERTI KESENIAN KUDA LUMPING DI KAMPUNG SIDOSARI DESA CIPANAS KECAMATAN CIPATUJAH KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN KUDA LUMPING DI KAMPUNG KEBON WARU DESA GUNUNG BATU KECAMATAN CIRACAP KABUPATEN SUKABUMI Dais Ersyka Endang; Wan Ridwan Husen; Asep Wasta
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 2 (2019): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.2, No. 2, Desember 2019
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.402 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v2i2.931

Abstract

In Cipatujah Subdistrict Tasikmalaya Regency, to be precise in sidosari Village, Cipanas Village, there is a Kuda Lumping art group. The existence of this art group is a cultural asset that must be fully appreciated and its existence be maintained, considering that cuurently the Kuda Lumping art is rarely recognized and rarely found. In teh research process the author found a thesis that examines the visual properties of Kuda Lumping art in Kebon Waru Village, Gunung Batu Village, Ciracap District, Sukabumi District. On this occasion the author will make comparisons regarding matters relating to the art of the Kuda Lumping that is in Sidosari Village Cipanas Village Cipatujah District Tasilmalaya District with Kebon Waru Village Gunung Batu Village Ciracap District Sukabumi District, reveal and analyze in the form of how to visualize the costume accessories and properties in the two places. This reseach uses qualitative methods with a descriptive approach. Data collection in this study using interviews, documentationn and literature studies that are covered by using instruments or tools such as cameras, cellphones, and writing instruments. The object under study is the art of Kuda Lumping. The results of this study are expected to provide insight to the public regarding the visualization of the art properties of the Kuda Lumping art.
ANALISIS KESENIAN TERBANG GENJRING PADA TRADISI CUKUR RAMBUT BAYI DI KAMPUNG KALAPA DUA DESA MARGALUYU KECAMATAN MANONJAYA Ita Faoziah; Asep Wasta; Asti Triestari
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 2 (2019): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.2, No. 2, Desember 2019
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.92 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v2i2.937

Abstract

This research entitled “The art of flaying genjring on the tradition of baby hair shaving in Kalapa Dua village, Margaluyu village, Manonjaya district”. Genjring flaying art is a traditional art using a tambourine musical instrument. Genjring flaying art is often used in celebrations, thanksgiving, entertainment at the opening of the event, in the tradition of shaving babies as well as the spread of Islam. Member of this genjring flying art is an elderly person. This study aims to analyze the form of presentation, and the inheritance of the art of flying genjring in Kalapa Dua village, Margaluyu village, Manonjaya District. The method used in this research is a qualitative method with a descriptive analytic approach. Data collection techniques through, observation, interviews, documentation and literature study.
MAKNA SIMBOLIK KOSTUM KESENIAN JURIG SARENGSENG DI DESA BINANGUN KOTA BANJAR Fahmi Firdaus; Asep Wasta; Wan Ridwan Husen
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 2 No. 2 (2019): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.2, No. 2, Desember 2019
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.217 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v2i2.938

Abstract

The research entitled the Symbolic Meaning of the Jurig Sarengseng Costume in Binangun Village, Banjar City is based on the background that the City of Banjar has various cultures that are almost the same as the culture of Central Java because it is on the border of the region. One of the arts that is interesting to examine is the Jurig Sarengseng Art in Binangun Village, Banjar City because it is seen from the costumes that it seems distorted and different from other arts. This research is limited to the form of presentation and symbolic meaning of the Jurig Sarengseng Costume Art in Binangun Village, Banjar City. Based on the background of the problem above, the problem can be formulated as follows: 1). What about the costumes from Jurig Sarengseng art in Binangun Village, Banjar City?, 2). What is the symbolic meaning contained in the costume for the Jurig Sarengseng Art costume in Binangun Village, Banjar City? This study uses the qualitative analysis method. As a form of qualitative research, this study seeks to apply existing theories to explain the phenomena that occur in the object of the research material. Descriptive method in the sense that the data collected is manifested in the form of information / description about events or activities that are comprehensive, contextual, and meaningful. Data obtained from in-depth interviews with related parties.
PERAN DAN FUNGSI KESENIAN CALUNG TARAWANGSA DI DESA PARUNG KECAMATAN CIBALONG KABUPATEN TASIKMALAYA Sansan Fasya; asep wasta
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1` (2020): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.3, No. 1, Juni 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.109 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v3i1`.941

Abstract

Calung Tarawangsa merupakan jenis musik tradisional yang terdapat di Desa Parung Kecamatan Cigelap dan Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Kesenian ini digunakan sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, juga di pertunjukkan pada acara¬acara selamatan Khitanan dan Pernikahan. Pada upacara khusus seperti memotong padi, ampih pare, muruhan dan sebagainya di laksanakan pada siang atau malam hari. Upacara ini di maksudkan dan mempunyai hikmah "Saeutik mahi loba nyesa" (Sedikit cukup dan banyak harus bersisa). Makna Iainnya yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersyukur atas Rahmat dan Karunianya serta Rezeki yang telah di limpahkanNya. Waditra yang digunakan adalah Calung Renteng dan Tarawangsa. Lagu lagu yang di bawakan pada upacara khusus yaitu lagu Ayun, Panimang (menimang dan menghormati Dewi Sri yang bare datang) / Sumping yang di bawakan oleh seorang penyanyi Wanita. Sedangkan isi dari lagu-¬Iagunya adalah puji-pujian kepada Sanghiyang Sri sebagai Dewi Padi. Lagu-lagu pada upacara umum seperti lagu Pingping Koneng, Sangray Rara Muncang, Balaganjur, Cipinang, Sejak, Manuk Hejo, Mulang dan sebagainya.
ANALISIS PEMBELAJARAN GITAR AKUSTIK DI SEKOLAH MUSIK MUSICAISHA KOTA TASIKMALAYA Cecep Saepul Anwar; Asep Wasta; Wan Ridwan Husen
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1` (2020): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.3, No. 1, Juni 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.931 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v3i1`.954

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembelajaran gitar akustik di Sekolah Musik Musicaisha di Kota Tasikmalaya. Subjek penelitian ini adalah guru/pelatih gitar akustik di Sekolah Musik Musicaisha Kota Tasikmalaya. Penelitian ini difokuskan pada komponen pembelajaran seperti materi, metode, strategi pembelajaran gitar akustik yang digunakan di Sekolah Musik Musicaisha Kota Tasikmalaya.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi langsung pada saat pembelajaran. Wawancara dilakukan dengan guru/pelatih gitar akustik dan pemilik sekolah musik Musicaisha serta dokumentasi yang berupa foto proses pembelajaran. Hasil temuan penelitian ini menunjukan bahwa proses pembelajaran gitar akustik di sekolah musik Musicaisha berjalan dengan baik. Hal tersebut didukung dengan proses pembelajaran yang bersifat privat. Tahapan penyampaian materinya pun sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan peserta didik, dari pertemuan pertama peserta didik diberi materi mendasar mengenai pengenalan terhadap gitar hingga pertemuan kedelapan, peserta didik sudah bisa memainkan alat musik gitar akustik menggunakan teknik apoyando, tirando dan strumming meskipun belum sempurna.
ANALISIS ORGANOLOGI KECAPI SITER 20 DAWAI SEMI ELEKTRIK BUATAN BUYOENG DI BENGKEL JENTRENG KECAMATAN INDIHIANG KOTA TASIKMALAYA. Pini Budiasari; Asep Wasta; Wan Ridwan Husen
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 3 No. 1` (2020): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol.3, No. 1, Juni 2020
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.231 KB) | DOI: 10.35568/magelaran.v3i1`.958

Abstract

Skripsi ini berjudul “Analisis Organologi Kecapi siter buatan Buyoeng” . Jenis Kecapi bermacam-macam salah satunya adalah jenis kecapi siter. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang peneliti temukan dan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana memilih alat musikn kecapi yang baik. Kecapi yang dapat dikatakan baik berkualitas dilihat dari beberapa aspek, seperti bunyi yang dihasilkan, kualitas bahan baku dan estetika bentuk kecapi. Hal ini penting untuk diketahui karena banyak masyarakat yang mahir memainkan alat musik kecapi tanpa mengetahui kualitas alat musik kecapi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif yakni menganalisis dan mendeskripsikan apa yang peneliti peroleh dilapangan ke dalam tulisan. Peneliti ini juga memperoleh bagaimana proses pembuatan kecapi berdasarkan hasil penelitian, kemudian dikaitkan dengan ilmu organologi yang berhubungan dengan ilmu akustika serta diperoleh struktur kecapi, sumber bunyi yang dihasilkan. Objek penelitian ini adalah kecapi siter 20 dawai semi elektrik yang dibuat oleh Buyoeng. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui observsi lapangan, wawancara, dokumentasi serta studi literatur. Hasil Penelitian yang diperoleh adalah bahwa dalam memproduksi kecapi yang berkualitas harus benar-benar dapat memperhitungkan dan memahami kualitas bahan, proses pembuatan , penerapan ilmu organologi dengan sentuhan estetis tanpa mengurangi kualitas bunyi itu sendiri
Eksistensi Kesenian Tradisional Benjang Batok di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Salwa Naqiri Ziani; Asep Wasta; Arni Apriani
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.2086

Abstract

Kesenian tradisional sangat perlu dipertahankan eksistensinya, agar tidak terjadi kepunahan. Salahsatu kesenian tradisional di Jawa Barat yang masih eksis sampai sekarang ialah kesenian tradisional Benjang Batok di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Kesenian ini merupakan seni musik yang menggunakan batok kelapa sebagai alat musiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif guna menggambarkan dan menjelaskan permasalahan yang berhubungan dengan seni Benjang Batok, dan juga menganalisis hasil penelitian mengenai eksistensi dan bentuk penyajiannya. Hasil dari penelitian ini mengatakan bahwa seni Benjang Batok masih tetap eksis dari 2019 sampai sekarang dibuktikan dengan sudah semakin banyak yang meminati kesenian ini baik masyarakat sekitar maupun luar, hal ini dibuktikan dengan perkembangan kesenian yang cukup baik, undangan untuk tampil diluar kota, serta kreativitas dalam bentuk penyajian nya sudah dilakukan yaitu dengan cara mengkolaborasikan Benjang Batok dengan alat musik tradisional lain
Analisis Ragam Motif Henna Pada Jasa Lukis Fuji Henna Berdasarkan Teori Estetika Sussane K Langer Aneu Levani; Wan Ridwan Husen; Asep Wasta
Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain Vol. 2 No. 1 (2025): Januari : Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/abstrak.v2i1.494

Abstract

The public's need to provide henna painting services is currently important, considering the high enthusiasm of brides for using henna painting, so that henna artist services have become a promising profession. Apart from the emergence of this henna painting service, every henna artist has innovated various motifs. The aim of this research is to determine the variety of henna motifs in Fuji Henna painting services in Cintaraja Village, Singaparna District, Tasikmalaya Regency. This research uses qualitative research methods with a descriptive approach. The focus of this research is to analyze the various henna motifs on Fuji Henna painting services using Susanne K. Langer's aesthetic theory. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The results of the research show that the variety of henna motifs at Fuji Henna painting services totals 11 motifs, including: 1) 2 dome motifs, 2) mandala, 3) flower, 4) Indian, 5) Arabian, 6) Botanical, 7) Russian, 8 ) African, 9) geometric, 10) modern, and 11) floral. The hanging flower motif is a characteristic motif of Fuji Henna ownership, with the symbol of the jasmine flower. There are 8 henna elements in Fuji Henna including dots, lines, outlines, flowers, leaves, paisley, filler and additional ornaments.
Analisis Kesenian Rudat “Gaya Cigadogan” di Kampung Cigadog Desa Cigadog Kecamatan Leuwisari Yeni Handayani; Asep Wasta; Wan Ridwan Husen
Imajinasi : Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2024): Juni : Imajinasi : Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/imajinasi.v1i2.188

Abstract

This research aims to analyze one of the traditional arts, Rudat. The traditional art that still exists in West Java is Rudat art in Kampung Cigadog, Cigadog Village, Leuwisari District. Rudat art is vocal art accompanied by tarebang and kendang bajidor percussion, as well as silat movements and chanting of sholawat. The presentation and performance structure of Rudat art in Cigadog involve several elements, including movements, dancers, accompanying music, and costumes. The Rudat performance "Gaya Cigadogan" consists of preparation, middle stage, and final stage. The issue addressed in this research is the presentation form and performance structure of Rudat art. The objective of this research is to describe the presentation form and performance structure of Rudat art. This study employs a qualitative method with a descriptive analysis approach, where the researcher aims to present all research findings from the field. Data collection techniques used include observation, interviews, and documentation.